Masuk

Alison Stevens: Alquran Ibarat Sinar di Tengah Kegelapan

MAMHTROSO.COM --  Meski tak lagi muda, Alison Stevens yang berumur kepala lima tetap bersemangat men dalami Islam. Risalah Ilahiyah yang menurutnya sangat inspiratif telah mengubah jalan hidupnya, dari seorang ateis menjadi pengiman Sang Pencipta.

Lika-liku perjalanan hidupnya telah mengukuhkan Alison untuk berpegang teguh pada Islam, agama yang memantapkan pemahamannya akan Tuhan yang Mahaesa. Pada saat berusia 47 tahun, dia memantapkan diri untuk bersyahadat, pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Sang Pencipta.

Wanita berkebangsaan Inggris ini sejak kecil selalu berpindah-pindah rumah. Ini karena ayahnya bekerja di industri minyak dan sering ditempatkan di tempat yang tidak tetap. Keluarganya tidak memiliki rumah tetap.

Sejak kecil Alison tidak mendapatkan pendidikan agama di rumah. Beribadah pun hanya sekali ketika perayaan hari besar di sekolah. Ketika itu teman-teman nya berkumpul untuk bernyanyi dan bergembira bersama.

Alison menempuh pendidikan menengah di Skotlandia. Di sekolah itu, pendidikan agama menjadi hal yang wajib dipilih. Namun kebanyakan siswa membenci pelajaran itu, karena banyak dari mereka yang sekuler dan tidak mengang gap pelajaran agama sebagai kebutuhan.

Mereka juga tidak pernah menikmati pelayanan di tempat ibadah. Kehidupan mereka sehari-hari hampir tak pernah ber kaitan dengan agama. Ukuran kehidupan adalah pemikiran dan sikap manusia semata. Meski demikian Alison sangat menghormati mereka yang religius.

"Tapi bagi saya itu tidak perlu, saya tidak merasakan kerinduan akan agama ketika itu,"jelas dia dalam sebuah rekaman video.

 Sejujurnya, dia merasa agama menyebabkan banyak masalah, sehingga lebih tertarik dengan kehidupan sosial seperti merawat orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/19/01/08/pl0a2x313-alison-stevens-alquran-ibarat-sinar-di-tengah-kegelapan

  • 0
  • Baca: 13 kali

Mengimani Kiamat

MAMHTROSO.COM -- Allah SWT memiliki kuasa atas segala hal yang akan terjadi dunia ini, termasuk dalam hal azab. Sebagai umat Islam, percaya adanya azab Allah adalah bentuk keimanan kepada Allah.

Ustaz Bachtiar Nasir dalam kelas tadabur pagi bertajuk "Menantang Azab Allah Adalah Perilaku Kekufuran" di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta, Selasa (8/1), mengatakan, umat Islam wajib memercayai adanya azab Allah. Azab diturunkan bagi me reka orang-orang kafir.

"Azab ini tak ada yang pernah bisa me nolaknya karena azab datangnya dari Allah yang punya tempat-tempat naik," ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Bachtiar menjelaskan dan menadaburi tentang isi surah al- Ma'rij. Menurut dia, pada awal surah tersebut, Allah mencerita kan penghinaan kaum musyrikin atas informasi kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Orang-orang seperti ini akan mendapatkan azab dari Allah. Namun, ada beberapa orang som bong yang justru menantang azab Allah. Dia adalah Abu Jahal dan Nadhr bin Harits bin Kildah. Ke dua nama tersebut adalah orang yang tidak percaya kepada azab Allah.

Padahal, azab pasti akan datang kepada mereka yang meng ingkari perintah-Nya. "Padahal, peristiwa hari kiamat dan ancamannya pasti terjadi," ka tanya.

Menelaah awal surah al- Ma'rij, Ustaz Bactiar menambah kan, pada dasarnya akan dihadap kan terhadap diri sendiri. Artinya surah ini akan membuat seseorang mempertanyakan ke imanannya tentang hari kiamat dan azab Allah.

