Masuk

Ibnu Batutah dan Risalah Islam tentang Wabah

MAMHTROSO.COM -- Setidaknya 2.629 petugas kesehatan di Italia telah terinfeksi virus corona sejak awal wabah muncul pada bulan Februari. Menurut laporan yang diterbitkan oleh Gruppo Italiano per la Medicina Basata sulle Evidenze atau GIMBE, jumlah ini mewakili 8,3% dari total kasus di negara tersebut. [Aljazeera.com, 19/3]

Mereka terdiri atas dokter, perawat, dan profesional kesehatan. Besar kemungkinan angka itu telah bertambah saat ini.

"Ratusan kasus baru telah dicatat setiap hari sejak itu. Namun, tenaga medis di garis depan harus menjadi orang pertama yang dilindungi," kata Nino Cartabellotta, seorang ahli kesehatan masyarakat sekaligus Direktur GIMBE, kepada Aljazeera.

Dari Jakarta, dua hari lalu (Kamis, 26/3) dikabarkan 50 tenaga medis yang tersebar di 24 rumah sakit terpapar virus Covid-19. Dukungan untuk mereka terus berdatangan.

Sebuah video yang merekam momen mengharukan saat surat yang berisi apresiasi dan support dari Gubernur DKI untuk tenaga medis dibaca seorang perawat. Video itu diunggah oleh akun Twitter @ZAEffendy pada Kamis (26/3). Unggahan viral itu telah di-retweet sebanyak 1.840 kali dan disukai 3.594 akun.

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga menyiapkan Hotel Grand Cempaka yang merupakan hotel BUMD DKI Jakarta untuk tenaga medis. Sebanyak 414 tempat tidur tersedia saat ini. Aatusan kamar dari tiga hotel lainnya akan segera menyusul.

Kekurangan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan pun direspons masyarakat secara mandiri. Salah satunya diinisiasi oleh Mualaf Center dengan menjahit APD, lalu membagikannya secara gratis ke klinik maupun institusi kesehatan yang membutuhkan. Mereka memberdayakan buruh pabrik dan penjahit lepasan yang banyak menganggur akibat pandemi ini.

Sebelumnya, perusahaan kosmetik Wardah telah mengawali dengan menyumbang bantuan berupa alat-alat kesehatan ke sejumlah rumah sakit rujukan senilai Rp 40 miliar. Rumah sakit itu antara lain RS Persahabatan dan RSPI Sulianti Saroso.

Catatan tentang peristiwa yang terjadi pada saat pandemi Covid-19 ini akan sangat bermanfaat pada masa mendatang. Mungkin seratus tahun lagi anak cucu kita akan mempelajari apa yang terjadi pada hari-hari ini, seperti halnya pandemi yang terjadi pada masa lalu.

           ****

Risalah, catatan, surat, atau kitab yang ditulis para ulama atau pemimpin negara yang mendokumentasikan kejadian saat itu menjadi pelajaran. Seperti surat yang ditulis Khalifah Umar ibn Khattab pada Gubernur Syam Abu Ubaidah bin Jarrah tentang peristiwa tha’un Anwas yang terjadi pada 639 M. Dari situ kita tahu ide social distancing yang dicetuskan sahabat Amru bin Ash berawal.

Lalu, dahsyatnya wabah penyakit juga pernah melanda Mesir pada 833 H. Apa yang terjadi dan bagaimana penanganannya ditulis secara terperinci oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya, Badzlu al-Maun Fi Fadhli al-Thaun.

Kitab fenomenal Tuhfatun Nuzzar fī Gharāʾibil Amsar wa ʿAjāʾibil Asfār atau yang lebih dikenal dengan Ar-Rihlah yang berisi catatan perjalanan sang pengelana Ibnu Batutah juga sempat memotret terjadinya wabah penyakit pes di Suriah pada 1348 M.

Ia mencatat, di Kota Homs setidaknya 300 orang menjadi korban. Di Damaskus, jumlah korban lebih dahsyat lag. Tak kurang 2.000 nyawa melayang dalam satu hari. Ibu kota negara seketika lumpuh. Akitivas terhenti sama sekali.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.”

