Masuk

Terlalu Mengerikan, Kepolisian New York Hentikan Penggunaan Anjing Robot

MAMHTROSO.COM -- Kepolisian Kota New York (NYPD) di Amerika Serikat mengatakan mereka akan menghentikan penggunaan anjing robot setelah adanya protes keras.

Dilansir BBC, Minggu (2/5/2021) NYPD mengatakan bahwa pihaknya telah mengakhiri kontrak dengan perusahaan Boston Dynamics, produsen robot bernama 'Digidog' yang dikendalikan dari jarak jauh.

Sejak akhir 2020, NYPD sudah menjalankan percobaan anjing robot ini, diharapkan bisa membantu "menyelamatkan nyawa, melindungi orang, dan petugas kepolisian".

Namun sayangnya, penggunaan anjing robot ini telah memicu reaksi negatif ketika kinerja kepolisian sedang diperhatikan banyak pihak.

Rekaman robot yang dikerahkan dalam situasi penyanderaan dan sedang berpatroli di perumahan warga menjadi viral.

Para kritikus menyebut pengerahan Digidog sebagai lambang betapa agresif petugas kepolisian saat menghadapi masyarakat komunitas pinggiran.

Mereka berpendapat bahwa insiden tersebut juga menunjukkan peningkatan militerisasi pasukan kepolisian di seluruh Amerika Serikat.

https://www.liputan6.com/global/read/4547087/terlalu-mengerikan-kepolisian-new-york-hentikan-penggunaan-anjing-robot

 

  • 0
  • Baca: 7 kali

What Are the Rulings and Etiquettes of Eid?

Question:

As-salamu `alaykum. Could you please clarify the etiquette and rulings of `Eid?

 

Answer:

Wa `alaykum as-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

Eid, in Islam, is a day of joy, thanksgiving, worship, brotherhood, solidarity, and morality. A Muslim should take the advantage of this day to bring himself nearer to Allah, Most High.


As regards your question, Sheikh M. S. Al-Munajjid, a prominent Saudi Islamic lecturer and author, states:

The Prophet (peace and blessings be upon him) said, “Every nation has its festival, and this is your festival.” Here, he referred to the fact that these two Eids are exclusively for the Muslims.

The Muslims have no festivals apart from Eid al-Fitr and Eid al-Adha Anas ibn Malik (may Allah be pleased with him) said: “The Messenger of Allah came to Madinah, the people of Madinah used to have two festivals.

On those two days, they had carnivals and festivity. The Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) asked the Ansar (the Muslims of Madinah) about it.

They replied that before Islam, they used to have carnivals on those two joyous days. The Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) told them, “Instead of those two days, Allah has appointed two other days which are better, the days of Eid al-Fitr and Eid al-Adha.” (Abu Dawud)

These two Eids are among the signs of Allah, to which we must show consideration and understand their objectives. Below, we will elaborate the rulings and etiquette of Eid.

Rulings of Eid

1- Fasting: It is haram to fast on the days of Eid because of the hadith of Abu Sa`id Al-Khudri (may Allah be pleased with him) in which he said that the Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) forbade fasting on the day of Fitr and the day of Adha. (Muslim)

2- Offering Eid Prayers: Some of the scholars say that Eid Prayers are obligatory – this is the view of the Hanafi scholars and of Ibn Taymiyyah. Some scholars say that Eid Prayer is Fard Kifayah (a communal duty, binding on the Muslims as a group, and it is fulfilled if a sufficient number of people perform it, thereby absolving the rest of sin). This is the view of the Hanbalis. A third group says that Eid Prayer is Sunnah Mu’akkadah (confirmed sunnah). This is the view of the Malikis and Shafi`is.

3- Offering Supererogatory Prayers: There are no Supererogatory Prayers to be offered either before or after the Eid Prayer, as Ibn `Abbas reported that the Prophet (peace and blessings be upon him) used to come out on the day of Eid and pray two rak`ahs, with nothing before or after them. This is the case if the Prayer is offered in an open area. If, however, the people pray the Eid Prayer in a mosque, then they should pray two rak`ahs for Tahiyat Al-Masjid.

