Masuk

Berjuta Peluru Nyasar dalam Kegelapan

MAMHTROSO.COM -- Seluruh dunia kalang kabut diserbu habis oleh benda amat kecil yang mereka sebut Covid-19. Dunia kedokteran dan farmasi juga sangat minimal daya perlawanannya. Sudah setengah tahun diserbu sampai hari ini belum mereka temukan “syifa” atau vaksinnya. Juga belum diproduksi teknologi media praktis yang bisa dimiliki setiap orang untuk mendeteksi secara langsung dan pragmatis apakah di suatu tempat terdapat Coronavirus atau tidak. Tidak ada alat sebesar handphone yang layarnya memperlihatkan bahwa di depan atau sekitarnya ada virus.

Semua penduduk bumi hidup dalam kegelapan. Ummat manusia harus berjalan menembus dhulmun jazimun, kegelapan mutlak. Ke manapun mereka melangkah, keberadaan penyakit itu seperti sejuta peluru nyasar yang sewaktu-waktu bisa menimpa setiap orang. Mereka harus jaga jarak, tidak berkerumun, pakai masker menutup lubang-lubang di wajahnya. Setiap orang harus menganggap dirinya dan setiap orang lainnya potensial Corona. Setiap jengkal ruang harus disanitasi. Ummat manusia sedunia kelabakan dan kalang kabut. Dan tak segolongan ahli ilmu pun bisa menolong.

Sabtu malam tgl 10 Juli di Rumah Maiyah Kadipiro dilangsungkan pertemuan dengan dr. Supriyanto Kepala RS Dr Iskak Tulungagung untuk mengungkap sejumlah pandangan dan penemuan tentang Corona yang mungkin tidak sama persis dengan pengetahuan resmi dan mainstream yang diketahui masyarakat umum saat ini.

Salah satu bentuk kalang kabut nasional kita misalnya begini. Sudah menjadi asumsi umum bahwa kalau jumlah keterpaparan Corona hanya sedikit, itu karena frekuensi testing-nya juga masih minimal. Di sisi lain, kalau keterpaparannya berjumlah besar, bisa merupakan indikator kalau ternyata alat atau teknologi yang digunakan adalah teknologi abal-abal. Misalnya dari 100 orang yang diperiksa, yang terpapar 85, yang negatif 15. Padahal faktanya mungkin sebaliknya. Bahkan ada pernyataan dari pengguna alat itu: “Mau positif berapa, mau negatif berapa?”.

Maksudnya berapa bagaimana? Itu adalah petunjuk bahwa di balik trauma global Corona ini bisa ada langkah-langkah kapitalisme, yang pada suatu posisi diperlukan pembengkakan atau pengecilan data. Dan saat ini hampir tidak mungkin dilakukan penelitian tentang Politik Corona atau Kapitalisme Corona, karena pada taraf tertentu dari informasinya, bisa rawan pidana hukum. Bahkan setiap rupiah dari Dana Nasional Corona, sangat dilindungi oleh pasal-pasal hukum: setiap sen adalah legal sejak sebelum, ketika atau sesudah diaplikasikan. Tidak ada pencurian, pencopetan, penyelewengan, perampokan, royokan, bancakan, pengutilan. Sejajar dengan fakta hukum bahwa shalat jamaah, pengajian umum, maiyahan, dan segala jenis kerumunan, adalah pelanggaran hukum.

Hari-hari ini pendapat tentang Corona bisa menjadi jauh lebih berbahaya dibanding virus Corona itu sendiri. Meskipun  secara fisik Anda lolos Corona, tapi belum tentu lulus berpendapat tentang Corona. Ancaman terhadap fisik kita bisa kecil saja, tetapi ancaman terhadap pikiran kita, jauh lebih besar.

Demikian juga Kaum Muslimin. Allah swt berfirman “Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang di dalamnya terdapat obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan tidaklah Al-Qur`an itu menambah bagi orang-orang dhalim selain kerugian” (Al-Isra` 82).

Ayat itu sudah dikasih oleh Allah 14 abad lamanya, dan sampai hari ini belum dielaborasi secara budaya maupun teknologi. Kita semua masih terkategori “orang-orang dhalim”, karena tambahan yang bertumpuk-tumpuk dan bertimbun-timbun dalam kehidupan kita adalah kerugian-kerugian. Tak hanya dalam skala individu dan keluarga, tapi juga skala Negara, nasional dan global.

Apalagi dalam situasi kegelapan itu sikap taqwa dan tawakkal berposisi destruktif dan mengganggu perikehidupan sosial. Jamaah Tabligh Malaysia akhir Februari 2020 berkumpul massal untuk pengajian, dan hasilnya adalah mereka menjadi klaster baru Coronavirus. Sementara itu Ummat Maiyah Jamaah Kenduri Cinta Jakarta tiga minggu sesudah itu, pada 13 Meret 2020 berkumpul massal juga di Taman Ismail Marzuki Jakarta, hasilnya tak terlaporkan satu orang pun yang terpapar Corona, apalagi menjadi klaster. Kalau Kenduri Cinta berpendapat bahwa mereka dibentengi oleh taqwa dan tawakkal serta menjadi fakta Al-Isra` 82 – akan menjadi terror informasi sosial, dianggap takabur dan menimbulkan kemudlaratan yang luas, bahkan bisa dipidanakan.

Al-Isra` 82 itu bahkan menyebut “obat penawar” dulu baru “rahmat” tentang peran Al-Qur`an yang ditaqwai dan ditawakkali. Meskipun Ummat Maiyah tidak punya laboratorium penelitian dengan ahli-ahli kedokteran dan farmasi untuk mengijtihadi dan menjadi mengamaliyahkan (mengaplikasikan) “syifaun” itu, tetapi fakta menunjukkan mereka tidak terpapar virus. Taqwa dan tawakkal tidak lantas dibuang dari metabolisme nilai rohaniah mereka, meskipun sangat berhati-hati untuk mengungkapkannya secara sosial dan menawarkannya sebagai metodologi atau kaifiyah kehidupan bersama.

Setiap hari dan malam kita berdoa “Bismillahilladzi la yadhurru ma’asmiHi syaiun fil ardli wala fissamai waHuwas Sami’ul ‘Alim”. Dengan nama Allah yang bersama-Nya tidak ada bahaya di langit maupun bumi dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Kalau kita berlaku dengan dasar itu, lantas kita pergi ke mana-mana semau kita tanpa mengindahkan protokol “new normal” karena teguhnya keyakinan kita – maka semua orang akan terganggu dan terteror. Doa itu seakan-akan berposisi makruh, bahkan haram. Bahkan negara dan dunia seakan-akan mengkufuri atau tidak mempercayai doa itu. 

https://www.caknun.com/2020/berjuta-peluru-nyasar-dalam-kegelapan/

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.