Saya yang kebetulan sekarang ini tinggal di Ibu Kota hanya bisa beristighfar. Saya membayangkan, jumlah korban di Damaskus lebih banyak karena lazimnya ibu kota negara pastilah jumlah penduduknya lebih padat. Ada area rural dengan tingkat sanitasi rendah yang membuat jumlah korban berlipat.

Ibnu Batutah selamat dalam pandemi itu. Ia melanjutkan perjalanan ke Kota Suci Makkah dan tiba di sana pada 22 Sya'ban 749 H atau 16 November 1348 M.

Semoga risalah tentang wabahyang dicatat orang-orang terdahulu membuka mata kita semua.

Jakarta, 28/3/2020

https://republika.co.id/berita/q7vy1s385/ibnu-batutah-dan-risalah-islam-tentang-wabah

 

  • 0
  • Baca: 23 kali

Enam Distrik Madinah Perpanjang Masa Karantina dan Jam Malam

MAMHTROSO.COM -- Otoritas Kerajaan Arab Saudi di Madinah pada Sabtu kemarin (28/3), memutuskan memperpanjang periode jam malam di enam disitrik di 'Kota Nabi' ini. Wilayah distrik itu adalah Al-Shuraybaat, Bani Zufr, Qurbaan, Al-Jum'a, bagian-bagian tertentu dari Iskaan, dan Bani Khudr. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah siapa pun masuk.

https://republika.co.id/berita/q7xoh6385/enam-distrik-madinah-perpanjang-masa-karantina-dan-jam-malam 

Otoritas Kerajaan Arab Saudi di Madinah pada Sabtu kemarin (28/3), memutuskan memperpanjang periode jam malam di enam disitrik di 'Kota Nabi' ini. Wilayah distrik itu adalah Al-Shuraybaat, Bani Zufr, Qurbaan, Al-Jum'a, bagian-bagian tertentu dari Iskaan, dan Bani Khudr. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah siapa pun masuk atau pergi dari distrik-distrik ini sepanjang hari.

Pihak pejabart setemat menyatakan tindakan tersebut datang sebagai bagian dari tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warga dan penduduk. Hal ini juga dan berdasarkan rekomendasi kesehatan yang diajukan oleh otoritas terkait, seperti dilaporkan Saudi Press Agency (SPA).

Ketentuan adanya jam malam ini berlaku hingga periode waktu yang tidak ditentukan. Ini juga terkait dengan keputusan Raja Arab Saudi, Moh Salman, yang sebelumnya memutuskan melakukan Lockdown kepada tiga kota di Arab Saudi, yakni Makkah, Madinah, dan Riyadh.

Dalam sebuah pernyataan, seorang kepala sekolah di Madinah mengatakan orang-orang yang tinggal di distrik yang disebutkan tersebut tetap diizinkan untuk mengambil manfaat dari kebutuhan mendesak seperti perawatan kesehatan dan pemenuhan konsumsi bahan makanan. Jadi masih tetap ada batas-batas wilayah pengecualian dari ukul 06.00 pagi sampai 15:00 sore.

Pejabat orotitas Madinah tetap mendesak  agar warga tetap melakukan karantina di rumah. Selain itu mereka diminta segera menghubungi Pusat Kesehatan jika ada gejala virus corona yang muncul. Selain itu secara prinsipal larangan pergerakan di dalam distrik yang disebutkan di atas tidak berlaku pada entitas yang dikecualikan jam malam.

https://ihram.co.id/berita/q7xoh6385/enamdistrikmadinahperpanjangmasakarantinadanjammalam

 

  • 0
  • Baca: 17 kali

Ikhtiar Menghadapi Wabah Corona

MAMHTROSO.COM – Terlepas apakah pandemi virus Corona yang dikenal sebagai Covid-19 itu rekayasa atau alami, yang pasti seluruh dunia, seluruh negara, milyaran penduduk bumi dibuat kalang-kabut.

