Masuk

Menara, Simbol Peradaban Islam (2)

REPUBLIKA.CO.ID, Sekitar tahun 703 M atau 91 H, Umar bin Abdul Aziz juga telah membangun empat menara di setiap sudut Masjid Nabawi.

Setiap menara tingginya mencapai sembilan meter. Melalui menara itu, muadzin bisa mengumandangkan panggilan shalat.

Sementara itu, Ensiklopedia Britannica menyebutkan, menara masjid tertua di dunia terdapat di Kairouan, Tunisia yang dibangun antara tahun 724 M hingga 727 M.

Versi lain menyebutkan, Khalifah Al-Walid (705-715) dari Bani Umayyah merupakan pemimpin pertama yang memasukkan unsur menara dalam arsitektur masjid.

Al-Walid yang memang dikenal memiliki selera dan kepedulian tinggi dalam rancang bangun arsitektur telah memulai tradisi membangun menara sebagai salah satu unsur khas pada masjid.

Menara masjid pertama muncul ketika Khalifah Al-Walid memugar bekas basilika Santo John menjadi sebuah masjid besar yang bernama Masjid Agung Damaskus.

Awalnya, pada bekas basilika itu terdapat dua buah menara yang berfungsi sebagai penunjuk waktu, lonceng pada siang hari dan kerlipan lampu pada malam hari. Menara itu sebenarnya merupakan salah satu ciri khas bangunan Byzantium.

Dalam Ensikopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH) disebutkan, asal-usul menara sebagai sebuah bangunan arsitektural mungkin didasarkan pada satu ada campuran beragam sumber. Ada yang menyebutkan berasal dari menera api simbolis Zoroaster hingga menara pengawas Romawi, mercu suar pantai, hingga gereja.

Terlepas dari mana asal-muasalnya, Khalifah Al-Walid amat tertarik untuk mempertahankan kedua menara yang bertengger di basilika Santo Jhon itu.

Bahkan, untuk mempertegas wibawa dan kemegahan Masjid Agung Damaskus itu, Al-Walid kemudian membangun lagi sebuah menara di sisi utara pelataran masjid—tepat di atas Gerbang Al-Firdaus. Menara itu pun biasa disebut Menara Utara Masjid Damaskus.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/07/21/m7ij2v-menara-simbol-peradaban-islam-2

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.