Masuk

Benteng Aleppo, Saksi Kehebatan Arsitektur Islam (2)

REPUBLIKA.CO.ID, Selama awal abad ke-13 M, benteng ini berkembang menjadi sebuah kota mewah yang mencakup fungsi mulai dari perumahan (istana dan pemandian), keagamaan (masjid dan kuil-kuil), instalasi militer (persenjataan, menara tempat latihan pertahanan dan pintu masuk), dan elemen-elemen pendukung (air sumur dan lumbung).

Tambahan cukup signifikan yang terjadi pada masa pemerintahan Al-Ghazi adalah Masjid Agung Citadel. Masjid yang dibangun pada 1214 itu terletak di titik tertinggi benteng yang menaranya berdiri setinggi 21 meter.

Menara itu mampu memperluas jarak pandang dan pertahanan benteng tersebut. Menara masjid itu memiliki dua peran sekaligus, yakni agama dan militer. Dualitas ini menggabungkan kebijakan, kekuasaan, dan kesalehan dalam ikon kepercayaan Islam.

Renovasi paling menonjol pada Benteng Aleppo adalah pembangunan blok pintu oleh Al-Ghazi pada 1213. Sebanyak delapan lengkungan besar jembatan yang memandu orang untuk datang menuju benteng di seberang parit.

Di depan jembatan terdapat sebuah menara penjaga. Di akhir jembatan terdapat dua menara penjaga yang tidak pernah berhenti mengamati kondisi sekitar. Gerbang dan jembatan ini menjadi satu-satunya jalan masuk menuju Benteng Aleppo. Dua benteng pertahanan lain dibangun terpisah di kaki bukit.

Sebuah model pertahanan yang kompleks dikembangkan pada rangkaian jalan menuju benteng. Seseorang harus menembus tiga pintu besi dan mengubah arah sebanyak enam kali melalui rangkaian belokan 90 derajat, bisa menjadi sasaran siraman cairan panas yang disemburkan dari celah pada bagian langit-langit. Strategi pertahanan ini membuat Benteng Aleppo menjadi salah satu benteng yang sulit ditaklukkan musuh.

Pada 1415 M, Gubernur Mamluk di Aleppo, Pangeran Sayf Al-Din Jakam, mendapat wewenang untuk membangun kembali Citadel Aleppo setelah invasi Mongol pada 1410. Tambahan yang terpenting pada masanya adalah istana yang menjulang lebih tinggi dari dua menara pada gerbang utama.

Keberadaan Istana Ayyubiyah nyaris terlupakan selama periode ini. Periode Mamluk juga merestorasi benteng. Pemerintahan Sultan Qansuh Al-Ghawri sempat mengganti langit-langit datar istana menjadi melengkung indah dengan sembilan kubah.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/05/15/m42hvs-benteng-aleppo-saksi-kehebatan-arsitektur-islam-2

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.