Masuk

Lakukan Push Up 3.270 Kali dalam 2 Jam, Bocah 6 Tahun Ini Dapat Hadiah Tak Terduga

MAMHTROSO.COM -- Jakarta Untuk memenangkan sebuah lomba tentu butuh kerja keras yang lebih dan mampu mengungguli kompetetitor lainnya. Apalagi jika ini adalah  kompetisi untuk memenangkan sebuah apartemen, tentu akan jadi motivasi yang sangat besar untuk memenangkannya. Seperti yang dilakukan oleh Ibrahim Lyanov, bocah usia 6 tahun asal Ingushetia, Rusia. Dirinya melakukan 3.720 push up selama selama dua jam.

Torehan yang dilakukan oleh Ibrahim Lyanov dalam satu set push 2 jam ini termasuk dalam sebuah rekor di Rusia yang kini telah diakui oleh Book of Records Rusia. Tak hanya aksi push up yang jadi catatan rekor, namun bocah 6 tahun ini juga dapat hadiah dari penyelenggara kompetisi, yaitu dari klub olahraga Chingiz.

Berikut ulasan mengenai rekor push up 3.720 dalam satu set oleh bocah 6 tahun bernama Ibrahim Lyanov yang Liputan6.com lansir dari Tass, Jumat (12/7/2019).

https://hot.liputan6.com/read/4010727/lakukan-push-up-3270-kali-dalam-2-jam-bocah-6-tahun-ini-dapat-hadiah-tak-terduga

  • 0
  • Baca: 8 kali

Konsep Ekonomi Ibnu Khaldun, Seperti Apa?

MAMHTROSO.COM -- Tak hanya dalam bidang sosiologi dan sejarah, kecemerlangan Ibnu Khladun juga tampak dalam bidang lainnya. Dalam bidang ekonomi Islam, di antara sekian banyak pemikir masa lampau yang mengkaji ekonomi Islam, Ibnu Khaldun merupakan salah satu ilmuwan yang paling menonjol.

Ibnu Khaldun sering disebut sebagai raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja bapak sosiologi, tetapi juga bapak ilmu ekonomi karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului para pemikir Barat modern, seperti Adam Smith dan David Ricardo.

Muhammad Hilmi Murad secara khusus telah menulis sebuah karya ilmiah berjudul Abul Iqtishad: Ibnu Khaldun atau Bapak Ekonomi: Ibnu Khaldun. Dalam tulisan tersebut, Hilmi Murad membuktikan bahwa Ibnu Khaldun terbukti secara ilmiah menjadi penggagas pertama ilmu ekonomi secara empiris. Karya tersebut disampaikannya dalam sebuah simposium tentang Ibnu Khaldun di Mesir tahun 1978.

Sebelum Ibnu Khaldun, kajian-kajian ekonomi di dunia Barat masih bersifat normatif. Adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral, dan filsafat. Karya-karya tentang ekonomi yang disusun oleh para ilmuwan Barat bercorak tidak ilmiah karena pemikir zaman pertengahan tersebut memasukkan kajian ekonomi dalam kajian moral dan hukum. Sedangkan, Ibnu Khaldun mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris. Ia menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual.

Pujian terhadap Ibnu Khaldun juga datang dari Shiddiqy Boulokia, seorang ekonom. Dalam tulisannya yang bertajuk Ibn Khaldun:A Fourteenth Century Economist, Shiddiqy Boulokia, dinyatakan bahwa Ibnu Khaldun telah menemukan sejumlah besar ide dan pemikiran ekonomi fundamental beberapa abad sebelum kelahiran ‘resminya’ (di Eropa).

Shiddiqy Boulokia menambahkan, Ibnu Khladun telah menemukan keutamaan dan kebutuhan suatu pembagian kerja sebelum ditemukan Smith dan prinsip tentang nilai kerja sebelum Ricardo. Ia telah mengolah suatu teori tentang kependudukan sebelum Malthus dan mendesak akan peranan negara di dalam perekonomian sebelum Keynes.

Bahkan, lebih dari itu, Ibnu Khaldun telah menggunakan konsepsi-konsepsi ini untuk membangun suatu sistem dinamis yang mudah dipahami, yaitu mekanisme ekonomi telah mengarahkan kegiatan ekonomi kepada fluktuasi jangka panjang.