Negara-bangsa super-canggih, super modern yang sedang merancang tamasya ke planet-planet dalam tata surya, hingga negara-bangsa yang didera kemiskinan, tergopoh-gopoh menghadapi ancaman kematian dari virus yang tak kasat mata tersebut.

Manusia tak-bertuhan, ateis, komunis, hingga yang merasa paling taat pada aturan (syariat) Tuhan pun dibuat bingung dengan makhluk tak kasat mata, virus Corona. Kebingungan serupa juga dihadapi pemeluk Islam yang taat atau Muslim KTP, umat Kristiani, hingga Buddis dan Hinduis.

Respon terhadap kehadiran virus Corona yang serba cepat dan dadakan, dari manusia yang beriman sampai lemah imannya, bisa dibedakan ke dalam dua kelompok besar. Serupa pula respon umat manusia yang secara terbuka menyatakan ingkar dan menolak keberadaan Tuhan (ateis dan komunis).

Virus Corona menjadi hantu maut yang menyelinap ke setiap sudut dan ruang gerak semua orang, dari presiden hingga rakyat jelata. Sementara ahli medis hingga kini belum juga menemukan obat mujarab untuk melawan keperkasaan virus ini.

Di saat-saat kritis seperti inilah kehadiran hantu maut (baca: Izrail) membawa kesadaran baru tentang kehadiran Tuhan secara aktual. Wajar jika seorang pendeta meyakinkan umatnya untuk tidak takut pada Corona, tetapi lebih percaya pada kehadiran Kasih Tuhan. Sama halnya seorang ulama (habib) dengan penuh percaya diri menghimbau pengikutnya untuk tidak takut pada Corona, tetapi lebih takut pada Tuhan.

Sikap pasrah pada kehendak (takdir) Tuhan secara total atau ikhtiar maksimal, terkadang tidak terkoneksi dalam logika umat saat menghadapi ancaman maut Corona. Kekalutan menghadapi ancaman Virus Corona, menyelimuti mereka yang samasekali tidak memiliki pengetahuan tentang virus tersebut, ditambah dengan serbuan informasi media sosial yang benar-salahnya sulit dikonfirmasi. Lebih kalut lagi warga masyarakat yang selama ini menghadapi soal-soal klasik dalam kehidupan, yakni kemiskinan.

Sikap mendua seringkali kita temukan saat seseorang menghadapi kekalutan social yang juga belum dipahami secara detail.  Ketidaktahuan biasanya menimbulkan sikap pasrah atau masa bodoh, dengan mengembalikan pada apa yang dipercaya sebagai penentu semua peristiwa, yaitu Tuhan.

Sikap demikian seringkali diikuti tindakan yang boleh jadi tidak masuk akal atau irrasional. Ancaman virus Corona yang mematikan dihadapi dengan jampi-jampi dan lain sebagainya. Bagi pelaku, tindakan demikian paling tidak, mampu membuatnya merasa lebih nyaman dan aman karena ada harapan yang dibangunnya sendiri.

Pemikiran Peradaban Islam hingga saat ini belum berhasil memecahkan “simalakama” peran takdir dan ikhtiar. Walaupun kedua wacana atau konsep teologi tersebut sebenarnya disinergikan.

Ahli Sunnah wal Jamaah (Sunni) sebenarnya belum benar-benar sukses mensintesakan gagasan teologi Mu’tazilah (free will; kebebasan bertindak) dan Jabariyah yang pasrah total tanpa ikhtiar. Sunni hanya mengakomodasi kebolehan ikhtiar, namun hasil akhirnya tetap pada takdir yang diyakini mustahil diketahui manusia sebelum terjadi.

Menghadapi ancaman virus Corona, sudah semestinya dibangun argumen dan langkah-langkah rasional bagi usaha mencapai tujuan yang jelas. Bangunan demikian bisa disusun melalui serangkaian pengalaman, seperti halnya pengetahuan tentang virus Corona.