Dia menuturkan, mereka yang melakukan kemaksiatan tidak memercayai adanya hari kiamat. Menghadapinya diperlukan kesa baran kuat seperti menghadapi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Pada ayat 1-4 surah al- Ma'arij, kata Ustaz Bachtiar, ma nusia akan dihadapkan dengan orang-orang yang mengingkari hari kiamat. Kemudian, surah tersebut pun akan memberikan gambaran bahwa kiamat pasti akan terjadi. Ustaz Bachtiar menegaskan, umat Islam wajib mem punyai keyakinan tentang datangnya hari kiamat.

Jika keyakinan tersebut sudah tertanam dalam diri mereka, harus diba rengi dengan peningkatan amal saleh sebagai persiapan menghadapi hari kiamat. "Mengimani hari akhirat itu membuat kita semakin pasrah pada takdir. Artinya akal dan mental punya kesiapan menerima takdir itu," tutur dia.

Menurut dia, kadar keimanan seseorang akan memengaruhi ke yakinan seseorang terhadap da tangnya hari kiamat. Untuk itu, Ustaz Bachtiar mengajak umat Islam agar menjalani hidup ber orientasi akhirat. Cara tersebut merupakan jalan menumbuhkan keyakinan tentang hari akhir. "Orang yakin pada janji Allah dan takut pada ancaman Allah, insya Allah hidup orientasi akhi rat akan tercapai," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Bachtiar juga mengajak agar umat Islam meningkatkan ketakutannya kepada Allah. Me reka yang takut kepada Allah, menurutnya, Ustaz Bachtiar di yakini hidupnya akan bahagia. Allah, katanya, sangat baik ke pa da makhluk-Nya.

Ustaz Bachtiar menyebutkan tentang poin di awal surah al- Ma'arij, azab pasti terjadi bagi orang-orang kufur. Kemudian, azab tersebut tidak dapat ditolak sebab azab datang dari Allah. Us taz Bactiar menyerukan agar umat Islam berlomba-lomba men capai kemuliaan Allah ketika di akhirat nanti. Untuk itu, persiapan harus dilakukan sejak ber ada di dunia.

Ustaz Bachtiar meng ingatkan agar umat Islam tidak disorientasi hidup. "Jangan salah pilih jalan hi dup. Takwa adalah salah satu ja lannya. Itu orang paling mulia. Jangan pilih jalan karier yang be lum jelas. Di dunia hidup hanya sekali. Hidup jangan coba-coba. Untuk menapaki kemuliaan pelajari Alquran," kata dia.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/01/12/pl70wd313-mengimani-kiamat

  • 0
  • Baca: 16 kali

Islamnya Jagoan Kota Makkah

MAMHTROSO.COM -- Ia memiliki julukan sebagai Pedang Allah. Khalid bin al-Walid dikenal lantaran kecerdasan dan ketangguhannya sebagai pemimpin pasukan kuda Quraisy. Tanpa kehadiran Islam di relung hatinya, sosok jenius ini semata-mata jagoan kota Makkah yang berperang demi memperebutkan harta atau sekadar fanatisme kesukuan.

Khalid  awalnya termasuk musuh Islam yang paling keras. Dalam Perang Uhud, ia memimpin pasukan kuda Quraisy yang berhasil memukul balik pertahanan kaum Muslimin. Saat itu, pada mulanya kaum kafir Quraisy terdesak sehingga berlarian menyingkir dari tebasan pedang pasukan Muslim.

Mereka meninggalkan harta benda di belakang. Melihat musuhnya tunggang-langgang, pasukan Muslim yang bertugas mengawasi dengan senjata panah dari bukit justru turun merebut harta rampasan perang. Di sinilah Khalid  melihat peluang.

Khalid  bergegas menyerang pasukan Muslim dari arah belakang. Dalam situasi terkejut, cukup banyak pasukan Muslim yang terkena serangan anak buah Khalid .