4- Women attending the Eid Prayers: According to the Sunnah of the Prophet (peace and blessings be upon him), everyone is urged to attend Eid Prayer, and to co-operate with one another in righteousness and piety. The menstruating woman should not forsake the remembrance of Allah or places of goodness such as gatherings for the purpose of seeking knowledge and remembering Allah – apart from mosques. Women, undoubtedly, should not go out without the Hijab.

Etiquettes of Eid

1- Ghusl (taking a bath): One of the good manners of Eid is to take a bath before going out to the Prayer. It was reported that Sa`id ibn Jubayr said: “Three things are Sunnah on Eid: to walk (to the prayer-place), to take a bath, and to eat before coming out (if it’s Eid al-Fitr).”

2- Eating before coming out: One should not come out to the prayer-place on Eid al-Fitr before eating some dates, because of the hadith narrated by Al-Bukhari from Anas ibn Malik who said: “The Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) would not go out in the morning of Eid al-Fitr until he had eaten some dates… and he would eat an odd number.” On Eid al-Adha, on the other hand, it is recommended not to eat until after the Prayer, when one should eat from the meat of one’s sacrifice.

3- Takbir on the day of Eid: This is one of the greatest Sunnahs of this day. Al-Daraqutni and others reported that when Ibn `Umar came out on Eid al-Fitr and Eid al-Adha, he would strive hard in making Takbir until he reached the prayer-place, then he would continue making Takbir until the Imam came.

4- Congratulating one another: People may exchange congratulations and good greetings on Eid, no matter what form the words take. For example, they may say to one another, “Taqabbal Allahu minnaa wa minkum (May Allah accept, from us and from you, our good deeds!)”.

Jubayr ibn Nufayr said: “At the time of the Prophet (peace and blessings be upon him) when people met one another on the day of Eid, they would say, ‘Taqabbal Allahu minnaa wa minka.’” (Ibn Hajar)

5- Wearing one’s best clothes for Eid: Jabir (may Allah be pleased with him) said: “The Prophet (peace and blessings be upon him) had a Jubbah (cloak) that he would wear on Eid and on Fridays.” Al-Bayhaqi reported that Ibn `Umar used to wear his best clothes on Eid, so men should wear the best clothes they have when they go out for Eid.

6- Changing route on returning from Prayer-place: Jabir ibn `Abdullah (may Allah be pleased with him) reported that the Prophet (peace and blessings be upon him) used to change his routes on the day of Eid. (Al-Bukhari)

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

Source: Excerpted, with slight modifications, from, www.islamqa.info

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/arts-entertainment/eid-etiquette-and-rulings/

 

  • 0
  • Baca: 12 kali

Kezaliman Mudik pada Masa Pandemi

MAMHTROSO.COM -- Pada situasi normal, kegiatan mudik sebenarnya sangat mulia. Mudik itu komitmen dan ekspresi silaturahim. Itu penting bagai semen perekat masyarakat, bagai besi pengokoh harmoni. Sebagai pergerakan kohesi sosial, mudik amatlah penting bagi spirit kebangsaan dan konstruksi kenegaraan.

Namun, tidaklah demikian arti penting mudik pada situasi pandemi. Mudik pada situasi pandemi bisa berubah menjadi sebentuk kezaliman.

Alih-alih bermakna maslahat, mudik malah berdampak mudarat. Dipandang mulia pada saat normal, pelaku mudik saat pandemi malah bisa dianggap berdosa, bukannya berjasa dan berpahala.

Inilah penjelasan mengapa Nabi melarang orang pergi keluar dari area wabah. "Jika kalian mendengar tentang wabah di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya. Tetapi, jika terjadi wabah di daerah kalian berada, janganlah kalian meninggalkan daerah itu." (HR Bukhari 3.214; Muslim 4108).

