Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Menyambut Ramadhan

MAMHTROSO.COM -- Sebentar lagi bulan mulia itu akan tiba. Satu bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan sehingga di dalamnya ada pengampunan dan doa dikabulkan. Pada bulan ini juga ada jaminan pembebasan dari api neraka bagi mereka yang mengisi bulan suci dengan penuh keikhlasan. 

Ramadhan adalah bulan istimewa sehingga ibadah puasa menjadi milik Sang Penguasa Alam Semesta. Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal manusia adalah miliknya kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (HR Bukhari).

Saking istimewanya, tidak mengherankan jika Nabi SAW selalu menampakkan kerinduan terhadap Ramadhan dengan melantunkan sebuah doa ketika memasuki bulan Rajab. “Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah (pertemukanlah) kami dengan bulan Ramadhan.” Rasulullah sungguh merindukan bulan Ramadhan.

Beliau tidak hanya memohon keberkahan bulan Rajab dan Sya’ban saja, tapi juga memohon supaya bisa berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan, Rasulullah selalu melakukan persiapan khusus, yakni dengan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Sebagai Muslim, sambutlah Ramadhan dengan sukacita. Persiapkan jasmani dan rohani. Mantapkan keimanan serta luruskan niat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan umat Islam untuk menyambut bulan Ramadhan dengan terlebih dahulu menyucikan diri dari dosa dan bertobat dari semua kesalahan masa lalu.

Bersihkan hati sebelum bertemu dengan bulan suci. Dengan begitu, Ramadhan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kuantitas ibadah, tapi juga kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT.

Ramadhan adalah sekolah untuk menggembleng spiritualitas. Ibadah puasa menjadi sarana untuk meningkatkan religiositas. Pencapaian akhir yang diharapkan adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Berkaitan dengan itu, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah:183).

Buah dari puasa adalah takwa. Derajat takwa tidak akan bisa dicapai jika hanya mengandalkan puasa jasmani semata. Puasa yang dimensinya hanya ritual formal saja. Puasa semacam ini disebut Imam al-Ghazali sebagai puasa awam.

Barangkali puasa seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW, “Banyak orang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad).

Dalam berpuasa, kita tidak hanya berfokus pada dimensi ritual formal saja, tetapi juga harus memperhatikan dimensi spiritual. Dalam berpuasa, kita harus mampu menahan lapar, dahaga, nafsu, pancaindra, dan juga menghindari apa saja yang dilarang hati nurani. Di tahap itulah akal dan pikiran kita juga mesti ikut berpuasa.

Wallahu a’lam.

https://www.republika.id/posts/15643/menyambut-ramadhan

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

أحكام العربون عند عدم إتمام الصفقة

السؤال

أنا أعمل كوسيط في بيع وشراء العقارات. وفي أحيان كثيرة أستقبل عربون حجز لشقق سكنية لحين إبرام التعاقد، ومن المتعارف عليه أن هذا العربون لا يسترد في حالة العدول عن الشراء في الموعد المتفق عليه؛ نظرا لتحملنا مصروفات وأعباء دعاية، وحجز للشقة المتفق عليها، وكذلك إضاعة فرص أخرى للبيع بناء على هذا الحجز.
فما حكم هذا المال الذي بحوزتي -مع رضاء المشتري بأن ما دفعه لن يسترده، ومع رضاء البائع بإلغاء البيع، وتعويضه بمبلغ من المال الذي في حوزتي-؟

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فجمهور الفقهاء على منع بيع العربون، بخلاف الحنابلة فهم على جوازه، وهو الأظهر إذا قيدت مدة الانتظار بزمن محدد، واختاره جمع من المعاصرين، وبه صدر قرار مجمع الفقه الإسلامي. وهو ما رجحه الدكتور عبد الله السيف في رسالته للدكتوراه (الوساطة العقارية وتطبيقاتها القضائية) وبحث فيها مسألة: المستحق للعربون حال عدم إتمام المشتري للصفقة، وقال: حينما يطلب راغب الشراء حبس الصفقة لصالحه مدة من الزمان، ويدفع عربونا لذلك على أنه إن أحضر بقية المبلغ، وإلا فالعربون يفوت عليه، ففي حال ما لم يتم المبلغ فإلى من يؤول العربون؟ يقال في تقرير المسألة: يظهر من كلام فقهاء المذاهب الثلاثة القائلين بالتحريم، عدم صحة بيع العربون، ووجوب رد الثمن المدفوع عربونا. أما على القول بصحة بيع العربون - وهو ما ظهر رجحانه فيما سبق - فمآل العربون يحتمل ثلاثة آراء:

- الرأي الأول: أن كل العربون يذهب إلى البائع، ولا يستحق الوسيط منه شيئا.

