Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Belajar dari Sumur

MAMHTROSO.COM -- Kebanyakan orang mungkin pernah tahu atau setidaknya mendengar kata sumur. Jika kita rajin memerhatikannya dengan saksama, akan ditemukan fenomena menarik yang membalikkan logika materialistis. Logika materialistis menyatakan bahwa sesuatu yang dibagikan atau diambil jumlahnya, akan berkurang dan menyusut. Namun, fenomena sumur berbicara lain. Sumur semakin sering diambil airnya, semakin bertambah dan bersih airnya.

Air sumur pada umumnya mengandung lumut yang terkadang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Baru diketahui setelah menempel di dinding-dinding bak mandi. Lumut ini akan terangkat dari sumur berbarengan dengan ditimba airnya. Semakin banyak air ditimba, akan semakin banyak pula lumut yang terangkat dari sumur. Akibatnya, mata air-mata air yang berada di dalamnya terbebas dari sumbatan endapan lumut.

Selain itu, lubangnya semakin membesar dan bertambah karena terstimulan oleh banyaknya air yang diambil. Oleh karena itu, menjadi sangat logis jika sebuah sumur yang airnya banyak diambil, akan semakin banyak jumlahnya dan jernih warnanya ketika tiba musim kemarau.

 Sebaliknya, jika sebuah sumur jarang, bahkan tidak pernah diambil airnya, lumut yang berada di dalamnya akan mengendap. Bila endapan tersebut dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, ia akan menutupi lubang air yang berada di sumur tersebut.

Alih-alih mata airnya bertambah, yang ada saja menjadi tertutup oleh lumut. Oleh karena itu, jika tiba musim kemarau, sumur yang jarang diambil airnya akan kering kerontang dan jika ingin berair lagi, harus dikuras terlebih dahulu.

Fenomena sumur di atas sejalan dengan prinsip berbagi dalan ajaran Islam. Menurut Islam, harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan. Malah, secara kualitas, akan semakin bertambah. Ada tiga istilah pokok dalam Alquran yang merujuk pada berbagi, yakni infak, zakat, dan sedekah. Infak berasal dari kata nafaqa yang berarti keluar. Berinfak berarti mengeluarkan sesuatu (harta), baik pada jalan kebaikan (QS Ali Imran [5]: 134) maupun jalan keburukan (QS al-Anfal: 36).

Infak pada jalan kebaikan terbagi ke dalam dua bagian, yakni zakat dan sedekah. Zakat secara bahasa berarti bersih dan tumbuh. Ketika seseorang berzakat, pada hakikatnya ia sedang membersikan hartanya dari hak orang lain. Terkadang, hak orang lain pada harta seperti lumut, yaitu sangat halus dan keberadaannya jarang disadari sehingga orang tidak berzakat salah satunya karena merasa hartanya sudah halal atau bersih.

Padahal, pada harta halal itu tetap saja masih ada kotoran berupa hak orang lain. Oleh karena itu, mengeluarkan zakat secara berkala menjadi sangat penting supaya harta menjadi bersih dan menumbuhkan kebaikan sebagaimana firman Allah SWT, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS at-Taubah: 103).

Sedangkan, sedekah berasal dari kata shidq yang berarti jujur dan benar. Ketika seseorang bersedekah, pada hakikatnya, ia sedang membuktikan kebenaran imannya. Sedekah juga seakar dengan kata shadieq yang berarti kawan atau teman. Jadi, bersedekah berarti setiap pemberian yang menghasilkan kedekatan jiwa dan raga antara pemberi dan yang diberi. Oleh karena itu, sedekah tidak hanya berbentuk harta, tetapi juga dapat melalui kebaikan lainnya, seperti tersenyum dan menyingkirkan duri dari jalanan.

Dalam sebuah hadis dijelaskan, "Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali bertambah, bertambah, bertambah ...." ( HR at-Tirmidzi). Wallahu a'lam bi shawwab.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/pons5m313/belajar-dari-sumur

 

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

القرآن شفاء من جميع الأدواء القلبية والبدنية

السؤال

قرأت ذات مرة طريقة لرقية النفس، وهي عبارة عن قراءة سورة يس إلى كلمة مبين، قراءة آية الكرسي 11 مرة، أي أن تتم السورة. 
هل يجوز هذا أم لا؟ 
شكرا.

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فإن القرآن يشرع للمسلم قراءة ما شاء منه، والرقية به، وسؤال الله به ما يشاء العبد من الحاجات، فإنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: اقرؤوا القرآن، وسلوا الله به، قبل أن يأتي قوم يقرؤون القرآن، فيسألون به الناس. رواه أحمد وصححه الألباني في صحيح الجامع.

