Masuk

Cerpen-Jangan Menilai Seseorang dari Luarnya

Jangan Menilai Seseorang dari Luarnya

(Maghfirotus Sa'diyyah)

 

       Satu minggu sebelum 17 Agustus diadakan lomba sendok dan kelereng di kampungku dan juga tersedia hadiah menarik bagi pemenang.Aku dan teman-temanku mengikuti lomba tersebut.Aku dan tetanggaku berteman baik,kecuali dengan satu anak di ujung komplek,dia anak yang pendiam,hingga cuek hingga tetanggaku takut kepadanya.

      Lomba 17 Agustus dimulai ketika sudah maju depan karena aku terlalu fokus hingga aku terjatuh.Karena tersandung batu yang ada di depanku,dan tidak ada temanku yang membantuku.Dan aku lihat dia berlari membantuku,dia adalah anak ujung komplek yang pendiam dan cuek.Dia membantuku padahal dia hampir menang.Dia bilang"Memang tidak penting,yang penting adalah keselamatanmu.".Lalu malamnya ada lomba menyanyi aku dan dia ikut dan menjadi pemenang."Rezeki memang nggak kemana",katanya.

     Kita tidak boleh memandang seseorang dari fisiknya karena tidak semua orang itu seburuk yang kita kira.

  • 0
  • Baca: 13 kali

Artikel - Biografi B. J. Habibie

Biografi B. J. Habibie

Oleh: Khalimatus Sa'diyyah (12 IPS- 3)

 

 

       Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. ia telah meninggal dunia di Jakarta, 11 September 2019 pada umurnya ke-83 tahun, ia adalah presiden Republik Indonesia yang ke-3. Sebelumnya, B. J. Habibie menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia ke-7 menggantikan Tri Sutrisno. B. J. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998.

       B. J. Habibie kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid yang terpilih sebagai presiden pada tanggal 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil pemilu 1999. Dengan menjabat selama 2 bulan 7 hari sebagai wakil presiden dan juga selama 1 tahun 5 bulan sebagai presiden. B. J. Habibie merupakan wakil presiden dan juga presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek. Dari sekian banyak presiden Indonesia, B. J. Habibie merupakan satu-satunya presiden yang berasal dari etnis Gorontalo, Sulawesi. Dari garis keturunan ayahnya, beliau berasal dari Kabilah Gorontalo dan etnis Jawa. Sedangkan dari garis keturunan Ibunya, beliau berasal dari Yogyakarta.

       Saat ini pemerintah provinsi Gorontalo telah merealisasikan dibangunnya Monumen B. J. Habibie di depan pintu gerbang utama Bandar Udara Djaluddin di kabupaten Gorontalo. Selain itu masyarakat provinsi Gorontalo pun sempat mengusulkan nama B. J. Habibie digunakan sebagai nama Universitas Negeri setempat, menggantikan nama Universitas Negeri Gorontalo yang masih digunakan. 

  • 0
  • Baca: 12 kali

When Should I Make Up For Isha Prayer If I Miss It?

Question:

When should the lsha Prayer be made up when someone slept through it and did not remember it until after the Fajr Prayer? Should he pray it at its next appointed time or when he remembers it?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- When one misses  a certain prayer, he must pray it even though its time is finished. He cannot delay it until the similar prayer time comes again.

2- He prays it whenever comes to his mind, even if it is during one of the times in which it is prohibited to pray or even if it is during the time of another prayer.

3- If one fears that the time for the present prayer will be missed, he prays the present prayer first and then prays the prayer that he had missed afterwards.


Answering your question, Sheikh `Abdullah ibn Jibreen, the late prominent Saudi Muslim scholar, stated:

Making Up for Missed Prayers

Prophet Muhammad (peace be upon him) said: “Whoever sleeps through a prayer or forgets it should pray it when he remembers it and there is no expiation for it but that.” And then the Prophet (PBUH) recited the Quranic verse: “Establish the prayer for My remembrance.” (Taha 20:14) (Al-Bukhari and Muslim)

Based on this Hadith, there is no difference between the Isha Prayer or other prayers. When the person wakes up, even though its time is finished, he must pray it at that time and cannot delay it until the similar prayer time comes again. He prays it whenever comes to his mind, even if it is during one of the times in which it is prohibited to pray or even if it is during the time of another prayer.

However, if he fears that the time for the present prayer will be missed, he prays the present prayer first and then prays the prayer that he had missed afterwards.

Almighty Allah knows best.