Akan tetapi, Khalid tidak mampu menembus benteng kokoh yang terdiri atas tubuh-tubuh kelelahan para sahabat yang setia menjadi tameng hidup untuk melindungi Rasulullah SAW. Saat itu, dalam diri mereka terdapat keimanan yang kuat, sedangkan dalam pasukan Quraisy hanya ada nafsu dendam.

Masuk Islamnya Khalid  tidak terjadi begitu saja, tapi setelah pergulatan batin yang panjang. Hal itu dimulai ketika kekuatan umat Islam semakin terkonsolidasi di Madinah. Di sisi lain, kondisi di Makkah kian melemah. Enam tahun setelah peristiwa hijrah, perjanjian Hudaibiyah terjadi antara Rasulullah SAW dan pemimpin Quraisy.

Dalam pada itu, kedua belah pihak menyepakati masa damai 10 tahun lamanya. Lantaran perjanjian ini, Nabi Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya berhak melakukan perjalanan ibadah haji ke Makkah dalam situasi kondusif.

Khalid  mengamati langsung bagaimana umat Islam berbondong-bondong bergerak bersama-sama dari Madinah ke Makkah hanya untuk satu tujuan, yakni menuntaskan kerinduan pada kampung halaman Nabi SAW serta menjalani ibadah haji.

Di sinilah Khalid merasa bahwa apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad bukanlah fanatisme kesukuan atau harta benda, melainkan sesuatu yang lebih luhur, yakni keimanan pada Allah SWT. Dengan kata lain, Nabi  tidak menyimpan dendam pada orang-orang Quraisy yang telah menyingkirkannya dari Makkah.

Seperti ditulis dalam kitab Shuwar min Siyar ash-Shahabiyyat, pada suatu hari Khalid merenungkan agama Islam yang ia saksikan sendiri semakin besar pengikut dan maruahnya.

Khalid  pun berkata, Demi Allah, sungguh jalan kebenaran telah tampak. Orang itu (Nabi Muhammad SAW) benar-benar utusan Allah. Lalu, sampai kapan aku memeranginya? Demi Allah, aku akan pergi menghadapnya dan masuk Islam.

Keinginan Khalid  ini mendapat kecaman dari tokoh Quraisy, Abu Sufyan. Namun, Khalid tidak menyerah. Ia pun menemui Utsman bin Thalhah dan selanjutnya berpapasan dengan Amr bin al-Ash. Ketiganya pergi ke Madinah menghadap kepada Rasulullah SAW di hari pertama Bulan Shafar tahun delapan Hijriyah.

Ketika berjumpa dengan Nabi, Khalid mengucapkan salam pujian. Wajah Rasulullah berseri-seri dengan menjawab salam Khalid dan dua temannya itu.

Sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat, Khalid memohon ampunan kepada Allah dan meminta pengertian dari Nabi akan perangainya dahulu sebagai pemimpin pasukan kafir Quraisy. Rasul pun bersabda, Sesungguhnya Islam menghancurkan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya (orang masuk Islam).

Sebagai pemuka pasukan Muslimin, perang pertama yang dijalani Khalid adalah Perang Mu'tah. Dalam kecamuk peperangan itu, pembawa panji Islam telah gugur sebagai syahid. Kemudian, Tsabit bin Aqram merebut panji Islam dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berseru, Wahai sekalian kaum Anshar!

Maka, pasukan Muslimin segera mendatanginya. Di hadapan mereka, Khalid menerima panji dari tangan Tsabit. Demi Allah, aku Tsabit bin Aqram tidaklah mengambil bendera ini melainkan untuk aku serahkan kepadamu (Khalid).

Dengan semangat yang menyala-nyala, Khalid memimpin serangan balasan terhadap pasukan kafir Quraisy. Sejak Perang Mu'tah ini, tidak ada peperangan berikutnya dalam sejarah jihad Islam yang tidak disertai Khalid.

