Masuk

Revolusi Hulu-Hilir

1. Mataair Peradaban Modern.

Mafaza, lingkar Maiyah Eropa, berlangsung sudah satu tahun. Dan untuk mentonggaki usianya, sejumlah orang tua Maiyah diminta merespons melalui video recording, termasuk saya. Tetapi mohon maaf yang tergerak adalah tangan saya untuk menulis ini.

Mafaza lahir dan tumbuh di wilayah mataair peradaban modern dunia. Beda dengan Maiyah yang lahir di lembah tersembunyi di ujung Timur. Para pelaku Maiyah Mafaza mengalami dialektika kehidupan langsung di dan dengan sawah ladang modernisme. Itu pasti membuat produk-produk ijtihad mereka untuk masa depan dunia sangat berbeda dan mestinya lebih memiliki akurasi, presisi dan kompatibiltas dibanding yang lahir dari desa Menturo atau Kadipiro.

2. Ilmu dan Iman.

Saya ingin memacu teman-teman Maiyah dan utamanya Mafaza untuk menggali dan menghimpun kemudian mengekepresikan dan (pada akhirnya) mengaktualisasikan apa saja yang mereka temukan dalam ber-Maiyah. Menimbang dan menghitung apa saja yang dikontribusikan oleh Maiyah kepada manusia, masyarakat, negara dan peradaban ummat manusia.

Misalnya, sekadar untuk memancing: selama sejarah ummat manusia belum pernah mengalami revolusi pemikiran dalam otentisitas hulu hilir kemanusiaannya. Yang terjadi adalah revolusi ambisi berkuasa, revolusi nafsu keduniaan, yang membuat manusia memacu pemikirannya – kemudian mereka menyangka bahwa itu adalah revolusi pemikiran. Maka pencapaiannya adalah kemegahan materialisme, pemanjaan hedonisme, efektivisasi kapitalisme dan industrialisme.

Hidup manusia berurusan dengan tiga hal: harta benda materiil, kekuasaan dan nilai. Skala prioritas manusia sampai tahap paling modern adalah materi, kemudian kekuasaan, adapun nilai hanya sertaan, yang diperlukan untuk pengabsahan peradabannya, yang diwujudkan menjadi berjuta-juta buku-buku prasangka terhadap kehidupan.

Maiyah merentangkan garis dari hulu hingga ke hilir kehidupan yang manusia hanya menerima ketentuannya: “Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un” sebagai mindset dalam menakar, menimbang dan mengambil keputusan dari soal mandi pagi, minum kopi, bekerja di kantor, hingga menjalani agama, bikin ideologi dan negara. Kadar berpikir atau peralatan apapun yang ada pada manusia tidak punya kemungkinan untuk membuktikan secara metodologis-empiris fakta: “Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un”. Tetapi untuk menolaknya juga tidak valid dalam pandangan ilmiah. Maka di rentangan yang tidak mungkin dipahami dan diolah dengan pengetahuan dan ilmu, penalaran akal pikiran menitipkannya kepada iman, taqwa dan tawakkal. Hal terakhir itulah yang tidak berlaku secara primer pada peradaban manusia sampai hari, meskipun secara parsial, sekunder dan sporadik: ia bukan tidak dikenal atau dipakai oleh sebagian manusia. Di rentang itulah Maiyah melakukan revolusi pandangan hidup.

3. Kemerdekaan.

Para pelaku Maiyah Mafaza tinggal di wilayah yang paling otentik dan stretegis untuk ngonceki dan nithili berbagai faktor dari peradaban dunia modern yang sejauh ini semakin cenderung menjauhkan manusia dari kemerdekaan asasinya di hadapan Tuhan, satu Subjek Abstrak yang dalam pandangan modernisme diprasangkai sebagai kegelapan kehidupan dan ilmu. Maka kekuatan-kekuatan di dunia yang mentidakkan Tuhan atau menomorduakan Tuhan belum pernah berhasil memahami apa yang dimaksud kemerdekaan dalam kehidupan manusia. Produknya adalah sistem nilai yang menyandera dan memenjarakan manusia dengan ekosistem kekuasaannya, aturan-aturan main kedaulatan-semunya, materialisme beku dan kapitalisme yang tanpa batas. Sementara kekuatan sekunder dalam peradaban dunia, yakni Agama, yang sebenarnya merupakan alat pemberi harapan dan ketenangan hidup manusia – masih juga terbukti menambahi proses pembekuan, penindihan, penindasan, penekanan, yang sejatinya justru  menambah ketidakmerdekaan manusia.

Kalimat adzan “hayya ‘ alas-shalah, hayya ‘alal-falah” menggambarkan suatu rekomendasi peradaban (hidayah, tuntunan), suatu dinamika tanpa henti selama kehidupan di dunia untuk mencapai ujung yang bernama kemerdekaan. 

