Masuk

Kenapa Orang China Makan Pakai Sumpit? Faktanya Ternyata Mengejutkan

MAMHTROSO.COM -- Sumpit lazim ditemukan Asia. Alat makan ini sangat penting untuk kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat,  terutama di China, Semenanjung Korea, kepulauan Jepang, dan bagian dari Mongolia dan daratan Asia Tenggara.

Namun, menurut Q Edward Wang dalam bukunya yang berjudul Chopsticks: A Cultural and Culinary Historysumpit tidak selalu menjadi alat makan utama bagi orang-orang di Asia Timur dan Tenggara.

Ada banyak alasan megapa sendok menjadi alat makan utama. Penjelasan paling penting terkait hal ini adalah bahwa dari zaman dahulu hingga sekitar Abad ke-10, millet adalah bahan pangan yang dominan di China Utara, Korea, dan sebagian Jepang.

Millet memiliki butir lebih kecil dari beras, dan paling baik dimasak menjadi bubur. Bentuk makanan inilah yang kemudian mendasari mayarakat Asia Timur kala itu menggunakan sendok untuk menyuapkan makanan ke mulut.

Lalu bagaimana dengan sumpit? Seperti halnya bubur millet, merebus dan mengukus higga mendidih adalah metode memasak dasar di Asia.

Pada zaman kuno, makanan yang direbus tidak hanya berupa biji-bijian tetapi juga bahan pangan non-gandum. Menurut Classic of Rites, sebuah teks dari Dinasti Han (206 SM - 220 M) atau lebih awal, rebusan (geng dalam bahasa Mandarin) adalah yang paling umum.

Geng (rebusan) dan kipas (biji-bijian) dimakan oleh semua orang, dari para pangeran sampai rakyat biasa, tanpa memandang status.

Teks yang sama juga memerintahkan bahwa ketika seseorang makan geng (rebusan), maka ia harus menggunakan sumpit agar lebih efisien dalam mengambil bahan makanan (misalnya sayuran) rebus atau hidangan pekat lainnya.

Namun, karena makanan biji-bijian lebih penting daripada makanan non-gandum dalam makanan, sumpit jadi alat tambahan.

https://www.liputan6.com/global/read/3696590/kenapa-orang-china-makan-pakai-sumpit-faktanya-ternyata-mengejutkan

 

  • 0
  • Baca: 0 kali

لا تشرع هذه الصيغة في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم

السؤال
أستفسر عن صحة الصلاة المحمدية، الرائجة في المغرب، والتي تقول: اللهم صل على سيدنا محمد بن عبد الله، القائم بحق الله، القائل: ما ضاق أمر إلا وفرجه الله؟
الإجابــة
 

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

 فالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم من أفضل القربات، ولا تتعين لها صيغة مخصوصة، وإن كانت أفضل صيغ الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم هي الصلاة الإبراهيمية التي علَّمها لأصحابه -رضي الله عنهم- وراجع الفتويين التاليتين: 329464  //  187629

وهذه الصيغة المذكورة غير واردة، وفيها قول منسوب للنبي صلى الله عليه وسلم لم يقله بهذا اللفظ، وهو: "ما ضاق أمر إلا وفرجه الله" فينبغي تجنبها حتى لا يقع قائله تحت طائلة الوعيد الوارد في حق من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم.

وللفائدة، راجع الفتوى ذات الرقم: 77467.

والله أعلم.

http://islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=386752

 

 
  • 0
  • Baca: 2 kali

Manuela Mirela Tanasecu Memilih Islam dan Palestina

MAMHTROSO.COM -- Di Kota Dura, Tepi Barat, Palestina, seorang wanita Rumania, Manuela Mirela Tanasecu, memeluk Islam beberapa tahun lalu. Kalimat syahadat diutarakannya setelah bertemu dan menikahi suaminya yang berasal dari Palestina, Walid Suleiman.

Lelaki itu dikenal sebagai petualang globe trotter dan pendakwah yang populer di selatan Tepi Barat. Dia telah mengunjungi seratus negara dengan berjalan kaki selama tujuh tahun terakhir. Dia melakukannya untuk mempromosikan perdamaian dan mencegah perang serta kekerasan.