Sesudah wafatnya Rasulullah SAW, sejumlah golongan mengumumkan murtad dari agama Islam. Jazirah Arab kembali bergolak. Khalid  memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi kaum yang menolak membayar zakat serta memecah-belah persatuan umat Islam itu.

Setelah situasi Jazirah Arab cukup kondusif, kekuasaan Islam mencakup hingga Irak dan perbatasan Syam (Suriah). Di Irak, pasukan Muslim bertemu dengan bala tentara Persia di bawah komando Raja Kisra yang lalim.

Khalid  memimpin pasukan Muslim sehingga memenangi pertempuran melawan pasukan Kisra. Usai itu, Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq kemudian memerintahkan pasukan Khalid  kembali ke negeri Syam. Di sana, sudah menunggu pasukan Romawi yang angkuh.

Khalid  membawa 10 ribu personel dari Irak melintasi padang pasir ke arah Syam. Mereka menerobos gersangnya gurun dengan perbekalan seadanya. Namun, semua dilalui dengan kepatuhan, keimanan yang teguh, dan kesabaran.

Sesampainya di tujuan, Khalid  melihat pasukan Romawi yang begitu besar jumlahnya. Ia tidak gentar dan segera mempersiapkan perlengkapan perangnya. Pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Romawi terjadi di Ajnadin. Kemenangan berada pada pihak Khalid .

Setelah itu, pasukan Muslim bergerak menuju medan Yarmuk, di mana pasukan Romawi lainnya sudah menunggu. Saat itu, jumlah pasukan Muslim tak lebih dari 45 ribu personel, sedangkan pasukan Romawi terdiri atas 200 ribu prajurit dengan perlengkapan perang yang lebih unggul.

Akan tetapi, Khalid  tak gentar dan berusaha mempelajari strategi musuh untuk kemudian menemukan kelemahan-kelemahan mereka. Baik perang di Ajnadin maupun Yarmuk berakhir dengan kekalahan di pihak Romawi. Sejak saat itu, negeri Syam bersih dari kekuasaan Romawi.

Bagaimanapun, akhir hidup Khalid  tidak sesuai dengan cita-citanya sebagai panglima jihad kaum Muslim. Khalid begitu sedih menyadari maut menjemput dirinya di atas kasur, bukan gugur di medan perang.

Padahal, ia telah menghabiskan hampir seluruh masa hidup di atas punggung kuda, di bawah kilatan pedang, dan berhadap-hadapan dengan musuh Allah.

Dialah yang dengan heroik menyertai peperangan bersama Rasulullah SAW. Pedang Khalid  telah merontokkan keangkuhan Kekaisaran Persia dan Romawi. Seluruh kawasan Irak dan Syam telah dibebaskannya agar Islam semakin berjaya.

Dan, di sinilah ia meratapi kematian yang kian dekat sembari terbujur di atas kasur. Khalid mengungkapkan kepiluan hatinya dengan berkata, Sungguh, aku telah mengikuti peperangan ini dan itu.

Tidak ada satu jengkal pun pada tubuhku melainkan padanya terdapat bekas sabetan pedang dan lemparan anak panah. Akan tetapi, sekarang aku mati di atas kasurku bagaikan seekor unta. Namun, mata-mata para pengecut jangan sampai tertidur.

Khalid  telah mewarisi keberanian. Namanya harum sebagai panglima perang, pemimpin pasukan kaum Muslim yang disegani negeri-negeri adidaya. Dalam hidupnya, Khalid  berupaya sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW, yang sederhana dan mencintai orang-orang miskin.