Dari pengalaman sekelompok orang yang bebas dari keterpaparan virus bisa dipelajari tentang kondisi tubuh yang bersangkutan. Sama halnya pada mereka yang terinveksi kemudian sembuh atau sebaliknya yang gagal dan akhirnya meninggal.

Dalam Al-Qur’an mudah ditemukan pernyataan Allah agar manusia menggunakan akal: “afalaa tatafakarun?” (mengapa kamu tidak berfikir?), “afalaa ta’qilun?” (kenapa kamu menggunakan akal?). Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “addinu ‘aqlun, la dina liman la aqla lahu” (agama itu ke-masuk-akal-an, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal). Saat seseorang tidak sadar, maka tidak ada taklif hukum baginya. Sama halnya bagi anak-anak yang belum baligh, karena belum bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah menggunakan akalnuya.

Dalam surat Muhammad ayat 19, Tuhan memerintahkan kapada manusia untuk “tahu” (berilmu) bagi diri-Nya adalah “la ilaha illallah”.  Pernayataan Albert Einstein tentang hubungan agama dan ilmu, cukup menarik untuk disimak, ”science without religion is lame, religion without science is blind” . Ilmu tanpa agama akan menjadi lumpuh, sama halnya dengan agama akan buta tanpa dilengkapi dengan ilmu.

Adalah bijak jika kita menjadikan panduan dokter tentang bagaimana menghadapi ancaman virus Covid-19 sebagai pedoman, sembari menari petunjuk Tuhan dengan melakukan penelitian. Fakultas kedokteran dan farmasi, dokter dan perawat, melakukan penelitian dan tindakan medis yang diperlukan. Di saat yang sama, kita bantu saudara kita yang harus mengkaratina diri di rumah dengan kemampuan yang kita punya. Melalui kolaborasi (ta’awun) Tuhan pasti memberi kita jalan, bagaimana mengatasi ancaman virus Corona.

https://republika.co.id/berita/q7vm7w30638756923000/ikhtiar-menghadapi-wabah-corona

  • 0
  • Baca: 29 kali

Virus tak akan Menular tanpa Izin Allah

MAMHTROSO.COM -- Seorang Muslim wajib meyakini setiap kejadian yang terjadi di alam semesta ini termasuk wabah Covid-19 merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT. Keyakinan ini merupakan salah satu dari enam rukun iman, yaitu iman kepada takdir Allah SWT.

Hanya saja, kata Isnan Ansory dalam bukunya Fiqih Menghadapi Wabah Penyakit, keyakinan ini bukan berarti seseorang pasrah tidak memiliki kehendak untuk memilih. Sebab takdir Allah atas manusia, dapat dibedakan menjadi dua.

"Yaitu takdir yang manusia tidak dapat menolaknya dan takdir yang manusia diberikan kehendak untuk memilih atau ikhtiar," katanya.

Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam surah Al-Hadid ayat 22-23 yang artinya. "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Isnan menerangkan, pada ayat 22, Allah menegaskan apa yang terjadi di alam semesta, semuanya merupakan kehendak Allah yang mutlak, di mana manusia tidak bisa menolaknya. Konsep takdir ini, dalam ilmu akidah disebut dengan taqdir kauni atau taqdir mubrom.

Sedangkan pada ayat 23, Allah menjelaskan manusia dapat terklasifikasikan menjadi dua kelompok dalam menyikapi taqdir kauni, yaitu antara pihak yang terpuji dan pihak yang
tercela. Pilihan yang ditetapkan Allah atas manusia ini, dalam ilmu akidah disebut dengan taqdir syar’i atau taqdir ghoiru mubrom.

Isnan mengatakan, virus corona yang merupakan penyakit sedang mewabah ini tidak akan menular tanpa izin Allah. Hal itu, kata dia, berdasarkan klasifikasi taqdir di atas, maka dapat disimpulkan penyakit, kematian, rizki dan ketetapan-ketetapan yang Allah telah taqdirkan atas manusia dan manusia tidak dapat memilihnya (musayyar) merupakan keyakinan mendasar seorang Muslim yang akidahnya benar terhadap kemahakuasaan Allah.