Mirela bertemu pertama kali dengan lelaki itu di Bucharest. Komunikasi keduanya terjalin akrab. Tak lama setelah pertemuan itu, keduanya memutuskan menikah. Kemudian, mereka melakukan perjalanan beberapa bulan dan memeluk Islam saat berada di Iran.

Mirela merupakan anak tunggal. Dia menghabiskan masa kecilnya di Bucharest dengan indah dan damai. Banyak waktu yang dilalui bersama kedua orang tuanya berkeliling Rumania. Saat kuliah dia memilih untuk mendalami kimia.

Wanita yang dikenal cepat menyerap pengetahuan baru ini dibesarkan dengan pendidikan agama Kristen Ortodoks, meskipun tidak terlalu relijius. Sejak kecil dia sudah diajarkan tentang kebera daan Sang Pencipta. Saya bersyahadat (saya bersaksi bahwa hanya ada satu Tuhan dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya) di Iran pada tahun 1991," kata dia menjelaskan.

Memeluk Islam

Mirela menjelaskan alasan dia memilih Islam. Menurut dia, satu-satunya alasan yang diyakini adalah Islam agama yang jujur. Seluruh ajarannya mengandung kejujuran. Pada agama sebelumnya, dia masih mempertanyakan konsep ketuhanan yang sulit dipahami. Baginya, paham tersebut tidak jelas, membingung kan, dan sulit dimengerti.

Islam tidak mengajarkan konsep ketuhanan yang sulit dipahami. Konsep tauhid merupakan dasar pemahaman tentang keberadaan Sang Pencipta di alam ini. Mirela juga merasa umat Islam menganggap agamanya sangat serius dibandingkan umat lain.

Misalnya, umat Islam menjalankan shalat lima kali sehari. Sementara, agama lain hanya sesekali, itu pun kebanyakan orang tua saja yang pergi. Sing katnya, dia melihat Islam memiliki doktrin yang kuat dibandingkan agama lain. Selain itu, hal penting lainnya saat dia melihat Islam adalah ketika mengunjungi negara-negara Muslim, terutama di Asia. Daerah yang dihuni oleh umat Islam umumnya lebih bersih daripada daerah-daerah yang dihuni oleh non-Muslim.

Islam menghargai dan memuliakan semua nabi dan utusan dan tidak memilih yang lain. Oleh karena itu, dengan menjadi seorang Muslim, dia merasa telah memenangkan Muhammad (SAW) tanpa kehilangan nabi-nabi lain yang.

Ini benar-benar sebuah titik kekuatan dalam Islam. Islam menunjukkan siapa saja yang mencintai Isa dapat me meluk Islam. Agama tauhid mengajarkan Muslim untuk mencintai dan percaya kepada semua nabi Allah.

Sebelum memeluk Islam, dia berpikir wanita Muslim telah diperbudak karena setiap pria Muslim boleh memiliki empat istri. Namun, yang dia temukan kemudian adalah pria Muslim lebih memperhatikan keluarga dan istrinya.

Selain itu, pada saat mengunjungi berbagai dunia Muslim, dia menemukan umat Islam adalah orang-orang yang ramah, gagah, dan murah hati. Mereka tidak mengenal kata berhenti untuk membantu, kapan pun orang lain membutuhkan pertolongan, termasuk Mirela dan suaminya, pasti akan ditolong.

Selama ini ada persepsi yang salah tentang Muslim. Banyak orang tidak mengerti Islam yang sebenarnya. Entah karena salah informasi atau miss informasi tentang hal itu, atau karena beberapa Muslim mengubah citra Islam melalui perilaku Islami, terutama ketika mereka pergi ke luar negeri.

Juga, wanita modern di Barat telah menjadi korban peradaban yang sangat materialistik. Barat mengklaim telah mem bebaskan wanita. Namun, pemeriksaan lebih jauh dan mendalam menunjuk kan wanita menjadi tidak manusiawi dan berubah menjadi komoditas yang murah.

"Oleh karena itu, setelah bertahun-tahun menjalani Islam tidak ada agama lain yang menghormati wanita seperti Islam.

Reaksi keluarga

Setelah memeluk Islam, reaksi keluarga dan sahabat dekat pasti berbeda. Ayahnya meninggal sebelum dia menjadi seorang Muslim. Sedangkan, ibunya tidak pernah membahas masalah ini dengan Mirela. Dia sepertinya beralasan bahwa selama anaknya bahagia, tidak masalah dengan dia.