Saat nyawa lepas dari jasadnya, Khalid  hanya meninggalkan harta berupa seekor kuda, sebilah pedang, dan seorang budak. Melihat kenyataan ini, Khalifah Umar bin Khattab berkata, Semoga Allah merahmati Abu Sulaiman (Khalid ). Keadaannya persis seperti apa yang kami sangkakan. Khalid  wafat pada tahun 21 Hijriyah di Syam.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/01/11/pl4mo4313-islamnya-jagoan-kota-makkah-part4

  • 0
  • Baca: 14 kali

Manfaat Menjaga Lisan Bagi Perempuan

-- Salah satu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada ma nusia adalah kemampuan berbicara. Dengan berbicara, manusia bisa mengeluarkan isi hati dan pikirannya kepada yang lain. Nikmat Allah yang satu ini bila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dapat membantu manu sia mencapai apa yang ia inginkan.

Dalam surah ar-Rahman ayat 1-4, Allah SWT berfirman, "Allah yang Maha pe murah. Yang telah mengajarkan Al qur an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara." Dalam surah lain nya, al-Balad ayat 8-9, Allah pun menuliskan lima kenikmatan yang Ia berikan pada manusia secara cuma-cuma, "Bukankah Kami telah memberikan kepad anya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir." Kemampuan berbicara ini bisa mem bawa keuntungan maupun keburukan ber gantung penggunaannya. Lidah, se bagai salah satu alat berbicara dapat di gunakan untuk taat kepada Allah mau pun menuruti setan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya ada seorang hamba be nar-benar berbicara dengan satu kali mat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya be berapa derajat. Dan sesungguhnya ada se orang hamba benar-benar berbi cara de ngan satu kalimat yang termasuk ke mur kaan Allah, dia tidak menganggap nya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka jaha nam."

Kemampuan seorang Muslimah da lam menjaga lisannya ini benar-benar diperhatikan oleh Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis diceritakan sahabat yang bertanya kepada Rasul, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya perempuan itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun, dia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya." Nabi pun berkomentar, "Dia di neraka." Para sahabat berta nya lagi, "Ada perempuan yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang melaksanakan shalat sunah, dan dia hanya ber sedekah dengan potongan keju. Namun, dia tidak pernah menyakiti tetangganya." Rasulullah menjawab, "Dia ahli surga.

Ini membuktikan betapa kuatnya pe ngaruh lisan atau ucapan terhadap ke dudukan seseorang di akhirat nanti. Ke biasaan seorang Muslimah yang mem bicarakan orang lain (menggunjing atau gibah) sebaiknya dihentikan. Sebab, pa hala orang yang menggunjing akan hi lang dan diambil oleh orang yang dibica ra kan. Nabi bersabda, "Tidak akan istiqa mah iman seorang hamba sehingga isti qa mah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya." Rasulullah SAW berkata siapa umatnya yang dapat menjaga lisannya, Allah akan menutupi keburukannya.

Dalam banyak hadis, Nabi SAW tidak berhenti untuk memperingati sahabatsahabat dan umatnya agar menjaga ucap an dan apapun yang dikeluarkan dari lisan mereka. Jika seseorang itu me rasa ragu ucapannya akan membawa masalah maka sebaiknya ia diam. Tidak heran jika kemudian muncul sebuah pe ribahasa, diam itu emas. Apa pun yang di bicarakan oleh umat hendaknya sesua tu yang membawa kebaikan, jika tidak, maka diam. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia ber kata yang baik atau diam."

Imam an-Nawawi pernah berkata, "Ketahuilah, seharusnya setiap mukalaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya maka menurut sunah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret ke pada perkataan yang haram, atau mak ruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak di lakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya."

Sementara itu, Yahya bin Mu'adz ber kata, "Hati itu seperti periuk dengan isi nya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena se sungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hati nya, manis, pahit, tawar, asin, dan lain nya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya." Seorang Muslimah yang dapat menjaga lisannya mendapatkan banyak keuntungan.

Salah satunya, ia dijanjikan ma suk surga oleh Rasululah SAW. "Barang siapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya, mulut atau lidah, serta antara kedua ka ki nya, kemaluannya, maka saya memberikan jaminan surga untuknya."