"Atas dasar inilah, seorang Muslim wajib meyakini tertularnya seseorang atau tidak, itu semua atas dasar kehendak Allah SWT," katanya.

Isnan, memastikan, jika Allah pencitpa alam semesta ini berkehendak, maka tidak akan seorangpun dapat jatuh ke dalam suatu bahaya jika telah ditetapkan bahwa ia akan diselamatkan. Allah berfirman dalam At-Taubah ayat 51 yang artinya. "Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."

Namun, kata Isnan, taqdir Allah yang bersifat kauni ini merupakan suatu rahasia Allah yang tidak bisa diketahui manusia. Maka atas dasar ini, Allah SWT memerintahkan kita bertawakkal sekaligus memilih jalan terbaik dalam menghindari setiap keburukan.

Dalam arti, seorang Muslim beralih dari taqdir kauni menuju taqdir syar’i, dengan mengambil sebab-sebab keselamatan yang dibolehkan oleh syariah. Keyakinan tentang dua jenis taqdir tersebut, jelas diterangkan dalam sunnah Rasululllah SAW.

“Tidak ada adwa (penyakit menular), tidak ada thiyarah dan hammmah (menyandarkan nasib pada burung), dan tidak ada shofar (menjadikan bulan shofar sebagai bulan sial); dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa. (HR. Bukhari).

https://republika.co.id/berita/q7vysq366/virus-tak-akan-menular-tanpa-izin-allah

 

  • 0
  • Baca: 21 kali

Kisah Pengalaman Tak Terduga Reporter Asal AS Saat Dihampiri Sekelompok Bison

MAMHTROSO.COM -- Pelajaran tak terduga didapatkan dari seorang reporter televisi asal Montana, Amerika Serikat, tentang social distancing (atau yang sekarang disebut sebagai physical distancing) ketika sekelompok bison berjalan ke arahnya.

Dengan afiliasi CNNKTVM, pada Rabu 25 Maret, reporter yang bernama Deion Broxton itu tengah melakukan peliputan di Yellowstone National Park ketika dia melihat sekelompok bison mendekatinya, seperti dikutip dari CNN, Sabtu, (28/3/2020). 

Karena Pandemi Virus Corona COVID-19, taman itu dilaporkan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Reaksi Deion menceritakan kejadian yang ia alami, meskipun bison - bison itu tak terlihat dalam video. Deion terlihat berhenti sejenak dan matanya bergerak melihat antara kamera dan bison itu.

Saat menyadari bison - bison itu makin mendekat, tampak di video itu saat Deion meraih kameranya, yang masih menyala dalam kondisi merekam, dan menyimpannya di bagasi mobilnya.

Setelah berada di tempat yang aman, Deion juga sempat merekam video beberapa ekor bison. Iapun memposting pengalaman itu dalam akun Twitter nya, @DeionNBCMT.

Video yang dibagikan oleh Deion di Twitter itu juga tampak banyak mendapatkan reaksi dari publik, yang salah satu diantaranya sebagai peringatan. 

https://www.liputan6.com/global/read/4213277/kisah-pengalaman-tak-terduga-reporter-asal-as-saat-dihampiri-sekelompok-bison

  • 0
  • Baca: 15 kali

Lac Rose, Danau Pink di Afrika

MAMHTROSO.COM -- Sungguh indah fenomena alam di bumi ini. Salah satunya adalah Danau Retba (Lac Rose)—terletak di sebelah utara Semenanjung Cap Vert, sekitar 35 kilometer di timur laut dari Kota Dakar, Senegal. Warna airnya unik, merah muda seperti susu stroberi. Danau seluas 3 kilometer persegi ini, hadir laksana oase di tengah panasnya Afrika Barat.

Mirip Danau Kelimutu yang ada di Pulau Flores, NTT, Indonesia, danau ini juga bisa berubah warna. Ada kalanya danau ini berwarna ungu, kemudian menjadi ungu muda hingga merah muda mencolok.

