Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Tidak Makan dan Minum Selama 70 Tahun, Pria Ini Bikin Dokter Kebingungan

MAMHTROSO.COM -- Jika tak makan dan minum selama tiga hari apa yang akan kalian rasakan? Selain lapar, badan tentu akan terasa sangat lemas bukan? Hal ini membuat kita tak bisa melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik. Lantas bagaimana jadinya jika kita tak makan dan minum selama 70 tahun?

Hal ini yang dilakukan oleh seorang pria asal India bernama Prahlad Jani. Pria berusia 83 tahun itu mengaku telah bertahan hidup tanpa makan dan minum apapun selama tujuh dekade atau 70 tahun. Pria yang tinggal di Prana, India ini mengatakan bahwa dirinya mendapatkan kemampuan tersebut dari tiga dewa Hindu.

Mendengar hal ini, para dokter dan ahli setempat melakukan observasi kepada Jani. Selama 15 hari Jani menginap di rumah sakit untuk menjalani observasi tersebut. Benar saja, tak seharipun Jani terlihat makan atau minum apapun.

Dia juga tak pernah pergi ke kamar mandi untuk buang air. Dokter juga dibuat kebingungan karena mereka tak menemukan tanda dehidrasi atau perubahan fisik lainnya pada Jani.

Kondisi Jani nampak baik-baik saja meski tak makan dan minum. Hingga kini dokter masih heran bagaimana mungkin Jani mampu bertahan hidup tanpa makan apapun. Padahal secara teori manusia tidak mampu bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 50 hari.

Pengakuan Pria Tersebut

Dokter serta peneliti belum mampu memecahkan misteri yang terjadi pada Jani. Namun, Jani mengatakan bahwa hal ini merupakan sebuah keberkahan yang diberikan dewa kepadanya.

Kondisi langka tersebut berawal ketika usianya 7 tahun. Dia melakukan perjalanan untuk mencari pencerahan batin. Tak berapa lama, dia bertemu dewi yang memberkahinya dengan kemampuan unik ini. Dia mengatakan bahwa bertahan hidup dengan makanan dan minuman lezat yang diberikan dewa langsung melalui tubuhnya.

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3595128/tidak-makan-dan-minum-selama-70-tahun-pria-ini-bikin-dokter-kebingungan

 

  • Diterbitkan di Unik
  • 0

Kurang Minum Bisa Bikin Badmood

MAMHTROSO.COM -- Ternyata kurang minum air putih tidak hanya mengakibatkan gejala penyakit ringan, seperti lelah, haus, tenggorokan kering, badan panas, maupun sakit kepala. Namun yang lebih fatal, bisa membuat denyut nadi cepat, halusinasi, gangguan pada pembuluh darah otak dengan akibat kelumpuhan bahkan berujung pada kematian.

Kita biasanya hanya minum air ketika merasa haus atau sehabis makan, padahal persediaan air yang cukup dalam tubuh sangat dibutuhkan oleh organ-organ dalam menjalankan tugasnya sebagai bagian dari sistem hidup kita. Air dalam tubuh sangat vital perannya dalam proses pencernaan dan metabolisme.

Meski kebutuhan air setiap orang berbeda, menurut Profesor Hiromi Shinya MD, pakar enzim yang juga guru besar kedokteran di Albert Einstein College of Medicine AS, usahakan tubuh untuk mendapatkan pasokan air 6-8 gelas per hari (1,5-2 liter) untuk orang dewasa.

Belakangan terdapat penelitian yang dilakukan ilmuwan Lawrence E Armstrong dari Department of Kinesiology & Nutritional Sciences, University of Connecticut, AS. Bahwa, kurang minum bisa berdampak diliputi perasaan suntuk dan tidak bergairah dalam menjalankan aktivitas alias bad mood. Kondisi kekurangan cairan atau dehidrasi amat berpengaruh pada perasaan dan suasana hati seseorang.

Dalam penelitiannya, diambil satu kelompok yang terdiri dari 25 pria sehat dan 26 wanita sehat. Setiap orang diminta berjalan di atas treadmill dalam ruangan bersuhu 28 derajat celsius.

Sebagian orang kemudian diberi air minum sebagai pengganti cairan, sedangkan sebagian lainnya tidak. Setiap orang juga meminum pil pengukur suhu tubuh untuk mengukur suhu tubuh di dalam usus.

Hasilnya, peningkatan suhu tubuh ternyata tidak berhubungan dengan perubahan mood. Namun, kondisi dehidrasi berpengaruh pada mood. “Dehidrasi 1,5% dari berat badan saja sudah dapat memengaruhi mood meski suhu tubuh tidak meningkat,” jelas Armstrong.

Penelitian tersebut memberikan wawasan baru bagi kita akan pentingnya terus menjaga pola minum air yang cukup. Dengan begitu, aktivitas kita tidak terganggu oleh suasana hati yang buruk.