Selain itu, bagi Muslimah yang dapat menahan diri dari membicarakan hal-hal yang membawa keburukan, ia dijanjikan akan dijauhkan dari panasnya api neraka jahanam. Ia juga akan dihindarkan dari kebinasaan.

Seseorang yang banyak diamnya dan tak suka mengumbar ucapan yang siasia, biasanya ia lebih sering menghabis kan waktunya untuk berpikir. Apabila ia berpikir tentang kebesaran Allah SWT, mengingat akan nikmat yang telah dida pat, dan mengingat kematian maka kadar keimanannya pun juga akan ber tambah. Menjaga lisan termasuk dalam perbuatan yang meningkatkan iman seseorang.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/19/01/12/pl6xjh313-manfaat-menjaga-lisan-bagi-perempuan-part1

  • 0
  • Baca: 15 kali

Sometimes There Is a Link Between Hijab and Mental Health Issues

I wore a hijab when I was too young to understand the heaviness of the decision that I was making. I was 12 and went to an Islamic school that required girls to begin wearing a veil in the 6th grade. Making the next step to wear a hijab full time seemed natural, seeing as my mother wore one as did all my friends.

It was not until much later in life that I discovered the weight of the decision I had made so early. Women in Islam are told that hijab brings them closer to Allah (swt), that it makes them safer, more respected and protects them. But what about when hijab is the reason for waves of paralyzing anxiety and when it makes every day routines like going to work more and more difficult?

For Aisha Vanbuskirk, a 26-year-old Muslimah, wearing a hijab made tasks like grocery shopping and going out for lunch, a political statement.

“I felt like I was constantly on the defense, and emotionally drained because of it. My internal dialogue was very negative and anxious and border-line paranoid,” said Aisha.

The negativity became so severe that she deactivated all social media to get away from the anti-hijab rhetoric that she felt was most prevalent online. And after nine years of wearing the hijab, she decided to remove it entirely. For Aisha, her decision was a result of the constant negativity surrounding Muslims in the media.

“I guess I was waiting for my resolve to return to me, as if the mental health issues were a phase that would pass. But the anxiety and negativity didn’t go away.”

Once she removed her hijab, she says,

“I felt ‘innocent’ of the political issues plaguing this country, I felt none of the accountability I usually shoulder. I felt like I shed all of the stereotypes in one act of removing the hijab.”

The recent spotlight placed on Islam and the hijab creates curiosity, and sometimes even well meaning strangers can trigger anxiety with questions. The constant narrative in media and public discourse is that the hijab symbolizes submissiveness and often makes Muslim appear voiceless. Entire panels discuss hijab often have no Muslim women who wear the hijab being represented.

“These types of assumptions raise the questions of exactly who has ownership of their body, and expose just how deeply rooted the effect of colonialism is in regards to safely expressing one’s tradition and culture,” says Ruba Najjar, mental health counselor.

Being visibly Muslim

According to Najjar, the homogeneity given to Muslim women – both by non-Muslims and by Muslim men – robs them of their own identity and labels them with a uniform personality. It’s from this label that so many mental health issues arise. Muslim women are seen as the flag bearers of a religion that is often misunderstood, or represented through an extreme narrative. By holding Muslim women who wear a hijab accountable for more than just their own actions, paranoia, exhaustion, social anxiety and other mental health issues often surface, according to Najjar.

“Being a visibly Muslim woman come with its difficulties. Some of which include feelings of stigma, being unfairly represented by the mainstream media, and having to face problematic ideas such as being a flag bearer of the religion due to visibility,” says Najar.

For Aisha, removing her hijab was a way of reminding herself of the person that she is, without all the labels that come with being Muslim. “I felt like I shed all of the stereotypes in one act of removing the hijab. It’s been a full year, and this February I put my hijab back on and I feel comfortable again in my own skin, my identity is solidified after a year of introspection and growth.”

However, there is still the concern of expectations placed on Muslim women from the general Muslim community. Muslim women who wear a veil consistently have expectations placed on them both by other Muslims and by society. Sheikhs compare women in hijab to precious jewelry that needs to be protected, or a lollipop that is covered in a wrap.

