×

Peringatan

JUser: :_load: Tidak dapat memuat pengguna denga ID: 983

Masuk

Zebunnisa, Putri Penyair dari Mughal

 Zebunnisa merupakan seorang putri dari Kekaisaran Mughal. http://www.republika.co.id/ Zebunnisa merupakan seorang putri dari Kekaisaran Mughal.

Oleh: Ratna Ajeng Tejomukti     

Zebunnisa hidup dalam suatu periode ketika banyak penyair besar berada di puncak karya mereka, seperti Mawlana Abdul Qader Bedil, Kalim Kashani, Sa'eb Tabrizi, dan Ghani Kashmir.

Zebunnisa merupakan seorang putri dari Kekaisaran Mughal. Dia adalah anak sulung dari Kaisar Aurangzeb dan ratunya, Dilras Banu Begum.

Zebunnisa dikenal sebagai seorang penyair. Dia dikenal dengan nama pena Makhfi yang berarti yang tersembunyi. Kumpulan tulisannya dikumpulkan setelah dia wafat dan dikenal dengan Diwani Makhfi.

Zebunnisa lahir pada 15 Februari 1638. Dia lahir pada masa pemerintahan kakeknya, Kaisar Shah Jahan. Zebbunisa juga seorang keturunan Persia. Ibunya adalah putri Mirza Badi-uz-Zaman Safavi dari dinasti Safawi yang berkuasa di Persia.

Zebunnisa kecil menjadi anak kesayangan ayahnya. Karena faktor Zebunnisa, ayahnya mampu memberikan pengampunan bagi siapa pun yang melakukan kesalahan terhadapnya.

Ayahnya memberikan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada Hafiza Mariam. Ia adalah seorang wanita bangsawan yang menjadi guru agama bagi anak-anak sang kaisar. Zebunnisa mewarisi ketajaman berpikir dan kecerdasan ayahnya. Tapi, bakat yang paling menonjol adalah di bidang sastra.

Sehingga, sejak usia tiga tahun Zebunnisa mulai menghafal Alquran. Saat berusia tujuh tahun, dia telah menjadi seorang Hafizah. Ayahnya pun bangga dengan kepandaian putrinya. Hafalan Zebunnisa dirayakan dengan mengadakan pesta besar dan dijadikan hari libur.

Putrinya juga diberikan hadiah sebesar 30 ribu keping emas oleh ayahnya. Selain Alquran, Zebunnisa kemudian belajar ilmu pengetahuan yang lain dengan Mohammad Saeed Ashraf Mazandarani.

Ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, antara lain, ilmu filsafat, matematika, astronomi, sastra, dan mampu menguasai bahasa Persia, Arab, dan Urdu. Dia pun sangat pandai dalam membuat kaligrafi.

Zebunnisa mulai menulis dan menarasikan puisi di Persia saat berusia 14 tahun. Tetapi, ayahnya sejak lama tidak menyukai puisi, sehingga Zebunnisa menulis secara diam-diam.

Gurunya, Ustaz Bayaz, mengetahui tentang kemampuannya saat menemukan puisi yang disembunyikannya. Dia pun mendorong sang putri untuk terus menulis puisi dan menarasikannya.

Perpustakaannya dipenuhi dengan koleksi pribadinya. Zebunnisa pun mempekerjakan banyak sarjana. Dia menawarkan penghasilan yang besar untuk menghasilkan karya sastra dan menyalin naskah untuknya.

Zebunnisa hidup dalam suatu periode ketika banyak penyair besar berada di puncak karya mereka.

Misalnya, Mawlana Abdul Qader Bedil, Kalim Kashani, Saa'eb Tabrizi, Ghani Kashmir, Naimatullah Khan, dan Aqil Khan Razi.

Zebunnisa pun secara diam-diam ingin mengikuti jejak mereka. Beberapa pakar menyebut, ada pengaruh besar gaya Hafez Sherazi pada puisi Zebunnisa.

Sang ayah Kaisar Aurangzeb akhirnya naik takhta saat Zebunnisa berusia 21 tahun. Dia pun sering mengajak Zebunnisa membahas urusan politik karena mengetahui bakat dan kemampuan putrinya.

Kaisar Aurangzeb pun sering mendengarkan pendapat dari putrinya. Setiap bangsawan kerajaan masuk istana, mereka terlebih dahulu ditemui Zebunnisa.

Zebunnisa memiliki empat adik perempuan, di antaranya, Zinatunnisa, Zubdatunnisa, Badrunnisa, dan Mehrunnisa. Di antara mereka, Zinatunnisa dan Zubdatunnisa dikenal sebagai penulis puisi juga.

Seumur hidupnya Zebunnisa tidak menikah, meskipun banyak yang ingin melamar dirinya. Kakeknya pun sempat menjodohkan dirinya dengan sepupunya, Pangeran Sulaiman. Tapi, ayahnya tidak menyetujui perjodohan tersebut. Ayahnya menaruh dendam pada saudara yang juga ayah Sulaiman, Dara Shikoh.

Zebunnisa disebut-sebut memiliki hubungan rahasia dengan seorang penyair dan juga Gubernur Lahore Aqil Khan Razi. Pada 1662 ketika Kaisar Aurangzeb jatuh sakit, ia memutuskan meninggalkan ibu kota dan mencari lingkungan baru.

Dia pun membawa keluarganya dan seluruh penghuni istana ke Lahore. Sejak kepindahannya tersebut, rumor kedekatan Zebunnisa dan Gubernur Lahore semakin kencang.

Hubungan itu diketahui ayahnya dan tidak direstui. Zebunnisa pun oleh ayahnya dikurung di Slimgarh Fort. Ada beberapa literatur yang menyebut Aurangzeb mengurung putri sulungnya karena kegemarannya dalam bidang sastra, terutama puisi.

Dalam literatur lain, Zebunnisa dikurung karena terlibat dalam pemberontakan yang dilakukan sang adik yang ingin mengambil takhta ayahnya. Setelah 20 tahun dikurung, Zebunnisa meninggal pada 26 Mei 1702 saat Aurangzeb ayahnya sedang dalam perjalanan ke Deccan.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/14/08/15/nabec0-zebunnisa-putri-penyair-dari-mughal-1

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/14/08/15/nabei4-zebunnisa-putri-penyair-dari-mughal-2habis

 

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.