Kemerdekaan bukan “manusia bebas melakukan apa saja”. Kemerdekaan bukan lawan kata dari keterbatasan atau keterikatan. Lawannya keterbatasan, adalah keluasan. Dan keterikatan justru merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan oleh hakikat hidup manusia.

Maka kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana manusia yang terikat atau mengikatkan dirinya dalam batas-batasnya masing-masing, menjalani hidup dengan kewajaran, “alamiah”, tidak ada yang menekan dan tertekan, tidak ada yang memaksa dan dipaksa, tidak ada yang menghimpit dan dihimpit. Darah tidak kotor dan mengalir lancar, otot tidak kaku-kaku dan tegang, urat saraf “sumeleh”, pikiran tidak tertekan, hati selalu mempertahankan kelembutannya, perut tidak kembung, kepala tidak puyeng, perilaku mengalir dalam kewajaran dan dengan keikhlasan. Demikian juga kewajaran dan keikhlasan itulah yang merupakan hakiki kemerdekaan warga dari suatu negara, organisasi, keluarga atau kumpulan apapun, termasuk apa saja yang dialami oleh alam dari perilaku manusia.

Manusia bisa mengalami ketenteraman jiwa selama tidur yang sejati, yang ia perlukan minimal seperempat dari waktu dalam hidupnya, apabila badannya rebah tanpa ada satu jari-jari tangannya atau ujung tumitnya yang masih membebani atau dibebani. Demikian juga istirahat otentik selama tidurnya itu manusia tidak ditekan, digerogoti atau diperkeruh oleh sesuatu hal yang ia bawa dari jaga sebelumnya. 

Yang diperlukan oleh manusia untuk memasuki ketenteraman sejati itu bukan beban ilmu, kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepercayaan, harapan dan “sumeleh” terhadap Zat Maha Abstrak yang jiwa manusia rebah total pada-Nya. Ketenteraman sejati itulah kemerdekaan yang sebenarnya, dan bukan freewill atau freedom of ini-itu yang justru sangat potensial untuk menindihnya, menghimpitnya, sehingga jauh dari kemerdekaan jiwa.

4. Men-diri-kan kemerdekaan.

Dalam Islam Tuhan pakai idiom “iqamish-shalah” atau “mendirikan shalat” – bisa kita tadabburi dengan sangka baik supaya shalat dilakukan tidak pada posisi dipaksa oleh kewajiban dan tekanan kekuasan, melainkan “didirikan”, shalat menjadi dirinya, dirinya adalah shalat.

Shalat dan (sebagai jalan utama) kebahagiaan. Manusia bisa menemukan dirinya agar ia yang bertugas menseyogyakan dirinya bahwa untuk sampai pada sikap shalat dan bahagia dengan dan dalam kewajaran dan keikhlasan, maka kurikulum utama kependidikan manusia adalah “belajar merdeka”. Semua makhluk melakukan shalat kepada Tuhan. Tuhan sendiri shalat kepada Nabi dan semua manusia. Bahasa Arabnya: yushalli, jamaknya yushalluna. Shalatnya manusia kepada Tuhan mungkin berposisi mengungkapkan rasa terima kasih atau peneguhan komitmen dan kesetiaan. Shalatnya Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw dan semua manusia pasti bukan ungkapan pengabdian atau penyembahan, melainkan mungkin pernyataan cinta yang mutlak dan permanen. Kalau Tuhan menyatakan “Innallaha wa malaikatau yushalluna ‘alan-Nabi”, sesungguhnya Allah dan para melaikatnya shalat kepada Nabi, hanya bisa didekati pengertiannya kalau pemaknaan shalatnya Allah di situ adalah pernyataan dan peneguhan cinta.

Itu sebuah contoh saja bahwa sejauh ini dinamika Maiyah memuat berbagai macam revolusi pandangan hidup, radikalitas intelektual dan spiritual maupun hubungan timbal balik antara keduanya. Maiyah mengeksplorasi kemungkinan cakrawala-cakrawala baru pandangan hidup bagi masa depan seluruh ummat manusia. Artinya, tidak hanya Kaum Muslimin atau kelompok-kelompok sosio-antropologis-historis lainnya di abad 20-21. Maiyah menawarkan jawaban dan solusi baru untuk hati manusia, untuk alam pikiran manusia, untuk psikologi dan mentalitasnya, serta untuk keseluruhan perilaku budaya dan peradabannya.