What the Muslim community needs to start considering is how they are offering support to Muslim women in a growing anti-Islamic climate. Ostracizing a woman for choosing to remove her veil is not a way of bringing her any sort of resolve.

Before passing judgment or unsolicited advice, consider the battle the woman behind the veil might already be facing. Mental health is not a topic the Muslim community discusses, but it is time to consider the emotional impacts of living in a world that associates Islam with violence; especially for women who cover and are easily identifiable as Muslim.

First published: January 2019

http://aboutislam.net/family-society/your-society/sometimes-link-hijab-mental-health-issues/

  • 0
  • Baca: 11 kali

Does Bleeding Break Wudu?

Question:

As-Salamu `alaykum. Does bleeding break one's ablution (wudu)?

Answer:

Wa `alaykum As-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

There is an agreement among Muslim scholars that bleeding from the two natural orifices breaks wuduBleeding from a cut or wound, however, does not break wudu.


In response to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and an Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

Bleeding from any of the natural orifices (anus, urethra or vagina) definitely breaks one’s wudu. This is the general consensus among the scholars.

Bleeding from a cut or wound, however, does not break one’s wudu. This is supported by strong evidence in the primary sources of Islam and is endorsed by the Salaf (the pious predecessors). It is common knowledge that the Companions used to pray while they were bleeding from their wounds. Caliph Umar (may Allah be pleased with him) prayed while bleeding from stab wounds. The above rule also applies to blood taken for medical tests.

Allah almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

http://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/bleeding-break-wudu/

  • 0
  • Baca: 10 kali

Veeramallah Temukan Hidayah di Kelas Sejarah

MAMHTROSO.COM -- Islam bukanlah hal yang baru bagi Veeramallah Anjaiah. Hidup di tengah komunitas Muslim di Andrapradesh, India, membuatnya mengenal Islam sejak kecil.

“Teman-teman saya Islam. Sementara saya Hindu. Saya bahkan sering ikut berpuasa bersama teman-teman ketika Ramadhan. Dari mereka saya mengenal Islam dan saya merasa tertarik,” katanya.

Ia semakin mengenal Islam saat duduk di bangku kuliah. Ketika itu, pria yang kini berusia 51 tahun ini kuliah di jurusan sejarah. Nah, salah satu yang ia pelajari di jurusan ini adalah tentang agama, Islam salah satunya.

“Saya tertarik dengan kisah Nabi Muhammad SAW yang berjuang tak kenal lelah untuk mengenalkan Islam,” ujar ayah dari tiga anak ini.

Dari ruang kuliah di jurusan sejarah ini, ia tahu bahwa Islam bisa berkembang pesat hanya dalam waktu beberapa ratus tahun dan kini menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Dari bangku kuliah pula Anjai tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan persaudaraan. Agama ini mengajarkan berbagi melalui zakat dan perayaan Idul Adha.

“Muslim harus saling membantu. Orang kaya harus mengeluarkan zakat untuk membantu orang miskin. Dan, kurban yang disembelih pada Idul Adha diberikan pula kepada mereka yang membutuhkan,” kata pria yang kini telah menjadi warga negara Indonesia setelah menunggu selama 16 tahun.

Islam, lanjutnya, juga mengajarkan disiplin yang tinggi. Selain itu, Islam memiliki peraturan lengkap untuk menuntun kehidupan seorang Muslim. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perilaku radikal lainnya, namun menjunjung tinggi perdamaian.

“Jadi, rasanya aneh saja bila banyak kelompok radikal yang terbentuk dan mengatasnamakan Islam.”

Pria yang kini bekerja sebagai redaktur senior di sebuah koran berbahasa Inggris ini semakin mengenal Islam setelah pindah ke Indonesia untuk kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. “Di sini saya banyak belajar tentang kehidupan seorang Muslim,” katanya. Keinginan untuk menjadi Muslim semakin kuat ketika Anjai menemukan pujaan hatinya. Seorang perempuan Solo yang bekerja sebagai perawat.

