Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Where to Put My Hands in Prayer?

Question:

Where should a praying person put my hands in prayer?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- While standing in Prayer, one should basically place his right hand over his left forearm.

2- Scholars have different views as to where to place both hands. Most reports from the Prophet recommend placing both hands on the chest.


Answering your question about placing hands in prayer, Dr. Muhammad Salama, PhD, Islamic Studies in English, Associate Professor at the Faculty of Islamic Sciences al-Madinah International University (Mediu), states: 

While standing in Prayer, one should basically place his right hand over his left forearm. Sahl ibn Sad, one of the Prophet Muhammad’s Companions, is reported to have said, “People were commanded that a man should place his right hand over his left forearm in Prayer.” (Al-Bukhari)

Authentic reports that describe the Prayer of Prophet Muhammad (peace be upon him) prove that he used to place his right hand over the left one. The majority of scholars, thus, consider this as one of the recommendable acts in Prayer.

Nevertheless, scholars have different views as to where to place both hands- above or below the belly button or on the chest?

Each of the three positions finds favor with a group of jurists who support their opinion with a report attributed to the Messenger of Allah.

But all the reports in this regard proved to be of doubtful authenticity, though the collectivity of the reports that attest to placing both hands on the chest gives this opinion more weight over the others.

Almighty Allah knows best.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/where-to-put-my-hands-in-prayer/

 

Rusaknya Hati Nusibah Terbesar Orang Beriman

MAMHTROSO.COM -- Rusaknya hati merupakan musibah terbesar bagi orang yang beriman. Sebab, rusaknya hati akan merusak semua kebaikan yang telah kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu, yaitu hati" (HR Bukhori).

Oleh karena itu, wajib bagi kita menjaga hati agar tetap baik dan berupaya mengobatinya bila rusak. "Obatilah hatimu karena kebutuhan Allah kepada hamba-Nya terletak pada baiknya hati" (Hilyah Auliya 2/157, lihat Ma'alim fi Suluk wa Tazkiyah Nufus hal 70).

Salah satu cara agar hati kita tidak rusak adalah dengan mencari tahu perkara-perkara yang bisa merusak hati. Karena, bagaimana kita bisa menghindari hal-hal yang merusak hati jika kita tidak mengetahui perkara-perkara yang bisa merusaknya?

Dalam kitab Nashaihul 'Ibad karya Ibnu Hajar Al Asqolani disebutkan bahwa Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Rusaknya hati itu disebabkan oleh enam hal; sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak tobatnya diterima, mempunyai ilmu, tapi tidak mengamalkannya, beramal tapi tidak ikhlas, memakan rezeki dari Allah SWT, tapi tidak bersyukur, tidak ridha dengan pemberian Allah SWT, dan menguburkan jenazah, tapi tidak mengambil pelajaran darinya."

Semua perbuatan itu menjadi perusak hati karena orang yang berbuat dosa dengan harapan tobat yang akan dilakukannya kelak akan diterima oleh Allah akan menjadikan hatinya semakin hitam karena ia hanyut dalam kubangan dosa.

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Namun, jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka" (QS al-Muthaffifin: 4) (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Begitu pula dengan orang yang memiliki ilmu, tetapi meninggalkan amal akan menjadikan hatinya diliputi dengan kesombongan. Rasulullah SAW Bersabda: "Bahaya mengerti adalah sombong." Adapun beramal, tapi tidak ikhlas bisa menjadi perusak hati karena ketidakikhlasan akan menyebabkan dirinya dirasuki kemusyrikan baik khofi maupun jali.

Begitu pula dengan memakan rezeki Allah, tapi tidak besyukur, ia akan menjadikan hati kita ingkar nikmat. Allah SWT berfirman, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS 14: 7). Sementara, tidak ridha dengan pembagian Allah akan merusak hati karena perbuatan tersebut akan menjadikan dirinya buruk sangka kepada Allah SWT. Dan ketidakmampuan mengambil pelajaran dari kematian seseorang akan menjadikan hatinya keras membatu.

Semoga kita semua diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk bisa menjaga hati kita dari sesuatu yang bisa merusaknya dan Allah SWT menetapkan hati kita ada dalam agamanya. "Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu" (HR Tirmidzi). Amin. Wallahu a'lam. 

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1shij313/rusaknya-hati-nusibah-terbesar-orang-beriman

Makna Surga di Telapak Kaki Ibu

MAMHTROSO.COM -- Seorang ibu memiliki jasa yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun kepada anaknya. Lantas, bagaimana anak bisa membalas kasih ibu, meski hanya seujung kuku?

Keutamaan ibu bahkan tersampaikan di salah satu hadist Rasulullah: "Aljannatu tahta aqdamil-ummahat,". Yang artinya: "Surga terletak di bawah kaki ibu."

Adapun perawi-perawi yang meriwayatkan hadist itu antara lain Imam Abu Bakar Asy-Syafi’i di dalam kitab ‘Ar-Ruba’iyyat, Imam Abu Asy-Syaikh di dalam kitab Al-Fawaid, Imam Al-Qudha’i di dalam kitab Musnad Asy-Syihab, dan Imam Ad-Daulabi dari jalur sahabat Anas bin Malik. Begitu pula dengan Imam Al-Khathib meriwayatkannya di dalam kitab Al-Jami’ Li Akhlaq Ar-Rawi dan Imam Suyuthi di dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir.

Masih terdapat beberapa perawi hadis yang juga meriwayatkan tentang hadis tersebut menurut para ulama dan sejumlah pakar. Salah satu perawi yang disinggung adalah Manshur dan Abu An-Nadhr yang tak diketahui identitasnya. Akibat ketiadaan informasi mengenai dua perawi tersebut, hadis ini secara sanad dihukumi hadis dhaif (lemah).