Memperbanyak minum air putih telah terbukti menyehatkan, membuat tubuh lebih bugar, memberi efek relaksasi, bahkan membuat kulit bersinar alami.

Umat Islam di Somalia Tingkatkan Kualitas Pendidikan

MAMHTROSO.COM — Republik Demokratik Somalia terletak di timur laut Afrika.Ini adalah wilayah yang dikenal sebagai tanduk Afrika. Negara ini berbatasan langsung dengan Djibouti di barat laut, Ethiopia di barat, dan Kenya di barat daya. Teluk Aden memisahkan Somalia dari semenanjung Arab, dan Samudra Hindia berbatasan dengan wilayah timur dan selatannya.

Ada sekitar 8 juta warga Somalia.Orang-orang Somalia dipersatukan oleh bahasa, budaya, dan Islam. Mereka terbagi men jadi sejumlah suku. Permusuhan antarsuku selalu menjadi sumber konflik negara. Hal itu mengakibatkan perang saudara selama tujuh tahun (1991-1998) yang sepenuhnya melumpuhkan negara.

Berbagai upaya dilakukan untuk memulihkan kondisi mereka pada tahun 2001.Negara melibatkan organisasi internasional untuk membangkitkan semangat masyarakat membangun negeri. Pendidikan menjadi sarana pemulihan yang efektif. Anak- anak diarahkan untuk belajar. Suasana akademik membuat mereka berpikir kritis dan menatap masa depan dengan cerah.

Somalia memiliki sejarah pendidikan yang panjang dan rumit. Awalnya negeri ini memiliki model pendidikan informal yang khas. Orang tua menularkan nilai-nilai sosial dan budaya kepada kaum muda melalui teladan dan dongeng.

Orang Somalia menjaga sejarah mereka secara lisan. Setiap generasi menceritakan sejarahnya kepada anak- anak. Ada sejarah dan informasi yang disampaikan kepada para penerus.Anak-anak muda belajar bagaimana bertahan hidup di dunia mereka sebagai pengembara dan pejuang kesukuan.

Berbagai bangsa datang dan pergi ke negeri tersebut, mulai Arab, kemu dian dilanjutkan dengan kolonialisasi Italia, Prancis, dan Inggris. Masing-masing mereka meninggalkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Pengaruh Arab diketahui sudah ada sejak tahun 700 M. Ketika itu, sekelompok orang Arab Muslim membawa Islam ke wilayah tersebut dan menyebarkannya kepada masyarakat lokal.

Pada tahun 1300-an hampir semua orang Somalia memeluk Islam. Beberapa kota, termasuk Zeila dan Berbera menjadi pusat budaya dan pembelajaran Islam.Masjid dan sekolah Islam dibangun untuk mengajarkan muslim tentang Alquran dan bahasa Arab.

Ketika bangsa Eropa masuk, pengaruh Islam memudar pada abad ke-18. Di saat pengaruh Eropa menyebar, masyarakat berusaha mempertahankan tradisi Islam. Institusi pendidikan Islam sangat berpengaruh karena banyak sekolah Alquran dibuka. Lembaga tersebut juga mendapatkan bantuan bangsa kolonial dan diakui sebagai satu-satunya bentuk pendidikan formal.

Ulama bersinergi dengan para pengembara mengajari anak-anak cara membaca, menulis, dan menghafal Alquran. Murid menggunakan papan kayu untuk menyalin dan mempelajari ayat-ayat Alquran. Mereka belajar menguasai bahasa Arab. Guru-guru Islam dibayar dengan domba, sapi, unta, dan bahan makanan lainnya.

Perjanjian-perjanjian yang dicapai oleh komunitas internasional pada 1888 secara resmi membagi penguasaan Somalia, Inggris, Italia, dan Prancis. Prancis menduduki wilayah barat laut, yang merupakan wilayah Djibouti. Inggris menguasai wilayah utara dan tenggara. Italia mengambil daerah di selatan ke timur laut.

Pada kemerdekaannya dari pasukan ini pada tahun 1960, Somalia Inggris dan Italia bergabung untuk membentuk Somalia saat ini. Sedangkan, Somalia Prancis memilih untuk tetap otonom dan membentuk negara terpisah dengan nama Djibouti.

Selama rezim kolonial, masing-masing kekuatan membentuk sistem pendidikan tersen diri agar sesuai dengan tujuan pem bangunan wilayahnya. Orang Italia tertarik melatih orang Somalia untuk menjadi petani atau pekerja terampil untuk digunakan di perkebunan pisang. Ini untuk meminimalisasi migrasi orang Italia ke wilayah tersebut.

Inggris membutuhkan penduduk asli yang dapat membantu mengelola kebijakan kolonial dan menjaga hukum dan ketertiban. Pendidikan khusus tingkat dasar dan rendah ditawarkan oleh Inggris dan Italia untuk memenuhi kebutuhan ini.

