Masuk

Tentang Iman dan Sabar

MAMHTROSO.COM -- Banyak orang yang menganggap dirinya telah beriman dan boleh dikatakan telah melakukan semua rukun iman dan Islam tetapi terkadang penuh tanda tanya ketidakpuasan. Misalnya mengapa mereka yang katanya sudah benar-benar melakukan segala rupa ibadah, kehidupan sehariannya masih saja miskin.

Mereka bandingkan dengan orang-orang yang sama sekali tidak beriman bahkan di luar Muslim, jauh lebih enak hidupnya. Mereka telah berupaya sekuat tenaga juga masih saja rezeki yang baik belum mengalir. Begitu juga seseorang jatuh cinta dengan seseorang tetapi belum juga berhasil bisa hidup sebagai suami istri yang layak.

Juga banyak anak didik yang beriman ternyata sering juga banyak yang gagal dalam ujian sekolah/perguruan tinggi. Banyak lagi kekecewaan yang selalu dihadapi manusia, walau seharusnya segalanya kita harus kembalikan kepada hadis: "Apa yang kita anggap baik mungkin menurut Allah tidak baik. Apa yang kita anggap tidak baik mungkin menurut Allah baik."

Juga seharusnya kita merenungkan arti surat ar-Rahman yang ayat-ayatnya berulang kali yang artinya: "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?"

Bayangkan semua yang kecewa itu sebenarnya masih hidup, masih sehat. Mereka dengan gratis menghirup oksigen sepuasnya tanpa bayar seperti orang sakit harus membayar setiap tabung oksigen yang habis digunakan.

Hati mereka baik, ginjal mereka baik, otak mereka sehat tidak gila, paru-paru mereka juga baik. Hanya karena tidak memperoleh rezeki lebih banyak, tidak naik pangkat, tidak bisa menduduki jabatan yang dikehendakinya sejak lama dan lain-lain sehingga mereka kecewa. Terkadang kekecewaan itu dilemparkan kepada Allah, apalagi diakhiri dengan nekat bunuh diri.

Begitu banyak surah dan ayat suci Alquran yang menyinggung mengenai sabar. Jelas juga dalam ayat-ayat suci Alquran dikatakan: "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong" (2:45,153).

Oleh karena kekecewaan itu merupakan cobaan maka layaklah, dalam kitab suci Alquran juga menyatakan: Orang yang sabar apabila mendapat cobaan (QS:2:156).

Selain apa yang diungkapkan dalam kitab suci Alquran yang begitu banyak soal sabar, juga hadis menyangkut kesabaran juga cukup banyak.

Seperti yang diterangkan hadis qudsi sebagaimana diriwayatkan Bukhari: "Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah berfirman: Apabila Aku menguji hambaKu dengan dua perkara yang dicintainya, kemudian dia bersabar, maka Aku ganti keduanya itu dengan surga baginya."

Oleh karena sabar ganjarannya surga, memang tepat jika kita berdoa: "Ya Allah Tuhan kami, limpahilah kepada kami kesabaran dan wafatkanlah kami tetap dalam Islam (berserah diri kepadaMu)" (QS:7:126).

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prnfiz458/tentang-iman-dan-sabar

  • 0
  • Baca: 5 kali

Teladan Ali Bin Abi Thalib, Peduli pada Kaum Dhuafa

MAMHTROSO.COM -- Bila umat Islam menyebut nama Ali bin Abi Thalib, biasanya diteruskan dengan Karramallahu Wajhah, (semoga) Allah memuliakan wajahnya.

Sementara, para sahabat Nabi SAW yang lainnya--seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan seterusnya--mendapat tambahan ucapan di belakang namanya dengan r.a, perpanjangan dari radhiyallahu 'anhu, (semoga) Allah meridhainya.

Menurut sebuah riwayat, Ali bin Abi Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW ini, mendapatkan keistimewaan seperti itu, antara lain, karena ia merupakan sedikit sahabat yang tak pernah menyembah berhala. Sementara, riwayat lain menyebutkan, selain karena alasan tadi, juga karena kesetiakawanan dan kepedulian Ali terhadap kaum dhuafa.