Lafter, penasihat ekonomi presiden Ronald Reagan, yang menemukan teori Lafter Curve, berterus terang bahwa ia mengambil konsep Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengajukan obat resesi ekonomi, yaitu mengecilkan pajak dan meningkatkan pengeluaran (ekspor) pemerintah. Pemerintah adalah pasar terbesar dan ibu dari semua pasar dalam hal besarnya pendapatan dan penerimaannya. Jika pasar pemerintah mengalami penurunan, hal wajar apabila pasar yang lain akan ikut turun, bahkan dalam agregate yang cukup besar.

Sementara itu, S Colosia dalam bukunya Constribution A L’Etude D’Ibnu Khaldaun Revue Do Monde Musulman memaparkan, sebagaimana mengutip Ibrahim Ath-Thahawi, Apabila pendapat-pendapat Ibnu Khaldun tentang kehidupan sosial menjadikannya sebagai pionir ilmu filsafat sejarah, pemahamannya terhadap peranan kerja, kepemilikan, dan upah menjadikannya sebagai pionir ilmuwan ekonomi modern.

Oleh karena besarnya sumbangan Ibnu Khaldun dalam pemikiran ekonomi, Boulokia mengatakan, Sangat bisa dipertanggungjawabkan jika kita menyebut Ibnu Khaldun sebagai salah seorang bapak ilmu ekonomi. Ia juga menyimpulkan bahwa Ibnu Khaldun secara tepat dapat disebut sebagai ahli ekonomi Islam terbesar yang pernah ada.

https://khazanah.republika.co.id/berita/puiueo313/konsep-ekonomi-ibnu-khaldun-seperti-apa

 

  • 0
  • Baca: 6 kali

Kesombongan Intelektual

MAMHTROSO.COM -- Sebagai suatu penyakit, sikap sombong, dan congkak (al-kibr), menurut Imam Ghazali, lebih mudah menyerang para ilmuwan dan kaum cerdik pandai daripada orang awam. Mengapa demikian?

Jawabnya, menurut Ghazali, berakar dari dua sebab. Pertama, para ilmuwan dan kaum cerdik pandai, dengan ilmu dan kepandaian yang dipunyai, sangat sukar untuk tidak membanggakan diri. Kedua, mereka sering merasa pakar dalam bidang tertentu; dan karena kepakarannya, mereka lantas merasa superior. Perasaan superioritas inilah yang sering membuat mereka bersikap sombong dan arogan. (Kitab Ihya' 'Ulum al-Din, 3/367).

Kesombongan intelektual ini, lanjut Ghazali, akan semakin bertambah manakala ilmu yang digeluti sang pakar bukan ilmu yang hakiki. Yang dimaksud ilmu hakiki ialah ilmu yang dengannya seorang dapat mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Ilmu yang disebut terakhir ini, tidak saja dapat membebaskan seorang dari kesombongan, tetapi juga dapat mempertinggi rasa takut dan rasa kekagumannya kepada Allah swt.

Inilah, menurut Ghazali, makna firman Allah, ''Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya adalah ulama (ilmuwan).'' (QS Fathir: 28).

Di samping ilmu pengetahuan, sebenarnya banyak faktor lain yang mendorong orang menjadi sombong dan arogan. Misalnya, prestasi kerja (al-'amal), kecantikan (al-jamal), harta kekayaan (al-mal), serta anak buah dan pengikut (al-atba' wa al-anshar). Namun di banding semua itu, ilmu pengetahuan, menurut Ghazali, merupakan faktor paling dominan.

Hal ini, lanjut Ghazali, karena ilmu merupakan sesuatu yang amat dihargai baik di mata manusia maupun dalam pandangan Tuhan. Agama sendiri memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu dan ilmuwan. Namun justru karena adanya penghargaan dan legitimasi keagamaan ini, para ilmuwan dan cerdik pandai sangat potensial dan rentan terhadap kesombongan. Menurut imam Ghazali, hanya ada dua jalan bagi para ilmuwan untuk menangkal penyakit ini.

Pertama, mereka harus belajar bersikap rendah hati dengan tidak mengklaim paling tahu dan paling benar. Klaim seperti ini, selain bermakna menuhankan diri sendiri, juga sangat berlawanan dengan doa yang diajarkan Tuhan kepada para nabi: Rabbi Zidni 'Ilman (Ya Tuhan, tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan). Juga sangat kontradiksi dengan firman Allah: Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (QS Yusuf: 76).