Source: Islamic Fatawa Regarding Women, Compiled by Muhammad Ibn Abdul-Aziz Al-Musnad and translated by Jamal Al-Din Zarabozo, Darussalam, 1996.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/when-should-i-make-up-for-isha-prayer-if-i-miss-it/

 

  • 0
  • Baca: 24 kali

Viral Foto Buaya Gendong 100 Anaknya di Punggung, Ternyata Spesies Hampir Punah

MAMHTROSO.COM -- Belum lama ini, sempat viral di sosial media sebuah foto yang menunjukkan seekor buaya tengah menggendong 100 anaknya di punggungnya.

Seperti dikutip dari laman BBC, Sabtu (5/9/2020), gambar itu diambil oleh fotografer ahli Dhritiman Mukherjee. Bidikannya, yang diambil di National Chambal Sanctuary India, sangat dipuji dalam kompetisi Wildlife Photographer of the Year (WPY) tahun ini.

Setiap anak-anak buaya ini perlu bertahan hidup hingga dewasa dan berkembang biak.

Gharial air tawar (Gavialis gangeticus) terancam sangat punah. Jika dulu jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20.000 hewan di seluruh Asia Selatan, spesies ini sekarang turun menjadi mungkin kurang dari 1.000 individu dewasa - dan tiga perempatnya terkonsentrasi di cagar alam Uttar Pradesh.

"Buaya jantan ini pernah kawin dengan tujuh atau delapan perempuan, dan terlihat keterlibatannya sangat banyak," jelas Dhritiman.

"Biasanya gharial adalah buaya yang cukup pemalu dibandingkan dengan buaya air asin dan rawa. Tapi yang ini sangat protektif dan jika saya terlalu dekat, ia akan menyerang saya. Bisa sangat agresif," katanya kepada BBC News.

Menggendong dengan Cara Unik

Gharial jantan memiliki tonjolan yang luar biasa di ujung moncongnya yang mengingatkan pada pot tembikar bundar, atau "ghara" dalam bahasa Hindi.

"Ini adalah struktur yang memungkinkan suara vokal diperkuat," kata Patrick Campbell, kurator senior reptil di Museum Sejarah Alam London , yang menjalankan kompetisi WPY.

"Buaya lain membawa anak-anak mereka ke dalam mulut mereka. Dengan sangat hati-hati, tentu saja! Tapi bagi gharial, morfologi moncong yang tidak biasa berarti hal ini tidak mungkin dilakukan."

Penurunan populasi gharial didasari alasan hilangnya habitat.

Hal ini terutama didorong oleh bendungan yang mengganggu aliran sungai. Ekstraksi pasir dan pemindahan batu telah membatasi kesempatan untuk tinggal. Selain itu, ada pula masalah hewan yang terjebak dalam alat tangkap.

Program bertajuk "rear and release" sedikit banyak telah membantu mencegah kepunahan. Namun upaya besar sekarang diperlukan jika hewan ini ingin memiliki masa depan jangka panjang.

Dhritiman berharap dia dapat membantu memacu upaya itu dengan menghubungkan emosi yang ditampilkan dalam gambarnya dengan sains yang diperlukan untuk keberhasilan konservasi.

Jika tidak, satu-satunya tempat Anda dapat melihat gharial adalah di museum - sebagai spesimen taksidermi.

https://www.liputan6.com/global/read/4348636/viral-foto-buaya-gendong-100-anaknya-di-punggung-ternyata-spesies-hampir-punah

 

  • 0
  • Baca: 24 kali

Taubat Nasuha Titik Balik Perbaikan Diri Seorang Hamba

MAMHTROSO.COM -- Di kalangan para sufi, nama Ibrahim bin Adham tidaklah asing. Pemilik nama lengkap Ibrahim bin Adham bin Manshur al 'Ijli ini dikenal dengan kedalaman intuisi dan ilmu hikmah yang ia miliki. Kelebihan ini menempatkannya sebagai sosok yang disegani dan karismatik.

Lahir dan tumbuh dari keluarga bangsawan tak membuat sosok kelahiran Balkh ini dibutakan oleh harta. Justru, gemerlap dunia membuat hatinya kian dekat dengan Allah SWT. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia dan berolah spiritual, lalu berbagi hikmah kepada sesama.

Sebuah kisah menarik dinukilkan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam at-Tawwabin. Kisah tersebut menceritakan pertemuan tokoh yang lahir pada 100 H/718 M tersebut dengan seorang pendosa yang bernama Jahdar bin Rabiah. Seperti biasanya, Ibrahim bin Adham kerap didatangi oleh beragam orang dengan berbagai latar belakang.

