Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Inilah Tantangan Mualaf dalam Berdakwah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Itu disadari betul oleh Syamsul Arifin Nababan sebelum mendirikan Pesantren Pembinaan Muafal Annaba.

"Yang namanya terjun di dunia dakwah, segala sesuatunya tentu tidak akan mulus-mulus. Semua Nabi mengalami hal yang sama," ujarnya kepada Republika.co.id, akhir pekan lalu.

Kondisi itu tak lantas menyurutkan langkahnya. Nababan meyakini keberuntungan yang dijanjikan Allah bagi siapa saja yang sungguh-sungguh dalam berjuang dan berkorban.

Ketika anda memutuskan masuk dunia dakwah anda akan mengalami cobaan yang berat. Saya sebagai orang yang berlatar belakang mualaf, menjadi dai, tentu lebih berat lagi tantangannya,” ujarnya.

Nababan menjelaskan para mualaf seperti dirinya yang segera terpanggil untuk berdakwah akan menghadapi dua tantangan yakni tantangan internal dan eksternal. Tantangan ekstrenal, kata dia, ada semacam kecurigaan  dari pemuka agama yang sebelumnya dianut bahwa umatnya yang dahulu akan menjadi ancaman.

“Bagi mualaf yang berdakwah, yang saya rsakan bobot tantangan sangat tinggi karena tahu seluk beluk agama sebelumnya sehingga kadang dipandang ancaman dari agama sebelumnya,” kata dia.

Secara internal, setiap mualaf yang berdakwah akan menghadapi prasangka negatif. Prasangka itu menurut Nababan muncul dengan mengacu pada kisah Snouck Hurgronje, islamologi asal Belanda yang menghancurkan umat Islam  lantaran  berpura-pura memeluk Islam.

Jadi, kata Nababan, ada semacam trauma yang akhirnya menyebabkan prasangka buruk kepada mualaf yang hendak berdakwah.  “Secara internal, cobaan yang kita hadapi adalah satu atau dua  Muslim yang mencurigai saya menyusup dalam umat Islam untuk merusak Islam,” ungkap dia.

Selama berdakwah, Nababan pun tak luput dari merasakan vonis prasangka itu. Namun,  tuduhan itu bukannya membuat dia kendur dalam berdakwah melainkan menjadi pelecut guna memperlihatkan kematangan komitmennya dalam berdakwah.

"Prasangka itu justru membuat saya begitu bersemangat untuk memperlihatkan komitmen dalam agama Islam. Ia mengaku tak terlalu khawatir dengan tantangan eksternal yang ia hadapi. "Yang penting, kita jangan sampai menyinggung agama lain, kita harus bijaksana," ujarnya Seperti dalam Alquran, ajakalah manusia ke dalam Islam dengan cara yang bijaksana."

Sumber: http://www.republika.co.id/

Membina Mualaf, Perlu Pahami Psikologis & Berkorban Waktu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pembinaan mualaf yang kurang optimal ditenggarai akibat perhatian umat Islam yang kurang, selain itu juga disebabkan minimnya inovasi atau pembaruan teknik dalam berdakwah dikalangan pembina.“Kalau kita lihat., sangat sedikit masjid dan ormas Islam yang peduli dengan para mualaf terutama dalam aspek pembinaannya," Papar pendiri Pesantren Pembinaan Muallaf Annaba Center, Syamsul Arifin Nababan, kepada Republika.co.id, pekan lalu

Minimnya inovasi itu juga tidak terlepas dari kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni untuk membangun fondasi keimanan yang dibutuhkan para mualaf. Karena itu, lanjut Syamsul sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk terus menyisihkan waktu dan pikiran untuk membuat semacam gebrakan dalam pembinaan mualaf di tanah air. "Pada dasarnya, masjid ataupun ormas Islam tidak tahu teknik-teknik cara pembinaan mualaf,”

Menurut dia, pembinaan  mualaf  yang selama ini berjalan kurang greget lantaran secara psikologis dibina oleh sosok yang bukan mualaf. "Maksudnya, pembinaan yang berlangsung tidak mengena pada persoalan psikologis yang dialami para mualaf lantaran pembina tidak pernah merasakan nasib yang sama. “Saya kira, yang tepat membina mualaf adalah orang-orang yang dahulunya mualaf. Karena merasa senasib, tahu psikologis para mualaf,” kata dia,.