Satu orang keluar dari wilayah wabah, ribuan orang di luar wilayah itu terancam tertular dan terpapar. Alquran mengingatkan, pergerakan meninggalkan area wabah itu begitu besar tingkat kezalimannya, sedemikian rupa sehingga satu orang pergi mudik itu berdosa seolah-olah mengancam nyawa semua orang dan, sebaliknya, satu orang tidak mudik itu berjasa seolah-olah menyelamatkan nyawa semua orang (lihat QS 5: 32).

Seyogianyalah bagi seorang Muslim, rasa khawatir menularkan itu jauh lebih besar dari pada rasa takut tertular. Menularkan adalah kezaliman terhadap orang lain dan tentu dosa. Tertular adalah kelengahan yang hanya zalim terhadap diri sendiri. Sabda Nabi, berhati-hatilah dari kemungkinan melakukan apa pun bentuk kezaliman sebab kezaliman itu akan menjelma menjadi gumpalan-gumpalan kegelapan di hadapan si zalim kelak pada hari kiamat (Muslim 4675).

https://www.republika.co.id/berita/qsvv4z282/kezaliman-mudik-pada-masa-pandemi

 

  • 0
  • Baca: 7 kali

Jaga Sholat Isya dan Subuh untuk Raih Lailatul Qadar

MAMHTROSO.COM -- Dianjurkan menjaga sholat Isya dan subuh berjamaah agar mendapat keutamaan malam Lailatul Qadr. Dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ustman Bin Affan disebutkan bahwa:

"Siapa yang sholat Isya secara berjamaah maka ia seperti orang yang menghidupkan setengah malamnya, dan barang siapa yang sholat subuh secara berjamaah ia seperti orang yang menghidupkan seluruh malamnya.” (HR Muslim, No. 1049).

Ustaz Ahmad Zarkasih menjelaskan dalam hadits yang masyhur dijelaskan bahwa siapa orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar ia akan mendapatkan kemualian malam tersebut. Dengan amalam semalam itu maka kita akan diampuni seluruh dosanya yang telah lampau oleh Allah SWT.

"Dan ibadahnya malam itu dinilai sebagai ibadah selama 1000 bulan, yang tepatnya 83 tahun lebih," kata Ustaz Ahmad Zarkasih dalam bukunya "Meraih Lailatul Qadr Haruskah Itikaf?"

Saat ini kata Ustaz Ahmad yang jadi masalah ialah apakah seorang itu bisa meraih keutamaan malam Lailatul
Qodr hanya dengan sholat isya dan subuh berjamaah? Ini memang pertanyaan yang selalu ditanyakan dari tahun ketahun; apakah harus I’tikaf?

"Kalau harus I’tikaf apakah dalam itu harus selalu terjaga mata ini, tidak boleh tertidur? Artinya apakah harus
bergadang? Atau cukup saja shalat tarawih sudah terhitung sebagai orang yang menghidupkan malam?

Imam al-Syirbiniy dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj (2/189) mengutip pernyataan Imam AS-Sayfi’i dalam Qoul Qodim (pernyataan lama)-nya yang menyatakan bahwa keutamaan malam Lailatul Qadar itu bisa diraih bagi siapa yang hanya mengerjakan sholat Isya’ dan subuh secara berjamaah, sesuai hadits Ustman bin Affan di atas.

Kemudian beliau mengutip sebuah riwayat yang marfu’ dari Abu Hurairoh sebagai penguat statement sang Imam, disebutkan bahwa:

"Barang siapa yang sholat isya’ terakhir secara berjamaah, maka ia telah mendapatkan keutamaan malan Lailatul Qadar"

Pernyataan yang sama juga dikutip oleh Imam al-Ramliy dalam kitabnya Nihayah al-Muhtaj (3/215). Dan pernyataan ini kemudian dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ (6/451), bahwa pernyataan Imam Syafi’I tersebut ialah Qoul Qodim-nya, akan tetapi tidak ada nash (teks) Imam syafi’I
dalam Qoul Jadid (pernyataan baru) yang menyelisih atau menggubah pernyataan lamanya.

