Masuk

18 (delapan belas)

Tuhanku
aku berguru kepada-Mu
di bumi yang letih
mata sejarah yang perih
menahan luka, pisau lapar manusia
yang saling tempur, saling tindih-menindih.
siapakah dulu yang memulai
menebang hutan, berebut makan
untuk hasrat yang tak pernah tuntas
siapa itu gerangan
membikin kotak dalam kotak dalam kotak
tempat yang mengucilkan
diri mereka sendiri?
Tuhanku
pohon-pohon telah tumbang, daun-daun lepas
beterbangan
segala sumber dikuras, hari depan diperas
sampah menumpuk, beraduk dengan akar busuk
bumiku, bumimu, ompong
kehidupan adalah serigala sombong
di manakah, buat Tuhan yang sederhana saja
bisa kutemukan lorong?
Tuhanku
aku berguru kepada-Mu
berabad sudah kukibarkan bendera
lambang kematianku sendiri
kutahu dalam diam-Mu Engkau marah
ya, patutlah kami diusir
dari segenap jalan-Mu
tapi buat melarikan diri, Maha-agungku
siapakah lagi yang hendak kujilat
selain lutut-Mu?

https://www.caknun.com/2019/18/

 

Lebih lanjut dalam kategori ini: « 17 (Tujuh Belas) 19 (sembilan belas) »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.