Masuk

النية بعد العمل

السؤال

هل تقبل النية بعد العمل؟ فلو عملت عملًا صالحًا، وبسبب اعتيادي عليه، نسيت أن أنوي قبل العمل، فتذكرت النية بعد ذلك، فنويت أن ذلك العمل لوجه الله، وكيف أعتاد النية قبل كل عمل؟

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فالأصل في النية أنها تسبق العبادة، أو تقارنها، ولا تكون بعدها، فلا يصحّ أن ينوي الزكاة بعد دفع المال، ولا يصحّ أن ينوي الفريضة بعد الشروع فيها، أو الانتهاء منها، ولا يصحّ أن ينوي رفع الحدث بعد الانتهاء من الغسل، بل لا بد أن تسبق نيةُ الزكاة دفعَ المال، أو تقارنه، ولا بدّ أن تسبق نيةُ الفريضة وكونها ظهرًا أو عصرًا الشروعَ في الصلاة، وهكذا في الغسل.

وهذا بالنسبة إلى العبادات المفروضة، أو المستحبة التي لا تتمايز عن غيرها إلا بالنية.

وأما سائر أعمال البِرّ، فقد ذهب جمع من أهل العلم إلى أن المسلم يؤجر على أعمال الخير من غير نية؛ اكتفاء بعموم قصده للخير، وطلبه لطاعة الله في الجملة، كما بيناه في الفتوى: 436207.

وانظري للأهمية الفتوى: 379579، والفتوى: 214852، والفتوى: 254935، والفتوى: 331306.

 والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/444667/%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%B9%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%85%D9%84

 

  • 0
  • Baca: 27 kali

Takbir: What to Say and When During Dhul-Hijjah?

Question:

As-salamu `alaykum. When should Muslims start takbir in Dhul-Hijjah, and what is the exact wording transmitted from the Prophet (peace and blessings be upon him) in this regard?

 

Answer:

Wa `alaykum as-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

It is Sunnah to say takbirtahmidtahlil, and tasbih during the first ten days of Dhul-Hijjah. Muslims should say takbir loudly in the mosque, the home, the street and every place where it is permissible to remember Allah.


Answering your question, we would like to state the following:

Types of Takbir

First of all, it is important to note that takbir is permissible from the beginning of Dhul-Hijjah until the end of the 13th day.

There are two types of takbir: unrestricted and restricted. Unrestricted takbir starts from the beginning of Dhul-Hijjah until the days of Eid, while restricted takbir is confined to the time after the obligatory Prayers.

Formula of Takbir

The transmitted wording of takbir is,

Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaha illa Allah; Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillah al-hamd.

(Allah is the Greatest, Allah is the Greatest. There is no god but Allah; Allah is the Greatest, Allah is the Greatest, and all praise is due to Allah).

There is also another version transmitted from Salman (may Allah be pleased with him), who used to say, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabira” (Allah is the Greatest, Allah is the Greatest, Allah is the Ever Greatest). Then he followed this by sending blessings on the Prophet (peace and blessings be upon him). This version of takbir is applicable at any time; however, it was not transmitted from the Prophet (peace and blessings be upon him) nor from any other righteous companions (may Allah be pleased with them).

Restricted takbir, on the other hand, is restricted to the time following every obligatory prayer, especially if it is offered in congregation, as most scholars restrict it. This type of takbir also includes takbir in the place of Eid Prayer, on the way to it and while one is sitting around waiting for the Eid prayer.

On such occasions, one should not remain silent, in both Eid Al-Fitr or Eid Al-Adha, for these are days on which Islamic rites should be properly observed.

Takbir is one of the most prominent Islamic rites. The Prophet (peace and blessings be upon him) said, “Ornament your feasts with takbir.” (At-Tabarani)

Therefore, Muslims should observe takbir on the day of Eid. On their way to perform Eid Prayer and as they wait for it, Muslims should make takbir loudly.

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/hajj/takbir-on-dhul-hijjah-days-what-to-say-and-when/

 

  • 0
  • Baca: 41 kali

Bukan Kedipan Lampu, Mobil Ini Gunakan Lambaian Tangan Sebagai Tanda Berbelok

MAMHTROSO.COM -- Setiap komponen pada mobil memiliki fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, sebaiknya setiap komponen bekerja sebagaimana mestinya agar aman dan nyaman selama berkendara.