"Jadi inilah pendapat madzhab," kata Ustaz Ahmad.

Ini adalah pendapat beliau dalam qaul-qadim (lama), dan tidak diketahui adanya qaul-jadid (baru) yang menyelisih. Dan sebagaimana yang telah kami singgung di awal, bahwa apa yang ditetapkan oleh Imam Syafi’i dalam qaul-qadim-nya dan tidak ada qaul-jadid yang menyelisih dan tidak juga yang menyepakati, maka itulah pendapat madzhab. Dan tidak ada yang menyelisih ini.”

https://www.republika.co.id/berita/qskz37430/jaga-sholat-isya-dan-subuh-untuk-raih-lailatul-qadar

 

  • 0
  • Baca: 10 kali

Ramadan Bersiap Pergi, Semoga Kita Mendapat Ampunan

MAMHTROSO.COM -- Tamu agung kita bulan Ramadhan 1442 H saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kita. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung bulan penuh berkah ini, seakan baru kemarin ia menyapa kita. 

Ia berjalan seperti angin, berlalu begitu cepat. Tapi sayang, kita terlalu cool dan lambat meresponsnya, tidak menggunakan full power dan waktu bersamanya dengan baik, banyak waktu terlewati begitu saja, banyak amalan-amalan yang terlewati, bahkan kadang kita menikmati hari-hari di bulan Ramadhan seperti melewati hari-hari biasa di bulan lain.

Maka, berbahagialah bagi siapa saja yang telah maksimal bersama Ramadhan, menjalani berbagai ibadah dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjadi hamba taat,  meskipun kondisi di tengah hiruk pikuk dunia, termasuk pandemi wabah Covid-19. 

Semoga kita termasuk orang yang sukses hasil tempaan madrasah Ramadhan.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya, kita tidak bisa menilai seseorang hari ini, bisa jadi besok ia Khusnul khatimah, begitu juga dengan Ramadhan, bertahan dengan bersungguh beramal shalih sampai penghujung adalah amalan terbaik, seperti dalam hadits Rasulullah Saw:

 “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari).

Kalau kita ibaratkan, hari-hari akhir Ramadhan ini seperti babak final dalam sebuah kompetisi, para peserta semakin sedikit. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan istiqamah berhasil lolos dari babak sebelumnya.

Kita bisa melihat kondisi di sekitar kita, juga perbandingan shaf-shaf shalat di fase akhir ini jelas berbeda, baik itu shalat fardhu maupun shalat Tarawih. 

Fenomena unik lainnya, lebih banyak yang menuju ke pasar atau pusat perbelanjaan dibandingkan dengan ke masjid/meunasah, walaupun kadang tempat itu lokasinya tidak jauh dari masjid.

Hal ini seakan lumrah, seperti sebuah tradisi, karena hampir setiap akhir Ramadhan suasananya selalu seperti ini, sepinya tempat-tempat ibadah dan membludaknya pasar dan kedai kopi.

Tradisi ini tidak perlu dipertahankan, berbanding dengan cara para pendahulu kita,dimana dahsyatnya beribadah di akhir Ramadhan.

Sampai di penghujung Ramadhan ini, kita mencoba untuk melihat tentang aktivitas atau kegiatan kita selama Ramadhan ini, bagaimana cara kita menghabiskannya, biasa saja atau istimewa.

Karena, jauh-jauh hari sebelum masuknya Ramadhan sudah banyak mempersiapkan bermacam target,  jadwal, kegiatan dan pogram-pogram selama Ramadhan. Namun, sekarang kita mencoba untuk mengevaluasi realisasi pogram-program tersebut, melihat target kita tercapai atau tidak tercapai.