Sehingga, sejak memeluk Islam, hubungan dia dengan ibunya tidak ada masalah. Bahkan, ibunya pernah mengunjunginya di Palestina dan bermain dengan cucu-cucunya, anak dari Mirela dan Suleiman.

Baik secara langsung maupun tidak langsung, ibunya tak pernah menolak keputusannya memeluk Islam. Demikian juga dengan sikapnya selama ini. Setelah menikah, Mirela memutuskan tinggal di Palestina. Meskipun dia harus tinggal di bawah pendudukan militer yang keras.

Dia tidak berpikir untuk kembali ke Rumania, meskipun di negara asalnya hidup akan lebih tenang dan nyaman. Mirela mengakui bahwa hidup di Palestina, dia melihat banyak pendindasan.

Baginya kebebasan tidak ada karena adanya pembatasan penduduk. Namun, menurut dia, kesabaran dan penderitaan di dunia akan dibalas di akhirat. Dia percaya bahwa Allah akan memberikan pahala orang-orang yang sabar dengan surga.

Dia juga meyakinkan wanita Muslim sesamanya di Palestina dan wilayah Arab umumnya bahwa Islam memiliki segalanya untuk membuat semua orang bahagia. Sehingga, setiap orang dapat menjalankan kehidupan dengan tenang. Umat Islam harus percaya diri dengan keyakinannya, termasuk ajaran Islam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, bukan berarti Mirela merendahkan atau meremehkan negara lain atau umat lain. Baginya tidak semua yang ada di negara Barat buruk. Dia memuji bahwa orang-orang Barat sangat menghargai waktu dan memiliki hal positif lainnya.

Namun, terkait aspek wanita, terlalu banyak hal negatif di negara Barat untuk melemahkan nilai wanita. Sehingga, tidak perlu meniru seluruh kepribadian dan gaya hidup negara Barat seluruhnya.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/18/11/16/piamq9313-manuela-mirela-tanasecu-memilih-islam-dan-palestina-part2

 

  • 0
  • Baca: 0 kali

Melon, Semangka, Mangga

MAMHTROSO.COM -- Masyarakat sangat akrab dengan melon, semangka, dan mangga. Ketiga buah itu sangat mudah dijumpai, enak dibuat jus, dan harganya terjangkau. Buah-buahan ini sekarang bisa ditanam tanpa tanah, di pot. Semua rumah bisa punya tanaman ini, supaya tak harus beli.

Cara menanam buah-buahan di pot ini bagaimana? Tulisan ini bukan untuk mengajarkan cara menanamnya. Saya hanya memberi inspirasi bahwa di setiap rumah sangat bisa punya tanaman melon, semangka, dan mangga meski tidak ada pekarangannya. Cukup di pot, dirawat yang benar. Insya Allah bisa berbuah.

Kalau sudah berbuah, bisa dibagikan kepada tetangga, jamaah di masjid, kawan-kawan kantor. Bisa juga dikiloin, lalu dijual sambil berolahraga akhir pekan. Lumayan, sehat, dan menambah duit.

Saya mengajak kawan-kawan semua yang sudah akrab dengan buah ini untuk membayangkan sedikit melon masak, semangka masak, mangga masak, dan dari varietas yang bagusnya. Ranum buahnya, bagus warnanya, wangi aromanya, sedap rasanya. Dan, yang segar, airnya banyak.

Saat Anda memotong dan mengupasnya jadi bagian kecil-kecil, ada tetesan air buahnya yang jatuh. Bila memotongnya di atas keramik putih maka ada tetesan air warna hijau untuk melon, merah untuk semangka, dan kuning untuk mangga. Bila Anda tidak hati-hati dan memakai baju putih, tetesan itu bisa jadi noda di baju Anda. Minimal membasahi pisau dan tangan. Bisa, ya, Anda bayangkan?

Untuk mereka yang masih mencintai harta haram dan mereka yang menyenangi harta halal, saya suka bercerita ke anak-anak santri di Pesantren Daarul Qur’an, juga anak-anak saya, keluarga saya tentang pohon dan buah zaqqum. Ini bertujuan agar saya dan mereka hanya mencari yang halal dan hidup hanya dengan yang halal.