- الرأي الثاني: أن يكون مآل العربون مناصفة بين البائع وبين المكتب العقاري.

- الرأي الثالث: أن جميعه يذهب للمالك، وعليه أن يدفع للمجاعل عوضا عن جعالته. اهـ.

واستظهر القول الثالث، وهو أن العربون للبائع؛ لأن العربون إنما شرع تعويضا عن الضرر الكائن من حبس السلعة مدة من الزمان لصالح راغب الشراء.

وقال: أما الوسيط فيظهر أن يكون عوضه كالتالي:

- إن كان العوض نسبة من قيمة الصفقة فيكون -والحالة هذه- نسبة من العربون.

- إن كان العوض مبلغا مقطوعا، فينظر كم نسبة هذا المبلغ من الصفقة، ويعطى هذه النسبة من العربون محاصة.

- إذا اتفقا على خلاف ذلك قبل أو بعد فهما على ما اتفقا عليه. اهـ. (ص 309 : 312).

وعلى ذلك؛ فلا حرج على السائل في أخذ العربون، والتصرف فيه، ما دام ذلك يتم بعلم البائع ورضاه، كما يفهم من قول السائل: (مع رضاء البائع بإلغاء البيع، وتعويضه بمبلغ من المال الذي في حوزتي).

وانظر للفائدة الفتويين: 29803، 156717.

والله أعلم.

 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/438610/%D8%A3%D8%AD%D9%83%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B1%D8%A8%D9%88%D9%86-%D8%B9%D9%86%D8%AF-%D8%B9%D8%AF%D9%85-%D8%A5%D8%AA%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%81%D9%82%D8%A9

 

What Are Some Practical Ramadan Preparation Tips?

Question:

Ramadan is approaching. What are the practical steps that can be taken by Muslims to prepare themselves for this blessed month?

 

Answer:

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

Every Muslim should prepare himself to welcome the blessed month of Ramadan by strengthening his relationship with the Quran, busing himself with the spirit of fasting, and recharging his spiritual battery to prepare himself to make the whole blessed month of Ramadan a real occasion of sincere obedience.


In responding to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and an Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

Allah Almighty says: “The month of Ramadan in which was revealed the Quran, a guidance for mankind, and clear proofs of the guidance, and the Criterion (of right and wrong).” (Al-Baqarah 2:185)

Ramadan is an event that occurs in the life of the faithful, as individuals and as an Ummah, once a year. It is intended by Allah to help us to recharge our spiritual batteries and thus prepare us for the great mission of realizing His will on earth.

Therefore, in order to benefit from Ramadan, we may do well to prepare for it by opening our hearts and minds to embrace it. Let me offer a few tips:

1- We should empower ourselves by learning as much as we can about the precise laws as well as the benefits of fasting.

2- We should ensure that we gain true benefits from our fasting, let us make sure to realize the spirit of fasting: this can only be done by abstaining, not only from food, drink, and sex, but also by strictly restraining our minds, hearts as well as our eyes, ears, hands, tongue, and so on.
3- We must embrace the spirit of fasting as stressed in the Hadith: to be charitable and compassionate as much as we can.

4- We should strengthen our relationship with the Qur’an; for Ramadan is the month of the Qur’an.

5- We should engage in dhikr and condition ourselves to make it second nature.

6- Last but not least, we should build up our community through acts of charity and compassion and extending help to those in need as much as we can.

Let us pray that we come out of Ramadan with our faith recharged, gaining strength in our faith and commitment and relationship with Allah.