Danau Retba menghasilkan warna paling cantik—yakni merah muda—pada puncak musim kemarau (bulan Januari hingga Maret). Pada saat itulah, mikroorganisme Dunaliella salina yang hidup di dalam danau menyerap serta menggunakan cahaya matahari untuk menghasilkan pigmen merah.

Danau dengan kedalaman 3 meter ini, juga mirip Laut Mati yang ada di Yordania, jika dilihat dari kandungan garam yang terlarut dalam airnya. Kandungan garam Danau Reba sangat tinggi, yakni 40 persen, satu setengah kali lebih tinggi dari Laut Mati. Dengan salinitas sedemikian tingggi, kita bisa langsung mengapung di atas permukaan tanpa harus “repot” mengayuh kaki dan tangan. Namun sebelumnya kita harus mengoleskan shea butter (lemak alami yang diekstrak dari pohon kacang shea) di sekujur tubuh, sebelum turun ke air, agar kulit tidak terluka karena iritasi. Juga, waspada terhadap panas tropis Afrika yang mencapai 40 derajat celsius. Konon, cara terbaik menikmati danau ini selain memandanginya adalah dengan berlayar bersama perahu kayu milik nelayan setempat.

Tak hanya dinikmati keindahannya, Danau Retba juga bisa menjadi sumber penghasilan bagi warga Afrika Barat sejak 1970. Dengan menggunakan sampan, keranjang, dan sekop, mereka menambang garam mineral dan menumpuknya di pinggiran danau. Diperkirakan ada 3.000 orang yang bekerja menambang garam di danau pink ini, setiap tahun. Mereka bisa mengumpulkan 60 ribu ton garam per tahun.

Setelah diolah, ada dua macam garam yang dihasilkan. Pertama, medium salt yang digunakan untuk mengeringkan/mengawetkan ikan dan dipakai di industri kulit. Yang kedua adalah big salt yang bisa digunakan pada makanan (garam rumahan), atau mencairkan es yang ada di jalanan Benua Eropa.

https://andriewongso.com/lac-rose-danau-pink-di-afrika/

  • 0
  • Baca: 17 kali

الحكمة من تعرض المسلمين للتعذيب

السؤال

سألني أحد الأقارب سؤالا لم أستطع الجواب عليه ألا وهو: لماذا يتم تعذيب المسلمين في أقطار العالم، ولا ينقذهم الله؟ أليسوا عباده؟ واحترت بالرد عليه؛ لذلك أطلب منكم مساعدتي، ولكم جزيل الشكر.

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فلا ريب في أن كثيرا من المسلمين يتعرضون لأصناف من البلاء، وتسلط الأعداء، ومنهم من يموت على هذه الحال، ومنهم من ينجيه الله تعالى ويعافيه، ومنهم من ينصره الله، فيرى بعينه هلاك عدوه. ولله تعالى في تلك الأحوال كلها حكمة بالغة، وهي ابتلاء الناس بعضهم ببعض؛ لتظهر معادنهم، ويهلك من هلك عن بينة، ويحيى من حي عن بينة، قال تعالى: وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا {الفرقان:20}، وقال تعالى: ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ {محمد:4}. 

قال ابن كثير: أي: هذا ولو شاء الله لانتقم من الكافرين بعقوبة ونكال من عنده، {ولكن ليبلو بعضكم ببعض} أي: ولكن شرع لكم الجهاد، وقتال الأعداء ليختبركم، ويبلو أخباركم. اهـ. وقد سبق لنا تفصيل ذلك في الفتويين: 355180، 117638.

وعلى أية حال، فالدنيا ليست بدار جزاء، والعدل المطلق لا يقام فيها، وإنما يكون في الآخرة، كما قال تعالى: وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ {الأنبياء:47}. 

فالمظلوم إن لم يأخذ حقه في الدنيا، فسيجده يوم القيامة كاملا موفورا، أحوج ما يكون إليه، حتى قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: يود أهل العافية يوم القيامة حين يعطى أهل البلاء الثواب لو أن جلودهم كانت قرضت في الدنيا بالمقاريض. رواه الترمذي، وحسنه الألباني.