Namun secara esensi, makna hadis ini dihukumi shahih. Apalagi terdapat hadis-hadis pendukung tentang pentingnya berbakti kepada ibu dari sejumlah perawi hadis yang kredibel dan terpercaya.

Begitu landasan anjuran berbakti kepada ibu telah kuat, para anak pun tak luput dari ganjaran pahala jika berbakti. Imam Hasan Al-Bashri bahkan pernah memberikan predikat pahala lebih tinggi membahagiakan ibu oleh anak, dari pahala melaksanakan ibadah haji yang sunnah.

Hal itu sebagaimana yang dijabarkan dalam kitab Athayib Al Jana. Saat itu Hisyam bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri ketika dirinya gamang memilih antara belajar Alquran dan di saat bersamaan sang ibu menunggunya untum makan bersama. Hal ini kemudian dikonsultasikan Hisyam kepada Imam Hasan Al-Bashri.

Maka, beliau pun menjawab: "Makanlah bersama ibumu, sesungguhnya membahagiakan hati ibumu itu lebih utama daripada (pahala) haji yang sunnah."

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1tt52282/makna-surga-di-telapak-kaki-ibu

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

Konferensi Internasional Ilmu Fikih Bahas Masalah Air

MAMHTROSO.COM -- Konferensi Internasional Ilmu Fikih ke-15 bertema "Fikih Air dalam Perspektif Hukum Syariat, Peradaban dan Problematika Kontemporer" digelar di Oman pada 1 - 3 Desember 2019. Konferensi ini dinilai sangat penting sebagai respon terhadap perkembangan masalah-masalah fikih khususnya yang berkaitan dengan air.

"Umat Islam membutuhkan penelitian yang mencerahkan dan berkelanjutan tentang berbagai isu kontemporer sehingga dari sini diharapkan hukum fikih mengalami perkembangan, karena pada setiap zaman akan selalu ada masalah yang berkembang," kata Mufti Besar Kesultanan Oman, Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili dilansir dari kantor berita pemerintah Oman (ONA), Selasa (3/12).

Menurut Syekh Al-Khalili, yurispudensi fikih memungkinkan adanya perkembangan karena dalam fikih ada kaidah-kaidah global yang mencakup berbagai rincian yang berkaitan dengan berbagai persoalan. Umat Islam sangat butuh terhadap penelitian berkelanjutan tentang hal ini.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan penting yang selalu mengalami perkembangan adalah masalah air. Air juga merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan. Syekh Al-Khalili juga menekankan pentingnya konservasi air dan tidak boros dalam menggunakan air.

Menurutnya, sikap hemat dapat menjamin kelestarian sumber daya air sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Karena air merupakan nikmat dan rahmat Allah yang harus disyukuri.

"Berbagai penelitian telah diungkap untuk menjelaskan tentang nikmat yang agung ini serta pentingnya melakukan pelestarian air, sebagaimana telah dilakukan sejak berabad-abad lalu," jelasnya.

Ketua Panitia Konferensi Internasional Ilmu Fikih ke-15, Syekh Abdul Rahman bin Sulaiman Al-Sami mengatakan, konferensi ini merupakan forum peningkatan kapasitas keilmuan dalam bidang fikih. Ini merupakan forum ilmiah dalam bidang fikih yang dinantikan oleh para fuqaha atau ahli fikih dari berbagai penjuru negeri. Karena konferensi fikih ini merupakan ajang untuk saling bertukar ilmu dan berdiskusi.

Pejabat Kementrian Wakaf dan Urusan Agama ini juga mengungkapkan bahwa tema konferensi ini merupakan masalah klasik tapi tetap relevan untuk dikaji dan diteliti. "Ini termasuk tema klasik jika ditinjau dari ilmu fikih dalam berbagai aspek dan dimensinya yang berbeda-beda, namun tergolong baru dan tetap relevan karena perhatian terhadap persoalan ini terus berkembang," ujarnya.

Syekh Abdul Rahman mencontohkan, salah satu penemuan dan inovasi terbaru dalam penyulingan air laut melalui proses tahliyah (penyulingan). Menurutnya hal ini menjadi solusi dalam mengatasi problem krisis air. "Kami memiliki solusi baru dalam mengatasi persoalan-persoalan kontemporer seperti krisis air, ketidakseimbangan iklim, pengangguran dan krisis moral," ujarnya.

Konferensi Internasional Ilmu Fikih ini terdiri dari 14 sesi dengan delapan pembahasan hukum Islam yang berkaitan dengan masalah air dan problematikanya dalam tinjauan fikih, fatwa-fatwa, dan aplikasinya. Semua berdasarkan literatur Islam klasik (turats Islami) serta telaah tentang hukum masalah air kontemporer dan hukum yang berkenaan dengan air laut.

Dalam konferensi ini, rencananya akan dipresentasikan sejumlah 57 makalah. Sejumlah peserta akan diminta berpartisipasi menyampaikan makalah-makalah tersebut. Mereka adalah para ulama dan intelektual yang berasal dari berbagai negara. Termasuk Kesultanan Oman yang menjadi tuan rumah.

Konferensi ini dihadiri oleh para ulama, ilmuwan, dan intelektual Islam dari berbagai negeri Islam termasuk dari Indonesia. Peserta dari Indonesia adalah KH Muhammad Zaitun Rasmin yang juga sebagai Wakil Sekretaris Jenderal MUI. Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini juga menjadi pembicara yang menyampaikan makalah berjudul 'Akad-akad yang berkaitan dengan air'.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1y7ih313/konferensi-internasional-ilmu-fikih-bahas-masalah-air

 

Berlangganan RSS feed