Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

التخلف عن الجمعة بسبب مرض كورونا

السؤال

كنت لا أصلي ولا أصوم، وكنت بعيدا عن الدين كل البعد لفترة طويلة من عمري. والحمد لله، بدأت الصلاة والصوم منذ رمضان المنصرم، ولا أترك فرضاً، وأسال الله الهداية.
ولكن لم أذهب إلى صلاة جمعة إلى هذه اللحظة، لا لشيء، ولكن خوفاً من المرض (كورونا) فأنا أسكن في إسطنبول، ومثل ما تعلمون إسطنبول مدينة مزدحمة، وأخشى أن أصاب بالفيروس، والإصابات عندنا كثيرة، وبنفس الوقت الكثير من البشر غير ملتزمين بالوقاية الصحية.
فهل أعتبر آثما بعدم ذهابي إلى صلاة الجمعة؟ وما الواجب علي فعله؟
وشكراً جزيلاً لكم.

 

الإجابــة

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فإننا أولا نحمد الله تعالى على هدايتك، ونسأله لنا ولك الثبات على الطاعة والاستقامة.

وأما عن التخلف عن الجمعة بسبب مرض كورونا، فإننا لا نرى حرجا على من يقيم في مكان يكثر فيه المرض، ويخاف على نفسه منه أن يتخلف عن حضور الجمعة، ويصليها ظهرا.

وقد بينا حكم التخلف عن الجمعة خوفا من الأمراض المعدية، في عدة فتاوى سابقة، فانظر الفتوى: 414331 ، والفتوى: 421285.

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/429505/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AE%D9%84%D9%81-%D8%B9%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%B9%D8%A9-%D8%A8%D8%B3%D8%A8%D8%A8-%D9%85%D8%B1%D8%B6-%D9%83%D9%88%D8%B1%D9%88%D9%86%D8%A7

 

Do I Need Witnesses When I Say the Shahadah?

Question:

Is it required for a witness to be present when someone accepts Islam?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

Responding to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and an Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

Strictly speaking, it is not at all considered an essential requirement for witnesses to be present when a person is embracing Islam.

Thus, if a person declares Shahadah (testimony of faith) between himself and Allah, he is considered a Muslim in the sight of Allah.

How the Prophet (PBUH) Treated New Muslims

But in order for him to be recognized as a member of the Muslim community, he must declare the same in presence of two witnesses or before an Imam of a mosque who has been duly authorized to issue a certificate indicating the same.

Therefore, it is highly recommended for anyone embracing Islam to do so in the presence of persons authorized to issue certificates as he/she may be called upon to produce them while planning to go for Hajj or in case of any question concerning his Islamic identity.

Prophet Muhammad  (peace be upon him) taught us that while doing things, we should try to do them as professionally and efficiently as possible.

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/muslim-creed/do-i-need-witnesses-when-i-say-the-shahadah/

 

Lolos Hukuman Dunia, tapi Tangan Kaki Bersaksi di Akhirat

MAMHTROSO.COM -- Sejatinya setiap anggota tubuh akan memberikan kesaksiannya di akhirat tentang apa saja yang dikerjakannya ketika di dunia. 

Orang-orang yang berdusta, menyembunyikan kebenaran, mencuri, dan perbuatan dosa lainnya mungkin saja bisa lolos dari jerat hukum dunia. 

Tetapi anggota tubuh mereka akan menjadi saksi tentang perbuatan-perbuatan mereka di hari pembalasan. Sehingga orang-orang itu memperoleh ganjaran setimpal dari amal-amalnya yang luput dari hukum dunia.  

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS Yasin: 65).  

Berdasarkan tafsir Kementerian Agama tentang ayat 65 pada surat Yasin dijelaskan bahwa ketika menerima azab di neraka, ada sebagian orang-orang kafir yang mengingkari perbuatan jahat mereka di dunia yang diterangkan dalam firman Allah SWT: 

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ 

“Kemudian ada jawaban bohong mereka, kecuali berkata, "Demi Allah, ya Tuhan kami, kami mempersekutukan Allah."(QS Al-An'am: 23).

Maka pada ayat 65 ini, Allah mewajibkan mereka menutup mulut-mulut mereka sehingga mereka tidak dapat mengatakan atau mendebat adanya perbuatan mereka. Apalagi tangan-tangan mereka kemudian berbicara dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka tidak mungkin lagi mengelak atas perbuatan-perbuatan mereka yang melawan agama. Pada hari akhir ini, kesepakatan dengan seadil-adilnyanya sesuai dengan segala perbuatan mereka di dunia.   

