Masuk

Tahukah Kamu Toyota Untung Rp 100 Jutaan Setiap Detiknya?

Sepanjang tahun 2017, penjualan mobil secara global tercatat sebesar 79,02 juta unit. Di tahun 2018, angka tersebut dipredikasi akan naik  3,6% menjadi 81,5 juta unit.

Nah, melihat jutaan puluhan juta kendaraan yang terjual, terbayangkah berapa keuntungan setiap pabrikan otomotif? Apalagi pabrikan mobil mewah.

Dilansir Zing, baru-baru ini Staveley Head mempublikasikan statistik revenue dan keuntungan 15 pabrikan mobil terbesar di dunia. Keuntungan itu dikonversikan ke dalam tiga mata uang, yakni Inggris Poundsterling, Euro, dan Dolar US.

Tebak, siapa yang paling tinggi revenue-nya? Kalau kamu jawab Toyota, maka jawabanmu benar.

Setiap detik, revenue Toyota mencapai USD 7.190 atau Rp 107 jutaan (Kurs USD 1 = Rp 14.880), disusul Ford USD 4.618 (Rp 68,7 jutaan), kemudian Mercedes-Benz sebesar USD 3.482 (Rp 51,8 jutaan), dan di urutan keempat ada Volkswagen sebesar USD 2.941 (Rp 43,7 jutaan).

Lalu, mobil mewah lainnya? Kebanyakan mereka ada di posisi bawah. Tiga terbawah dalam daftar ada Aston Martin hanya USD 37 (Rp 550 ribuan) per detik, Bentley USD 68 (Rp 1 jutaan), dan Ferrari USD 126 (Rp 1,8 jutaan).

Sumber: Otosia.com

https://www.liputan6.com/otomotif/read/3647171/tahukah-kamu-toyota-untung-rp-100-jutaan-setiap-detiknya

  • 0
  • Baca: 8 kali

Logika Sang Imam yang Brilian

MAMHTROSO.COM -- Tokoh yang satu ini memang terkenal cerdas. Ia adalah Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit. Sosok yang lahir di Kufah 699 M itu kerap melakukan dakwah berupa debat dan dialog dengan para pelaku kesesatan dalam bidang teologi (kalam).

Wajar bila Sang Imam dikenal sebagai peletak dasar teologi melalu kitabnya yang terkenal, yaitu al-Fiqh al-Akbar. Seperti dinukilkan dari karya Dr Abdurrahman Raf'at Basya yang disalin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mereka adalah Para Tabiin, ada beberapa kejadian yang pernah dicatat sejarah menggambarkan kecerdikan dan kecerdasan penggagas Mazhab Hanafi ini menghadapi mereka yang sesat. 

Misalnya, seseorang pernah menyebarkan fitnah di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu kembali ke pangkuan Yahudi setelah berislam.

Kabar ini pun sampai di telinga Abu Hanifah. Ia bergegas ingin meminta klarifikasi darinya. “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku,” kata Sang Imam.

Lelaki tersebut menjawab, “Selamat atas kedatangan Anda. Orang seperti Anda tidak layak ditolak keperluannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?”

“Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di tengah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Alquran, menghabiskan malam dengan satu rukuk, dan sering menangis karena takwa serta takutnya kepada Allah SWT,” kata Abu Hanifah tanpa menyebut identitas nama orang yang dimaksud.

Laki-laki itu berkata, “Wah … wah ... cukup wahai Abu Hanifah, sebagian saja dari yang Anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang putri khalifah para mukmin.”

Abu Hanifah berkata, “Hanya saja ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan.” Dia bertanya, “Apakah itu?” Abu Hanifah berkata, “Dia seorang Yahudi.”

Mendengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi? Apakah Anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah, aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata, “Engkau menolak menikahkan putrimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan keras, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah SAW telah menikahkan kedua putrinya dengan Yahudi (yakni Utsman)?”

Jawaban yang sangat logis dari Abu Hanifah itu spontan menjadi cambukan keras bagi pria tersebut. Seketika tubuhnya gemetar. Ia menangis dan bertobat. “Astaghfirullah. Aku bertobat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan,” katanya.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/09/21/pfebd0313-logika-sang-imam-yang-brilian

  • 0
  • Baca: 7 kali

Berubah Lebih Baik

MAMHTROSO.COM -- Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan. Orang yang tak berubah dari buruk menjadi baik atau dari baik menjadi lebih baik diibaratkan seperti orang yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Orang beriman tidak akan seperti itu. Rasulullah mengatakan dalam hadisnya, "Orang beriman tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Orang beriman tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Ia justru akan belajar darinya, menyesalinya, lalu memperbaiki diri dengan sungguhsungguh, berubah menjadi baik. Bila kesalahan itu berkaitan dengan Allah, ia akan segera bertobat.