Namun berbeda dengan dengan kejadian berikut ini. Melalui unggahan video di akun instagram @awrecehviral, yang diunggah pada Selasa (29/6/2021) terlihat sebuah mobil minibus berwarna putih berkeliaran di jalan raya.

Meski usia mobil tersebut terlihat sudah tua dan beberapa part sudah hilang, namun ada yang menarik ketika sein digantikan dengan tangan yang melambai-lambai saat hendak berbelok.

Momen unik dan kocak yang terjadi beberapa waktu lalu itu sempat direkam oleh seorang pengguna jalan lainnya. Lantaran menemukan sebuah mobil yang memiliki lampu sein berbeda dari yang lain, menggunakan tangan yang melambai dari bagian belakang mobil. Kejadian itu pun jadi perhatian warganet.

"Ada yang jual sein begini di mana ya.. kasih info yaa" tulis dalam video tersebut.

Komentar Warganet

Hingga kini video tersebut sudah ditonton lebih dari 78 ribu kali itu dan viral menuai banyak komentar dari warganet. Bahkan tak sedikit dari warganet yang merasa terhibur hingga ada juga yang menyayangkan aksi nekat tersebut.

"Selera Jokes ku sangat rendah seperti nya" tulis @krisnamaulana13_.

"Kenapa harus dari situ sih? Kan bisa awe awe dari kaca samping sebelah supir" tulis @ranisitorus_.

"Kok aku ngerii yaah" tulis @f_kurniasari.

Penulis: Miftahul Arifin

Sumber: Merdeka.com

 

https://www.liputan6.com/otomotif/read/4596872/bukan-kedipan-lampu-mobil-ini-gunakan-lambaian-tangan-sebagai-tanda-berbelok

 

  • 0
  • Baca: 30 kali

Garam dalam Air

MAMHTROSO.COM -- Alkisah, ada seorang pemuda yang berwajah murung akhir-akhir ini. Ia mengerjakan segala sesuatu dengan gelisah dan tidak bersemangat, seakan banyak masalah yang ada di pikirannya. Gurunya yang bijaksana, memperhatikan kelakuan si pemuda dan mengajaknya berbicara.

“Bapak perhatikan, kamu selalu murung. Bukankah banyak hal indah di kehidupan ini? Ke mana perginya wajah ceria dan bersemangat kepunyaanmu dulu?”

“Guru, belakangan ini hidup saya sedang penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang tidak ada habis-habisnya. Serasa tak ada lagi sisa untuk kegembiraan,” jawab pemuda itu sambil tertunduk lesu.

Sambil tersenyum, sang guru berkata,”Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam di dapur. Bawalah kemari. Biar bapak coba perbaiki suasana hatimu itu.”

Pemuda itu pun bergegas melakukan permintaan gurunya sambil berharap dalam hati mudah-mudahan gurunya memberi jalan keluar bagi permasalahan hidupnya.

Setelah itu, sang guru berkata, “Ambil garamnya dan masukkan ke segelas air itu, kemudian aduk dan coba kamu minum.”

Wajah si pemuda langsung meringis setelah meminum air asin tersebut.

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru dengan senyum lebar di bibirnya.

“Asin, tidak enak, dan perutku jadi mual,” jawab si pemuda.

Kemudian sang guru membawa muridnya itu ke sebuah danau di dekat tempat mereka. Danau itu begitu indah dan airnya bening karena sumber air alam yang selalu mengairi di situ.

“Ambil air garam dan garam yang tersisa, lalu tebarkan ke danau,” perintah sang guru. Si pemuda dengan patuh memenuhi permintaan gurunya.

“Sekarang, coba kamu minum sedikit air danau itu”.
Pemuda itu segera menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan meminumnya.

“Bagaimana rasanya? Terasakah garam yang kamu tebarkan tadi?”

“Segar sekali,” jawab si pemuda sambil mengambil air dan meminumnya lagi. “Tidak ada rasa asin sama sekali!”

Gurunya kemudian berkata, “Nak, segala masalah dalam hidup ini sama seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih! Rasa ‘asin’ sama seperti masalah, kesulitan, penderitaan yang dialami setiap manusia, dan tidak ada manusia yang bebas dari permasalahan dan penderitaan. Benar kan?

Perlu kamu ketahui, berapa banyak rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami setiap manusia sesungguhnya tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Maka, jangan memiliki kesempitan hati seperti gelas tadi! Jadikan hatimu sebesar danau sehingga semua kesulitanmu tidak akan mengganggu rasa di jiwamu dan kamu tetap bisa bergembira walaupun sedang dilanda masalah. Nah, mudah-mudahan penjelasan gurumu ini bisa memperbaiki suasana hatimu.”