وعن عمران بن حصين أيضا أنه مر على قارئ يقرأ، ثم سأل، فاسترجع، ثم قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من قرأ القرآن فليسأل الله به، فإنه سيجيء أقوام يقرؤون القرآن، يسألون به الناس. رواه الترمذي، وقال: حديث حسن ـ وصححه الألباني في صحيح الترغيب.

وفي صحيح ابن حبان عن عائشة -رضي الله عنها- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وامرأة تعالجها، أو ترقيها فقال: عالجيها بكتاب الله. وصححه الألباني.

قال المباركفوري في تحفة الأحوذي: فليسأل الله به: أي فليطلب من الله تعالى بالقرآن ما شاء من أمور الدنيا والآخرة، أو المراد أنه إذا مر بآية رحمة، فليسألها من الله تعالى، وإما أن يدعو الله عقيب القراءة بالأدعية المأثورة. اهـ.

وقال ابن القيم ـ رحمه الله ـ في كتابه زاد المعاد: فالقرآن هو الشفاء التام من جميع الأدواء القلبية والبدنية، وأدواء الدنيا والآخرة، وما كل أحد يؤهل ولا يوفق للاستشفاء به، وإذا أحسن العليل التداوي به، ووضعه على دائه بصدق وإيمان، وقبول تام، واعتقاد جازم، واستيفاء شروطه لم يقاومه الداء أبداً، وكيف تقاوم الأدواء كلام رب الأرض والسماء، الذي لو نزل على الجبال لصدعها، أو على الأرض لقطعها؟!! فما من مرض من أمراض القلوب والأبدان، إلا وفي القرآن سبيل الدلالة على دوائه وسببه، والحمية منه لمن رزقه الله فهما في كتابه، قال تعالى: أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ {العنكبوت:51} فمن لم يشفه القرآن، فلا شفاه الله، ومن لم يكفه القرآن، فلا كفاه الله. انتهى.

وراجع حول تخصيص بعض القرآن الكريم لأغراض معينة لم ترد بها النصوص، الفتوى رقم: 314371، والفتوى رقم: 64665، والفتوى رقم: 319552
والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/338725/%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A2%D9%86-%D8%B4%D9%81%D8%A7%D8%A1-%D9%85%D9%86-%D8%AC%D9%85%D9%8A%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%AF%D9%88%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%A8%D8%AF%D9%86%D9%8A%D8%A9

 

The Month of Rajab is So Special: Here is Why!

Question:

What is special about the Islamic month of Rajab? Should I perform any particular acts of worship?

 

Answer:

Short Answer: The month of Rajab is one the four sacred months mentioned in the Quran during which war and fighting are not allowed. The concept of fighting is comprehensive. It can refer to fighting anger, fighting depression, fighting bad habits, fighting injustice, etc.

………….

Salam dear questioner,

Thank you for your question.

A Sacred Month

The month of Rajab is one the four sacred months mentioned in the Quran during which war and fighting are not allowed. We read in the Quran what gives the meaning of:

*{Indeed, the number of months with Allah is twelve [lunar] months in the register of Allah [from] the day He created the heavens and the earth; of these, four are sacred…}* (Quran 9:36)

The other three sacred months are Dhul-Qidah, Dhul-Hijjah and Muharram. Some scholars call the month of Rajab, Rajab al-Haram because it is one of the four sacred month.

The concept of fighting is comprehensive. It can refer to fighting anger, fighting depression, fighting bad habits, fighting injustice, etc.

So, every Muslim should fight all these things the whole year around especially in Rajab.

In the Sunnah, we read the following hadith about the sacred months:

“Time has come back to its original state which it had when Allah created the Heavens and the Earth; the year is twelve months, four of which are sacred. Three of them are in succession; Dhul-Qidah, Dhul-Hijjah and Al-Muharram, and (the fourth being) Rajab Mudar which stands between Jumad (Ath-thani) and Shaban.” (Al-Bukhari)

In this hadith, the Prophet (peace be upon him) gave the month of Rajab another name which is Rajab Mudar. It is named after the tribe of Mudar because they used to respect this month.

Other Names

As the hadith indicates, three of the four sacred months are consecutive and the month of Rajab comes 5 months after the month of Muharram. For this reason, some scholars call it Rajab al-Fard, i.e. the solitary Rajab.  

There are fifteen other names given to the month of Rajab mentioned by Imam Ibn Hajar Al-Asqalani in his famous Book Tabyeen Al-Ajab bima Warada fi Fadl Rajab.