Sebelum Ramadhan pergi kita harus menyelesaikan pogram-pogram atau target-target yang belum terlaksanakan, walaupun waktu yang tersisa begitu singkat, seperti mengkhatam Al- Qur’an, perbanyak shadaqah dan lain-lainnya.

Sehingga sebelum Ramadhan pergi kita telah menyelesaikannya, dan kita mendapat ampunan dari Allah dan meraih titlel Master Of Taqwa (M .Tq). Kita bisa fokus pada waktu yang tersisa, kembali mengejar ketertinggalan hari-hari yang telah berlalu, jangan biarkan Ramadhan pergi begitu saja. 

Mungkin, hari ini kita tidak bisa seperti sahabat Rasulullah SAW atau para ulama dahulu yang menangis tersedu karena berpisah dengan Ramadhan, padahal sehari-hari mereka begitu fokus dan khusyuk memanfaatkan setiap detik waktu Ramadhan apalagi di 10 terakhir, mereka fokus, i'tikaf, mengurangi tidur, semakin rajin dalam ketaatan, mereka biarkan kelelahan dalam ketaatan.

Bagi mereka, waktu Ramadhan itu sangat terbatas, jadi mereka tidak sia-siakan. Sementara kita, masih jauh dan sangat jauh, kadang seakan menjalani rutinitas Ramadhan hanya sebatas kewaijban, baca al-Qur’an juga kurang, amaliah-amaliah lainnya juga seperti biasa.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW bersunggung-sungguh menghidupkan sepuluh hari terakhir dengan segala kebaikan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ummul Mu’minin Aisyah r.a “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim).

Semestinya hadis di atas bisa menjadi motivasi untuk kita dalam menghidupkan kebaikan di babak final melebihi dari biasanya, bukan membiarkan kesempatan itu terbuang begitu saja.   

Ada satu poin yang sangat penting ketika memasuki babak final dari Ramadhan ini, di sana ada satu malam yang lebih utama dari seribu malam, yaitu Lailatul Qadar, untuk itu semestinya harus lebih rajin dan fokus.

Padahal seandainya kita tahu betapa banyak hikmah dari hadirnya bulan ini sungguh kita akan berharap semua bulan yang lain menjadi Ramadhan karena keutamaannya, pahala ibadah yang tiada batas, pahala sunat menjadi wajib dan di dalamnya juga terdapat Lailatul Qadar.

Kini, waktu berpisah dengan Ramadhan semakin dekat, Ramadhan akan kembali datang pada tahun berikutnya, sementara kita belum tentu apakah akan kembali berjumpa dengan Ramadhan atau tidak.

Hari-hari Ramadhan akan berakhir, lakukan yang sempurna pada saat berpisah dengannya. 

Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengannya dan semoga kita mendapat ampunan sebelum Ramadhan pergi.

Amin Ya Rabb.

https://www.republika.co.id/berita/qsvk9d385/ramadan-bersiap-pergi-semoga-kita-mendapat-ampunan-part2

 

  • 0
  • Baca: 7 kali

Menanam Bibit Baik Kepada Orang Lain

MAMHTROSO.COM -- Alkisah, ada seorang petani jagung yang sukses sekali dalam mengelola perkebunannya. Si petani bukan hanya mampu menghasilkan butir-butir jagung dengan kualitas yang prima tetapi juga dari hasil panennya yang sangat berlimpah.

Si petani telah beberapa kali memenangkan penghargaan, baik dari segi kualitas produk maupun kuantitasnya. Dari pemerintah pun, penghargaan tertinggi diraihnya karena dinilai sebagai pelopor kemajuan perekonomian masyarakat petani setempat.

Keberhasilan si petani bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, tetapi juga untuk petani-petani tetangganya. Dia seringkali membagi-bagikan bibit jagung berkualitasnya kepada mereka, mengajarinya cara bercocok tanam yang baik, sehingga hampir seluruh petani di daerah itu hidup sejahtera dan perekonomian pemerintah daerah pun juga meningkat tajam dan berlimpah.

