Masuk

Mapel Agama Ditambah, Akhlak Siswa Meningkat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-- Guru-guru Sekolah Dasar (SD) di Jakarta Barat menyambut baik wacana penambahan mata pelajaran agama yang dicanangkan menjadi empat jam mulai Juli mendatang.

Para guru berharap, penambahan mata pelajaran agama ini dapat meningkatkan moral dan akhlak anak bangsa dalam menghadapi globalisasi.

Untuk mempersiapkan penambahan jam ini, Kementrian Agama telah menyelenggarakan workshop bagi para guru sekolah dasar di wilayah Jakarta Barat.

Workshop yang diselenggarakan di Puncak, Bogor, membahas tentang penambahan materi atau praktik apa untuk dua jam tambahan pelajaran agama.

Nurjoni Burhan, guru agama Islam SDN 03 Pagi Palmerah Jakarta Barat mengungkapkan saat ini penambahan jam mapel agama masih wacana, belum direalisasikan, Para guru agama yang mengikuti workshop Januari lalu antusias dengan wacana tersebut.

Joni mengatakan untuk tahun pelajaran 2013, akan dilakukan revisi kurikulum khusus pelajaran agama, akan ada penambahan di bidang akhlak dan budi pekerti bagi siswa sebagai modal untuk menghadapi dunia yang makin tidak terkontrol.

"Saya kira memang harus ditambah untuk akhlak. Saat ini, karena kurangnya jam mapel agama, penanaman akhlak dan budi pekerti tidak bisa maksimal," jelas Joni ketika ditanya apakah selama ini jam mapel untuk agama memang kurang atau sudah cukup.

Ia mengakui sosialisasi penambahan mapel agama, masih kurang, "Kemarin saja saat workshop hanya tujuh orang guru per kecamatan. Padahal, jumlah guru dan sekolah banyak.'' Joni menyebutkan baru Sekolah Dasar yang ikut. Untuk SMP belum.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementrian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud), Ibnu Hamad mengatakan mapel agama akan ditambah mulai tahun ajaran baru, sekitar bulan Juli.

''Tujuannya untuk pembentukan karakter anak bangsa yang selama ini dinilai kurang,'' jelasnya.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/02/04/mhom04-mapel-agama-ditambah-akhlak-siswa-meningkat

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.