Di dalam surah al-Waqiah disebutkan, “La-akiluna min syajaratin min zaqqum (pasti mereka akan memakan buah zaqqum). Fama-li-una minhal buthun (maka akan penuh perutmu dengan buahnya). Fasyaribuna ‘alaihi minal hamim (setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas). Fasyaribuna syurbal him (maka kamu minum seperti unta yang kehausan). Hadza nuzuluhum yaumaddin (sebagai hidangan untuk mereka di hari pembalasan).” (QS al-Waqiah: 52-56).

Lalu, adalah hadis Rasulullah, “Law anna qithratan minazzaqum qatharat/quthirat fi darid-dunya lafsadat ‘ala ahlid-dunya ma’ayisyahum (jikalau setetes dari buah zaqqum menetes atau diteteskan di dunia, maka rusaklah seluruh kehidupan dunia).” (HR An-Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Sekarang bayangkan, jika setetes saja dari zaqqum jatuh ke dunia maka dunia ini akan hancur. Bagaimana jika kita memakan buahnya dan meminum airnya? Masya Allah. Sungguh, saya sudah membawa Anda akan buah melon, semangka, mangga, yang bila kita kupas kulitnya, potong buahnya, tentu ada air yang menetes. Maka, inilah permisalannya.

Semoga hati dan pikiran saya bisa memahami, kemudian menginsyafi. Semoga kita semua hanya mencari dan makan yang halal supaya tidak dihidangkan Zaqqum di neraka nanti. Tulisan mendatang kita bahas sedikit tentang apa dan sifat pohon zaqqum itu. Insya Allah. Wallahu a’lam.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/11/12/pi2npr313-melon-semangka-mangga

  • 0
  • Baca: 0 kali

Allah Maha Dekat

MAMHTROSO.COM -- Sering kali kita merasa jauh dari Allah, doa-doa kita susah untuk didengar dan dikabulkan oleh-Nya. Akibatnya, kemalasan bermunajat pun menghampiri diri kita pelan-pelan. Padahal, dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah wahai Muhammad), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al- Baqarah: 186).

Ayat itu menarik untuk direnungkan setidaknya pada empat hal: Pertama, dari sisi bahasa, pada teks ayat di atas, Allah SWT menggunakan kata "ibadi" bukan "a'bidi". Dua kata yang sesungguhnya punya akar kata yang sama, yaitu abdun atau hamba. Kata "ibadi" bermakna semua hamba-Ku yang beriman dengan-Ku. Tetapi, kata "a'bidi" adalah sekelompok orang saja yang benar-benar menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, Allah SWT menegaskan kepada setiap hamba-Nya bahwa Dia Mahadekat dengan kita tanpa membedakan, apakah kita seorang yang rajin beribadah atau biasa-biasa saja. Kiai, politikus, guru, sopir angkot, pemulung, atau apa pun pekerjaan kita, semua adalah dekat pada Allah SWT.

Kedua, ulama mengatakan, sebab turun ayat ini adalah ketika Rasulallah SAW membacakan ayat lain dalam Alquran, yaitu: "Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu'." (QS Ghafir: 60).

Lalu, orang-orang bertanya, "Ya Rasulullah, di mana dan kapan waktu yang tepat untuk berdoa?" Allah kemudian menurunkan ayat yang menegaskan bahwa Dia maha menjawab. "Dekat dan sungguh dekat." Rasulullah SAW kemudian mengabarkan pada kita bahwa, "Sedekat-dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah saat dia bersujud. Maka, perbanyaklah doa (saat sujudmu itu)."

Ketiga, pada bagian lain dalam Alquran, ketika orangorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Allah SWT, Allah menurunkan ayat dengan kata awalan "qul" (Katakanlah, wahai Muhammad). Misalnya, pada Surah al- Ikhlas, "Qul huwa Allahu Ahad" atau pada Surah an-Naas, "Qul a'udzu bir rabbin naas", dan lain-lain.