Suatu hari, datang wartawan menanyakan, “Apa rahasia kesuksesan Bapak?”

“Oh, yang saya lakukan sederhana saja. Saya hanya membagi-bagikan bibit jagung unggul kepada tetangga-tetangga di sekitar perkebunan,” jelas si petani sambil tersenyum simpul.

“Mengapa Bapak melakukan hal tersebut? Apakah Bapak tidak takut jika para tetangga menjadi pesaing Bapak, bahkan mungkin akan merebut penghargaan yang diberikan pemerintah dari tangan Bapak?” tanya si wartawan penasaran.

“Saya ini bekerja bukan bertujuan untuk mendapat penghargaan. Yang saya kerjakan adalah mengelola alam dengan sebaik-baiknya, yakni berusaha terus menerus untuk menghasilkan bibit jagung yang unggulan. Yaitu jagung yang warna bijinya segar, manis, besar, sehat, dan panennya pun juga berlimpah,” papar si petani.

“Ingat pelajaran di SD dulu?” Si petani melanjutkan. “Sesuai hukum alam, pembuahan terjadi pada tanaman bila putik bertemu dengan serbuk sari melalui perantara angin. Itu artinya sebagus apapun tanaman jagung di kebun kita, bila serbuk sari dari ladang tetangga bukan yang berkualitas baik maka jagung yang dihasilkan pasti juga tidak berkualitas baik.

Nah, sederhana kan, untuk menghasilkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya dengan memberi mereka bibit jagung yang baik pula. Dengan demikian, menolong tetangga, membantu tetangga berarti juga menolong diri sendiri.”

Pembaca yang budiman,

Tidak ada sukses sejati diraih tanpa keterlibatan orang lain yang membantu terjadinya sukses. Sebuah sukses pasti membutuhkan dukungan orang lain. Dengan kemampuan kita memunculkan dan mengasah pribadi yang menarik, jujur, tanggung jawab, toleran, yang siap membina hubungan baik dengan orang lain.

Sesungguhnya, setiap orang adalah laksana tanah yang subur, yang perlu kita tanami dengan bibit unggul dan pelihara dengan baik layaknya bibit jagung ditanam di tanah yang subur. Jika yang kita tanam adalah perhatian, layanan, bantuan, dan hal positif lainnya, maka kita pasti akan memetik hasil yang positif pula.

Dengan menanam bibit baik kepada orang lain minimal kita telah menjadi manusia yang baik dan maksimal akan mendapatkan timbal balik baik secara langsung atau tidak langsung. Bahkan sering kali hasil yang kita dapat akan mengejutkan kita!

Salam sukses luar biasa!

https://andriewongso.com/menanam-bibit-baik-kepada-orang-lain/

 

  • 0
  • Baca: 13 kali

الغاية التي خلق الله من أجلها الإنس والجن

السؤال

سمعت أحد الشيوخ في درس له عن الزواج يقول: "إن من قوام الأسرة السعيدة معرفة الزوجين لسبب وجودهما في الحياة، ولماذا خُلِقَا"، ولكنه لم يقف كثيرًا للإسهاب في الإجابة عن هذا السؤال؛ لأنه لم يكن موضوع الدرس، وقد استوقفني سؤاله كثيرًا، وحاولت أن أعرف الإجابة، فأنا أعلم أن هناك سببًا عامًّا لخلق الإنسان، وهو عبادة الله سبحانه وتعالى، وهناك أيضًا سبب خاص أشار إليه الرسول الكريم في حديثه: "اعملوا؛ فكل ميسر لما خلق له"، وما لا أعلمه هو سبب وجودي أنا تحديدًا؛ فأنا -ككثير من الخلق- مقصّر في عبادة الله، ولا أعبده حق عبادته، فهل يحرم سؤالي هذا، خصوصًا أن الله عز وجل لا يُسأل عما يفعل؟ وهل يكفي ذلك للقاء الله سبحانه، والرجوع إليه دون العلم بالإجابة؟

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فإن الغاية المحبوبة لله، والتي خلق من أجلها الإنس والجن؛ هي عبادة الله سبحانه، وطاعته، كما قال سبحانه: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ {الذاريات:56}، والمقصود بهذا الآية الإرادة الشرعية الدينية التي يحبّها الله من العباد.