Tobat artinya kembali, yakni kembali kepada Allah setelah berbuat salah, dosa, atau maksiat, lalu bertekad tidak mengulanginya lagi. Ibnu Athaillah as- Sakandari dalam kitabnya, al-Hikam, mengatakan, "Jika engkau merasa berat untuk taat dan beribadah serta tak menemukan kenikmatan dalam hati, sementara engkau merasa ringan bermaksiat dan menemukan kenikmatan di dalamnya, ketahuilah bahwa engkau belum jujur dalam tobatmu."

Bila kesalahan itu berkaitan dengan sesama manusia, misalnya berbuat jahat, menyakiti, atau mengambil hak-haknya secara tidak sah, ia segera menyesali perbuatannya, lalu meminta maaf dan mengembalikan apa yang dia ambil itu kepada yang berhak.

Dalam hadis dikatakan, di akhirat kelak ada orang yang tertahan masuk surga karena pernah mengambil hak sesamanya secara zalim atau semena-mena ketika di dunia. Ia baru diperkenankan masuk surga setelah semua urusannya dengan orang yang ia zalimi, jahati, atau ambil haknya tersebut selesai (HR al-Bukhari).

Allah mengaruniakan akal, pikiran, dan hati nurani kepada manusia di samping kemampuan dan kekuatan fisik. Semua ini dimaksudkan agar ia bisa belajar dari banyak hal di sekitarnya, termasuk dari kesalahannya, kemudian meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Manusia jangan menyerah atau putus asa dengan keadaan yang ia anggap sulit dan berat.

Dalam Alquran disebutkan, di akhirat nanti malaikat bertanya kepada orang-orang yang tak mau mengubah kondisinya di dunia dengan berbagai alasan, padahal ada banyak kesempatan dan kemampuan untuk berubah.

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami.' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, mengapa kamu tidak berhijrah di situ?'" (QS an-Nisa' [4]: 97)

Orang yang berhijrah, kata Nabi, adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (HR al- Bukhari dan Muslim). Allah melarang kita untuk berbuat maksiat kepada- Nya serta berbuat jahat atau buruk terhadap sesama kita, apa pun bentuknya. Ketika kita meninggalkan itu semua, berarti kita sejatinya tengah berhijrah, sedang berubah dari hal buruk kepada hal baik, atau dari hal baik kepada hal yang lebih baik lagi. Kehidupan di dunia adalah kesempatan yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berubah.

Seiring bergulirnya waktu, kita juga seyogianya terus berubah menuju hal-hal yang baik, positif, dan bermanfaat, baik bagi diri kita maupun orang lain. Nabi mengatakan, "Sebagian tanda keislaman seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat baginya." (HR at-Tirmidzi)

Allah sangat mencintai orang beriman yang selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik sematamata karena memang ia menyukai kebaikan itu sehingga terus-menerus meningkatkannya tanpa pernah merasa lemah. Nabi menegaskan, "Seorang mukmin yang kuat dalam segala kebaikan lebih utama dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah dalam segala kebaikan." (HR Muslim). Wallahu a'lam.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/09/21/pfe0td313-berubah-lebih-baik

  • 0
  • Baca: 5 kali

Ketika Damai Hanya Menjadi Mimpi

MAMHTROSO.COM -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 21 September 1981 sebagai hari perdamaian internasional. Namun, di Palestina, Hari Perdamaian Internasional hanya menyisakan kepiluan.

Seorang aktivis Great Return March, Abeer Zeyad Barakat mengungkapkan, semakin hari situasi Gaza semakin memprihatinkan. Dia bersama Great Return March memang telah memperjuangkan hak warga Gaza sejak enam bulan lalu.

"Meski begitu, Pemerintah Israel terus menolak keras ajuan damai dan semakin menekan warga Gaza agar menyerah. Namun, warga Gaza sama sekali tidak takut, bahkan justru semakin kuat," ungkap Abeer kepada Republika.co.id belum lama ini.

Keadaan Gaza yang menyedihkan, lanjut Abeer membuat warga Gaza memilih untuk mati syahid dibandingkan harus kehilangan martabat mereka sebagai seorang Muslim. Abeer menjelaskan, mereka menganggap tidak ada lagi alasan mereka untuk takut kehilangan sesuatu yang mereka miliki karena sejatinya sudah tidak ada lagi hal yang dapat mereka pertahankan selain keimanan pada agama yang dibawa Rasulullah.

"Bagi mereka, mati lebih baik daripada menjalani kehidupan yang menyedihkan tanpa martabat, lanjut Abeer.