Pada tahun 1947, baik di Somalia Inggris maupun Italia, ada total 32 sekolah dasar, aka demi polisi, dan sekolah kesehatan. Persentase warga Somalia yang mendapatkan pendidikan sangat minum. Di Somalia Italia, jumlah mereka hanya 1.265 siswa atau sepersepuluh dari 1 persen populasi.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/18/07/17/pc0kzc313-umat-islam-di-somalia-tingkatkan-kualitas-pendidikan

Tak Berpuas Diri

MAMHTROSO.COM -- Sebagian orang acap kali cepat merasa puas dengan diri sendiri, dengan apa yang telah dicapai, dan enggan meningkatkan lagi atau meraih yang lebih baik, besar, dan tinggi lagi. Bukan hanya dalam hal ikhtiar atau usaha mencari rezeki atau karunia duniawi, melainkan juga dalam hal beramal untuk akhirat. Dalam hal beramal, ini tentu bukan sesuatu yang positif, melainkan negatif bahkan tercela. Merasa telah beramal banyak, lantas mengendorkan semangat, menurunkan intensitas, bahkan sampai berhenti, atau setidaknya mulai jarang melakukan.

Seseorang, misalnya, telah merasa cukup dengan beramal wajib, seperti shalat fardhu atau puasa Ramadhan. Padahal, di luar itu ada shalat-shalat atau puasa-puasa sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Misalnya, shalat tahajud, witir, rawatib, dhuha, dan seterusnya. Ada pula puasa sunah, seperti Senin-Kamis, Dawud, tiga hari setiap bulan, dan seterusnya. Di samping sebagai penambah pundi-pundi pahala atau investasi di akhirat, juga sarana untuk lebih mendekatkan diri dan mendapatkan cinta Allah, serta untuk mendapatkan manfaat atau kebaikan dalam kehidupan di dunia.

Allah Mahakaya dan Maha Pemurah. Dia tidak akan pernah bosan memberikan pahala dan karunia-Nya kepada hamba-Nya yang terus-menerus meningkatkan amal salehnya setiap waktu, baik itu berupa ibadah mahdah (individual) maupun ghair mahdah(sosial). Semakin meningkat amal hamba, semakin banyak pula pahala dan karunia yang diberikan Allah kepadanya. Nabi mengatakan, Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak pernah bosan (memberi pahala) sehingga engkau semua bosan (melaksanakan amal itu). (HR al-Bukhari dan Muslim).

Allah sangat mencintai hamba-Nya yang konsisten beramal saleh meskipun sedikit. Dan, Dia lebih senang lagi dengan orang yang terus-menerus meningkatkan amalnya.Tentunya sesuai dengan kemampuan maksimalnya, tanpa memaksakan diri jika tidak mampu. Nabi mengatakan, Bersikaplah lurus, lakukanlah yang sederhana (jika tidak mampu melakukan yang berat), dan bergembiralah (untuk memperoleh pahala), sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan suatu amal (usaha), baik di waktu pagi, sore, maupun malam. (HR al-Bukhari).

Allah menyuruh kita untuk beramal sesuai kemampuan, karena agama Islam sesungguhnya adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan (QS al-Baqarah [2]: 185).Namun, Allah amat suka dengan orang beriman yang terus meningkatkan kapasitas dan kemampuannya sehingga setiap waktu amalnya meningkat. Ini menunjukkan, ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dilakukan atau diraih; ia ingin terus meningkatkan lagi ke tahap yang lebih tinggi tanpa berlebih-lebihan atau memaksakan diri jika memang tidak mampu.

Orang yang merasa puas dengan amalnya, tidak hanya menunjukkan betapa lemah dan sedikitnya gairah atau spirit beramal pada dirinya, tetapi berpotensi mengubahnya beralih pada hal-hal negatif dan berbahaya yang sejatinya mesti dihindari. Iman dan amal saleh seorang hamba seyogianya meningkat, bukan malah menurun. Karena itu, Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab al-Hikammengingatkan, Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap diri sendiri. Dan, pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan diri sendiri.

Orang yang tidak puas dengan diri sendiri dalam hal amal saleh, akan selalu mengintrospeksi dan mengevaluasi diri untuk kemudian ingin lebih meningkatkan lagi amal salehnya, tidak hanya dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas. Tidak hanya kualitas amal, tetapi juga kualitas dirinya. Dengan demikian, ia akan selalu meningkatkan kualitas diri untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.Sebaliknya, orang yang berpuas diri sering kali malah lalai, lupa, malas, dan akhirnya lebih menuruti keinginan hawa nafsunya ke arah hal-hal negatif dan tercela yang justru menurunkan tidak hanya kuantitas amalnya, tetapi juga kualitas dirinya sendiri. Wallahu a'lam

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/07/19/pc3z8m313-tak-berpuas-diri

  • Diterbitkan di Oase
  • 0
Berlangganan RSS feed