وأما قوله -صلى الله عليه وسلم-: اعملوا؛ فكل ميسر لما خلق له. كما جاء في الصحيحين عن علي -رضي الله عنه- قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم في جنازة، فأخذ شيئًا، فجعل ينكت به الأرض، فقال: ما منكم من أحد إلا وقد كتب مقعده من النار، ومقعده من الجنة. قالوا: يا رسول الله، أفلا نتّكل على كتابنا، وندع العمل!؟ قال: اعملوا؛ فكل ميسر لما خلق له: أما من كان من أهل السعادة، فييسر لعمل أهل السعادة، وأما من كان من أهل الشقاء، فييسر لعمل أهل الشقاوة. ثم قرأ: فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى [الليل:6] الآية.

فالمراد به الإرادة الكونية، وهي ما يصير العباد إليه من سعادة، أو شقاوة، قال ابن تيمية: فمن كان سعيدًا، ييسر للأعمال الصالحة التي تقتضي السعادة؛ ومن كان شقيًّا، ييسر للأعمال السيئة التي تقتضي الشقاوة؛ وكلاهما ميسر لما خلق له: وهو ما يصير إليه من مشيئة الله العامة الكونية التي ذكرها الله سبحانه في كتابه في قوله تعالى {ولا يزالون مختلفين * إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم}. وأما ما خلقوا له من محبة الله ورضاه، وهو إرادته الدينية التي أمروا بموجبها؛ فذلك مذكور في قوله: {وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون}. اهـ. من مجموع الفتاوى.

وقال أيضًا: يجوز أن يقال: إن الله إنما خلق الجن والإنس ليعبدوه؛ فإنه هذا هو الغاية التي أرادها منهم بأمره، وبها يحصل محبوبه، وبها تحصل سعادتهم ونجاتهم، وإن كان منهم من لم يعبده، ولم يجعله عابدًا له...

ويجوز أيضًا أن يقال: {ولا يزالون مختلفين * إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم}، فإنه أراد بخلقهم صائرون إليه من الرحمة والاختلاف.

ففي تلك الآية ذكر الغاية التي أمروا بها، وهنا ذكر الغاية التي إليها يصيرون، وكلاهما مرادة له، تلك مرادة بأمره، والموجود منها مراد بخلقه وأمره، وهذه مرادة بخلقه، والمأمور منها مراد بخلقه وأمره.

وهذا معنى ما يروى عن علي بن أبي طالب -رضي الله عنه- في قوله: {إلا ليعبدون}، قال: معناه إلا لآمرهم أن يعبدوني. اهـ. من درء تعارض العقل والنقل.

وبعد هذا؛ فأنت -كسائر الناس- خُلقت من أجل أن تعبد الله سبحانه، وتطيعه، وتستجيب لأمره، وهذه هي الغاية التي أُمرت بها، ومعرفة هذه الغاية هي المقصودة من كلام الشيخ الذي ذكرته عن قوام الأسرة السعيدة.

وأما الغاية التي ستصير إليها من شقاوة، أو سعادة، فهذه لا يعلمها إلا الله سبحانه.

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/439540/%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%8A-%D8%AE%D9%84%D9%82-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%AC%D9%84%D9%87%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%86%D8%B3-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86

 

  • 0
  • Baca: 12 kali

Any Recommended Acts of Worship for Laylat al-Qadr?

