Masuk

10 (Sepuluh)

Tuhanku
sejak bapak ibu mulai bercinta
jauh sebelum aku ada, tahukah Engkau kekasihku
bahwa aku telah merindukan
wajah-Mu?
ibu menggendongku dengan segenap tumpahan cinta
yang lebih mahal daripada mati hidupnya
dan bapak menyusun rencana
menyediakan cita-cita.
alam
di darahku
mengalirkan sabda
tubuhku dibungkus adat
kezaliman, momok dan bayangan surga
oleh guru dan tetangga
kini, Tuhanku
sesudah besar aku nangis
diam-diam nangis
dengan cara tertawa, mabuk, gila, alpa
bahkan mendurhaka
sebab tahu kelahiran hanya ci-luk-ba
sebab kekasih yang sebenarnya
menungguku
di semesta jiwa
Tuhanku
ibu hanyalah sebuah pintu
berdinding kabur
gelap di belakangnya
dan di depan: keasingan mendera.

https://www.caknun.com/2019/10-2/

 

Lebih lanjut dalam kategori ini: « 9 (Sembilan) 11 (Sebelas) »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.