Dan ketika itu, Jahdar dalam kondisi keterpurukan spiritual Jahdar pun memutuskan meminta petuah bijak kepada tokoh yang juga akrab disapa dengan panggilan Abu Ishaq al-Balkhi itu. Jahdar pun berkisah ihwal kondisinya. Ia berujar ingin berhenti dari segala maksiat yang ia lakukan selama ini. “Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya,” pintanya kepada Abu Ishaq.

Tak langsung mengiyakan, Ibrahim merenung sejenak. Ia meminta petunjuk Allah. Ia pun lantas mengabulkan permohonan Jahdar. Akan tetapi, solusi-solusi yang akan ia berikan penuh syarat, Jahdar tidak boleh menolak. Jahdar pun akhirnya menerima dengan senang hati. “Apa saja syarat-syarat itu?” katanya.  

Abu Ishaq mulai memaparkan, syarat yang pertama ialah jika hendak bermaksiat, janganlah sesekali memakan rezeki-Nya. Bagi Jahdar, syarat ini mustahil. Bagaimana mungkin bisa terpenuhi, sementara segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah anugerah-Nya.” Lalu, aku makan dari mana?” kilah Jahdar.

“Tentu saja,” kata Ibrahim. “Jika tetap berbuat maksiat, pantaskah seseorang memakan rezeki-Nya?” Jahdar pun menyerah. “Syarat itu sangat masuk akal dan mengena di hatinya.” “Baiklah, apa syarat berikutnya?” katanya.    

Ibrahim mengungkapkan syarat yang kedua, yaitu jika bermaksiat maka jangan tinggal di bumi Allah. Syarat kedua ini membuat Jahdar terperangah. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu, aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

“Jika demikian,” kata Ibrahim, “pikirkan matang-matang. Apakah pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara pada saat yang sama berani bermaksiat?” Untuk kali kedua, Jahdar menyerah dan membenarkan Abu Ishaq. “Lalu apa syarat ketiga?” ujarnya.

“Syarat yang ketiga,” ungkap Ibrahim, “jika masih saja bermaksiat dan ingin  memakan rezeki  dan tinggal di bumi-Nya, carilah tempat tersembunyi yang tak tampak dari pengawasan-Nya.” “Wahai Abu Ishaq, nasihat macam apakah semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” ketus Jahdar terkesima.

“Tepat,” ujar Ibrahim. “Jika yakin Allah selalu mengawasi dan tetap saja memakan rezeki dan tinggal di bumi-Nya, tentu tidaklah pantas bermaksiat kepada-Nya. Pantaskah Anda melakukan semua itu?” tanya Ibrahim kepada Jahdar. Tak elak, syarat-syarat itu membuat Jahdar terpaku, terdiam seribu bahasa, dan menjadi pukulan telak baginya. Ia pun meminta syarat berikutnya.   

Ibrahim bertutur, “Jika malaikat kematian menjemputmu, mintalah kepadanya untuk menangguhkan sampai Anda berbuat dan beramal saleh.” Jahdar semakin tak berkutik. Ia termenung. Jawaban-jawaban tokoh yang wafat pada 782 M/165 H itu semakin logis dan rasional. “Mustahil semua itu aku lakukan,” seloroh Jahdar sembari meminta syarat terakhir.  

Ibrahim menjawab, “Bila Malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka pada hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!” Secara spontan, air mata Jahdar terurai. Ia menyesal dan memohon agar tidak mencukupkan nasihatnya itu. Ia pun berjanji tidak akan bermaksiat lagi mulai detik itu hingga seterusnya. “Sejak saat ini, aku bertobat nasuha kepada Allah,” tuturnya.  

https://republika.co.id/berita/qg68ls430/taubat-nasuha-titik-balik-perbaikan-diri-seorang-hamba

 

  • 0
  • Baca: 24 kali

Kisah Nasaruddin Hoja: Kunci Hilang di Bawah Lampu Jalan

MAMHTROSO.COM -- Pada satu malam, Nasaruddin Hoja terlihat sibuk mencari cari sesuatu di bawah lampu penerangan jalan di sudut kampung kota Antah Berantah.

Sampai seorang tetangganya penasaran dan bertanya:

"Dari tadi kuperhatikan dirimu sibuk mencari sesuatu disini. Apa yang kau cari wahai Nasaruddin?"

Nasaruddin menjawab:

"Kunci lemari pakaianku. Tadi jatuh dan tak bisa kutemukan lagi".