Kedua, mereka harus menyadari bahwa di pundak mereka terdapat tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Sebagai ilmuwan mereka harus selalu konsisten dan memiliki komitmen untuk selalu berpihak kepada kebenaran, dan mempergunakan semua pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat dan bangsa.

Akhirnya, kita semua harus berusaha melepaskan diri dari berbagai kesombongan, termasuk kesombongan intelektual. Sifat sombong itu, besar maupun kecil, tak layak bagi manusia. Ibarat pakaian, ia hanya pantas sebagai 'selendang' kebesaran dan keagungan Tuhan semata. Lain tidak!

https://khazanah.republika.co.id/berita/pu5xsi458/kesombongan-intelektual

  • 0
  • Baca: 6 kali

Mengatakan tanpa Mengerjakan

MAMHTROSO.COM -- "Hai orang-orang beriman! Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Dalam pandangan Allah, sangat kejilah perbuatan kalian mengatakan sesuatu tanpa kalia kerjakan." (QS ash Saff : 2-3).

Ternyata berbuat omong kosong, hanya merangkai kata-kata, yang tak berwujud dalam perbuatan, mengandung ancaman besar. Allah SWT mengecam keras perbuatan itu. Sebab, bagaimanapun, mengatakan apa-apa tanpa berbuat apa-apa terhadap yang dikatakan itu, berdampak luar biasa. Baik secara kejiwaan, maupun kemasyarakatan.

Hati nurani orang yang hanya bicara tanpa berbuat akan mengakui hal itu sebagai kedustaan. Sebuah dosa besar yang akan merusakan tatanan sosial menyeluruh. Bagaimana mungkin orang yang hati nuraninya terus diusik dosa kedustaan, akan dapat hidup tenang dan harmonis di tengah lingkungannya yang menganggap dusta sebagai perbuatan tak bermoral?

Dalam menafsirkan ayat di atas, Abdullah Yusuf "The Holly Quran", mengungkap "asbabun nuzul" (penyebab turunnya), berkenaan dengan Perang Uhud, tahun 3 Hijriyah:

"Pada Perang Uhud, ada beberapa orang tidak menaati perintah, dan dengan begitu mereka merusak disiplin. Mereka banyak bicara, tetapi keputusan kata-katanya tidak didukung oleh perbuatan yang nyata dan tegas. Perilaku demikian, sangat keji menurut pandangan Allah. Hanya karena karunia pertolongan Allah, mereka diselamatkan dari petaka itu."

Imam Bukhari dan Imam Muslim, meriwayatkan sebuah hadis tentang nasib orang yang hanya pandai berkata-kata, tanpa tindakan nyata. "Pada hari kiamat kelak, ada seseorang dipanggil. Ia kemudian di lemparkan ke dalam neraka sehingga ususnya terburai, dan berputar-putar bagai keledai menarik penggilingan. Penduduk neraka mengerumuninya, dan bertanya "Mengapa kamu ini? Bukankah kamu dulu suka memerintahkan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran?"

Orang tersebut menjawab: "Benar! Aku suka mengajak kalian berbuat kebaikan, tapi aku sendiri justru tidak melakukannya. Aku juga suka mencegah kalian dari kemunkaran, tapi aku sendiri malah melakukannya."

Sebuah hadis senada, diriwayatkan Imam Ahmad dalam "Musnad". Rasulullah SAW bersabda: "Ketika perjalanan malam Isra Miraj, aku melewati sekelompok orang yang sedang mengguntingi bibir-bibir mereka dengan gunting yang terbuat dari api neraka. Kepada Malaikat Jibril, aku bertanya: "Siapa mereka?"

Jawab Jibril: "Mereka adalah umatmu, yang menjadi juru dakwah di dunia. Mereka selalu memerintahkan kebaikan kepada setiap orang, tapi melupakan diri mereka sendiri."

Mengingat begitu besar bahaya yang ditimbulkan akibat berkata tanpa berbuat, sebaiknya kita hati-hati dalam berkata-kata. Sekiranya apa yang kita katakan tak dapat dibuktikan dalam perbuatan, sebaiknya tidak berkata-kata saja. Sebagaimana sabda Nabi SAW "falyaqul khairan awu li yasmut". Berkata baik, atau diam. Perkataan baik itu, adalah perkataan yang bemanfaat, yang dapat dipertanggungjawabkan pelaksanaannya. Jika hanya obral kata, yang cuma bualan saja, lebih baik tutup mulut. "Ashamtu hikmah". Diam itu hikmah, kata sebuah hadis.

