Logo
Cetak halaman ini

Sang Penolak Raja

MAMHTROSO.COM -- Suatu hari, Amirulmukminin Abdul Malik bin Marwan tiba-tiba terbangun dari tidur siangnya dan tergesa. Ia segera memanggil penjaga, “Wahai Maisarah,” serunya. Penjaga sultan yang tegap dan gagah pun segera datang, “Ada apa amirulmukminin?” Tanyanya. “Pergilah ke Masjid Nabawi dan undanglah kemari salah seorang ulama di sana untuk memberikan peringatan di istana,” pinta Ibn Marwan.

Maisarah pun segera ke masjid. Tapi, di sana hanya ada seorang syekh yang usianya telah sepuh. Tapi, auranya penuh wibawa dan karismatik. Orang-orang menghormatinya karena ilmunya yang tinggi.

Melihatnya, Maisarah pun mendekat majelis sang syekh. Ia menunjukkan jarinya memberikan tanda kepada syekh. Tapi, Syekh tak menghiraukannya. Karena tak dipedulikan, Maisarah akhirnya menghampiri sang syekh. “Tidakkah Anda melihat saya menunjuk kepada Anda?” Ujarnya.

Sang syekh pun menjawab, “Anda menunjuk saya?”

Maisarah berkata, “Ya.”

Syekh pun kembali bertanya, “Apa keperluan Anda?”

Maisarah menjawab, “Amirulmukminin memintaku untuk pergi ke Masjid Nabawi dan membawa seorang ulama untuk mengajarkan hadis untuknya.”

Syekh itu menjawab ringan, “Bukan saya orang yang beliau maksud.”

“Tapi, amirulmukminin menginginkan seorang ulama untuk berbincang dengannya,” kata Maisarah.

Syekh hanya menjawab, “Barangsiapa yang menghendaki sesuatu maka seharusnya dialah yang datang. Masjid ini memiliki ruangan yang luas. Jika beliau ingin, datanglah. Selain itu, hadis lebih layak untuk didatangi, namun beliau enggan mendatanginya,” kata syekh.

Maisarah pun kembali ke istana tanpa membawa seorang ulama. Ia menemui amirulmukminin dan mengisahkan pertemuannya dengan seorang syekh sepuh tadi. Mendengar kisah Maisarah, Ibn Marwan pun menebak, “Pasti dia adalah Syekh Sa'id bin Musayyab.” Tebakan sutan benar. Amirulmukminin pun meninggalkan tempatnya dan kembali ke kamar.

Ketika sang sultan telah masuk, anak-anaknya pun saling membicarakan kisah Maisarah yang mereka pun mendengarnya. Putra bungsu sultan pun geram. “Siapakah orang yang berani menentang amirulmukminin dan menolaknya. Padahal, dunia tunduk padanya, raja-raja Romawi pun gentar karena wibawanya?” Ujar si bungsu heran.

Kakaknya pun menimpali, “Dia adalah syekh yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, Al Walid. Namun, syekh menolak pinangan itu,” ujarnya.

Si bungsu makin terheran-heran. “Benarkah itu? Dia menolak menikahkan putrinya dengan putra mahkota?” Ujarnya.

Namun, sang kakak tak tahu bagaimana peristiwa penolakan itu terjadi. Lalu, seorang pengasuh putra sultan pun berkata bahwa ia mengetahui kisah itu. “Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu,” ujarnya. Ia pun kemudian mengisahkannya kepada kedua putra sultan.

“Gadis putri sang syekh telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada'ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat saya. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis, seperti yang diceritakan Abu Wada'ah sendiri kepada saya,” ujar sang pengasuh.

Abu Wa'dah merupakan salah seorang murid Syekh Sa'id bin Musayyab. Ia tak pernah absen di setiap majelisnyas. Hingga suatu saat, ia tak menghadiri majelis selama beberapa hari. Tak ada kabar datang darinya.

Lalu, ketika Abu Wa'dah telah mendatangi majelis, ia segera mendapat sapaan dari syekh. “Ke mana saja kau wahai Abu Wada'ah?” Tanya syekh.

“Saya sibuk mengurus jenazah istri saya yang meninggal,” jawabnya.

Syekh pun berkata, “Jika kau memberi kabar, pastilah aku akan takziyah dan membantu kesulitamu,” kata syekh.

Abu Wada'ah pun merasa berterima kasih atas kebaikan syekh. Saat majelis telah usai, syekh kembali menyapanya. Ia meminta Abu Wada'ah duduk sejenak untuk berbincang.

“Apa kau tak berpikir untuk menikah lagi?” Tanya syekh.

Mendengarnya tentu Abu Wada'ah terkejut. “Semoga Allah merahmati Anda wahai Syekh. Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan saya sementara saya ini hanyalah pemuda yatim dan hidup dalam kondisi fakir. Aku hanya memiliki harta dua atau tiga dirham,” ujarnya.

Namun, jawaban Syekh sangat mengejutkan, “Aku akan menikahkanmu dengan putriku,” ujarnya.

Abu Wada'ah tentu saja heran bukan kepalang. Ia sangat kaget mendengarnya. “Anda wahai syekh? Anda berkenan menikahkan putri Anda denga saya sementara Anda tahu betul kondisi saya?” Tanyanya tak percaya.

Namun, syekh menjawab santai, “Ya benar. Jika ada seorang datang dan saya menyukai agama dan akhlaknya maka saya akan menikahkan putri saya dengannya. Dan, kau adalah orang yang saya sukai agama dan akhlaknya,” jawab syekh.

Putri syekh pun kemudian menikah dengan Abu Wada'ah. Dalam membangun rumah tangga, syekh selalu siap membantu rumah tangga putri dan murid kesayangannya.

Mendengar kisah Abu Wada'ah itu, para putra sultan pun terkejut. “Orang itu sungguh mengherankan,” uajr si bungsu tak habis pikir dengan sikap Syekh Sa'id. Tapi, si pengasuh yang bercerita menimpali, “Apa yang mengherankan wahai tuan? Syekh memang manusia yang menjadikan dunia hanya sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhirat. Demi Allah, bukan karena beliau tak suka putra amirulmukminin. Hanya saja, syekh memandang A Walid tak sebanding dengan putrinya. Syaih hanya khawatir putrinya akan tergoda dengan fitnah dunia,” ujarnya.

Si pengasuh pun melanjutan kisahnya bahwa syekh pernah ditanya mengapa menolak pinangan amirulmukminin dan justru memilih menikahkan putri dengan seorang awam yang miskin. Dengan mantap, syekh menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya. Bagaimana pendapat kalian jika ia pindah ke istana Bani Umayyah lalu bergelimang harta? Bagaimana keteguhan agamanya nanti?” Jawab Syekh.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/06/15/orkv22313-sang-penolak-raja-part1

Hakcipta © 2015 MA Matholi'ul Huda Troso.