Tentang kepeduliannya kepada kaum dhuafa ini, disebutkan, pada suatu hari Ali bin Abi Thalib bersama istrinya, Fatimah, sedang kekurangan makanan. Lalu ia minta tolong kepada seorang Yahudi agar diberi benang sutra, untuk ditenun menjadi kain oleh istrinya.

Maksudnya, supaya ia mendapat upah. Demikianlah Ali sekeluarga kemudian mampu membeli beberapa mangkuk gandum. Gandum kemudian ditumbuk oleh Fatimah, untuk dibuat roti. Namun begitu roti siap, terdengar ketukan di pintu rumah mereka.

Setelah pintu dibuka, tampak seorang lelaki berada di depan pintu. ''Assalamualaikum. Saya adalah seorang miskin. Berilah saya makanan karena Allah.'' Ali lalu memberinya beberapa potong roti.

Tak lama setelah lelaki itu pergi, datang seorang anak yatim, yang juga meminta makanan. Si yatim pergi, datang orang ketiga, yaitu seorang budak tawanan perang. Ia juga meminta makanan. Roti yang tinggal tak seberapa itu pun diulurkan Ali kepada budak itu.

Habislah makanan Ali. Tak ada lagi yang tersisa untuk makanan diri dan keluarganya. Terpaksalah Ali sekeluarga hanya minum air putih. Namun mengingat kedua anaknya, Hasan dan Husain, begitu lapar, karena hanya minum air, Ali pun pergi ke rumah Nabi Muhammad, untuk menyampaikan ihwal kedua cucu Nabi SAW itu. Oleh Rasulullah SAW, Ali kemudian diberi sebuah keranjang. Rasul SAW juga memerintahkannya pergi ke sebuah pohon kurma tak jauh dari rumah beliau.

Ali menuju ke pohon kurma yang ditunjuk, dan memetik kurma yang sudah matang itu. Setiba di rumah, seluruh anggota keluarga makan bersama, hingga kenyang. Ini contoh betapa indah setia kawan di antara sesama muslim. Mereka rela melepas benda (makanan) yang mereka sendiri sangat membutuhkan, namun mengingat ada yang lebih memerlukan dan harus ditolong, mereka dahulukan kepentingan orang lain itu.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prnekq458/teladan-ali-bin-abi-thalib-peduli-pada-kaum-dhuafa

  • 0
  • Baca: 5 kali

Menjaga Semangat Ramadhan

MAMHTROSO.COM -- Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Pantaulah Lailatul Qadr di 10 malam terakhir" (HR muttafaqun'alaih). Sabda Rasul SAW ini mengisyaratkan, puncak ibadah di bulan Ramadhan adalah pada 10 hari terakhir.

Ini berarti, grafik yang harus diraih oleh seseorang yang berpuasa terus menanjak. Puncak dari rangkaian ibadah itu ada pada malam Idul Fitri nanti.

Dalam kaitan ini, Nabi SAW mengingatkan, orang yang durhaka ialah orang yang tidak meraih apa-apa dalam Ramadhan atau orang yang tidak meraih ampunan Allah SWT selepas Ramadhan.

Selama bulan Ramadhan, Allah SWT memberi peluang yang sangat besar kepada setiap hamba-Nya yang berpuasa untuk mendapatkan berkah, rahmat, dan ampunan dari-Nya.

Oleh karena itu, nanti ketika sudah berada di ujung Ramadhan, kita akan sedih. Sebab, tanda-tanda rahmat Allah SWT pun akan lepas.

Bukan berarti rahmat Allah SWT tidak mungkin kita peroleh di luar bulan Ramadhan, tapi kesempatan terbesar itu justru ada pada bulan suci ini. Oleh karena itu, pantas Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan wajah yang sedih pada saat meninggalkan Ramadhan.

Ada sebuah prinsip yang disebut dengan takamul, artinya seseorang menuju kepada kesempurnaan. Suatu Ramadhan boleh lepas dari kita, tapi itu berarti kita hendaknya mencapai sesuatu selama bulan Ramadhan.

Ramadhan-ramadhan lain akan terus datang kepada kita--hingga ajal menjelang. Kesempatan untuk menyempurnakan diri pun tetap terbuka.

Untuk sebelas bulan berikutnya setelah Ramadhan, kita harus mempertahankan apa yang telah kita raih.