Namun, khusus pada ayat ini, Allah meniadakan kata perintah itu, padahal yang membacakan ayat tersebut adalah juga Rasul SAW. Para ahli bahasa Arab mengatakan, peniadaan kata perintah itu untuk menunjukkan kedekatan Allah dengan manusia makhluk ciptaan-Nya, tanpa terhalangi oleh siapa pun.

Sebab, bukankah dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, "Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS Qaaf: 16).

Keempat, Allah telah menegaskan pada kita bahwa Dia pasti menjawab setiap doa. Lalu, mengapa doa-doa kita masih terasa belum dijawab padahal tak pernah berhenti kita bermunajat? Di sinilah ujian kesabaran dan peran kita sebatas hamba-Nya itu dimulai. Artinya, kita harus tahu diri bahwa kita hanyalah hamba-Nya, penuh kelemahan dan kekurangan.

Oleh karena itulah, Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Sungguh, aku berdoa pada Allah untuk setiap kebutuhanku: Jika Allah berikan sesuai permintaanku aku berbahagia (hanya sekali) dan jika keinginanku tak dipenuhi, aku berbahagia (10 kali). Mengapa? Sebab, yang pertama adalah pilihanku dan—yang kedua—adalah pilihan Allah; Sungguh Dia yang Maha Menentukan apa yang kita tidak ketahui.

Karena itulah, kita harus terus berbaik sangka kepada Allah SWT sambil terus berikhtiar dalam menggapai kebaikan. Imam Ibnul Qayyim berpesan, "Jika kesulitan hidup yang engkau rasakan berkepanjangan padahal tak pernah berhenti engkau berdoa, yakinlah bahwa sesungguhnya Allah tidak ingin menjawab doamu itu saja. Dia ingin memberikanmu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya." Wallahua'lam bis showab. 

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/11/15/pi83ze313-allah-mahadekat

  • 0
  • Baca: 1 kali

Jangan Lalai

MAMHTROSO.COM -- ''Dan, tetaplah beri peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.'' (QS Adz-Dzariyat: 55).

Manusia adalah makhluk yang labil. Salah satu labilitas itu adalah sering lalai. Lalai terhadap dirinya, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan terhadap Tuhannya. Lalai memang manusiawi, tapi jika lalainya berkali-kali dan disengaja, ini sudah di luar batas kemanusiaan. Inilah lalai yang dilarang, yakni lalai berulang kali dan disengaja.

Dalam Alquran, Allah mengecam orang-orang lalai yang seperti itu, ''Sungguh kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yakni, mereka yang melalaikannya.'' (QS Al-Ma'un: 4-5).

Manusia lalai berkali-kali dan sengaja setidaknya karena beberapa alasan. Pertama, menganggap sesuatu sebagai tidak ada gunanya, tidak bermanfaat, tidak menguntungkan dirinya. Anggapan ini jelas keliru jika dikaitkan dengan sesuatu yang memang merupakan suatu kebaikan seperti yang diajarkan oleh agama.

Secara keseluruhan, agama selalu mengajarkan kebaikan dan menghindarkan diri dari keburukan. Karena itu, jika ada suatu tindakan buruk yang diklaim berlandaskan agama, tindakan itu harus dipertanyakan.

Kedua, berpikir pragmatis dan parsial (setengah hati). Manusia memandang bahwa apa yang dilakukan adalah untuk saat ini. Itu pun untuk sesuatu yang dianggapnya memiliki keuntungan. Orang yang berpikir demikian tidak memikirkan apa yang terjadi hari esok. Dengan kata lain, ia melalaikan hari esok, hanya ingat hari ini.

Allah berfirman, ''Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan dilakukannya untuk esok hari.'' (QS Al-Hasyr: 18).

Lalai membuat orang tidak produktif dan progresif. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, ''Barang siapa menghisab dirinya, maka dia beruntung. Barang siapa lalai terhadap dirinya, dia merugi.'' (Kitab Biharul Anwar).

Orang lalai memang akan selalu merugi, karena ia tidak mendapatkan apa-apa selain kalalaian itu. Ayat di atas menegaskan kepada setiap orang untuk tidak lalai karena akibat lalai yang sangat tidak membawa manfaat.

Lalai yang sering-sering tidak lagi manusiawi, tetapi merupakan penyakit akut yang harus diobati dengan peringatan yang berkali-kali. Peringatan ini disebut membawa manfaat yang itu artinya bahwa ingat itu jauh lebih membawa manfaat daripada lalai.