“Kami pertama kali bertemu pada 1995. Ketika itu saya harus mengobati kaki saya yang sakit setelah terjatuh dari Banana Boat saat kantor saya mengadakan liburan bersama di Pulau Aer,” ujarnya. Mereka bertemu beberapa kali dalam sesi fisioterapi. Kebetulan sang perawat yang asli Solo itu sangat tertarik dengan India.

“Kami bertukar pengetahuan.”

Mereka pun saling jatuh cinta. Namun, perbedaan agama mengganjal cinta mereka. Salah satu di antara mereka merasa harus ada yang mengalah. “Istri saya yang masuk Hindu, atau saya yang masuk Islam,” katanya.

Suatu ketika, sang istri berusaha untuk mengalah dan memantapkan hati untuk menjadi seorang Hindu. “Namun, saya menghentikannya. Saat itu saya bilang padanya bahwa dia tidak perlu pindah agama. Karena saya yang akan pindah ke Islam. Lagi pula sejak dulu saya sudah mengenal Islam dan saya sebenarnya sudah lama tertarik,” katanya.

Akhirnya beberapa bulan sebelum pernikahan, Anjai memutuskan untuk memeluk Islam pada usianya yang ke-35 tahun. “Istri saya senang sekali dengan kabar tersebut, begitu juga keluarganya.”

Tidak seperti kebanyakan mualaf, Anjai tak mendapatkan respons negatif dari keluarganya ketika memutuskan berislam. “Kedua orang tua saya sudah meninggal saat itu,” katanya. Sementara, adik-adiknya tidak bermasalah dengan keputusan sang kakak. Lagi pula, keluarganya di India sudah lama mengenal Islam. Mereka juga memandang, Islam sebagai agama yang memiliki ajaran positif.

Kini, Anjai merasa bahagia dengan keislamannya. Dia merasa bangga menjadi bagian dari salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Di usianya yang semakin tua, dia berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari Islam.

Tantangan besar sedang dihadapi Islam saat ini. Tantangan besar itu, menurut Anjai, adalah radikalisme yang telah menumbuhkan citra buruk bagi Islam di mata dunia.

Radikalisme, menurutnya, timbul karena kesalahan dalam menginterpretasikan Islam. “Akhirnya mereka memahami Islam secara berbeda,” katanya.

Karena itu, menurutnya, nilai-nilai agama yang benar harus diberikan kepada setiap Muslim sejak kecil. Anak-anak harus dibuat mengerti bahwa Islam bukanlah satu-satunya agama di dunia ini.

“Kita boleh bilang agama kita paling benar. Namun, bukan berarti menganggap agama orang lain salah. Kita harus mengajarkan anak-anak agar bisa menghargai penganut agama lain,” katanya.

Tantangan Islam lainnya adalah ilmu pengetahuan. Anjai melihat, umat Islam saat ini tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Padahal, di masa lalu, utamanya di abad pertengahan, Islam pernah berjaya di berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari sastra, matematika, kedokteran, sampai astronomi. 

“Sekarang kita ketinggalan jauh. Coba lihat jumlah pemenang Nobel beberapa tahun ke belakang, tidak ada yang beragama Islam. Begitu juga di Olimpiade Sains. Padahal, jumlah Muslim di dunia mencapai dua miliar orang,” katanya.

Karena itu, menurutnya, dari pada kelompok radikal tersebut berjihad untuk sesuatu yang salah akan lebih baik bila mereka berjihad untuk mempromosikan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, umat Islam bisa lebih maju. “Kita harus bekerja lebih keras untuk ini.”

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/18/12/18/pjxya1313-veeramallah-temukan-hidayah-di-kelas-sejarah-part2

 

  • 0
  • Baca: 18 kali
Berlangganan RSS feed