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/fasting/practical-tips-preparation-ramadan/

 

 

Para Pemimpin Kita Penuh Tanggung Jawab

MAMHTROSO.COM -- Di antara bangsa-bangsa di dunia, bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling berdaulat dan paling rasional. Sampai-sampai hantu-hantu dan sebagian kalangan Jin juga terpengaruh untuk lebih berdaulat dan lebih rasional dibanding masyarakat hantu dan bangsa-bangsa Jin lainnya.

Kalau dunia Barat berdemokrasi misalnya ketika menyelenggarakan Pemilu secara relatif steril atau imbas-imbis terhadap dimensi keuangan, Indonesia punya kedaulatan sendiri dan tidak mau membebek Negara-Negara Barat. Indonesia tidak mau pakai demokrasi steril. Harus ada money-politic. Setiap penduduk yang mencalonkan diri dari tingkat terbawah hingga puncak, harus jelas modal keuangannya mencukupi atau tidak. Terserah mau pakai uangnya sendiri atau mengumpulkan pedagang-pedagang kakap untuk ikut membiayai, sehingga kelak kalau yang dibantu keuangan menjadi pejabat, tanggung jawabnya jelas.

Pejabat Indonesia adalah teladan dalam hal tanggung jawab. Kalau ia naik ke kursi jabatan dibiayai oleh umpamanya Taoke atau Cukong-cukong, maka nanti ketika menjabat pejabat Indonesia setia dan konsisten membuktikan tanggung jawabnya, terutama yang terkait dengan kekuasaannya untuk melancarkan jalan dan proyek para donaturnya.

Pejabat Indonesia paling mengerti bagaimana membayar budi. Mereka bukan tipe pengkhianat yang “habis manis sepah dibuang”. Pejabat Indonesia moralnya tinggi, akhlaknya bisa diandalkan. Rakyat juga memiliki rasio yang jelas dalam memilih pejabatnya. Kalau calon pejabat sudah menyelenggarakan “Serangan Fajar” membagi-bagi uang kepada penduduk, maka penduduk juga sangat bertanggung jawab terhadap calon pejabat yang memberinya uang.

Berkat keteladanan para pemimpinnya, rakyat Indonesia juga tidak punya budaya materialistis atau mata duitan. Rakyat Indonesia tidak rakus atau eksploitatif terhadap siapapun yang meminta bantuan mereka untuk dipilih menjadi pejabat. Rakyat tidak melihat jumlah banyaknya uang yang diserangkan di waktu fajar. Boleh hanya 100 ribu rupiah, atau bahkan maklum-maklum saja andaikan hanya 50 ribu rupiah. Itu sudah cukup untuk memilih calon pejabat sehingga menjadi pejabat. Rakyat Indonesia tidak rakus. Rakyat Indonesia sangat pandai bersyukur, dan canggih memanfaatkan uang meskipun hanya 50 ribu rupiah.

Pun rakyat Indonesia sangat rasional, sangat memperhitungkan dimensi historisitas suatu keadaan. Kalau Bapaknya jelas-jelas dipilih secara nasional menjadi Presiden, ya sudah selayaknya kalau anaknya atau dan menantunya menjadi Walikota atau Bupati, kalau perlu menjadi Gubernur pada tahap berikutnya. Jangan bodoh. Memang demikian hukum alamnya, logika sosialnya maupun keniscayaan politiknya. Rasional dan kausalitatif-dialektis juga kalau rakyat juga sudah berpikir jauh untuk mengorientasikan kelak anak dan menantu ini duduk di kursi yang sekarang diduduki oleh Bapak atau mertuanya.

Dulu terang benderang semua makhluk di bumi maupun langit tahu bahwa Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia adalah Bung Karno. Maka tidak ada yang nalar dan rasional melebihi kenyataan bahwa estafeta kepemimpinan berikutnya juga ada di tangan putri Bung Karno. Sangat masuk akal bahwa partai politik terbesar dan paling pegang kendali sejarah Negara dan bangsa Indonesia haruslah putri Proklamator.

Ini bukan masalah oligarki atau aplikasi feodalisme.

