Masuk

Syiar di Balik Shalat Idul Adha (2-habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Aktivitas sunah lain yang dianjurkan ialah mengkonsumsi makanan sebelum berangkat shalat.

Anas bin Malik RA berkisah tentang kebiasaan Rasulullah memakan sejumlah butir kurma, beberapa saat ketika hendak keluar rumah menuju masjid. 

Ibnu Hajar menganalisis, tindakan ini dilakukan untuk mengantisipasi kelebihan puasa di hari itu. Entah karena sebab lupa, atau faktor lainnya.

Bagi mereka yang tidak mendapatkan kurma, bisa menggantinya dengan alternatif menu makanan ringan lain.

Tetapi khusus Idul Adha, bagi yang berkurban, hendaknya tidak makan apa pun sampai selesai shalat. Bagi mereka yang tidak berkurban, dipersilakan makan sebelum berangkat shalat.

Tak lupa, ialah mengumandangkan takbir sejak malam sebelum shalat dilaksanakan hingga shalat selesai dikerjakan. Hal ini merupakan tradisi yang tak pernah dilupakan oleh para sahabat.

Abdullah bin Umar, contohnya. Ia bertakbir sejak malam hingga imam seusai memimpin shalat Id. Khusus di Idul Adha, waktu takbir lebih lama dibandingkan Idul Fitri, yakni hingga terbenamnya matahari di hari terakhir Tasyrik.

Adab berikutnya ialah berhias diri secukupnya. Menggunakan pakaian yang laik, memakai wangi-wangian, dan tampil menarik. Jabir bin Abdullah menuturkan, Rasulullah sengaja menyimpan dua potong baju yang khusus dikenakan di hari raya. Hal ini mengilhami para sahabat. Abdullah bin Umar, setiap kali lebaran tiba, ia mengenakan busana yang paling bagus.

Shalih menekankan pula pentingnya mendengarkan pesan-pesan kebajikan dalam khutbah Idul Adha. Mayoritas ulama berpandangan hukumnya sunah. Tidak wajib mendengarkannya. Ini merujuk pada hadis riwayat Abdullah bin as-Saib.

Imam Syafi’i menambahkan, mendengarkan khutbah tidak termasuk syarat sah shalat Id. Tetapi,  ia berpendapat bila yang bersangkutan memilih beranjak pergi dan menghiraukan khutbah, hukumnya makruh. Kendati ia tidak wajib mengulangnya.   

Syekh Shalih juga menyebut aktivitas berpahala menyambut Idul Adha ialah saling berbagi ucapan dan doa. Diriwayatkan dari Jabir bin Nufair, para sahabat menggunakan momentum Idul Adha untuk saling menyampaikan selamat.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/10/29/mcnngl-syiar-di-balik-shalat-idul-adha-2habis

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.