Pembaca yang Bijaksana,

Seorang filsuf besar pernah berkata, “Life is suffering. Hidup adalah penderitaan”. Memang, pada kenyataannya, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, membuat kita menderita.

Kadar penderitaan setiap orang tentu berbeda. Semuanya tergantung dari cara pandang dan keikhlasan kita dalam menyesuaikan dengan selera kita. Maka selayaknya kita harus terus belajar dan memperluas wawasan kebijaksanaan, agar jangan sampai masalah yang menguasai kita. Tetapi kitalah yang mengendalikan masalah. Sehingga, masalah yang datang bukan lagi dipandang sebagai penderitaan, tetapi bagian dari kehidupan yang harus kita jalani.

Salam sukses, luar biasa!

https://andriewongso.com/garam-dalam-air/

 

  • 0
  • Baca: 32 kali

Kunci Sukses Pusat Islam Picu Islamnya Ribuan Orang di Dubai

MAMHTROSO.COM -- Tahun ini, sejak Januari hingga Juni 2021, lebih dari 2000 orang di Dubai, berasal dari berbagai negara, memutuskan masuk Islam, kata Pusat Kebudayaan Islam Mohammad bin Rashid.

Menurut statistik resmi, sebanyak 2.027 warga Dubai mengucapkan syahadat mereka di lembaga yang berada di bawah naungan Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal di Dubai (IACAD) itu. 

Mereka memperkenalkan para Muslim baru (mualaf) pada prinsip-prinsip Islam yang toleran dan memberikan dukungan sosial, pendidikan dan agama. Pusat ini ingin menyebarkan budaya Islam dan ajaran toleran dengan membimbing para mualaf dengan mengajar mereka, serta menyebarkan prinsip-prinsip Islam kepada pengikut agama lain yang ingin mengetahui agama Islam yang benar.

“Pusat ini terus bekerja untuk menyebarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam untuk meningkatkan tingkat kesadaran publik di antara komunitas yang berada di Dubai dengan menggunakan semua sarana teknis dan sumber daya manusia untuk menjangkau berbagai kelompok,” kata Hind Muhammad Lootah, Direktur pusat tersebut, yang dikutip di Abna, Kamis (1/7). 

Hana Al Jallaf, Kepala Seksi Kesejahteraan Muslim Baru, menegaskan bahwa berdasarkan wacana beradab pusat yang mempromosikan nilai-nilai toleransi, memperkenalkan penduduk dengan Emirat dan budaya Islam moderat, mengakibatkan 2027 penduduk Dubai masuk Islam.

https://www.republika.co.id/berita/qvjhnt320/kunci-sukses-pusat-islam-picu-islamnya-ribuan-orang-di-dubai

 

  • 0
  • Baca: 28 kali

Muhasabah Saat Wabah Yang Tak Kunjung Punah

MAMHTROSO.COM -- Hari-hari ini jalanan di kota Jakarta yang sepi diramaikan dengan suara ambulance yang tak henti hampir setiap jam sekali. Terkadang nampak jelas satu mobil ambulance membawa lebih dari satu peti jenazah. Bahkan ada jenazah yang dibawa mengunakan truk serta mobil Dinas Perhubungan yang dirubah menjadi ambulance.

Mobil polisi masuk ke perkantoran melakukan patroli pemakaian masker dan penerapan protokol kesehatan; “pakai masker harga mati”, ujarnya berkali kali.

Antrian di ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit dan fasilitas layanan kesehatan sama panjangnya dengan antrian di tempat pemakaman. Pun demikian antrian pembelian dan pengisian oksigen sama banyaknya dengan antrian di apotik yang membeli obat. Antrian juga terjadi di tempat vaksinasi. Video dan foto antrean tersebut bertebaran menghiasi layar media cetak, elektronik, online dan media sosial.

Di gang-gang kampung banyak bertebaran bendera warna kuning, sebagai tanda ada warga yang wafat. Hingga akhirnya banyak gang di kampung yang dipasang portal 24 jam untuk membatasi aktifitas warga. Spanduk ajakan mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan tetap di rumah, bertebaran menempel di gang-gang kampung. 