وأما الظالم فإن لم يؤاخذ في الدنيا، فالعقوبة العادلة تنتظره يوم القيامة، كما قال عز وجل: وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ {إبراهيم 42} وراجعي في ذلك الفتوى: 124756.
والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/414667/%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%AA%D8%B9%D8%B1%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85%D9%8A%D9%86-%D9%84%D9%84%D8%AA%D8%B9%D8%B0%D9%8A%D8%A8

  • 0
  • Baca: 20 kali

Can We Listen to Quran Recitation While We Work, Drive, Etc.?

Question:

Is it ok for someone to listen to the Qur'an in the background while they're working or cleaning, or like driving, for example, when they can't focus on the meanings and such? Or do we have to really sit and listen carefully?

 

Answer:

Short Answer:

  • Yes! Of course it’s not ideal, based on the verse 7:204, wherein God tells us to listen intently and focus.
  • But when someone is trying to build a relationship with the Quran, listening to it “in the background”, as it were, of their daily lives driving, working, studying, etc., this is a good thing! Make sure to set aside some time each day to actually focus on the Quran, though.

Asalaamu alaykum and thank you for sending us this question.

Shaykh Abdul Nasir Jangda from FaithIQ answers this question in the following video.


Transcript:

Sh. Abdul Nasir Jangda: Is it okay to listen to the Qur’an for pleasure?

For example when driving when doing house chores, cleaning, etc.

Somebody might be puzzled by the question, because they might say that okay… if you’re driving and doing just chores around the house, if you’re not listening to the Qur’an then what else are we supposed to be listening to?

Okay, maybe listening to some lectures or something like that, but that becomes a little bit difficult to do because you’re trying to follow someone’s train of thought.

Then what else? If we’re not supposed to listen to Qur’an, what do you want us to listen to? Music?

So somebody might be kind of puzzled by that question. Well, let me explain.

The question stems from a very real place.

There’s a verse of the Qur’an …  Allah says that when the Qur’an is recited, when the Qur’an is read, then listen very, very carefully and be quiet so that you may receive the mercy of God.

Okay so that’s the verse, so that creates the framework for the fact that when the Qur’an is read, you’re supposed to pay attention and be respectful towards it.

But if I’m driving, while I’m driving of course I might get a little distracted here or there.

I might have to answer my phone or whatever…  you’re not supposed to talk on your phone while you’re driving, but you get my point.

You might have… I have kids, right, so my kid from the back might be like “Abu! Abu! What about this? What about that?” and now all of a sudden I’m talking to my kid, but the Quran is still playing.

I might be doing chores around the house and then all of a sudden, somebody texts me and I pick up my phone.

I’m texting them back but the Qur’an is still playing.

So yes, ideally you try to sit down and have some quality time with the Qur’an.

I know some might agree with this, but this is just my very humble answer in this regard.

I feel that if somebody’s really trying to build a relationship with the Qur’an and they really enjoy spending time with the Qur’an, I personally am okay in recommending people to play it while they’re driving their car, to play it in their home while they’re doing chores, or just at home with their kids, or whatever the case may be.

I am personally okay with that, and I understand it’s not ideal, but then you make some 5, 10, 15 minutes of ideal time with the Qur’an.

But I’m personally okay with somebody playing the Quran “in the background”, so to speak.

I personally benefited tremendously from that as a child.

And that’s why when I sat down to start memorizing the Qur’an, I realized a couple of juz of the Quran I already knew them, and I didn’t recognize that I knew them just because they were played in my home so often during the years I was growing up.

May Allah, subhana wa ta’ala, make us from the people of the Quran…


I hope this answered your question, and please have a look at these other articles that touch on this topic:

 

https://aboutislam.net/counseling/ask-about-islam/listen-quran-work-drive/

 

  • 0
  • Baca: 18 kali
Berlangganan RSS feed