Maka dari itu, mumpung kita masih berada di tengah Ramadhan, jangan sampai sia-siakan kesempatan. Berpuasalah dengan baik. Jangan sampai pahalanya terhapus hanya karena lisan atau pandangan mata yang tak dijaga. Kemudian, perbanyaklah berderma. Ingat, Rasul SAW semakin bersifat dermawan saat bulan Ramadhan--bagaikan angin yang berembus sejuk.

Kemudian, persiapkan diri menghadapi 10 hari terakhir Ramadhan. Bangun niat sekuat-kuatnya untuk berupaya menemukan Lailatul Qadar. Caranya bisa dengan mempersiapkan iktikaf di masjid saat malam-malam terakhir di bulan suci.

Semoga kita termasuk yang memeroleh ampunan dan kasih sayang Allah SWT selama Ramadhan, amiin.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prowuz458/menjaga-semangat-ramadhan

  • 0
  • Baca: 3 kali

I Don’t Pray: Will My Fasting Be Accepted?

MAMHTROSO.COM -- In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- We are not the one to judge on such matters.

2- While it is a good thing that you are fasting, you may do well to start praying immediately and never be slack in doing so.


In responding to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

I am not the one to judge on such matters. What I can tell you is that Prayer is the first and foremost pillar of Islam. It is the true hallmark of a believer. That is why it was the first commandment issued to every single messenger of God from Adam to Muhammad.

When Allah spoke to the Prophet Musa (peace be upon him) he ordered him thus: “I am the one and only God: so worship Me and establish Prayer to celebrate My remembrance.” (Taha 20:14)

Therefore, while it is a good thing that you are fasting, you may do well to start praying immediately and never be slack in doing so. The Prophet (peace be upon him) said, “Whoever observes the Five Daily Prayers, they would be a light, evidence of faith and means of salvation for him or her on the Day of Resurrection.”

On the other hand, if anyone neglects them, he would be deprived of light, evidence, and means of salvation; and would join the company of (the tyrants like) Pharoah, Hamaan and Ubyy ibn Khalaf on the Day of Resurrection.” (Ibn Hibban)

Therefore, I would urge you even as you are ready to observe the Fast, why not take the next step of establishing Prayer?

I would guarantee you that once you start doing so sincerely, you will experience inner peace and freedom from worry and anxiety.

I pray to Allah to honor us all to remember Him, thank Him, and worship Him in the best way.

Almighty Allah knows best.

 

http://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/fasting/dont-pray-will-fasting-accepted/

 

  • 0
  • Baca: 6 kali

Uri Davis, Mualaf Pejuang Palestina

MAMHTROSO.COM -- Dia sudah terbiasa mengunjungi sinagoge. Setidaknya sekali dalam sepekan. Di sana, Uri dan keluarganya memanjatkan doa, mengutarakan harapan diri sendiri dan keluarga. Bersama penganut Yahudi lainnya, dia tenggelam dalam suasana religius.

Namanya Uri Davis. Lahir di Yerusalem pada 1943. Ketika itu, Palestina menjadi negara jajahan Inggris. Migrasi orang Yahudi ke Palestina selalu terjadi. Datang dengan kapal laut, pada mulanya mereka meramaikan daerah pesisir. Kemudian berjalan memasuki setiap sudut Palestina.

Bermodal dukungan negara Barat, sebagian dari mereka mendirikan pemerintahan dan bala tentara yang kemudian menginjak-injak dan membantai masyarakat pribumi Palestina. Di atas darah masyarakat Palestina, mereka mendeklarasikan Israel sebagai negara Yahudi.

Dalam suasana seperti itulah Uri Davis menjalani masa kecil. Baku hantam antara militer Israel dengan orang sipil Palestina bukanlah hal yang aneh.

Saking sering menyaksikan hal tersebut, Uri berpikir, bukankah ada hal lain yang lebih mulia? Di mana kebersamaan, kekeluargaan yang banyak ditemukan di belahan dunia lain? Mengapa itu tidak ada di Yerusalem, kota tempat dia tumbuh menjadi manusia dewasa.

Ayahnya bernama Joseph Stanley, seorang Yahudi Inggris yang bertemu ibunya, Blanca Bluhme Kacerova, seorang warga Slowakia, di British Mandatory Palestine pada pertengahan 1930-an. Sembilan tahun kemudian, mereka membangun rumah tangga. Empat tahun kemudian, mereka dikaruniai Uri yang makin mengikat asmara keduanya.