"Memang jatuhnya di sebelah mana?"

"Jatuhnya di rumahku"

"Di rumahmu? Lalu kenapa kau mencarinya di sini?"

"Rumahku gelap gulita, sedangkan di sini terang benderang. Kata Sang Guru Bijak yang selalu kuingat, bahwa mencari barang hilang di tempat terang lebih mudah daripada mencari barang hilang di tempat gelap."

                       *****

Nasaruddin Hoja secara teoretik normatif benar, logikanya "lurus", secara etis ia juga menunjukkan "ketaatan" pada Sang Guru Bijak. Namun, secara fakta dan evidensi objektif ia tidak akan pernah menyelesaikan masalah, ia tidak akan pernah menemukan kuncinya yang hilang.

Selintas Nasaruddin Hoja nampak konyol dan "bodoh", tapi kisah itu sesungguhnya sedang menyindir kebanyakan manusia. Menyindir kita-kita ini, bahkan yang hidup di masa milenial, masa puncak ilmu dan rasionalitas manusia.

Manusia seperti sedang jumawa ketika bicara fatwa, bicara ayat, bicara hal yang seolah logis normatif, bahkan suci dan sakral. Sampai berbuih buih dan bahkan sampai menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan dirinya.

Tapi, ternyata hanya berhenti pada sepotong teks tidak sampai menggapai keutuhan konteks. Tak mampu melihat hal yang faktual dan aktual. Sibuk mencari pembenaran dan bukannya kebenaran.

Izinkanlah saya yang lemah ini untuk mawas diri, apakah ternyata perilaku Nasaruddin Hoja itu adalah perilaku saya sendiri?

https://republika.co.id/berita/qg7qiq385/kisah-nasaruddin-hoja-kunci-hilang-di-bawah-lampu-jalan

 

  • 0
  • Baca: 18 kali

Nilai Sebuah Proses

MAMHTROSO.COM -- Dahulu, ada seorang pembunuh “berdarah dingin” dari keturunan Bani Israil. Dalam riwayat sahih, sebanyak 99 nyawa telah melayang di tangannya. Hingga pada suatu saat, Allah SWT memercikkan secercah hidayah-Nya ke dalam hati yang kelam itu. Terbesitlah dalam dirinya untuk bertanya kepada orang yang sangat alim di muka bumi ‘apakah masih terbuka (pintu) tobat baginya?’. Lantas ditunjukkanlah dia kepada seorang rahib, ahli ibadah, “Tidak, (tobatmu tidak akan diterima),” jawabnya. Seketika, rahib itu pun dibunuh, sehingga genaplah jumlah korbannya 100  orang.

Setelah itu, sang pembunuh masih berharap ada alim yang sanggup memberi jawaban yang menenangkan hatinya. Kemudian, pergilah dia kepada seorang ulama. Untuk kedua kalinya, dia menceritakan masa lalunya yang kelam, lalu melontarkan pertanyaan yang sama saat bertemu dengan rahib. 

Orang alim itu menjawab “Ya, siapa pula yang menghalang-halangimu untuk bertobat? Pergilah dari kota ini dan (bergegaslah menuju) kota itu. Karena di sana ada kaum yang taat beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka, jangan kembali ke negerimu. Sebab, negerimu itu telah menjadi negeri yang buruk.”

Atas saran orang alim itu, pria yang telah menewaskan 100  nyawa dalam genggamannya bergegas hijrah dari negeri asalnya. Namun, tak disangka-sangka, di tengah perjalanan Allah SWT mengutus malaikal maut untuk menjemputnya untuk kembali ke haribaan-Nya. Lalu (datanglah) Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab saling berseteru soal posisi akhir kehidupannya. “Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah,” ujar Malaikat Rahmat. “Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali ?” bantah Malaikat Azab. 

Maka turunlah utusan Tuhan berupa malaikat berwujud manusia yang mengusulkan untuk mengukur ke mana jarak yang lebih dekat dari titik kematiannya. Ternyata sang pembunuh meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya (hijrah) dan ia pun kembali dalam dekapan Malaikat Rahmat.

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini (No. 2766), memberikan pelajaran berharga bagi kita akan arti sebuah proses atau usaha yang dilakukan manusia. Acap kali kita menilai perjuangan seseorang dari sederet prestasi yang ditorehkan dan tidak mencari tahu bagaimana jalan yang ia tempuh. Padahal, tidak semua proses berakhir dengan hasil yang manis.