Di grup whatsap bertebaran informasi ucapan dan flyer duka cita beserta dengan doa-doa yang dipanjatkan. Di ranah virtual tak hanya diisi dengan pembelajaran jarak jauh, taushiyah, pelatihan, rapat kantor, reuni, tetapi juga takziyah virtual. Bahkan ada yang dilakukan secara live sambil menayangkan kondisi jenazah saat di salatkan dengan protokol kesehatan, dimasukan ke ambulance dan dimakamkan tanpa ada keluarga dan teman yang mendampingi.

Itulah gambaran hari-hari ini kondisi kita sebagai warga bangsa. Kecemasan dan kesedihan melanda kehidupan masyarakat, namun optimisme dan kegemberaan juga muncul seiring dengan tingkat kesembuhan pasien yang tinggi, sehingga melahirkan kepercayaan diri untuk bangkit dari pandemi. 

Pemerintah juga tak tinggal diam. Keputusan untuk menerapkan PPKM Darurat di Pulau Jawa dan Bali diberlakukan mulai 3 Juli hingga 20 Juli. Tentu dengan segala konsekuensinya. Bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak juga diberikan. Semua itu demi keselamatan bersama seluruh warga bangsa. 

Kebijakan itu membatasi kegiatan masyarakat pada tingkat yang bersifat mikro. PPKM dilaksanakan per daerah yang mengalami lonjakan tinggi kasus Covid-19. Tingkat penyebaran kasusnya dilihat pada tingkat RW/RT dari jumlah rumah yang terpapar pandemi virus corona.  Pembatasan aktivitas diperluas ke zona oranye atau berisiko sedang dari sebelumnya hanya di zona merah saja. 

Diantara pembatasan pada PPKM mikro darurat adalah penerapan bekerja dari kantor (work from office / WFO) sebanyak 25% dari kapasitas kantor pemerintah, BUMN/BUMD, dan perusahaan swasta yang berada di zona merah dan oranye.

Pembelajaran daring tetap dilakukan secara daring. Selain itu, kegiatan sektor esensial dapat beroperasi 100%, dengan protokol kesehatan lebih ketat. Untuk tempat makan dan minum serta pusat perbelanjaan hanya dapat beroperasi hingga pukul lima sore. Kegiatan ibadah bersama ditiadakan sementara. Begitu pun dengan kegiatan lain di area publik ditutup sementara hingga dinyatakan aman.

PPKM ini melibatkan berbagai elemen masyarakat di tingkat bawah. Mulai dari ketua RT/RW, kepala desa/lurah, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), dan Bintara Pembina Desa (Babinsa). Juga, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) hingga karang taruna.

Dengan kondisi yang demikian, maka tidak ada acara lain kecuali kita semua mentaati PPKM Darurat dengan penuh kesungguhan sebagai bagain dari ikhtiar kita untuk mencegah penyebaran Covid-19. Disamping itu kita perlu melakukan muhasabah dan berdoa memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar wabah ini segera berlalu.

Muhasabah berasal dari kata Bahasa Arab “hasiba-yahsabu-hisab” yang secara etimologi memiliki arti melakukan perhitungan. Sedangkan menurut terminology Islam, muhasabah memiliki arti upaya seseorang dalam melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan serta keburukan dalam semua aspek kehidupannya (Masyfur, 2018).

Karena itu, saat pada PPKM Darurat seperti sekarang ini, merupakan langkah tepat untuk melakukan refleksi diri, mengevaluasi perilaku kita selama ini, baik terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, rekan kerja, kepada masyarakat, bangsa dan negara. Apakah kehadiran kita di tengah-tengah mereka telah menebarkan manfaat dan energi positif bagi sesama? Apakah kita telah benar-benar menjalankan amanat Allah dalam kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya?.

Muhasabah dapat kita lakukan sendiri maupun bersama keluarga di rumah. Muhasabah juga dapat kita lakukan dengan melihat sekeliling kita, sebagaimana disimbolkan dengan salam untuk mengakhiri salat, yakni bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan uluran tangan kita.

Peluang untuk itu terbentang di depan mata. Ketika kita mendengar dan menyaksikan betapa wabah Covid-19 ini banyak memberikan dampak ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Banyak saudara, tetangga dan teman kita menganggur karena pemutusan hubungan kerja (PHK), usahanya sepi, maupun yang sakit terpapar virus Corona hingga ajal menyemputnya. 