Jadi, menurut Nababan, bukan masalah bila pembina datang dari para dai yang lahir sebagai Muslim."Tidak masalah mereka dibina oleh siapapun. Namun rasanya kurang pas saja," kata dia. Pasalnya secara kejiwaan mereka, imbuh Syamsul, pembina jadi tidak bisa menyentuh apa yang dirasakan para mualaf.

Namun, kata Nababan,ketika pembinaan mualaf dijalankan oleh golongan mualaf maka pembinaan akan terbentur pada masalah keterbatasan sumber daya manusia. Pasalnya tak banyak mualaf yang telah paham seluk beluk Islam terutama dasar-dasar Islam.

Tidak sedikit pula para mualaf yang memutuskan masuk Islam tidak mengislamkan diri secara kaffah atau menyeluruh. “ Karena itu, saat saya membina para mualaf, maka yang saya lakukan adalah mengajak mereka menggugurkan sisa-sisa kepercayaan mualaf terdahulu. Kemudian meminta mereka menanggalkan secara total, lalu menerima Islam secara penuh,” kata dia,

Persoalan lain menurut Nababan yang tak kalah mendesak adalah pola pembinaan. Dia menilai, pembinaan mualaf yang berjalan umumnya berlangsung secara insidentil, parsial dan musiman. Padahal pola seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Pada intinya, kata dia, mempelajari Islam membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang untuk mencetak fondasi awal yang kuat dan kokoh. Jadi, ketika pembinaan diberlakukan tidak berkesinambungan maka optimalisasi hasil pembinaan tidak akan tercapai.


Guna mewujudkan pola pembinaan mualaf yang optimal, Nababan menyatakan butuh pengorbanan banyak hal seperti materi, waktu, dan pikiran. Disamping itu, sangat diperlukan keseriusan, kesungguhan, konsentrasi dan kesabaran antara pembina dan yang dibina agar mencapai hasil yang diharapkan. “ Jadi, bagaimana mungkin bisa total bila tidak ada pengorbanan. Kalau hanya selama seminggu sekali tidak akan berhasil,” tegasnya

Sumber: http://www.republika.co.id/

Mualaf Camila Lif: Berislam Bukan Tentang Agama yang Lain Lebih Buruk

Camila Lee (kanan)REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM - Tiga mualaf Swedia, Iman Monica Granath, (22), Meryem Connie Sahin (27), dan Camilla Lif (25) diwawancara bersama di sebuah radio nasional. Bagi publik Swedia kebanyakan, pilihan mereka untuk berislam dan kemudian mengenakan jilbab adalah hal yang paling kontroversial yang dilakukan di Swedia.

Reporter senior Swedia, Annika Sundbaum-Melin, bertemu tiga gadis itu untuk menjawab rasa ingin tahu publik Swedia, dan wawancara keduanya disiapkan di radio dan dimuat di koran-koran nasional beberapa waktu lalu. Tiga pertanyaan sama, menghasilkan jawaban berbeda. Berikut jawaban Camila Lif, tentang pilihannya berislam:

Kapan Anda masuk Islam?

Saya sudah menjadi seorang Muslim selama lima tahun. Orang tua saya adalah ateis, hal yang diwariskan pada saya sampai saya berumur 18 tahun. Setelah itu,   saya mulai tertarik dengan Islam, dan mempelajarinya. Pilihan saya pada Islam bukan karena agama lain lebih buruk, tapi karena Islamlah yang pas dengan hati saya.

Saya tahu beberapa Muslim yang tidak memakai jilbab, mengapa Anda melakukannya (mengenakan jilbab)?

Mengenakan jilbab tidak instan bagi saya; begitu berislam saat itu pula berjilbab. Satu tahun setelah memeluk Islam, saya masih belum berjilbab. Saya lebih fokus pada membenahi iman saya, batin saya. Tapi kemudian ketika saya makin banyak belajar, semakin saya ingin berbuat lebih banyak demi Allah. Maka saya berjilbab.

Bagi saya -- ini tak disebutkan dalam fikih Islam -- berjilbab banyak untungnya, tak sekadar pakaian, tapi juga pelindung rambut dan kulit. Anda tahu, itulah mengapa prevalensi kanker kulit di antara kami rendah. Perintah Tuhan selalu menguntungkan kita.

Apakah Anda mendapatkan pekerjaan ketika Anda memakai kerudung?