Jika manusia sudah lalai terhadap dirinya sendiri, maka krisis kemanusiaan sedang mengintipnya dan kehancuran tengah merayap mendekatinya. Bangsa ini harus segera sadar dan ingat dengan kondisi krisis yang tengah dihadapi. Jika tidak ingin jatuh ke lubang krisis yang sama atau tetap dalam krisis akibat kelalaian dari para pejabatnya.

Wallahu a'lam.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/11/18/pic5gr313-jangan-lalai

  • 0
  • Baca: 0 kali

Remembering Togetherness on Prophet Muhammad’s Birthday

The Message of Madinah

As I sit in yet another restaurant waiting for my main course, I dip pieces of the freshly baked gourmet bread into a mix of olive oil and balsamic vinegar. This Italian tradition from one of my favorite countries reminds me of the Qur’anic verse encouraging travel around the world.

Wandering through the Doges Palace some years ago, I came across a Muslim flag which was on display from the last major historic naval battle with rowing boats only, in 1571, a campaign between the Holy League – a Christian coalition – and the Ottoman Empire. The Battle of Lepanto.

Deborah Howard, author of ‘Venice and the East’ points out that the Doges Palace itself was designed with Islamic architectural influences: the arch styles heightened domes, relief works on walls, staircase patterns, all taken directly from the Muslim world, which Venice would trade with.

How is it then that businessmen, friends, partners, and traders, could move from mutually beneficial relationships, such that even architectural designs were shared, to a situation where doubt, uncertainty, fear, and lack of trust became the norm, eventually leading to war?

"Prophet Muhammad, upon whom be peace, was born in Arabia over 1,400 years ago. A predominantly pagan-idol worshiping community, leading tribes held sway over local economics and politics".

As the historian Ibn Ishaq observed, the tribes kept a fragile peace in the area, enriching themselves as pilgrims made their way to worship the idols.

 

First as a shepherd, then a trader, Prophet Muhammad’s life revolved around the company of non-Muslims, and even after Islam, he lived amongst and engaged with non-Muslims.

For example, sometimes he would buy his animals from a pagan, he would eat food from Christians and Jews, his abusive neighbors with whom he was patient with were non-Muslims, he even had to chastise Muslims when they behaved immorally towards non-Muslims.

"Eventually, as hostilities arose, Prophet Muhammad and Abu Bakr escaped Makkah with the help of a pagan guide from the tribe of Bani al-Dayl. Despite being a pagan, he was a man they both trusted with their life. Together they made their way to the city of Yathrib".

At first, the city was home to the Yemeni tribes of Aus and Khazraj, and later, as Bernard Lewis observed, it became a Jewish settlement whose tribes included the Kunaika, Quraiza, and Nadir; accounting for half the settlements of the area.

With time, Yathrib was renamed Madinah, meaning, the City of the Prophet. A rich, multi-faith environment in which Prophet Muhammad (PBUH) said that if anyone harms a non-Muslim unjustly, then he will defend the non-Muslim, setting the foundations of a unique city where tribal allegiances were replaced by rights and justice for all.

Islam’s Success Through Diversity

Islam flourished not just only because of the message of peace brought by Prophet Muhammad (PBUH) and the Qur’an, but also because of the support of non-Muslims – even pagans – who supported, empowered, and lived with Muslims, enabling Muslims and non-Muslims to live in peace.

This happened during the Prophet’s time as well as through different periods of history. Yes, there are issues today in many parts of the world, but generally, we in the Western world are living with the same freedom of religion taught by the Prophet, peace and blessings be upon him.

"What better way to remember Prophet Muhammad (PBUH)  than to understand how he lived his life, the company he kept, the challenges he overcame, and that he didn’t live in a ‘Muslim bubble’ as so many would like us to think".

And while the Prophet (PBUH) preached and taught the values of the belief in One God, without partner, as he lived in a multi-faith society, and many of his and his companions relatives were not Muslim, he encouraged everyone, even his wives to visit, support, love, and even exchange gifts with their non-Muslim – sometimes pagan – relatives.