Kepedulian kita kepada sesama telah menyebabkan badan amal Charities Aid Foundation (CAF) menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan World Giving Index yang dikeluarkan 14 Juni 2021. Indonesia berada di peringkat pertama dalam daftar negara dermawan dengan skor indeks keseluruhan 69 persen, naik dari 59 persen pada indeks tahunan terakhir yang dikeluarkan tahun 2018, yang juga menobatkan Indonesia menjadi negara paling dermawan.

Oleh karena itu, di tengah pandemi wabah Covid-19 yang belum berakhir ini, mari kita menundukan hati dan kepala dengan menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar wabah ini segera berlalu. Kita lakukan dengan sepenuh hati, sebab Allah telah berjanji “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah ; 5-6).

Dengan demikian, perjuangan dan doa kita dalam menghadapi wabah ini semoga berhasil. Sehingga wabah Covid-19 cepat berlalu dan kehidupan normal kembali. Wallahualam. 

https://www.republika.co.id/berita/qvmc2j385/muhasabah-saat-wabah-yang-tak-kunjung-punah

 

  • 0
  • Baca: 24 kali

Iman, Imun, Aman, Amin

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Kepanikan adalah separuh penyakit.

Ketenangan adalah separuh obat.

Dan, kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.

(Ibnu Sina)

Ungkapan indah dari Ibnu Sina, pakar kedokteran Islam yang lahir dari Afshona, Uzbekistan, itu menjadi panduan dan pengingat kita dalam menyikapi musibah wabah Covid-19 ini. Silang pendapat terkait Covid-19 sebaiknya dihentikan.

Sudah saatnya pemerintah ambil tanggung jawab penuh dan tegas agar wabah ini tidak makin meluas dan menimbulkan banyak korban. Bagi kita sebagai rakyat, perlu mendukung upaya pemerintah dengan melakukan tiga hal sebagai berikut.

Pertama, sucikan diri dengan menjaga wudhu (iman). Tujuan berwudhu sejatinya untuk menyucikan diri dan jiwa. Wudhu memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan.

Bukan sekadar membasuh bagian-bagian tubuh dengan air, melainkan juga mampu menjaga kesehatan dan mencegah berbagai macam penyakit, termasuk Covid-19. Meskipun wudhu tidak diresepkan sebagai obat, tetapi ada manfaat wudhu secara medis, yaitu dapat meningkatkan kesehatan manusia.

Kedua, menjaga dan rajin olahraga (imun). Cara ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus Covid-19. Bagaimanapun kondisi tubuh sehat jelas lebih kuat dan tahan terhadap virus daripada tubuh lemah dan sakit-sakitan.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”

Ketiga, taat protokol kesehatan (aman). Protokol kesehatan (prokes) yang menjadi anjuran pemerintah untuk mencegah korona meliputi 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Tanpa peran serta dan keterlibatan masyarakat menaati prokes ini, mustahil kita berharap korona cepat pergi dari bumi Indonesia. Ini sesuai peringatan Allah: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d: 11 ).

Di sisi lain, ada riwayat hadis dari Abu Said Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudry radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.” (HR Ibnu Majah).

Jika ketiga nasihat di atas dijalankan dengan disiplin tinggi, insya Allah akan aman dari serangan virus Covid-19. Ini bagian dari ikhtiar bersama. Perang melawan Covid-19 sudah ditabuh sejak awal Maret 2020 ketika pertama kali Covid-19 menjangkiti warga Depok. Saatnya kita menyerang dengan pertahanan diri yang kuat dengan iman, imun, aman, dan amin. 

Lalu, apa hikmah Covid-19 dan pandemi ini? Hikmah terbesar ada tiga. Pertama, semakin menunjukkan, manusia itu lemah, maka jangan sombong. (QS an-Nisa’: 2); (QS Luqman: 18). Kedua, diminta introspeksi alias muhasabah. Bahwa, apa pun yang terjadi ini harus disikapi dengan cerdas dan cermat.

Ketiga, kesehatan adalah komando kehidupan. Jika kesehatan terganggu, maka semuanya akan terganggu dan kena dampaknya. Maka, perlu dijaga dengan sebaik-baiknya. Agar, bangsa dan rakyatnya tetap sehat sejahtera. (QS Maryam: 13).

Wallahu a’lam.

https://www.republika.id/posts/18056/iman-imun-aman-amin

 

  • 0
  • Baca: 29 kali

Kisah Sembuh Covid-19 dan Syarat Raih Takdir Terbaik

MAMHTROSO.COM -- Allah Ta'ala telah menakdirkan setiap hamba-Nya. Dan takdir yang ditetapkannya pasti yang terbaik, termasuk saat seorang hamba terpapar virus covid-19.  

