Masuk

Menelusuri Kontak antara Manusia dan Jin Zaman Pra-Islam

MAMHTROSO.COM,QATAR--Kontak antara manusia dan makhluk gaib (sebangsa jin) telah berlangsung sejak peradaban kuno. Kegiatan tersebut kebanyakan berkaitan dengan perdukunan, sihir, dan peramalan nasib manusia.

Menurut catatan sejarah, sihir dan perdukunan telah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat Mesir kuno. Bahkan, praktik semacam itu masih terus berlangsung di negeri piramida hingga awal abad ketiga Masehi.

Teolog Kristen yang hidup antara 150-215, Clement dari Iskandariah, bahkan menyebut Mesir sebagai ‘pusatnya para tukang sihir’.

Pakar mistisisme dari Universitas Georgetown Qatar, Amira el-Zein menuturkan, para dukun dan tukang sihir Mesir kerap terlibat dalam berbagai proses penyembuhan. Dalam ritualnya, tidak jarang mereka melakukan komunikasi dengan makhluk-makhluk metafisis yang mereka anggap sebagai ‘dewa penyelamat’. 

“Beberapa makhluk metafisis yang dianggap sebagai pelindung tersebut adalah dewa Bes dan manusia berkepala banteng. Dewa Bes sering digambarkan memiliki wajah jelek untuk mengusir kekuatan jahat dalam tubuh manusia,” ungkap el-Zein dalam bukunya, Islam, Arabs, and the Intelligent World of the Jinn

Untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib tersebut, para tukang sihir Mesir kuno menggunakan semacam mantra, jampi-jampi, atau nyanyian.

Selain itu, mereka juga merajah atau menggambar beraneka ragam jimat pada gulungan papirus dan dinding-dinding kuil raksasa—yang dimaksudkan untuk menangkal berbagai gangguan dari makhluk-makhluk berbahaya.

Dukun dan tukang sihir begitu dihormati oleh orang-orang Mesir kuno. Mereka sering bekerja bahu-membahu dengan para pendeta (pemuka agama) dan dokter resmi yang ada di negeri itu. Dalam proses penyembuhan pasien, ramuan obat umumnya juga diberi mantra-mantra khusus.

“Karenanya, tidak diragukan lagi bahwa ilmu sihir dan obat-obatan melengkapi keterampilan para dokter pada zaman Mesir kuno,” tutur pakar Mesir dari Universitas Oxford, Geraldine Harris Pinch.

Selain Mesir kuno, peradaban Mesopotamia juga menyimpan khazanah ilmu gaib yang luar biasa. Pengaruhnya bahkan menjangkau hingga kawasan Timur Dekat kuno lainnya, terutama Asia Kecil dan Persia.

Sebagian kalangan peneliti yakin, para tukang sihir Persia yang menetap di Mesopotamia menggabungkan tradisi rahasia mereka dengan berbagai ritual dan resep yang disusun oleh ahli-ahli sihir dari Khaldea (Babilonia Baru).

Praktik sihir dan perdukunan pada peradaban Babilonia kuno terungkap lewat sejumlah tulisan mantra berhuruf paku yang diukir pada tablet-tablet berbahan terakota. Artefak tersebut menggambarkan adanya serangan yang dilakukan oleh sejumlah makhluk gaib terhadap tubuh manusia.

Untuk mengusir roh-roh jahat tersebut, para tukang sihir di Babilonia biasanya menggunakan alat tertentu yang disesuaikan dengan jenis penyakit yang mereka tangani.

“Ahli sihir mengidentifikasi setan yang mengirim penyakit ke tubuh pasien, lalu memanggilnya dengan nama-nama tertentu, kemudian baru mencari metode penyembuhan yang cocok,” tutur el-Zein.

Beberapa nama setan pembawa penyakit yang dikenal oleh masyarakat Mesopotamia di antaranya adalah Utukku. Makhluk ini dianggap sebagai penyebab demam tinggi yang menyerang tenggorokan manusia.

Selain itu, ada lagi setan Alu yang menyerang pada bagian dada;  setan Gallu pada bagian tangan, dan; setan Rabisu yang merusak kulit. Untuk menjaga diri dari penyakit yang dibawa oleh setan-setan tersebut dan mengusirnya, orang Babilonia menggunakan mantra yang diiringi dengan dering lonceng.

Di samping itu, masyarakat Mesopotamia juga mengenal beberapa dewa yang dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.

“Seperti dewa Ea dan Marduk misalnya, yang diyakini akan datang untuk menyelamatkan pasien setelah menerima peresembahan darinya,” ujar el-Zein lagi.

Gagasan tentang penyakit dan kegilaan yang berasal dari dewa atau makhluk gaib, juga tersebar luas di kalangan masyarakat Yunani kuno. Dalam syair the Odyssey (Pengembaraan), penyair Homer juga menyinggung soal penetrasi yang dilakukan setan terhadap tubuh manusia dengan cara yang menyiksa.

Orang-orang Yunani kuno beranggapan bahwa sebagai besar wabah penyakit disebabkan oleh intervensi dari roh-roh jahat. Karenanya, tidak mengherankan jika mereka juga banyak mengadopsi prosedur penyembuhan dari kebudayaan Mesopotamia, Khaldea, dan Mesir kuno.

Selain dalam urusan penyakit, masyarakat Yunani kuno juga meyakini adanya kekuatan gaib yang mengetahui rahasia kehidupan manusia.

Mereka percaya bahwa Phytia (dukun perempuan Yunani yang mendiami Kuil Apollo di Delphi) memiliki kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan dunia para dewa, dan memberikan ramalan-ramalan yang akurat kepada manusia.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/15/03/01/nkhryr-menelusuri-kontak-antara-manusia-dan-jin-zaman-praislam-1

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/15/03/02/nkkewb-menelusuri-kontak-antara-manusia-dan-jin-zaman-praislam-2habis

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.