Menurut riwayat Anas bin Malik dikatakan: Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Kami sedang berada di sisi Nabi SAW, tiba-tiba beliau tertawa. Kata beliau," Tahukah kamu mengapa saya tertawa? Kami menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu". Beliau menyatakan, "(Saya tertawa) karena adanya pembicaraan antara seorang hamba dengan Tuhannya". Hamba menyatakan, "Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menyelamatkan aku dari kezaliman?" Ya benar, kamu telah Aku selamatkan," jawab Tuhannya. Hamba berkata, "Sesungguhnya aku tidak akan berada di atas diriku kecuali seorang saksi dari padaku."Tuhannya menjawab, "Cukup, kamu menjadi saksi atas dirimu dan para malaikat pencatat amal juga menjadi saksi.” Nabi SAW lalu berkata "Kemudian mulut hamba yang ditutup, lalu anggota-anggota badan diperintahkan untuk berbicara, "Bicaralah! Kata Nabi SAW lagi, “Maka anggota-anggota badan itu berbicara (sesuai perbuatannya). (HR Imam Abu Ya'la al-Maushuli)  

Banyak ayat-ayat Alquran yang menerangkan tentang persaksian anggota tubuh manusia terhadap perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, di antaranya adalah firman Allah:  

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang terlebih dahulu mereka kerjakan.” (QS An-Nur: 24) 

Allah menjadikan tangan dan kaki berbicara sebagai saksi karena tanganlah yang melakukan perbuatan itu, sedang kaki ikut menyaksikan apa yang dikerjakan oleh tangan itu. Jadi perbuatan tangan merupakan suatu ikrar atau pengakuan, sedangkan perkataan kaki merupakan persaksian.

Jika semua perbuatan buruk seorang manusia dibukakan dan proposal hidup di dunia dan tidak diketahui orang banyak maka ia merasa malu dan sukar bergabung di muka mereka.

Bahkan banyak pula di antara manusia yang membunuh dirinya karena tidak sanggup menahan rasa malu itu. Di akhirat, mereka akan mengalami apa yang mereka tidak dapat mengalami dan mengaturnya semasa hidup di dunia. 

https://republika.co.id/berita/qiaja7320/lolos-hukuman-dunia-tapi-tangan-kaki-bersaksi-di-akhirat

 

Mengenal Ikhlas, Dasar dari Semua Ibadah

MAMHTROSO.COM -- Ikhlas (berakar kata khalasha) berarti jernih, bersih, murni, dan suci dari campuran dan pencemaran. Dalam konteks amal ibadah, orang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang beramal karena Allah semata, menghindari pujian dan perhatian makhluk, dan membersihkan amal dari setiap yang mencemarkannya.

Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak peduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah SWT. Keharusan ikhlas dalam beramal karena perintah Allah berikut

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus” (Qs Al-Bayyinah/98:5).

Kata (حُنَفَاءَ ) yang berarti “agama yang lurus” pada ayat di atas maksudnya adalah terjauhkan dari hal-hal syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

KH. Ahmad Dahlan dalam pengajian-pengajiannya sering kali menyebutkan mahfudhad (kata-kata bijak) berikut: Manusia itu semua mati kecuali para orang yang berilmu, semua ornag berilmu dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal, mereka yang beramal semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas.

Sikap ikhlas, niat tulus kepada Allah, menjadi syarat dan dasar semua amal ibadah. Amal yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan mendapat ridha dan balasan dari Allah dan sekaligus berdampak baik bagi diri dan lingkungan sosilanya.

Sebaliknya, amal yang tidak ikhlas atau pamer mengharap pujian orang lain, meski bisa berdampak baik bagi orang lain, tetapi akan berdampak buruk bagi diri sendiri dan tidak memperoleh ridha Allah. Setiap amal yang diterima Allah adalah amal yang dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan keikhlasan.

Benar maksudnya sesuai dengan syariat, berdasarkan tuntunan, dan mengandung kemaslahatan. Sedangkan yang dimaksud amal yang ikhlas adalah amal yang ditujukan kepada Allah semata.

Diantara ciri penting dari keikhlasan adalah tidak terjebak dalam fanatisme golongan, suku, keluarga, atau kubu. Karena bagi orang yang berjuang membesarkan agama di jalan Allah selalu berlapang dada, luas pergaulannya, dan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bersama-sama beramal.

Orang ikhlas akan merasa senang apabila melihat orang lain lebih baik, lebih pandai, lebih mulia akhlaknya dalam beramal. Bukan sebaliknya, iri dan dengki melihat kesuksesan yang dicapai orang lain.

Sifat dan sikap ikhlas dapat dipraktikkan baik untuk diri sendiri maupun dalam berorganisasi. Dalam konteks beramal dan berjuang di Muhammadiyah, orang yang ikhlas tidak pernah terjebak membela kelompoknya sendiri atau memperturutkan pendapatnya sendiri untuk dipaksakan menjadi keputusan organisasi atau orang lai.

Tentu tidak mudah mencapai derajat keilkhlasan yang sempurna dalam seluruh amal perbuatan, tetapi setiap orang harus melatih diri dan berusaha mencapai keikhlasan itu. Melatihkan diri dalam balutan keikhlasan merupakan sikapyang sangat diperlukan dalam memperbaiki kehidupan manusia yang sebenarnya. Sifat ikhlas dapat mengikis sikap hipokrit (kemunafikan) yang sering kali menjadi sumber petaka dalam hidup berorganisasi dan bermasyarakat.

*Mutohharun Jinan, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sumber: Majalah SM Edisi 7 Tahun 2017

https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/10/15/ikhlas/

https://republika.co.id/berita/qic7p4366/mengenal-ikhlas-dasar-dari-semua-ibadah

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0
Berlangganan RSS feed