Meski menganut Yahudi, Uri tak setuju dengan zionisme. Yahudi dinilainya sebatas agama yang tidak perlu mendirikan negara. Tidak perlu membesar-besarkan zionisme yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Tinggal di Israel, Uri terkena keharusan untuk mengikuti wajib militer. Ini sesuatu yang menurutnya membebani kehidupan. Sebab, usia muda seharusnya dimanfaatkan untuk menemukan terobosan, sehingga menjadi kebanggaan dan modal menunjukkan eksistensi. Saya berusaha untuk menolak, ceritanya, sebagaimana diberitakan the Guardian.

Seorang prajurit militer membawanya ke pinggiran, memisahkan Uri dari barisan pemuda. Dia dibawa mendekati pepohonan nan rindang. Apa yang kamu lihat di sini? tanya si prajurit. Uri menjawab "pepohonan". Lalu pemuda itu dibawa makin dalam memasuki hutan. Di sana mereka menemukan tumpukan batu-batu.

Si prajurit menjelaskan, batu-batu ini dipakai masyarakat setempat untuk menimpuki prajurit Israel. Tentara tadi ingin membakar amarah Uri agar menganggap orang Palestina sebagai musuh. Namun, itu tak terjadi. Ada alternatif.

"Kita bisa mengundang mereka dan saling berbagi. Ada harapan yang bisa kita upayakan untuk hidup bersama," ujar pemuda tersebut.

Namun, pendapat itu tak didengar. Meski terus membantah, Uri tetap harus mengikuti wajib militer. Wajib militer dijalaninya dengan kesal.

Ketika menjadi pemuda, dia bertemu dengan wanita Yahudi, Nira Yuval, di Yerusalem pada 1965. Keduanya sering bertemu dan menemukan kecocokan, sehingga melangsungkan pernikahan pada tahun yang sama.

Namun, mahligai asmara yang mereka bangun ternyata runtuh 10 tahun kemudian. Jurang perbedaan memisahkan keduanya. Ada perbedaan pendapat. Sedangkan keduanya bersikeras pada pendirian masing-masing. Perpisahan menjadi jalan yang mereka tempuh. Pada 1977, mereka resmi hidup sendiri-sendiri.

Meski baru bercerai, Uri begitu cepat mendapatkan penggantinya. Pada tahun yang sama, dia menikahi Tosje Maks di Zeist, wanita asal Belanda. Namun, lagi-lagi harus bercerai setelah hidup bersama selama 12 tahun.

Pada 1985, dia mengunjungi Oslo untuk bekerja. Di sana, dia bertemu dengan Sirkku Pajunen dan menikah dengannya. Namun, tetap saja ada ketidakcocokan. Setelah 21 tahun hidup bersama, akhirnya mereka berpisah juga.

Dua tahun setelah itu, Uri masih berupaya untuk menjadi kepala rumah tangga. Kali ini, dia memilih jalan yang berbeda, yaitu meninggalkan tradisi keagamaan yang sudah dijalaninya sejak kecil. Ya, dia meninggalkan keyakinan Yahudi yang sudah puluhan tahun dianutnya dan beralih ke Islam.

Bertempat di pengadilan agama Islam di Baka el-Garbiye, dia bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Resmilah dia menjadi seorang Muslim. "Saya memeluk Islam dan mengedepankan semangat toleransi untuk membangun kebersamaan," ujarnya.

Kemudian menikahi seorang wanita Palestina bernama Miyassar. Wanita aktivis Fatah itulah yang kini mewarnai kehidupannya. Namun, pernikahan ini membuatnya menghadapi berbagai tantangan. Dia harus berjuang dan berhadapan dengan Israel.

Setelah bergabung dengan Fatah, Uri memulai periode panjang pengasingan atas saran pengacaranya untuk menghindari jeratan hukum negeri Yahudi itu. Dia mengajar di sejumlah universitas di Inggris, termasuk Bradford, Exeter, dan Durham. Di sana, dia menghabiskan waktunya untuk penelitian dan studi akademik.

