Masuk

Sabar dan Syukur sebagai Pakaian (Prof. Dr. Syamruddin Nasution)

MUSIBAH dan nikmat adalah dua hal yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Keduanya silih berganti diberikan Allah kepada manusia untuk dijadikan alat ukur keimanan kepada-Nya, apakah mereka bersabar kalau mendapat musibah, atau sebaliknya bersyukur kalau mendapat nikmat. Manusia tidak bisa lepas dari dua hal itu.

Dalam menerima musibah seorang muslim diminta untuk bersabar. Adapun arti sabar adalah tabah dalam menerima apa yang ditentukan Allah Swt, serta menahan diri atas musibah yang diberikan-Nya. Dengan demikian sabar mencakup tiga hal; Pertama, sabar melaksanakan perintah Allah Swt. Kedua, sabar meninggalkan larangan-Nya. Ketiga, sabar menerima musibah yang diberikan-Nya. Dalam Alquran kata “sabar” dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 101 kali.

Sedangkan dalam menerima nikmat mesti harus bersyukur. Arti bersyukur adalah puas dan senang atas nikmat yang diberikan Allah Swt, dan hakikat syukur adalah menampakkan nikmat yang diberikan-Nya dan mempergunakannya sesuai dengan yang dikehendaki pemberi nikmat (Allah Swt). Dengan demikian syukur mencakup tiga hal pula; pertama, syukur dengan hati, artinya kepuasan hati atas anugerah-Nya. Kedua, syukur dengan lidah, artinya dengan ucapan alhamdulillah mengakui dan memuji pemberian-Nya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, artinya dengan berbuat nyata memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan pemberi anugerah. Dalam Alquran  kata “syukur” dalam berbagai bentuknya  ditemukan sebanyak  44 kali.

Betapa pentingnya sikap sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari tergambar dari sikap nabi Muhammad Saw yang selalu berdoa untuk dua hal itu, yaitu, “Allahumma ij’alni shabura waj’alni syakura” artinya, “Ya Allah jadikan aku hamba yang selalu bersabar dan jadikanlah aku hamba yang selalu bersyukur”. Hal itu berarti sabar dan syukur mesti menjadi pakaian orang beriman dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap sabar menerima musibah sambil berucap dengan lidah “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un” artinya “Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah”. Hal itu menunjukkan perlunya sikap seorang hamba menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini hanyalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah peminjam semata.

Sikap bersyukur menerima nikmat sambil mengucapkan “Alhamdulillaahi rabbil alamiin” artinya segala puji bagi Allah yang mengatur sekalian alam adalah sikap seorang mukmin apabila mendapat nikmat sebagai tanda syukur dengan lidah dengan mengakui dan memuji pemberian-Nya dan memanfaatkan anugerah yang diperolehnya sesuai dengan tujuan pemberi anugerah.

Keduanya sama-sama alat penguji bagi Allah Swt untuk mengukur keimanan manusia. Jika mereka diberi musibah dan mereka bersabar menerimanya maka mereka lulus dalam ujian Allah dan kalau mereka diberi nikmat maka mereka bersyukur mempergunakannya, juga mereka lulus dalam ujian Allah. Itulah sebabnya kedua hal itu selalu dipergantikan Allah di tengah-tengah kehidupan manusia dalam rangka senantiasa mengukur dan menguji keimanan mereka dari satu masa ke masa yang lain.

Tetapi ketika Nabi Muhammad Saw mendapat musibah tidak diminta Allah bersabar, tetapi diminta banyak mengingat nikmat Allah  untuk bersyukur. Peristiwanya terjadi ketika anak Nabi bernama Qashim ibn Muhammad meninggal dunia, hati nabi Muhammad Saw sangat bersedih, ditambah lagi sikap Abu Lahab dan kawan-kawannya yang bergembira atas meninggalnya putra beliau, dalam kondisi seperti itu, Allah Swt menurunkan wahyu kepada Nabi, surah al-Kautsar (Q.S. 108: 1-3) ayat pertama, artinya “Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu al-Kautsar”.

