Masuk

Istana Yildiz Sinergi Gaya Rococo, Barok, dan Islam (3-habis)

Tempat Menerima Tamu Negara
Pemerintah Turki Utsmani dulu kerap mempergunakan istana ini untuk menerima tamu-tamu negara.

Selain karena bangunannya yang indah dan megah, juga karena fasilitasnya yang lengkap. Winston Churchill, Charles de Gaulle, dan Kaisar Wilhelm II adalah beberapa tokoh dunia yang pernah bertandang ke istana ini.

Ketika berada di istana ini, para tamu negara biasanya terkesan dengan ruang pertemuan. Di ruang ini, seperti tertulis dalam Ensiklopedia Peradaban Islam, terbentang karpet yang sangat indah. Konon, karpet ini adalah hasil tenunan tangan 60 orang penenun terbaik pada masa itu.

Bagian lain yang memesona adalah tamannya yang sangat luas. Di taman ini terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan Istana Yildiz dengan Istana Ciragan yang berada di tepi Selat Bhosporus.

Istana ini juga menyimpan banyak kenangan, terutama menjelang runtuhnya kekhalifahan Islam di Turki. Di tempat inilah, untuk kali terakhir Sultan Hamid II menjalankan pemerintahan sebelum diasingkan ke Salonika, Yunani.

Sultan Hamid II memang lebih memilih tinggal di Istana Yildiz ketimbang Istana Dolmabahce. Alasannya, lokasi istana ini dinilai lebih aman daripada Istana Dolmabahce yang berada di tepi laut. Sejarah mencatat, ia tinggal di Istana Yildiz pada 1877 hingga 1909.

Setelah Kesultanan Turki Utsmani runtuh, Istana Yildiz sempat dialihfungsikan menjadi kasino mewah. Belakangan, Pemerintah Turki memfungsikannya lagi sebagai tempat menerima tamu-tamu negara.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/12/28/mfqryx-istana-yildiz-sinergi-gaya-rococo-barok-dan-islam-3habis

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.