Pengasuh pesantren Tunas Ilmu Purbalingga sekaligus dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi'i Jember, Ustadz Abdullah Zaen Lc,MA dalam keterangan tertulisnya kepada Republika.co.id menyampaikan, Rasulullah  ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya." (HR Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu).  

"Hadits ini menunjukkan bahwa sepahit apapun takdir yang menimpa mukmin atau mukminah pasti itulah yang terbaik baginya. Entah ia bisa merasakan hikmah kebaikan tersebut dengan segera, atau setelah beberapa lama berjalannya waktu," kata Ustadz lulusan S2 jurusan Aqidah, Universitas Islam Madinah ini. 

"Sebuah kisah nyata, beberapa hari lalu kami mendengar langsung sebuah kisah nyata tentang takdir Allah yang mengenai salah satu hamba-Nya. Di awal terlihat sangat pahit. Namun ternyata di akhirnya terasa begitu manis," lanjut ustadz. 

Ustadz Abdullah mengatakan, cerita ini mengisahkan tentang seorang kakek berusia hampir 80 tahun yang menderita komplikasi penyakit. Jantung bengkak, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan juga menderita asam urat level sembilan. Kaki sudah bengkak dan tidak bisa berjalan. 

Suatu malam, saat hanya ditemani sang istri, kondisi kakek tersebut mendadak begitu menurun. Dia merasakan pusing, dada sesak, lemas, dan tidak ingin makan. Terdapat dua putrinya yang tinggal di rumah dekatnya, dan dengan sigap segera membawa beliau ke rumah sakit. 

Sesampainya di RS, kakek tersebut diperiksa lewat tes cepat Antigen, ternyata hasilnya positif Covid-19. Berita ini sangat menyedihkan bagi putra-putri beliau. Yang lebih tragis lagi, saat meminta untuk dirawat di rumah sakit tersebut, dengan keberatan yang sangat, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa kamar sudah terisi penuh. Tak tersisa lagi tempat perawatan.  

Tidak putus asa, keluarga mencoba menghubungi rumah sakit lain, ternyata juga penuh. Bahkan hingga di rumah sakit umum daerah pun juga penuh. 

Dengan hati nelangsa, akhirnya sang kakek dibawa pulang untuk diisolasi secara mandiri dan dirawat di rumah. Putra-putri beliau memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah dan berikhtiar maksimal. 

Setelah dua bulan perawatan penuh kasih sayang, ternyata hasilnya di luar dugaan. Beliau sembuh dari Covid-19. Bahkan juga disembuhkan oleh Allah dari penyakit-penyakit bawaan lainnya. "Sebuah anugerah luar biasa dari Yang Mahakuasa!" kata ustadz. 

Sudah enam bulan ini sang kakek bisa berjalan sebagaimana biasa tanpa alat bantu. Padahal dahulunya tidak bisa berjalan. 

"Itulah contoh nyata, bagaimana takdir Allah bagi orang yang beriman, pasti itulah yang terbaik. Siapa yang berharap tertular virus Covid-19? Apalagi manakala sudah memiliki berbagai penyakit berat bawaan, alias komorbid. Tapi ketika Allah menakdirkan tertular, jangan putus asa! Tetap bersikap optimis dengan rahmat dan kuasa Allah. Tentu sambil diiringi dengan ikhtiar maksimal pencegahan dan penanganan," papar ustadz. 

Ustadz menjelaskan, hadits yang dibawakan di awal menerangkan terkait takdir Allah bagi kaum mukminin. Bahwa takdir itu pasti yang terbaik bagi mereka. Namun ini berbeda cerita, tentang takdir yang Allah berikan bagi orang kafir atau yang tidak beriman. Sangat mungkin itu berupa adzab atau siksaan. 

"Maka, jika kita menginginkan untuk senantiasa mendapatkan takdir terbaik dari Allah, penuhi syaratnya! Yakni jadilah orang yang beriman. Berupayalah untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Niscaya Allah akan berkenan untuk terus menerus mengaruniakan takdir terbaik-Nya bagi kita," kata Ustadz Abdullah.

https://www.republika.co.id/berita/qvlcfl320/kisah-sembuh-covid19-dan-syarat-raih-takdir-terbaik

  • 0
  • Baca: 19 kali
Berlangganan RSS feed