Bahkan, berbuat sesuatu tanpa banyak koar-koar, lebih bagus lagi. Pepatah Arab menyebutkan, "af'alul hal, khairun min afshahul qawl". Berbuat sesuatu lebih baik daripada sefasih apa pun perkataan.

Apalagi, mengingat segala ucapan dan tindakan yang kita lakukan selama hidup di dunia, dicatat cermat oleh Allah SWT (QS al Kahfi : 49), untuk dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Arsip jejak digital milik Allah SWT, amat lengkap, dan sempurna. Bahkan, yang baru tebersit dalam hati dan pikiran, sudah terekam. Sehingga, tak ada celah untuk membantahnya.

https://khazanah.republika.co.id/berita/puf5lj313/mengatakan-tanpa-mengerjakan

 

  • 0
  • Baca: 5 kali

Tiga Pesan Nabi SAW

MAMHTROSO.COM -- Nabi SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana dan kapan saja engkau berada. Susullah keburukan dengan amal kebaikan sebab itu bisa menghapusnya. Tunjukkan akhlak yang baik kepada manusia!" (HR at-Tirmidzi).

Pesan Nabi SAW di atas adalah pesan yang sangat berharga. Pesan tersebut berlaku bagi semua umatnya hingga hari kemudian. Mengamalkannya merupakan jaminan kesuksesan dunia dan akhirat.

Pertama adalah pesan untuk bertakwa di mana dan kapan saja berada. Takwa adalah tujuan dari segala tujuan hidup manusia. Secara bahasa takwa berarti melindungi dari dari mara bahaya. Hakikat takwa adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; bersyukur dan tidak kufur; ingat kepada-Nya dan tidak lupa; serta taat dan tidak bermaksiat.

Orang yang berhasil menata hidupnya dalam ketakwaan, akan mendapatkan banyak kebaikan. Ia bisa mencapai derajat kewalian (lihat QS Yunus: 62-63). Ia layak menjadi orang yang mulia di sisi Allah (lihat QS al- Hujurat:13). Ia akan dibimbing untuk bisa membedakan antara hak dan batil (lihat QS al-Anfal: 29). Ia akan mendapatkan solusi dan jalan keluar dari segala persoalan (QS ath-Thalaq: 3-4). Serta ia juga akan mendapat pengampunan dosa sekaligus limpahan pahala (lihat QS QS ath-Thalaq: 5). Karena itu, Nabi SAW selalu memberikan pesan untuk bertakwa dalam setiap kesempatan. Itulah bekal terbaik manusia dalam menjalani kehidupan.

Kedua, pesan untuk senantiasa menyusul keburukan dengan amal kebaikan. Pasalnya, sehebat apa pun usaha untuk menata ketakwaan, kita tetaplah manusia yang tidak lepas dari dosa dan salah. Manusia bukan malaikat dan bukan pula bidadari surga. Manusia tempatnya lupa dan alfa. Ada saat ia jatuh dan tergelincir pada kesalahan.

Namun demikian, Nabi SAW tidak ingin umatnya berputus asa dan patah semangat untuk menjadi orang baik. Beliau memberikan jalan keluar. Yaitu pada saat seseorang tergelincir dalam kesalahan, ia tidak boleh diam dan terus membiarkan diri di dalamnya. Apalagi bangga dan memamerkan kesalahan yang ada. Sebab, dosa dan kesalahan yang dibiarkan bisa membesar dan menjadi petaka. Hati bisa menjadi rusak dan berkarat sebagaimana firman Allah dalam surah al-Muthaffifin ayat 14. Tempat dilakukannya dosa dan maksiat juga bisa menjadi saksi di akhirat.

Karena itu, Nabi SAW menyuruh segera menyusul keburukan dengan amal kebaikan. Hal itu agar hati segera menjadi bersih kembali tidak sampai berkarat. Juga agar semua tempat kita berpijak dan beraktivitas tidak menjadi saksi keburukan. Akan tetapi, sebaliknya, menjadi saksi kebaikan.