Pengacara Uri, Tawfiq Jabarin, menjelaskan bahwa Pemerintah Palestina mengenal Uri atas pengorbanannya yang besar untuk menegakkan hak asasi manusia. Dia mencatat, pernikahan keduanya adalah perkembangan sosial yang mengagumkan.

Sebab, keduanya berasal dari dua komunitas yang selama ini saling ber seberangan.

Jabarin mengatakan, pernikahannya dilakukan dengan sederhana sesuai adat Palestina. Sekitar 50 tamu menghadiri pesta pernikahan tersebut. Mereka menjadi saksi keseriusan Uri dan Miyassar menjalin asmara.

Dari tempatnya mengajar, Uri melancarkan pendapatnya, mengkritik Israel yang selama ini telah membantai masyarakat Palestina. Yang menjadi harapannya adalah kerukunan dan kebersamaan di negeri yang dulu dibebaskan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut. Sehingga, perdamaian dunia menjadi kenyataan. (ed:erdy nasrul)

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/prdqwa415/uri-davis-mualaf-pejuang-palestina-part1

 

  • 0
  • Baca: 16 kali

Puasa dan Musafir

MAMHTROSO.COM -- Dalam sebuah kesempatan, Pak Enang, sopir yang biasa mengantar kami keluar kota bercerita tentang seorang ustaz yang tidak berpuasa Ramadhan dalam perjalanan. Menurut Pak Enang, perjalanan itu cukup ringan, yakni Bandung-Jakarta.

Ia berpendapat, rukhshah (keringanan) berpuasa itu ada dikarenakan pada masa lalu di zaman Rasulullah SAW, safar atau perjalanan itu cenderung berat dan menyulitkan. Karena merasa kuat, Pak Enang tetap berpuasa dan sang ustaz berbuka.

Secara syariat, safar di sini berarti meninggalkan tempat bermukim dengan niat menempuh perjalanan menuju suatu tempat.  Kata safar diambil dari bahasa Arab yang berarti tampak.

Disebut demikian karena ia menampakkan wajah asli dan akhlak seorang musafir. Seseorang yang bepergian dinamakan musafir. Musafir itu dikenali dari wajahnya, pakaiannya, dan bekalnya. Dan bepergian juga menyebabkannya dikenal banyak orang.

Ada banyak pendapat ulama dalam menentukan batas-batas safar. Namun, keumuman mengambil batas jarak safar seperti pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan minimal berjarak empat burud atau 16 farsakh atau setara dengan 89 km atau tepatnya 88,704. (Kitab al-Fiqhul Islami, karya Dr Wahbah al-Zuhaili).

Namun, ada juga yang berpendapat, jaraknya sekitar tiga mil atau perjalanan tiga hari dengan unta. Namun, ketika tidak ada pembatasan jarak safar dalam syariat (nash), maka pembatasan safar kembali kepada 'urf (kebiasaan masyarakat).

Ibnu Qudamah dan yang lain berpendapat, batasan safar kembali pada 'urf.Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya al-'Allamah Ibnul Qayyim. (Al-Mughni, 2/542-543, Al-Majmu', 4/150, Majmu' Al-Fatawa, 24/21).

Sementara itu, rukhshah bermakna keringanan, kemudahan. Diperbolehkan bagi musafir untuk tidak berpuasa dalam keadaan safar. Sebagian sahabat pada masa Rasulullah SAW berpuasa dan sebagian lagi berbuka dan kedua golongan itu tidak menyimpang dari ajaran Nabi SAW.

Hamzah Aslami bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, aku merasa kuat untuk berpuasa dalam perjalanan. Salahkah aku apabila melakukannya?” Rasulullah SAW bersabda, “Itu adalah keringanan dari Allah Ta'ala. Barang siapa yang menerimanya, itu adalah baik, dan siapa yang masih berpuasa, maka tidak ada salahnya.” (HR Muslim, Fiqh Sunnah, karya Sayyid Sabiq). Lihat juga surah al-Baqarah [2]: 184.

Jika dalam keadaan safar, mana yang lebih utama, puasa atau berbuka? Para fuqaha berbeda pendapat. Imam Abu Hanifah, Syafi'i, dan Malik berpendapat puasa lebih utama bagi yang kuat melakukannya. Sedangkan berbuka lebih utama bagi orang yang tidak kuat berpuasa.