Pada peringatan ke-25 Kesepakatan Perdamaian Oslo antara Organisasi Pembebasan Palestina dan Israel, orang-orang di Gaza menyatakan dengan jelas bahwa perjanjian tersebut merupakan penipuan besar.

Mereka dengan tegas menolaknya. Hal ini didasari dengan ketidakadilan yang harus ditanggung Palestina dari perjanjian tersebut.

Abeer juga mengaku masih mengingat momen penandatangan perjanjian yang terjadi saat dirinya masih remaja. Ketika itu, orang-orang sangat bersemangat menyambut perdamaian dari pertikaian yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun, kenyataan sangat bertolak belakang dengan apa yang tertera dalam kesepakatan tersebut. Usai perjanjian itu, tidak ada satu pun pihak yang dapat membawa kedamaian bagi Palestina.

"Orang-orang Palestina sudah kehilangan kepercayaan mereka pada kata perdamaian yang sering dijanjikan banyak pihak karena faktanya tidak ada kesepakatan yang mendukung penuh perdamaian bagi Palestina, ungkap dia.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/18/09/22/pfge26313-ketika-damai-hanya-jadi-mimpi

  • 0
  • Baca: 6 kali

Ikhlas Meraih Kemuliaan

MAMHTROSO.COM -- Meraih kemuliaan Allah SWT merupakan impian setiap Muslim. Kemuliaan tersebut ibarat sebongkah berlian yang didamba-dambakan oleh setiap manusia. Karena itu tak akan ada yang menolak terhadap kemuliaan,

Ustaz Abu Ihsan Al Atsary, dalam kajian Esiklopedi Akhlak Salaf di Masjid Nurul Iman Blok M Square, Jakarta, belum lama ini, menjelaskan, kemuliaan Allah pantas diraih bagi orang-orang yang mempunyai keikhlasan. Dia mengatakan, kemuliaan sangat erat kaitannya dengan keikhlasan.

Kemuliaan tidak akan didapatkan apabila setiap amalan yang dilakukan tanpa dibarengi dengan keikhlasan hati. Akhlak mulia jika didasari dengan riya diyakini tidak akan bertahan lama.

Ini perkara utama (ikhlas)dan utama yang wajib dimiliki Muslim untuk mendapatkan kemuliaan, ujar dia. Ustaz Ihsan menegaskan, ikhlas harus tertanam pada setiap diri Muslim.Dengan begitu, setiap amalan yang dikerjakan akan tampak dengan sendirinya bahwa hal tersebut dikerjakan demi meraih kemuliaan Allah.

Keikhlasan akan membuat Muslim tidak membedakan kapan harus berbuat amal kebaikan. Mereka akan berbuat amal baik dan akhlak mulia di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Akhlak mulia merupakan sesuatu yang penting dalam setiap sisi kehidupan Muslim. Kedudukannya sangat penting setiap amalan.

"Jika tidak demikian, amal-amal itu gakada di sisi Allah, kata Ustaz Ihsan.

Ustaz Ihsan mengungkapkan, keikhlasan juga berkaitan dengan hati manusia. Di dalam hati tersebut merupakan tempat keikhlasan tumbuh. Oleh karena itu, setiap amalan bergantung pada niatnya. Pahala yang didapatkan setiap Muslim akan berdasarkan keikhlasannya. Kendati demikian, tak mudah menumbuhkan keikhlasan dalam diri setiap Muslim.Karena keikhlasan mempunyai banyak tingkatan.

Dia menambahkan, setiap Muslim juga perlu memiliki akhlak mulia. Menurut dia, akhlak mulia merupakan salah satu amalan yang luar biasa. Orang yang mengerjakan amalan tersebut akan dijanjikan paling banyak masuk surga oleh Allah.Surga yang dijanjikannya pun akan menempati posisi tertinggi.Jalan pintas menuju surga adalah akhlak mulia.

"Maka, ikhlaskan amalan hati, ujar dia.

Ustaz Ihsan mengingatkan, umat Islam harus berhati-hati dalam setiap perbuatan dan perkataan. Akhlak mulia merupakan amalan utama yang memerlukan dasar keikhlasan. Dengan begitu, kemuliaan yang diharapkan bisa didapatkan.

Lebih lanjut, dia mengatakan, keikhlasan memiliki 16 keutamaan yang perlu diketahui oleh setiap Muslim. Di antara 16 keutamaan tersebut antara lain keikhlasan adalah wasiat Allah yang diberikan kepada para nabinya. Dengan begitu, ikhlas merupakan sesuatu yang istimewa.

Keikhlasan yang diperintahkan Allah kepada nabinya bertujuan agar menegakkan agamanya. Selama mengajarkan ajaran agama, Allah menginginkan para nabi ikhlas dalam berdakwah.Oleh karena itu, mengajarkan La Ilaha Illallah merupakan contoh praktik keikhlasan. Perilaku nabi adalah contoh terdepan dalam persoalan keikhlasan.

