Masuk

Gemerlap Sains Islam di Spanyol (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus digulingkan Bani Abbasiyah pada 750 M, dinasti itu tak sepenuhnya terbenam.

Lima tahun setelah runtuhnya Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, Abdurrahman I yang bergelar “Al-Dakhil” berhasil mendirikan Kekhalifahan Umayyah baru di daratan Eropa.

Kekhalifahan baru ini bahkan mampu mengimbangi kejayaan Dinasti Abbasiyah, khususnya dalam bidang sains dan teknologi.

Kemilau sains dan teknologi di wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah Andalusia berawal dari zaman kekuasaan Abdurrahman Al-Aushat. Menurut Ahmad Syalabi, Abdurrahman Al-Aushat dikenal sebagai pemimpin yang cinta ilmu pengetahuan.

Sebagai Amir yang berkuasa di Cordoba—ibukota pemerintahan Umayyah Spanyol—Al-Aushat mengundang para ahli dari dunia Islam untuk bertandang ke negeri yang dipimpinnya.

Sejak itulah, aktivitas ilmu pengetahuan mulai menggeliat di Spanyol Muslim. Sains dan teknologi kian berkembang pesat ketika Dinasti Umayyah di Spanyol dipimpin Abdurrahman III yang bergelar “An-Nasir”.

Ia adalah penguasa pertama di Spanyol yang mendeklarasikan diri sebagai Khalifah pada 929 M. Pada periode inilah peradaban Islam di Spanyol berhasil mengimbangi, bahkan menyaingi kehebatan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad, Irak.

Spanyol pun menjelma menjadi negara yang subur dan makmur di masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Pada masa kepemimpinan Abdurrahman III, di pusat pemerintahan berdiri Universitas Cordoba.

Menurut Sejarawan Said Al-Andalusi, sang Khalifah juga mendirikan perpustakaan megah dengan koleksi buku yang sangat melimpah. Ia menempatkan para sarjana kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya dalam posisi yang tinggi serta terhormat.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/09/04/m9tqqm-gemerlap-sains-islam-di-spanyol-1

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.