Menurut Imam Ahmad, berbuka lebih afdhol. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata, “Yang lebih afdhol adalah yang lebih mudah. Maka, orang yang lebih mudah baginya berpuasa ketika itu dan sulit baginya akan meng-qadha kemudian hari, maka lebih utama ia berpuasa.”

Pak Enang bercerita, dalam perjalanan itu sang ustaz kesulitan mencari restoran untuk berbuka. Hal ini dikarenakan tak ada pengelola restoran yang buka selama Ramadhan. Sang ustaz terpaksa turut menahan haus dan lapar.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prg4i8458/puasa-dan-musafir

  • 0
  • Baca: 15 kali

Puasa dan Kejernihan Jiwa

MAMHTROSO.COM -- Ramadhan merupakan oase di tengah degub kencang kehidupan. Pada Ramadhanlah umat Islam memiliki ruang jeda untuk melakukan tafakur, merefleksikan diri, dan mengendapkan batin.

Ibadah puasa sudah ada pada agama-agama terdahulu, yang kemudian disempurnakan dalam syariat Islam, pada abad kedua Hijriyah. Ibadah puasa memiliki sederet hikmah penting dalam kehidupan yang sesungguhnya. Puasa menjadi ibadah yang berdimensi zahir dan batin, yang meningkatkan kualitas fisik dan spiritual manusia.

Ibadah puasa mengantarkan kita menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan matang spiritualitasnya. Ritual puasa memberi efek positif dalam tubuh manusia, setelah selama sebelas bulan organ-organ tubuh bekerja tanpa henti. Puasa juga mendorong lahirnya kekuatan mental, ketenangan jiwa, dan menumbuhkan pribadi mulia. Ketahanan fisik dan kematangan spiritual, merupakan prasyarat utama manusia sebagai pemimpin di muka bumi.

Puasa juga menjernihkan batin kita. Ibadah puasa yang dijalani akan meningkatkan kualitas kepribadian manusia. Ritual puasa yang dilakukan secara khusyuk dan ikhlas, akan meminggirkan amarah dan menghadirkan ketenangan berpikir. Hal ini, sesuai dengan hikmah puasa, yang berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, hanya akan menjadi pribadi yang egois, perusak alam, dan pengejar kekuasaan.

Pada prinsipnya, hawa nafsu diuraikan dalam tiga hal: Pertama, nafsu ghadabiyyah. Yakni, nafsu yang mendorong manusia untuk mengejar pangkat, kedudukan, atau ambisi. Misalnya, keinginan untuk memburu rumah mewah, mobil mahal, dan pangkat jabatan.

Kedua, nafsu syahwatiyyah yang menjadikan manusia gemar mengejar ambisi ataupun kenikmatan seperti mobil mewah, rumah megah, dan sebagainya. Mereka yang dapat mengendalikan nafsu, dengan menahan diri dari amarah dan syahwat akan menuai kebeningan batin dan kesejukan spiritual.

Pada titik inilah, manusia merasakan nafsu yang ketiga, nafsu muthmainnah. Yakni, nafsu yang lembut, menghadirkan ketenangan dan gelisah yang menggelayut dalam jiwa manusia.

Allah menjanjikan bagi orang-orang yang berhati lembut, dengan janji kemuliaan hidup. Mereka yang berhati tenang akan dicintai Allah dan dimasukkan dalam golongan yang dekat dengan-Nya. Janji surga merupakan balasan terhadap orang-orang yang beribadah karena cinta dan meraih kebeningan hati dalam tafakur sunyi.

Firman Allah, ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku (QS al-Fajr, 27-28).

Manusia yang mencapai tingkatan thuma’ninah inilah yang layak menjadi pemimpin dan referensi sikap hidup. Ketenangan jiwa dan kejernihan berpikir mutlak diperlukan untuk memutuskan sikap dan mengeksekusi kebijakan. Ketegasan pemimpin tanpa dibarengi dengan kejernihan batin, hanya akan melahirkan konfrontasi, bukan produktivitas politik.

Memimpin tanpa dibarengi dengan nafs al-muthma’innah, hanya akan menjadi pribadi yang mengejar pangkat dan kekuasaan, bukan murni untuk kemaslahatan umat. Pemimpin yang berpoles citra, bukan berbekal kekuatan iman dan ketenangan jiwa, pada akhirnya akan terkubur oleh janji-janjinya.