Question:

As-salam `alaykum. Dear Sheikhs, given that the blessed night Laylat al-Qadr is approaching, we would like you to tell us what should we do in this night. Kindly inform us of the acts of worship that are recommended in this night?

Answer:

Wa `Alaykum As-Salam Waramatullah Wabarakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- Laylat al-Qadr is the most blessed night. A person who misses it has indeed missed a great amount of good.

2- If a believing person is keen to obey his Lord and increase the good deeds in his record, he should strive to encounter this night and to pass it in worship and obedience.

3- If this is facilitated for him, all of his previous sins will be forgiven.


Elaborating more on this issue, we would like to cite the following:

During Laylat al-Qadr, every Muslim should do the following:

Praying Qiyam

It is recommended to make a long Qiyam prayer during the nights on which Laylat al-Qadr could fall. This is indicated in many hadiths, such as the following:

Abu Dharr (may Allah be pleased with him) relates: “We fasted with Allah’s Messenger (peace and blessings be upon him) in Ramadan. He did not lead us in Qiyam (Night Vigil Prayer) at all until there were seven nights of Ramadan left. Then he stood with us (that night, in Prayer) until one third of the night had passed. He did not pray with us on the sixth. On the fifth night, he prayed with us until half of the night had passed. So we said, ‘Allah’s Messenger! Wouldn’t you pray with us the whole night?’ He replied: ‘Whoever stands in Prayer with Imam until he (the Imam) concludes the Prayer, it will be recorded for him that he prayed the whole night…” (Ibn Abi Shaybah, Abu Dawud and At-Tirmidhi)

Abu Dawud mentioned: “I heard Ahmad being asked, ‘Do you like for a man to pray with the people or by himself during Ramadan?’ He replied, ‘Pray with the people’ I also heard him say, ‘I would prefer for one to pray Qiyam with Imam and to pray Witr with him as well, for the Prophet (peace and blessings be upon him) said, “When a man prays with the Imam until he concludes, he’ll earn the reward of praying the rest of that night.”

Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) narrated that the Prophet (peace and blessings be upon him) said: “Whoever stands (in Qiyam) in Laylat al-Qadr (and it is facilitated for him) out of faith and expectation of Allah’s reward, will have all of his previous sins forgiven.”  (Al-Bukhari and Muslim)

The phrase “and it is facilitated for him”, according to the version narrated by Ahmad, on the authority of Ubadah Ibn As-Samit, means that a person is permitted to be among the sincere worshippers during that blessed night.

Making Supplications

It is also recommended to make extensive supplication on this night. `A’ishah (may Allah be pleased with her) reported that she asked the Prophet (peace and blessings be upon him) “O Messenger of Allah! If I knew which night is Laylat al-Qadr, what should I say during it?” And he instructed her to say: “Allahumma innaka `afuwwun tuhibbul `afwa fa`fu `annee (O Allah! You are Oft-Forgiving, and you love forgiveness. So forgive me).” (Ahmad, Ibn Majah and At-Tirmithi)

Abandoning Worldly Pleasures for the Sake of Worship

It is further recommended to spend more time in worship during the nights on which Laylat al-Qadr is likely to be. This calls for abandoning many worldly pleasures in order to secure the time and thoughts solely for worshipping Allah. This is based on the following Hadith narrated by Aishah (may Allah be pleased with her): “Upon entering into the last ten (of Ramadan), the Prophet (peace and blessings be upon him) would tighten his Izar (i.e. he stayed away from his wives in order to have more time for worship), spend the whole night awake (in Prayer), and wake up his family.” (Al-Bukhari and Muslim)

She also said: “Allah’s Messenger (peace and blessings be upon him) used to exert more efforts (in worship) on the last ten than on other nights.” (Muslim)

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/fasting/any-recommended-acts-of-worship-in-laylatal-qadr/

 

  • 0
  • Baca: 11 kali
Berlangganan RSS feed