Masuk

Kepada Siapa Saja Presiden Indonesia

MAMHTROSO.COM -- Siapa saja di antara semua rakyat atau warganegara Indonesia. Yang berhajat ingin menjadi Presiden. Yang mungkin menjadi Presiden. Atau yang sudah menjadi Presiden. Atau yang akan menjadi Presiden. Terutama yang sedang menjadi Presiden.

Saya mohon legawa hati beliau untuk membentuk satu tim pelacakan sejarah. Yang terdiri dari para sejarawan. Semua orang yang punya akses terhadap informasi tentang fakta-fakta di sekitar Kemerdekaan RI 1945. Yang berada di sekitar keluarga Bung Karno. Yang memiliki pengetahuan tentang simpanan kekayaan NKRI. Yang mengetahui asal-usul kekayaan itu. Siapa yang memegang otoritas atas kekayaan itu. Di mana kekayaan itu disimpan. Kalau di dalam negeri di mana saja. Kalau di luar negeri di mana saja. Berupa apa saja, jutaan batangan-batangan emas dan platinum, deposito di bank-bank dunia mana saja. Siapa saja yang berhak mencairkannya. Serta apa saja peta urusan yang berkaitan dengan harta kekayaan Nusantara.

Sebagaimana dulu Presiden Soeharto pernah berupaya memverifikasi persoalan ini melalui penugasan kepada Menteri Azwar Anas, namun tidak tuntas dan tidak jelas hasilnya.

Saya menuliskan ini semata-mata karena saya sungguh “percil” dalam kehidupan keduniawian. Saya naif dan dungu soal keuangan. Saya jadul dan kuno soal perbankan, bahkan sampai hari ini belum berani masuk kotak ATM apalagi menyentuh mesinnya. Saya sangat ortodoks dan radikal terhadap urusan materialisme.

Saya mengangan-angankan bangsa Indonesia bergembira dengan benar-benar bergembira. Saya mendambakan rakyat Indonesia tersenyum tulus tanpa ganjalan apapun dari kondisi negara dan pemerintahnya. Saya memimpikan seluruh penduduk Indonesia memiliki apa yang memang menjadi miliknya, menikmati segala yang memang merupakan hak kenikmatannya.

Kalau kita bangsa Nusantara ini ternyata memang miskin, tak masalah. Kita adalah bangsa yang tangguh dan sanggup bergembira dan tetap berbuat baik dalam kemelaratan. Kalau faktanya adalah “poverty”, tak apa. Tapi kalau ternyata yang terjadi dalam sejarah Indonesia adalah “impoverishment”, rekayasa-rekayasa politik pemiskinan, harus ada anak-anak kita yang bertandang mengubahnya.

Minimal hal-hal yang saya bertanya ini berangkat dari firman Tuhan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah yang berupa pembodohan kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian semua menyesal atas perbuatanmu itu.

Goal permohonan saya ini adalah: Pertama, apakah bangsa dan tanah air Indonesia ini faktanya kaya ataukah miskin. Kita ini bangsa dengan Negara melarat yang memang wajar untuk menjadi pengemis dan kehilangan harga diri di depan mata dunia. Ataukah sebenarnya kita punya simpanan kekayaan yang kita sendiri tidak mengetahuinya. Atau mengetahuinya namun tidak jelas urusan dan otoritasnya. Ataukah terjadi deretan ketidaksepakatan antara figur-figur dan pihak-pihak yang memegang otoritas, sehingga harta benda itu terbengkalai.

Siapa saja yang menjadi Presiden Indonesia saya mohon dengan sangat, demi kepastian tentang masa kini dan masa depan bangsa Indonesia, mengupayakan langkah-langkah untuk membuka gerbang misteri itu.

Sudah sangat banyak di antara rakyat Indonesia yang menjadi korban dari “bisnis fatamorgana” yang berlabel “Harta Bung Karno”, “Dana Revolusi”, “Harta Karun Nusantara” serta label-label lain yang semacam itu. Dengan modus operandi semacam penipuan yang sangat halus namun magnetik. Sangat mudah menjerat korban-korban dan menarik dana dari mereka di tengah proses tak menentu dari modus operandi itu.

Apa benar masalah ini sebenarnya yang dimaksudkan dalam teks Alinea-2 Proklamasi 1945Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”. Para sejarawan dan negarawan mohon menjelaskan kepada rakyat apakah yang dimaksud dengan “pemindahan kekuasaan dll” adalah otoritas atas harta benda itu. Kapan berlangsungnya “diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”?

Kalau ternyata masih ada “PR” bahwa ada kekuasaan yang belum dipindahkan ke tangan kedaulatan NKRI, apakah pernyataan Proklamasi di Alinea-1 itu rasional? Bahkan, apakah sah? Bahkan kalau seandainya yang dimaksud adalah pemindahan kekuasaan dari VOC/Kerajaan Belanda kepada Indonesia, bukankah seharusnya sudah berlangsung tuntas, sehingga kemerdekaan diproklamasikan?

Seluruh hamparan tanah di semua kepulauan Nusantara sebelum 1945 adalah milik para Raja dan Sultan. Apakah ada bukti tertulis di buku sejarah kita bahwa para Raja dan Sultan merelakan semua hak milik tanah mereka itu dialihkan menjadi milik NKRI? Di mana sekarang tersimpan bukti-bukti konstitusional tentang hal itu?