Ketenangan jiwa juga akan menghindarkan manusia dari fitnah keji dan sikap yang zalim. Mereka yang mencapai maqam muthmainnah, tidak akan pernah melempar kampanye hitam dan menyebar kesesatan. Juga, tidak akan membabi-buta dalam mengampanyekan ide-ide dan calon pemimpinnya. Sebab, tidak ada yang sepenuhnya sempurna, kecuali Allah ‘Azza wa jalla.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prfzj9458/puasa-dan-kejernihan-jiwa

  • 0
  • Baca: 10 kali

Ramadhan, Bulan untuk Berjuang Mencari Keberkahan

MAMHTROSO.COM -- Memasuki bulan suci Ramadhan. Menurut banyak riwayat, Allah SWT kadang membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat.

Allah berkehendak melakukan itu, tidak pada semua waktu, tidak di sembarang tempat, dan tidak kepada semua hamba. Satu hal yang pasti, semua hamba harus berjuang, bermujahadah (menahan hawa nafsu), dan berlatih memberi alasan bagi Allah agar Dia berkenan membanggakan kita.

Menurut sahabat Ubadah bin Shomit RA, pernah beberapa saat menjelang Ramadhan tiba, Rasulullah SAW mendatangi para sahabatnya. Kepada para hamba terbaik yang selalu dibanggakan oleh Rasulullah SAW itu, beliau menjelaskan tentang keutamaan (fadhilah) Ramadhan. Pada bulan ini, kata Rasulullah, Allah SWT menurunkan keberkahan hidup bagi orang-orang yang mencarinya.

Kita memahami bahwa sesungguhnya hidup yang paling baik itu adalah kehidupan yang mendatangkan berkah. Sebab, dengan keberkahan itu, manusia akan senantiasa hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Hidup yang bergelimang harta dan kemewahan, namun tidak ada keberkahan di dalamnya, sesungguhnya itulah kehidupan yang kering. Hidup penuh ilmu, tapi tidak berkah dan tak nafi' (manfaat), hal itu akan menjauhkan pemiliknya dari Allah.

Hidup dengan derajat tinggi di mata masyarakat, namun tidak berkah, hanya akan memperoleh kenistaan di hadapan Allah. Hidup dengan jabatan yang tinggi, namun tidak berkah, hanya akan mendapatkan laknat dari Allah. Karena itu, inti dari kehidupan yang baik adalah kehidupan yang penuh berkah.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada Ramadhan, Allah akan menurunkan keberkahan yang tak terhingga. Selain karena berkah, hidup terbaik adalah yang disaput rahmat Allah. Hidup tanpa dibarengi rahmah (kasih dan sayang) Allah juga merupakan kehidupan yang kering.

Hidup yang diperoleh bukan karena rahmat Allah adalah kehidupan yang tak bermakna. Dan, hidup yang terbaik, selain karena diliputi keberkahan dan rahmat, juga karena Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Hidup bergelimang keberkahan, penuh rahmat, dan memperoleh pengampunan atas dosa-dosa bisa diusahakan semua Muslimin dan Muslimat. Hidup semacam ini, kita bisa memohon kepada Allah. Berharap agar permohonan lekas dikabulkan, caranya adalah dengan memanfaatkan datangnya Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini.

Sebab, pada bulan inilah, semua hamba Allah, berlomba-lomba melakukan kebaikan, Allah kerap membanggakan itu di hadapan para malaikat.

Maka dari itu, marilah kita bermujahadah pada bulan ini untuk mencari kehidupan yang berkah, penuh rahmat, dan pengampunan atas dosa-dosa agar Allah punya ‘alasan’ membanggakan kita di hadapan para malaikat-malaikat-Nya.

Bukankah makhluk paling baik ibadah dan pengabdiannya kepada Allah adalah para malaikat?

Karena itu, Ramadhan ini harusnya menjadi tempat bagi kita untuk mencuci diri dari kerak dosa dan tempat bagi kita untuk mudik ke kampung halaman yang abadi, yakni Allah SWT. Wallahu a'lam.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prgb4w458/ramadhan-bulan-untuk-berjuang-mencari-keberkaha

 

  • 0
  • Baca: 12 kali
Berlangganan RSS feed