Ketiga, pesan untuk berakhlak baik kepada manusia. Pasalnya, ketakwaan kepada Allah dan usaha menjaganya bisa hancur berantakan lantaran akhlak buruk kita. Ahli ibadah bisa bangkrut dan celaka lantaran akhlak buruknya. Orang yang tekun salat dan rajin puasa bisa binasa lantaran perbuatan keji yang dilakukannya.

Atas dasar itulah, ketakwaan harus dirawat dan dijaga dengan cara menunjukkan akhlak mulia. Iman baru bernilai bila disertai akhlak yang mulia. Ibadah baru diterima bila berhias akhlak mulia. Ilmu juga baru bermanfaat bila melahirkan akhlak mulia. Itulah sebabnya Nabi SAW bersabda, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad).

https://khazanah.republika.co.id/berita/puiq7d313/tiga-pesan-nabi-saw

  • 0
  • Baca: 7 kali

الحكمة من ابتلاء الله لأحبابه، وجزاء المؤمن المظلوم الصابر

السؤال

هل من العدل أن يتم ابتلاء أنثى بالاغتصاب؟ هل هذا حب من الله؟ وَلِمَ يتركهم بدون رفقة صالحة حتى لا يفقدوا الأمل في رحمة الله؟
وما مصيرهم بعد أن يلوموا الله، ويقولوا إنه إن كان يحبهم، ويريد لهم الجنة، ما تركهم فريسة بيد من لا يرحمون.
أتمنى الإجابة على أسئلتي.

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فالمثال الذي ذكره السائل (اغتصاب أنثى) وغيره مما يمكن ذكره من صور الظلم الموجودة في الحياة الدنيا، ترجع في النهاية إلى إشكالية واحدة، قديمة وحديثة في آن واحد! وهي إشكالية وجود الشر بصوره وأنواعه ودرجاته المتفاوتة. وهل هي تتعارض مع إثبات وجود الله تعالى، أو إثبات كماله في صفاته وأفعاله؟ فهذا هو الأصل والقضية الكلية التي ترد إليها أطراف الكلام، وقد سبق لنا تناولها بشيء من الإيضاح في إحدى المقالات المنشورة على موقعنا، وتجدها على هذا الرابط: 
https://www.islamweb.net/media/index.php?page=article&lang=A&id=220654 
ومع ذلك فالأمر يحتاج إلى مزيد بيان، فليس من المناسب أن يتساءل المرء عن قضية شائكة، حار فيها الفلاسفة، ولا زالوا حيالها في مد وجزر، ثم هو مع ذلك يريد أن يقرأ صفحة أو صفحات يسيرة تستوعبها وتفصِّلها، ولذلك فإننا نصح الأخ السائل بقراءة كتاب (مشكلة الشر ووجود الله) للدكتور سامي عامري. فهو من الكتب المعاصرة المميزة في هذا الباب. وكذلك ما يتعلق بسؤال وجود الشرور والآلام في الدنيا، من كتاب القرآن وأسئلتك الوجودية. للطبيب الشاب مهابالسعيد (في الطبعة الأولى من ص 232 : إلى ص 271 ). وراجع لمزيد الفائدة الفتويين: 135313، 117638.

وأما قول السائل: (هل هذا حب من الله؟) فلعله يشير بهذا إلى حديث: إن الله إذا أحب قوما ابتلاهم. رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما، وصححه الألباني. فهو يستشكل كيف يكون تسليط هذا المعتدي من علامات محبة الله للمعتدى عليها؟ فنقول: الابتلاء في الدنيا عموما من علامات إرادة الخير للعبد، إما لتكفير سيئاته، وإما لرفعة درجاته، وإما لمتحيصه وتمييزه عن أهل الريب والنفاق؛ ولذلك جاء بعد هذه الجملة عبارة: فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط. فلا يستوي من يؤمن بالله تعالى، وحكمته في قضائه وقدره، وكماله في أسمائه وصفاته، مع من يرتاب ويمتري، ولذلك قد قال الله تعالى: مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ [آل عمران: 179].