Setidaknya, ada dua hikmah yang dapat diserap dari kisan inspiratif tersebut, yaitu : Pertama, jalan/proses yang ditempuh untuk menggapai kesuksesan sangat berharga nilainya dan akan berbeda-beda pada setiap insan. Pakar Tafsir Alquran, Prof  M Quraish Shihab mengatakan dalam nasehatnya, bahwa Tuhan tidak bertanya 5 + 5 berapa. Akan tetapi yang ditanya ialah 10 adalah hasil dari perhitungan berapa. Artinya, kita tidak bisa mengukur kesuksesan seseorang dengan ukuran siapa pun. Karena setiap kita punya porsinya masing-masing.

Kedua, tekad berbuat baik, akan berbuah kebaikan (pahala) walau tidak terealisasi (HR. Bukhori: 6491). Walaupun sang pembunuh belum sampai ke negeri yang dituju, tetapi tekadnya untuk berbuat baik tetap menghantarkannya kepada Rahmat Sang Pencipta.

Dr Umar Sulaiman dalam kitabnya, Shahihul Qososil Anbiya, mengingatkan kita dari kisah sahih di atas, bahwa rahmat Allah SWT sangatlah luas tak bertepi. Dan hanya orang-orang bodohlah yang berputus asa dari hamparan kasih sayang-Nya. Pria yang membunuh 100  orang dalam genggamannya saja, masih Allah terima tobatnya. Lantas, apa yang membuat kita kerap pasrah dari pertolongan-Nya?  Apakah kita membunuh 50  orang? Bahkan seorang pun tidak!

Semoga Allah SWT  selalu menuntun kita demi meraih pencapaian yang diridhai-Nya, Amin. Allahu’alam bishowab.

https://republika.co.id/berita/qgajas374/nilai-sebuah-proses

 

  • 0
  • Baca: 18 kali

PBB Laporkan 200 Staf Terinfeksi Covid-19 di Suriah

MAMHTROSO.COM -- Koordinator Residen dan Koordinator Kemanusiaan PBB di Suriah, Imran Riza, melaporkan lebih dari 200 anggota staf PBB telah terinfeksi oleh Covid-19 di Suriah. Hanya saja, jumlah sebenarnya kemungkinkan lebih tinggi dari laporan tersebut.

Riza melaporkan kepada kepala badan-badan PBB dalam sebuah surat untuk dibagikan kepada staf pada pekan lalu. Dalam laporan itu menyatakan bahwa PBB sedang dalam tahap akhir untuk mengamankan fasilitas medis untuk perawatan kasus-kasus.

"Lebih dari 200 kasus telah dilaporkan di antara anggota staf PBB, beberapa di antaranya telah dirawat di rumah sakit dan tiga lainnya dievakuasi secara medis," kata pejabat tinggi PBB di Suriah dalam surat itu yang bocor ke Reuters dari seorang anggota staf lokal yang terinfeksi.

Riza mengatakan, telah terjadi lonjakan sepuluh kali lipat dalam infeksi di Suriah dalam dua bulan sejak terakhir pelaporan. Pernyataannya mengacu pada angka Kementerian Kesehatan yang mengatakan ada 3.171 kasus dan 134 kematian sejak kasus pertama dilaporkan pada 23 Maret. "Situasi epidemiologi di seluruh negeri telah banyak berubah," kata Riza.

Pekerja kemanusiaan dan petugas medis Suriah justru menyatakan, jumlah kasus sebenarnya jauh lebih tinggi. Hal ini mempertimbangkan ratusan staf yang dipekerjakan oleh mitra lembaga swadaya masyarakat yang bekerja untuk belasan badan PBB dalam mengawasi operasi bantuan kemanusiaan terbesar di negara itu.

Kelompok tersebut mengatakan pihak berwenang menutup-nutupi angka sebenarnya. Pihak berwenang menyangkal tuduhan dari pekerja kemanusia dan tim medis, meski mengakui pengujian terhadap Covid-19 terbatas.

Petugas medis independen dan pekerja bantuan mengatakan sejumlah dokter dan pekerja medis telah meninggal dalam beberapa pekan terakhir. Saksi dan pejabat pemakaman mengatakan telah terjadi tiga kali lipat lonjakan penguburan sejak Juli di pemakaman yang terletak di selatan ibu kota.

https://republika.co.id/berita/qg9kmr377/pbb-laporkan-200-staf-terinfeksi-covid19-di-suriah

  • 0
  • Baca: 27 kali
Berlangganan RSS feed