Hadiths about Rajab

Muslim scholars agree that there is no single authentic hadith about the excellence of the of month of Rajab except the above quoted hadith about its being one of the four sacred months.

About offering specific acts of worship like fasting and charity in Rajab, there is no single authentic hadith reported from the Prophet except this hadith which reads:

Usamah Ibn Zaid said: “I said: ‘O Messenger of Allah, I do not see you fasting any month as much as Shaban.’ He said: ‘That is a month to which people do not pay much attention, between Rajab and Ramadan. It is a month in which the deeds are taken up to the Lord of the worlds, and I like that my deeds be taken up when I am fasting.”‘ (An-Nasa’i)

Based on the understanding of this hadith, scholars maintain that the Prophet made a similarity between Rajab and Ramadan in terms of being occasions to offering good deeds.

As Ramadan is the month of fasting, it is recommended to observe fasting in Rajab. However, fasting in Rajab does not entail any special reward. It is like fasting in any month of the year.

Muslims like to fast in Rajab as it is their gateway to Ramadan. Those who have missed some days of fasting prefer to make them up in Rajab. Women who could not fast in Ramadan because of their menses prefer to make up the missed days in Rajab and Shaban.

Also, it is an act of the sunnah to fast three days in each month. Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) reported:

My friend (the Messenger of Allah) directed me to observe fast for three days in every month, to perform two rakahs (optional) Duha prayer at forenoon and to perform the Witr prayer before going to bed. (Al-Bukhari and Muslim)

These three days are usually the thirteenth, fourteenth and fifteenth of every month in the Islamic calendar.

It was narrated from Jubair ibn Nufair that Aishah said:

“The Messenger of Allah used to be keen to fast on Mondays and Thursday.” (An-Nasa’i)

Based on these narrations, there is no wonder why some Muslims like to fast in Rajab.

As Ramadan is the month of zakat al-fitr, Muslims like to give charity in Rajab and Shaban. These three months are a golden season for giving charity.

There is also nothing called Salat al-Raghaib which is twelve rakahs that are offered between Maghrib and Isha on the night of the first Friday in Rajab. There is no hadith that the Prophet did it, or any of his companions, or any of the best generations of Muslims. 

Month of Al-Isra and Al-Miraj

Some biographers argue that the event of the Prophet’s Journey from Makkah to Jerusalem and his Ascension to Heaven, better known as Al-Isra and Al-Miraj, took place on the 27th of Rajab.

Therefore, they attach great merits and virtues to this month. The event of Al-Isra was a turning point in Islamic history. It was meant to honor the Prophet and strengthen his heart and to comfort him after the death of his wife Lady Khadija (may Allah be pleased with her) and his uncle Abu Talib.

This event also reminds us of the significance of Al-Aqsa mosque to which early Muslims used to direct their faces in prayer before the command from Allah came to make the Kabah in Makkah the direction of Muslim prayer.

By the way, there is no authentic hadith that recommends fasting on the 27th of Rajab. If it coincides with a Monday or a Thursday, you can fast it.

Practical Tips

Apart from the disputable acts of worship in Rajab, you should have a sincere intention to prepare yourself to the coming of Ramadan. You should seek forgiveness from Allah. You should strive hard to give up the bad habits and the improper behavior.

You should resist your desire and control yourself. You should extend your hand to the poor and the needy. You should get closer to Allah by offering extra optional prayers and making a lot of duaa(supplication) to Allah.

To sum up, what is so special about the month of Rajab is that Allah made it one of the sacred months.

And Allah knows best.

I hope this helps.

Salam and please keep in touch.

 

http://aboutislam.net/counseling/ask-about-islam/rajab-so-special-why/

50 (Lima Puluh)

Tuhanku
di antara beberapa warna
yang kasatmata
aku tahu, jauh di dalam diriku
ada beribu warna yang tak bisa kuramu
dan kuoleskan dengan tangan
pandirku.
di antara sekian cahaya
yang menolong mataku untuk tak buta
aku tahu, jauh di dalam diriku
ada beribu cahaya
yang tak terdiri dari gelap
atau terang.
dan di antara segala hal kejadian
yang menyakitkan atau menyenangkan,
aku tahu, jauh di dalam diriku
ada ruang nilai
yang tak lagi
bisa kupegang
dengan ukuran-ukuran.
Tuhanku
bimbinglah aku
masuk
ke kebisuan itu.

https://www.caknun.com/2019/50/

Berlangganan RSS feed