Di antara ulama tafsir ada yang mengatakan makna “al-Kautsar” adalah nikmat yang banyak yaitu Nabi diangkat menjadi Rasul, menjadi rahmat sekalian alam, menjadi pemimpin seluruh umat manusia, menjadi manusia yang banyak berjasa. Jadi di saat Nabi mendapat musibah diminta kepada-Nya mengingat nikmat yang banyak tersebut, supaya bersyukur. Karena bila dibanding nikmat yang banyak dengan musibah yang sedikit, tidak ada apa-apanya musibah yang sedikit itu, maka tetaplah bersyukur tidak perlu bersedih.

Dengan demikian, pada prinsipnya baik mendapat musibah yang menyakitkan maupun mendapat nikmat yang menyenangkan, orang beriman harus sama-sama bersyukur kepada Allah Swt karena pada hakikatnya, keduanya sama-sama penguji keimanan dan juga kedua-duanya  merupakan keputusan yang terbaik dari Allah Swt.

Sikap Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Allah Swt, dan menegaskan bahwa dia memperoleh nikmat semata-mata karena kemampuannya, dinilai Allah Swt kafir dan tidak mensyukuri nikmat. (Q.S, 28: 76-82). Akhirnya harta Qarun dibinasakan Allah Swt dengan cara bumi berbelah di bawah istananya dan hartanya ditelan bumi.

Maka kepada manusia sekarang, jika ada di antaranya yang mendapat sukses dalam hidup; sebagai penguasa, sebagai pedagang, sebagai teknokrat atau  yang lainnya, janganlah seperti sikap Qarun yang merasa kalau memperolehnya karena kehebatannya semata sebagai seorang profesional yang andal bukan sebagai anugerah Tuhan, supaya nasib mereka tidak sama dengan Qarun.

Sikap syukur dengan lidah adalah setelah menyadari dengan sepenuh hati bahwa nikmat yang diperoleh itu semata-mata anugerah Allah Swt muncullah rasa kagum terhadap nikmat Allah Swt dan terucapkanlah kata pujian dari lidahnya alhamdulillah, kalaulah tidak karena nikmatmu ya Allah tidak mungkin saya seperti ini.

Sikap syukur dengan perbuatan adalah menggunakan nikmat yang diperoleh sesuai dengan tujuan yang menganugerahkan atau tujuan penciptaannya, seperti Allah ciptakan malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja, maka jika manusia istirahat pada malam hari dan bekerja pada siang hari, hal itu termasuk dalam kategori mensyukuri nikmat Allah Swt. Hal lain dalam sikap syukur dengan perbuatan adalah mempergunakan nikmat yang diberikan Allah Swt untuk mengabdi kepada-Nya.

Tetapi pada dasarnya manusia tidak mampu mensyukuri nikmat Allah dengan sempurna baik dalam hati atau kalimat pujian, apalagi dalam bentuk perbuatan. Oleh sebab itu, sedikit sekali hamba Allah Swt yang pandai bersyukur. Hal itu berkali-kali ditegaskan Allah Swt dalam Alquran, antara lain, artinya “Allah mempunyai kurnia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Q.S.;2:243), ayat lain, artinya “Sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (Q.S.; 7:17). Mengapa begitu, karena hidup senang banyak melalaikan orang, maka kebanyakan mereka terlena, terbuai dan lalai di dalamnya, akhirnya lupa mensyukurinya.

Itu sebabnya Nabi Sulaiman as manusia terkaya di dunia selalu memohon pertolongan Allah Swt agar diberi kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya. Doanya diabadikan Allah Swt dalam Alquran, artinya “Wahai Tuhanku, tanamkanlah dalam hatiku agar aku selalu dapat mensyukuri nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai”.(Q.S.; 27: 19).

Juga Nabi Muhammad Saw melakukan hal yang sama, beliau berdoa, artinya “Wahai Ya Allah bantulah aku untuk mengingat-Mu, menyukuri nikmat-Mu dan beribadah dengan baik bagi-Mu” (HR Abu Daud dan Nasai). Agar kita termasuk dari hamba Allah yang mampu mensyukuri nikmatnya mari kita contoh kedua Rasul tersebut, buka Alquran surah al-Naml, (27) ayat 19, kita amalkan doanya! Wallahu a’lam bi al-shawab.

Terakhir diperbarui pada Senin, 01 Februari 2016 13:39
Lebih lanjut dalam kategori ini: Saatnya Manusia Sadar (Prof. Dr. Samsul Nizar) »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.