ليس الفتى من يقول كان أبي، ولكن الفتى ها أنا ذا

Kesatria bukan yang memamerkan “ini Bapak saya”. Satria adalah yang membusungkan dada “Ini lho saya”. Kata-kata Mutiara ini berlaku di seluruh dunia, tetapi tidak relevan untuk Indonesia. Bangsa Indonesia sudah sangat tua usia peradabannya. Mereka tidak membutuhkan slogan kosong dan jargon cengeng seperti itu. Kalau Kerbau terusnya ya Gudel. Kalau Sapi pemegang estafetnya ya Pedèt. Sangat rasional, sangat mendasar mempertimbangkan kontinuitas mutu sejarah. Regenerasi Kuda ya jangan Kadal, pewaris Buaya ya mosok Tokèk.

Prabu Brawijaya V yang terakhir bersedia “uzlah” menyepi dibikinkan Pesanggarahan oleh Sunan Kalijaga di Gunung Cetho, perut Lawu. Andaikan yang menjadi Sultan Demak bukan Raden Patah, putranya sendiri, mungkin beliau tidak tenang-tenang saja dan legowo bersemedi di Cetho.

Saya pernah mencoba melakukan rekonfirmasi tentang logika politik Nusantara ini dengan naik ke Cetho, bersama seorang sahabat dan beberapa tokoh bati. Kami menyelenggarakan “lelaku batin”, bersemedi, bertafakkur dan napak tilas uzlah Raja pamungkas Majapahit yang punya 117 anak itu. Dari tengah malam hingga menjelang Subuh kami bersemadi ditemani oleh angin yang luar biasa deras dan mobat-mobit berubah-ubah arah. Kedaan sangat dingin karena di ketinggian pegunungan. Teman-teman memakai jaket dan mantel serta pengikat kepala bak Ayatullah. Saya dimanjakan oleh Allah dengan memerintahkan hembusan angin berhenti di luar baju tipis saya, sementara di antara baju dan kulit tubuh saya tetap terbawa kehangatan dari Yogya tadi.

Tafakkur dan tadzakkur bersama itu saya akhiri sekitar pukul 03.15, karena sejak tadi mulai banyak teman-teman yang klesak-klesek capek dan tidak tahan tapi upacara tak kunjung selesai. Kemudian lampu teplok dinyalakan, dan saya bertanya tentang pengalaman batin mereka selama bertafakkur, siapa saja leluhur kita yang berkenan datang menemui keikhlasan kita untuk merenungi dan memprihatini keadaan bangsa. Utamanya apakah Prabu Brawijaya V berkenan menerima sowan kita.

Rata-rata para beliau mengatakan bahwa Mbah-Mbah kita banyak yang datang. Ada Mbah Sunan Bonang, Mbah Sahid Kalijaga, Mbah Sultan Agung, bahkan Mbah Ajisaka, tentu saja tanpa Buyut Dewata Cengkar. Sudah pasti saya tidak tahu apa-apa dan tidak berjumpa dengan siapa-siapa selain khayalan saya sendiri. Tetapi ada pertanyaan yang melempari wajah saya, mungkin dari batin saya sendiri: “Apakah bangsamu tahu persis Bung Karno kalian itu anak siapa, juga Soeharto, lahir di mana, Bu Mega dan Mbak Tutut itu putri siapa. Juga Bambang Susilo Yudhoyono, Jokowi dan Budi Gunawan. Yang saudara sedarah dengan Soeharto itu Probodutejo ataukah Sudwikatmono?”

Kemudian kami turun dan mencari warung bakmi godog. Sejumlah penduduk setempat menyapa: “Cak kok lama ndak ke sini?”. Padahal baru pertama kali malam itu saya ke sini. Ketika turun ke Solo, saya menerima SMS yang isinya menyatakan terimakasih atas pengajian saya, karena ia dan ribuan mssyarakat dari wilayahnya tadi ikut datang mendengarkan Maiyahan saya di Pesanggrahan Cetho. Padahal saya duduk berjam-jam sampai pegel-pegel kaki saya.

https://www.caknun.com/2021/para-pemimpin-kita-penuh-tanggung-jawab/

 

Berlangganan RSS feed