Akan tetapi tahap kontribusi Maiyah baru tahap “ayat”. Tanda-tanda. Pintu-pintu masuk. Kunci-kunci. Maiyah membutuhkan Ulul Albab, Ulul Abshar dan Ulun Nuha, kerja keras intelektual, prakarsa penerjemahan, penafsiran, pentadabburan, untuk social-delivery secara nasional maupun global. Pekerja-pekerja ilmu dan pengetahuan Maiyah, dan mestinya Mafaza adalah salah satu andalan utamanya – bisa melahirkan The True Renaissance alias Islam (penyelamatan dalam segala lingkup maknanya). Anak-anak Maiyah mendidik diri menjadi Muthahharun, manusia-manusia yang mencerahkan dirinya terus-menerus. Manusia-manusia Salih (orang yang secara dinamis memperbaiki diri terus menerus). Kitab AlQur`an mengandung prinsip “La yamassuhu illal Muthahharun”. Tidak menyentuhnya kecuali manusia yang sudah tercerahkan. Selama ini dimaknai secara teknis bahwa kalau belum sesuci atau berwudlu, seseorangan dilarang menyentuh Al-Qur`an. Maiyah memaknainya: kalau jiwamu, sistem berpikirmu, pandangan hidupmu, kesadaran sangkan-paranmu belum mencapai kejernihan, kecerahan, presisi dan ketepatan – maka Al-Qur`an hanya berperan sebagai ayat-ayat (tanda-tanda), tanpa manusia memperoleh akses untuk mengejar dan mendalami semesta makna di baliknya, atau sesudah pintu atau tanda (ayat) itu dimasuki.

5. Meng-alam-i Kemerdekaan.

Itulah sebabnya Maiyah menggelar “Sinau Bareng”. Sederhananya mungkin agar kalau manusia mandi pagi dan sore – itu tidak karena undang-undang Negara atau syariat Agama. Mandi, makan, nikah dan berkeluarga, tidak menyakiti sesama makhluk, merawat alam, bekerja keras untuk merawat hidup melewati waktu, tidak berpikir curang, berbuat adil, saling menyayangi sesama pelaku kehidupan – itu semua dilakukan karena keputusan hati nurani dan pertimbangan akal yang diproses menjadi kebijaksanaan hidup. 

Anjuran Tuhan adalah “ajaklah manusia dengan kebijaksanaan”. Tuhan sendiri sangat memerdekakan manusia. “Faman sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”. Bagi yang mau “bergabung” dengan-Nya, bergabunglah. Bagi yang membangkang, membangkanglah. Selama berabad-abad hidupnya, manusia sudah memilih satu di antara tawaran kemerdekaan dari Tuhan itu. Masalahnya, yang bergabung maupun yang membangkang tidak lantas mendapatkan apalagi mengalami kemerdekaan. Ummat manusia tidak meng-alam-i kemerdekaan, sebab dan akibatnya adalah manusia tidak kunjung memahami kemerdekaan. Yang dieksplorasi sebagai nilai oleh manusia selalu dalam lingkup ketamakan harta benda dan kekuasaan. Manusia sangat pandai untuk rakus, jahat dan kejam. Tetapi sangat bodoh untuk belajar merdeka.

Tuhan sendiri tidak pernah memerintahkan kepada manusia, misalnya, agar menjaga kebersihan, dalam segala konteks dan skalanya. Yang dilakukan oleh Tuhan adalah membekali manusia dengan akal pikiran dan hati nurani, sehingga soal kebersihan cukup dicapai oleh manusia dengan bekal itu. Tidak perlu ada Syariat untuk membersihkan badan, rumah, kampung dan negara. Juga tidak perlu ada undang-undang negara agar warganegara berbuat wajar, bersih dan ikhlas – sepanjang mereka mengaktivasikan akal dan hati nuraninya. Bahkan Tuhan tidak mengandalkan perintah-Nya untuk mendorong manusia agar beribadah, karena dengan akal dan nuraninya sudah sangat cukup bagi manusia untuk mempertimbangkan ia perlu berterima kasih atau tidak kepada Penciptanya.

Kalau Kepala Kantor, Pemimpin Negara atau Kepala Keluarga bisa memastikan bahwa perintah dan aturan-aturan di lingkupnya pasti dipatuhi dan dijalankan, dan ada sanksi terhadap setiap pelanggarnya – apalagi Tuhan. Kalau Tuhan perintah ini itu, dan manusia melanggar, pasti mutlak akibat yang ditanggung oleh pelanggarnya. Kalau ternyata kehidupan ummat manusia di dunia dipenuhi oleh pelanggaran kepada-Nya, dari soal teologi hingga akhlak dan budaya, lantas semua bisa berlangsung aman-aman saja – kelak baru ada sanksi di Neraka atau Sorga – kemungkinannya karena Tuhan Maha Pemurah dan Maha Mengalah, atau Tuhan sebenarnya lemah, atau sejatinya Tuhan tidak pernah memerintah. Tuhan hanya memberi informasi dan tuntunan. Tuhan, dengan Kitab Suci atau dengan jutaan cara lain, hanya memberi “hidayah” kepada manusia. “Hudan linnas”. Jadi ada akses langsung antara setiap dan semua manusia dengan Tuhan. Kemudian baru ada kualifikasi intrinsiknya manusia: “hudan limuttaqin” atau “hudan lilmu` minin”. Petunjuk bagi yang beriman dan bertaqwa.Dan itu ranah ilmu yang luar biasa luas dan dinamisnya, sehingga jangan ada satu orang yang menekan orang lain dengan pendapatnya tentang iman dan taqwa.