وقال الشيخ سليمان آل الشيخ في (تيسير العزيز الحميد): إن قلت: كيف يبتلي الله أحبابه؟! قيل: لما كان أحد لا يخلو من ذنب كان الابتلاء تطهيرًا لهم؛ كما صحت بذلك الأحاديث. وفي أثر إلهي: "أبتليهم بالمصائب لأطهرهم من المعايب" ولأنه زيادة في درجاتهم لما يحصل مع المصيبة للمؤمن من الأعمال الصالحة؛ كما تقدم في حديث "إذا سبقت للعبد من الله منْزلة لم يبلغها، أو قال: لم ينلها بعمله ابتلاه الله في جسده، أو في ولده، أو في ماله، ثم صبَّره حتى يبلغه المنْزلة التي سبقت له من الله عزّ وجل". ولأن ذلك يدعو إلى التوبة، فإن الله تعالى يبتلي العباد بعذاب الدنيا ليتوبوا من الذنوب؛ كما قال تعالى: {لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}. فمن رزقه الله التوبة بسبب المصيبة كان ذلك من أعظم نعم الله عليه، ولأن ذلك يحصل به دعاء الله والتضرع إليه؛ ولهذا ذم الله من لا يستكين لربه، ولا يتضرع عند حصول البأساء؛ كما قال تعالى: {وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ} ودعاء الله والتضرع إليه من أعظم النعم، فهذه النعمة والتي قبلها من أعظم صلاح الدين ... وإذا حصل لك الدعاء الذي هو سؤال الله حاجاتك، فتسأله ما تنتفع به، وتستعيذ به مما تستضر به، كان هذا من أعظم نعم الله عليك، وهذا كثيرًا ما يحصل بالمصائب. وإذا كانت هذه النعم في المصائب، فأولى الناس بها أحبابه، فعليهم حينئذ أن يشكروا الله. لخصت ذلك من كلام شيخ الإسلام رحمه الله. انتهى.

وعلى أية حال، فإن مشكلة الشر لا يمكن إدراك الحكمة منها ولا التعامل معها، إلا ملاحظة الفرق الهائل بين علم الله تعالى المحيط بكل شيء، وبين علم العبد القاصر المحدود الذي لا يتعدى القشرة الرقيقة التي يدركها بحواسه الضعيفة، ولنا في قصة موسى مع الخضر مثال واضح لذلك.

ثم أيضا لا بد من ملاحظة الاتصال الوثيق في حكم الله تعالى بين الدنيا والآخرة، وأن الآخرة - وليس الدنيا - هي دار الجزاء وإقامة العدل المطلق بين الخلائق، وراجع في ذلك الفتويين: 381029، 124756. هذا .. ومع مراعاة حسن جزاء المؤمن المظلوم الصابر المحتسب عند لقاء الله، يزول الجانب الآخر من هذا الإشكال، قال ابن الوزير في إيثار الحق على الخلق: الله تعالى جعل ثواب العبد على ذهاب بصره الخلود الذي لا آخر له في نعيم الجنان الذي لا مثل له بحيث أن من غمس غمسة واحدة فيه من أهل البلاء يقال له: هل رأيت بؤسا قط؟ فيقول: ما رأيت بؤسا قط. فهذا في أول غمسة كيف في الدوام الأبدي فيما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر في مقعد صدق عند مليك مقتدر مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا. وكل عاقل يشتري هذا بأن يقطع إربا إربا في كل حين، ولذلك قال الله تعالى {إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة} الآية. اهـ.

وأما السؤال عن مصير من يلوم الله تعالى على قضائه، ويسيئ به الظن: فهذا يختلف حكمه بحسب الحال، وإن كان مذموما على أية حال، وراجع في تفصيل ذلك الفتويين: 133564، 134641.

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/400585/%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D8%A8%D8%AA%D9%84%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%84%D8%A3%D8%AD%D8%A8%D8%A7%D8%A8%D9%87%D8%8C-%D9%88%D8%AC%D8%B2%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B8%D9%84%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A7%D8%A8%D8%B1

 

  • 0
  • Baca: 4 kali

Showing the Right Arm While Wearing Ihram: A Must?

Question:

As-salamu `alaykum. Does the person wearing ihram have to show the right or left arm? When should he do so: all the time or at specific times? I see people doing both so I get confused. Jazakum Allahu khayran.

 

Answer:

Wa `alaykum as-salam wa rahmatullahi wa barakatuh. 

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

What you are referring to in your question is called idtiba` which is to show the right arm while making Tawaf Al-Qudum (applicable only to male pilgrims). A pilgrim is recommended to make idtiba` in this first Tawaf.