Ustaz Ihsan menambahkan, akhlak mulia dengan dasar ke ikhlasan juga akan dijaga oleh Allah.Mereka pun akan mendapatkan pembelaan dari Allah. Akhlak yang mulia membuat dirinya akan selalu dipercaya oleh siapa pun.Dia mencontohkan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.Dia tetap dipercaya oleh orang- orang musyrik. Selama kita ikhlas Allah akan jaga amal perbuatan kita, kata Ustaz Ihsan.

Kemudian, ikhlas bisa menjadi obat hasad. Termasuk mereka yang mempunyai keikhlasan tinggi akan mendapatkan ketenangan dalam hati. Hati kita akan kuat, hati akan sehat. Sebaliknya hati tak ikhlas akan lemah, kata dia.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/09/22/pfgor3313-ikhlas-meraih-kemuliaan

 

  • 0
  • Baca: 7 kali

من جهّز امرأة فقيرة، هل له احتساب ذلك المال من الزكاة؟

السؤال
أقوم بدفع زكاة المال، وعلمت بوجود قريبة لنا تتجهز للزواج، وليس لديها ما تنفقه في ذلك؛ لأن والدها متوفى، فقمت بدفع المتطلبات الخاصة بها، حيث إن مجتمعنا في مصر يتقاسم تكاليف الزواج، وذهبت والدتي معهم، وقامت بدفع ما يريدون شراءه، وتكرر نفس الأمر مع واحدة أسرتها فقيرة جدًّا، ومعدمة؛ لتعب والديها، فهل يجوز هذا، أم يجب عليّ إعادة إخراج الزكاة مرة أخرى؟
الإجابــة
 

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله، وصحبه، ومن والاه، أما بعد:

فقد سبق أن بينا في عدة فتاوى، أن الفتاة العاجزة عن تجهيز نفسها بالمعروف، من غير إسراف، وكانت لا تزوج إلا بهذا الجهاز، أنه يجوز دفع الزكاة إليها في غير إسراف، وتبذير.

فإن كانت البنت التي دفعت إليها المال كذلك، وكنت حين دفعت ذلك المال نويت أنه زكاة، فقد أديت الواجب عليك، ولا تطالب بإخراج الزكاة ثانية.

وإن كانت البنت قادرة على تجهيز نفسها، أو كنت أخرجت المال بغير نية الزكاة، فلا يجوز لك الآن أن تحسبه من الزكاة؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.. متفق عليه. وانظر الفتوى رقم: 155089.

والله تعالى أعلم.
 

http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=383377]

 

 
  • 0
  • Baca: 5 kali

Praying Behind an Imam on TV: Valid?

Question:

Is the prayer of a woman who is led by an imam via TV permissible?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

 


In this fatwa:

The prayer of a person who follows an imam on TV is invalid


Answering your question, Dar Al-Ifta Al-Misriyyah, states:

Among the conditions for the validity of prayer is that both the imam and those led by him must be in the same place.

Therefore, the prayer of a person who follows an imam on TV is invalid unless he is with him in the same mosque.

Almighty Allah knows best.

Source: http://www.dar-alifta.org/Foreign/ViewFatwa.aspx?ID=7970

http://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/praying-behind-imam-tv-valid/

  • 0
  • Baca: 6 kali

من فعل مكفِّرًا جاهلًا هل يزول عنه اسم الإسلام؟

السؤال
في مسألة الشرك الأكبر، نعلم أنه يجب عذر الجاهل في إسقاط الحكم قبل قيام الحجة، لكن هل نسقط عليه الاسم؟ الاسم والحكم يفترقان قبل الحجة، ويجتمعان بعدها في مسألة الشرك الأكبر.
الإجابــة
 

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد: 

فمن كان مسلمًا يشهد الشهادتين، وارتكب مكفرًا جاهلًا بتحريمه، وأن الشرع أتى بالنهي عنه؛ فإنه معذور بجهله، ولا يزول عنه اسم الإسلام في الدنيا، وهو في الآخرة كذلك معذور عند الله تعالى.

هذا إن كان ما فعله من المكفرات مما يجري فيه العذر بالجهل، فلا يحكم بكفره، وخروجه من الإسلام إلا بعد قيام الحجة التي يكفر جاحدها، ولا يسمى مشركًا وإن كان ما فعله من الشرك، هذا ما قررناه في فتاوى كثيرة جدًّا، انظر منها الفتوى رقم: 172957، ورقم:164829.

والله أعلم.

http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=383074

 
  • 0
  • Baca: 10 kali
Berlangganan RSS feed