Itu pun harus disadari bahwa klaim Tuhan bukan “hudan lil’ ulama”. petunjuk (hanya) bagi kaum Ulama dan Cerdik Pandai – sebagaimana praktik budaya Kaum Muslimin yang sangat dihegemoni oleh Kaum Ulama sehingga mengikis kemerdekaan dan menghalang-halangi posisi ummatnya sebagai manusia yang otentik tiap saat berhadap-hadapan dengan Tuhan. Hubungan, pergaulan dan silaturahmi manusia dengan Tuhan, sejatinya tidak memerlukan makelar-makelar. Andaikan Al-Qur`an adalah teks akademis seperti Disertasi atau Tesis berbahasa Arab, maka pembaca perlu makelar yang menguasai Bahasa Arab. Tetapi Al-Qur`an adalah hidayah atau petunjuk, dari Tuhan pula, sehingga wilayah dan mekanismenya sama sekali tidak bisa dibatasi oleh bahasa atau dipersempit oleh kata.

Dan karena segala bidang kehidupan manusia dikuasai oleh makelar-makelar, maka semua bidang yang mereka lakukan lebih menghasilkan penjara dan penindasan, dibanding Islam (liberation) dan kemerdekaan. Ummat manusia yang sudah sangat modern sekarang ini justru kurang meng-alam-i kemerdekaan. Kemerdekaan tidak menjadi alam kehidupan mereka.

Di dalam tradisi Maiyah dikenal idiom “belajar untuk berdaulat”. Saya merentangkannya ke kepanjangan dan keluasan di depan: “belajar untuk merdeka”. Kita mengalami bagaimana peradaban manusia sudah mendirikan dan menggunakan banyak alat-alat kehidupan tetapi hasilnya adalah menambah ketidakmerdekaan. Kita bikin negara, hasilnya menambah ketidakmerdekaan warganya. Kita sudah merekrut agama, produknya adalah menambah ketidakmerdekaan pemeluknya. Kita sudah pentaskan ideologi, beragam-ragam pemikiran, kita terbitkan berjuta-juta buku, bikin ribuan organisasi dan perkumpulan, arahnya membias bahkan berbalik dari cita-cita manusia untuk merdeka.

6. Karier dan Kebesaran

Anak-anak dan saudara-saudara saya di sejumlah tempat di Eropa mengejutkan dan menggembirakan saya karena melingkar bermaiyah — entah apa yang menarik atau mendorong mereka. Sebagian dari mereka adalah sahabat-sahabat saya di era 1980-an, sehingga saya tahu dan meyakini mereka melingkar tidak karena digerakkan oleh obsesi “karier dan kebesaran” (yang Maiyah tersenyum-senyum atasnya) atau oleh hal-hal sebagaimana kebanyakan orang bergerak untuk lebih “maju”, lebih “sejahtera” atau lebih “berkuasa”. Saudara-saudara saya itu “sudah selesai dengan dirinya”, sudah tuntas dengan pamrih hidup dan kebahagiaannya. Sudah tidak takjub kepada berbagai hal yang mempesona di dunia sehingga tidak pula mereka mengajar-ngejarnya, sendiri atau bersama.

Kalaupun mereka melingkar karena sama-sama gelisah, sama-sama cemas atas keadaan dunia dan manusia, ada sangat banyak pertanyaan tentang manusia, bangsa, ummat, negara dan dunia, sehingga mereka berkumpul untuk mengembarai cakrawala dengan mataair jawabannya. Meskipun sebagian mereka dulu aktivis tidak hanya PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) tapi juga PI (Perhimpunan Indonesia) sebagaimana Bung Karno dan Bung Hatta pada zamannya, tidak berarti mereka beraspirasi sama dibanding para pendahulunya. Di antara kekuasaan, harta benda dan nilai, Maiyah sepenuhnya membuka pintu bagi kedaulatan hidup mereka – tetapi hanya mereka sendiri yang tahu ke mana masa depan yang mereka tempuh. Apakah pada skala keluarga dan kekerabatan yang dengan Maiyah mereka atmosferi menjadi lebih tenteram, seimbang, merdeka dan berdaulat – ataukah alam membawa mereka ke skala lebih besar dan nasional dari patriotisme kemanusiaan dan kebangsaan mereka.

Yogya 2 Agustus 2020.

https://www.caknun.com/2020/revolusi-hulu-hilir/

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.