Prophet Muhammad (PBUH) did not just ‘tolerate’ non-Muslims, he lived happily and freely in a society of non-Muslims, engaging, interacting, and being involved with their lives too. In one hadith narrated by Bukhari, Prophet Muhammad said that if a person makes their neighbor feel unsafe, they are not a believer.

In his Book of Finances, the Muslim historian Abu Ubayd observed that “…some of his neighbors were non-Muslim and he made a habit of being generous to them: he would give them gifts and accept their gifts in return. He would visit them when they were ill, give them charity, and trust them with commercial transactions. There was a family of Jewish people to whom he would regularly give charity.”

This is the Prophet’s message of togetherness.

Today, as technology and communication allow us to travel faster and interact in real-time better, we as humanity are increasingly closer to each other than before.

Our faith and spiritual relationship with God is not weakened by the different religions around us, rather, our faith flourishes when, as the Qur’an says, there is no compulsion in religion, and people are free to think, to question, to ponder, to compare, to understand,  to build, and grow their relationship with their Creator.

 

Living the Prophet’s Example

Prophet Muhammad (PBUH) grew up in the same house as his aunt Safiya. When he died, Safiya recited the following:

“O God’s Messenger, you were our hope

Today every mourner should weep for you

Alas! Had God kept you amongst us

How fortunate we would have been

But the command of God is not to be said again”

At his death humanity lost a kind, compassionate, merciful man, who did his best to deliver a message from God. Like his companions, he was a human being who smiled, laughed, joked, even raced with his wife Aishah; and when he lost it didn’t deflate his ego, he simply loved her even more.

If we cannot remember the Prophet’s spirit of togetherness, where irrespective of faith we live alongside one another, respect one another, engage with one another, share gifts with one another, do things that everyday people do with one another, with decency and dignity, then relationships will fail. Society will fall. Tensions will rise. And injustice may occur, to the point of fighting one another in wars.

The Muslim flag on the wall of the Doges Palace, lost in a war, is a reminder of a time when the wisdom of Prophet Muhammad’s diversity and inclusivity was forgotten.

If we as Muslims believe that Prophet Muhammad (PBHU) was a mercy to humankind, then let us reflect on how he lived and how he interacted with all during his life.

There is a reason why God empowered a non-Muslim pagan to protect and guide Prophet Muhammad and Abu Bakr towards safety.

It is a reminder that even in our most difficult times, we should never discriminate against another person simply because of their faith, and that help and direction may come from a source that we may not have anticipated: someone who believes in the polar opposite to you, but shares a common decency.

Once when Prophet Muhammad’s companion Jabir was entertaining guests, he served them bread and vinegar, saying, ‘Eat up, for I have heard the Prophet say, vinegar is the best dish.’ Back to my olive oil and balsamic vinegar with bread. The cultures and traditions of the world are rich and beautiful, and sometimes they cross.

Who would have thought that this regular pre-starter ritual at a restaurant was also a tradition from Prophet Muhammad’s Sunnah? Seems as if we aren’t that different from each other after all.

Happy birthday O Prophet from God, may we all find wisdom from your example, amen.

http://aboutislam.net/muslim-issues/europe/remembering-togetherness-prophet-muhammads-birthday/

  • 0
  • Baca: 1 kali

Ulat Kecil yang Berani

MAMHTROSO.COM -- Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.

Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati, “Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan… entah bagaimana nasibku nanti!”

Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya, “Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kan?”

Si ulat pun menjawab, “Benar. Aku memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tahu, apa yang ada di depan sana?”

“Aku tahu, jalan ke depan yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, akan terbentang sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup dengan baik seperti yang kamu inginkan.”

Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu dan ketakutan. “Kepik, apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana?”

“Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus melewati semua tantangan itu. Nasihatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah, fokuskan pada tujuanmu. Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!” Sambil berteriak penuh semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.

Pembaca yang budiman,

Memang benar! Kemenangan, kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tahu apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang, serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara yang benar/halal.

Pengertian sukses secara sederhana memang demikian, telah dipraktikkan oleh manusia sukses berabad-abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Maka untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tahu akan nilai yang akan dicapai dan take action! Ambil tindakan!

Salam Sukses Luar Biasa!!!

http://www.andriewongso.com/ulat-kecil-yang-berani/

 

  • 0
  • Baca: 27 kali
Berlangganan RSS feed