Aku menjadi tenaga paramedis, dan sejauh ini tak ada masalah. Saya tak pernah aneh-aneh dalam berpakaian. Syal ini sangat menolong saya.

Sikap Anda terhadap umat lain berubah setelah menjadi Muslim?


Tentu tidak. Faktanya adalah bahwa Islam, Yahudi, dan Kristen berdekatan, berasal dari satu rumpun yang sama. Kami percaya pada para nabi. Nabi mereka, ada disebutkan dalam kitab suci saya.

Saya tak pernah mengunci pintu rapat-rapat bagi mereka. Bila kita bergandeng tangan, maka di luar sana tak akan ada gelandangan, atau orang yang kelaparan. Ajaran kami adalah peduli pada sesama, hal yang juga diajarkan dalam Kristen dan Yudaism.

Muslim selalu dikaitkan dengan terorisme, penyiksaan, dan penindasan. Anda tak takut?

Kekerasan terjadi di semua negara dan Anda tidak boleh lupa bahwa itu bukan Muslim sejati yang berperilaku seperti itu. Kesalahan yang dibuat media adalah bahwa mereka sebut sekelompok orang gila bagi umat Islam meskipun mereka tidak demikian. Satu Muslim digambarkan seolah-olah dia akan membunuh seluruh warga Swedia, membunuh kaum Kristen. Ini anggapan yang sungguh keji.

Bagaimana dengan perkawinan dalam Islam, yang digambarkan istri selalu tertindas?


Islam sangat adil bagi perempuan. Bila kita merasa tertindas atau terpinggirkan, jika kita diperlakukan tidak adil, jika  tidak dapat menghasilkan keturunan padahal salah satu dari pasangan menginginkan, maka ada klausul cerai dalam Islam. Hal ini jelas dalam Alquran bahwa pemaksaan tidak akan muncul dengan cara apapun.

Sumber: http://www.republika.co.id/

Denise Horsley: Saya Penari, Bolehkah Saya Memeluk Islam?

REPUBLIKA.CO.ID, Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London.

Wanita berusia 25 tahun ini lincah di atas panggung, dan sesekali berjilbab di kesehariannya. Tak ada yang menyangka, jebolan London College of Dance/Middlesex University tahun 1998 ini melalui pergulatan batin panjang sebelum memeluk Islam.

Perkenalannya dengan Islam dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia enggan menceritakan siapa yang mengenalkan pertama kali, namun peraih gelar sarjana tari dengan nilai tertinggi ini menjadi sangat ingin tahu belajar tentang Islam.

"Semakin saya membaca banyak tentang Islam, semakin saya mengakui agama ini sungguh masuk akal," katanya. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu  berjam-jam di perpustakaan Masjid Regent's Park hanya untuk membaca terjemahan Alquran.

Seperti Alkitab, Quran menyebutkan nabi, malaikat, mukjizat, perbuatan baik dan buruk, pahala dan hukuman, pertobatan dan pengampunan, surga dan neraka, Adam dan Hawa, Taurat, Injil dan banyak hal lainnya yang akrab baginya. "Namun pertanyaan yang telah berlama-lama mengendap dalam pikiran saya sejak sekolah Katolik akhirnya terjawab, tentang konsep ketuhanan," ujarnya.

Suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2009, ia memberanikan diri datang ke ruang shalat di masjid itu. "Saya memutuskan untuk menghadiri shalat Taraweh selama bulan Ramadhan. Menuju masjid, di dalam mobil saya gugup, bagaimana saya harus bershalat," ujarnya mengenang.

Ia mengamati shalat berjamaah yang sungguh menyentuh hatinya. Tekad Denise untuk menjadi Muslimah tak lagi bisa terbendung. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya, "Bisakah seorang penari menjadi Muslimah?"

Komunitas masjid menyambutnya dengan hangat. Denise pun menyatakan syahadat.

Kini, ia tetap menjadi penari, dan makin rajin belajar agama. "Keluarga saya menerima dan bahkan sangat bahagia, karena saya menemukan sesuatu yang membuat saya begitu bersemangat," ujarnya.

Ia menyatakan, citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap. "Tuhan telah menciptakan Anda dan membawa Anda dalam perjalanan hidup Anda karena suatu alasan, jadi biarkan orang melihat keindahan Islam melalui Anda," ujarnya.

Berlangganan RSS feed