In his response to your question, Sheikh Muhammad Nur Abdullah, Former President of the ISNA (Islamic Society of North America) and member of the Fiqh Council of North America, states,

pilgrim is recommended to show his right arm while making the first tawaf, which is called Tawaf Al-Qudum (the arrival circumambulation).

It is also recommended to go around the Kabah in a faster pace in the first three rounds. After that, the pilgrim should cover his arm and remain as such during the rituals of Hajj.

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/hajj/showing-the-right-arm-while-wearing-ihram-a-must/

 

  • 0
  • Baca: 5 kali

Jejak Madrasah Tradisional di Baghdad

MAMHTROSO.COM -- Islam datang untuk mengatur urusan dunia dan akhirat. Dengan memanfaatkan pendidikan Islam dan ilmu duniawi, Muslim menerapkan ajarannya dalam kehidupan.

Dengan meluasnya wilayah Islam, muncul kebutuhan untuk mengembangkan masyarakat, memperluas cakrawala intelektual. Pada periode Abbasiyah, banyak sekolah didirikan, terutama di Irak.

Baghdad, jantung kekhalifahan Abbasiyah menyediakan sains dan ilmuwan dengan jumlah terbesar. Buku sejarah, historiografi dan biografi menyebutkan sekitar 30 sekolah berdiri di Baghdad.

Sekolah Tertua

Madrasah yang terkenal ketika itu adalah Nizamiyah. Berdasarkan sumber-sumber bersejarah, sekolah ini dibangun oleh menteri Seljuk Nizamul Muluk pada tahun 462 AH (1069 M).

Nizamiyah memiliki tradisi yang melibatkan ilmuwan, pelajar, dan pewakaf. Kemajuan Nizamiyah terlihat dalam metode pengajaran. Ini adalah hasil Nizamul Mulk mengelola sekolah-sekolah. Kondisi ini berlanjut dengan sekolah yang didirikan setelah masa pemerintahannya.

Nizamul Muluk berusaha meningkatkan penghasilan guru. Biaya pemeliharaan sekolah juga ditingkatkan. Dia menghapuskan biaya kuliah yang sebelumnya dikenakan pada siswa, mengalihkan tanggung jawab biaya pendidikan kepada negara.

Universitas Terkemuka

Bersamaan dengan invasi Mongol, Universitas Mustansiriyah menjadi yang terbesar pertama di Baghdad selama masa Abbasiyah. Empat mazhab fikih diajarkan di dalamnya.

Terlebih lagi, ini adalah universitas Islam pertama yang peduli dengan studi Alquran dan Sunnah, fikih, bahasa Arab, matematika, kedokteran, dan kesehatan. Universitas ini dinamakan Munstansiriyah, seperti nama khalifah Abbasiyah ketika itu al-Mustansir Billah, Mansur bin Muhammad az-Zahir (1192-1242 M). dia naik ke tampuk kekuasaan pada 623 AH (1226 M). Sejarah mencatat khalifah satu ini masyhur dalam pengembangan pendidikan.

Pendidikan di Mustansiriyah

Tepat pada 5 Rajab 631 H atau 6 April 1234 M perguruan tinggi Mustansiriyah diresmikan. Sebanyak 62 siswa dipilih untuk belajar di sana. Selanjutnya dua rektor dan dua wakil rektor diangkat untuk memimpin universitas ini.

Mereka adalah Muhyidin Abu Abdullah Muammad bin Yayabin Fadhlan as-Syafi'i, dan Rasyiduddin Abu Hafs Umar bin Muhammad al-Farghani al-Hanafi. Sedangkan dua wakil rektor adalah Jamaluddin Abul-Faraj Yusuf bin Abdur Rahman bin al-Jauzi al-Hanbali dan Abul Hasan Ali al-Maghribi al-Maliki.

Mereka yang berbeda mahzab menempuh pendidikan di ruangan yang berbeda. Ruang kanan kiblat untuk murid bermahzab Syafii. Ruang kiri kiblat untuk yang bermazhab Hanafi. Ruang kanan pintu masuk untuk siswa yang bermazhab Hambali dan ruang kiri pintu masuk untuk Mazhab Maliki.

https://khazanah.republika.co.id/berita/pu1kcc313/jejak-madrasah-tradisional-di-baghdad

 

  • 0
  • Baca: 17 kali
Berlangganan RSS feed