Bahkan kalau kemudian para Raja dan Sultan malah mensupport berdirinya NKRI dengan menyumbangkan harta benda, bergudang-gudang emas dan platinum, rekening-rekening di Bank-Bank Dunia, termasuk Kraton Ngayogyakartahadiningrat dengan Sultan Hamengkubuwono IX membiayai selama dua tahun penuh keperluan Pemerintahan NKRI hingga 1947, di luar banyak sekali tanah-tanah Kraton yang mereka hibahkan kepada NKRI: di mana harta benda itu sekarang? Disimpan di mana? Siapa yang berhak mengambil atau mencairkannya?

Para Raja dan Sultan se-Nusantara itu mengumpulkan sumbangan harta benda itu disedekahkan kepada rakyat Indonesia, kepada Pemerintah RI, ataukah kepada Bung Karno pribadi? Kenapa masyarakat umum mendengarnya sebagai “Harta Bung Karno”, atau “Dana Revolusi” (Bung Karno 1945)? Menurut prinsip konstitusi dan hukum Indonesia, siapa pemilik sah harta benda itu?

Syukur kalau tim yang dibentuk oleh Presiden Indonesia itu melacak sampai detail. Misalnya apa yang disebut dan bagaimana urusannya dengan “Yunnan Agreement” (Mr. SOEKARNO AND Mr. MAO TSE TUNG) August 1957? Yang keterangan paling atasnya adalah “On behalf People’s Republic of Indonesia, People’s Republic of China? Kalau benar itu merupakan lembar perjanjian hutang RRC, juga Amerika Serikat melalui John Fidgerald Kennedy, berapa jumlah hutangnya? Sudah dikembalikan atau belum? Kapan dikembalikan? Mana fakta administratifnya? Lebih banyak mana jumlah hutang RRC melalui Mao Tse Tung kepada Bung Karno Indonesia, dibanding jumlah hutang Indonesia melalui Presiden kita yang sekarang? Juga Amerika Serikat. Dengan atau tanpa kita mempersoalkan substansi transaksi Freeport.

Lebih afdhal lagi kalau tim Presiden bisa mengetahui persis siapa, apa, bagaimana hubungannya dengan harta benda Nusantara kita: White Spiritual Boy, account name 5525525424AM di Special Federal Reserve Board Account. No 58453022211 dan 123040AM21241 di Bank of America. 9985524112212 di Citibank. 2A987361 di Wells Fargo Bank. 8795AM2001 di JP Morgan Chase Investment. 056710526780201 di HSBC Hongkong. 34255511AM01 di Bank of China. 335413432 di Hangseng Bank. 5543333AM101 di Bank of East Asia Hk. 6689335868 di Chong Hing Bank. 3342323200001 di Dah Sing Bank. 981766511KKA331 di Wing Hang Bank. 8867655414324 di Wing Lung Bank. 68974521664551 di Banco National Ultramarino Macau. 879965421111 di Banco Delta Asia Macau. 987663251455 di Sengheng Bank. 665869985447 di Agricultural Bank of China. 6866578112 di China Citic Bank. 7781762653AM1 di China Construction Bank. 1009287710111098 di China Development Bank. 99658874452185 di ICBC Hongkong. 1229837646019 di DBS Bank Singapore. 887162625351 di UOB Bank Singapore. 339491AA2261 di OCBC Bank Singapore. 1231999122A091 di Bank of Japan. 981772673263 di Bank of Tokyo/Mitsubishi UFJ. 87677364554 di Sumitomo Mitsui Banking Coorporation. 281726535352 di BNI46. 2342998377 di Lippo Bank.

Juga tidak mungkin saya kutipkan satu persatu isi bundel setebal 44 halaman yang berisi 884 daftar rekening dalam lingkup The Committee of 300 The World Bank Group USA, yang masing-masing nomor dari 884 itu tidak hanya berisi satu rekening. Sekedar contoh, misalnya akumulasi no 34P-44512-200 sd 900 berisi US$ 600,000,000,000 per akun multiple ke 998 sehingga totalnya US$ 598,800,000,000,000.

Apakah semua itu benar? Apakah bangsa Indonesia memang punya simpanan harta sebagaimana sebagian saya tuturkan di atas? Berapa harta simpanan itu semua jumlahnya? Berapa juta ton emas? Berapa cash USD, Rupiah atau Real Brazil? Ataukah itu semua hanya fatamorgana. Hanya “halu” tetapi dikapitalisasikan di wilayah KW-4 di stratifikasi dan jaringan masyarakat kita?

Saya pribadi sudah terlalu lama tertimbun dan ketelingsut oleh tumpukan masalah dan ketidakjelasan sejarah. Sampai hari ini jangankan soal “Harta Bung Karno” atau “Dana Revolusi”, sedangkan apakah Bung Karno lahirnya di Blitar, Mojokerto ataukah Solo, sampai hari ini belum ada verifikasi historis yang memantapkan kesimpulan sejarahnya. Hal yang teknis, administratif dan elementer saja saya masih kebingungan. Jangankan lagi yang kualitatif dengan kedalaman dan keluasannya seperti Pancasila.

https://www.caknun.com/2021/kepada-siapa-saja-presiden-indonesia/

 

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.