Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Negara Ta’lih

Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomor satukan

Dua bait puisi di atas adalah puisi karya Cak Nun yang merupakan bagian ke-7 dalam puisi “Tuhan sudah sangat populer”. Puisi tersebut ketika ditulis pada tahun 1987 seolah-olah sedang mewanti-wanti masa depan. Apa yang kita alami hari ini justru sudah digambarkan tiga dekade silam dalam puisi tersebut. Peradaban kita hari ini adalah peradaban yang menomor satukan yang bukan tuhan.

Syeikh Nursamad Kamba memberi sedikit clue, bahwa salah satu asma Allah adalah Al-Mudlill; Yang Maha Menyesatkan. Maka Maha Sempurna, selain Allah adalah Yang Maha Memberi Petunjuk, Al-Hadi, Allah juga memiliki Kemaha Kuasaan untuk menyesatkan. Siapakah orang yang disesatkan oleh Allah itu? Menurut Syeikh Kamba, mereka adalah orang yang lupa diri atau abai akan pengenalan dirinya, sehingga tidak menemukan jati dirinya.

Setiap manusia lahir dengan otentisitasnya masing-masing. Dalam proses perjalanan hidupnya, ia akan bertemu manusia yang lainnya untuk saling mengenal, berbagi pengalaman dan membuat pengalaman bersama-sama. Proses bertemu dengan manusia yang lain inilah yang sangat mungkin kemudian membiaskan atau bahkan mengaburkan dirinya dari dirinya yang sejati, dari dirinya yang otentik. Ia terpapar oleh cakrawala semu kapitalisme, tidak sadar dan pada akhirnya ia lupa untuk mencari serta menemukan siapa dirinya di tengah kebersamaan. Realitas dirinya larut oleh keinginan untuk mengungguli dan melemahkan lian.

Dalam dua dekade terakhir, paska Reformasi, bangsa ini merasa bebas dari cengkraman rezim yang berkuasa selama 32 tahun setelah menggantikan orde sebelumnya. Rezim Orde Baru dirayakan keruntuhannya pada Mei 1998. Di era baru Reformasi yang digadang-gadang supaya kehadiran Negara lebih mampu dalam mencerdaskan kehidupan bangsa; mempercepat dalam Negara dalam mewujudkan kesejahteraan umum; hingga harapan atas cita-cita keadian sosial dapat segera dicapai oleh Negara. Tetapi faktanya, anasir-anasir Orde Baru sampai hari ini masih ada di lingkaran-lingkaran kepenguasaan segelintir elite atas negara. Jadi, apakah benar-benar kita sudah lepas dari Orde Baru? Ataukah memang kita telah sepakat untuk sekedar kecele dalam mengulang-ulang sejarah. Biaya mahal sejarah yang berdarah-darah malah hanya mengganti istilah Orde Baru dengan Orang Baik? Sama-sama rezim Or-Ba, bukan?

Kalau ada perempuan yang mengaku-aku dirinya cantik, justru sebenarnya dia tidak percaya diri dengan kecantikannya. Dalam khasanah jawa orang yang mengaku dirinya cantik itu disebut kemayu. Ada juga istilah keminter untuk orang yang merasa dirinya paling pintar. Padahal, orang yang benar-benar pintar tidak akan mengaku dirinya pintar. Karena sejatinya, semakin orang berilmu, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang tidak diketahui oleh dirinya. Begitupun semestinya orang-orang baik, tidaklah akan mengaku-aku dirinya baik.

Era Reformasi sering disebut sebagai era kebebasan berpendapat, padahal lebih dari itu yangsebenarnya terjadi. Dibalik jargon kebebasan berpendapat, eksistensi Negara sedang ditenggelamkan oleh gelombang besar bernama globalisasi. Arus informasi dibuka lebar-lebar. Dari yang dulunya hanya bisa diakses melalui televisi, radio dan surat kabar, hari ini informasi bisa diakses dan dipublikasikan kapan saja dan dimana saja lewat internet melalui gadget kecil yang kita genggam dan dapat dibawa kemana pun pergi. Siapapun dapat dengan mudah mendapatkan dan menyebarkan informasi, bahkan secara langsung. Dan itu bisa terjadi tanpa validisi atas informasi.

Deras arus informasi dapat membentuk pusaran-pusaran opini yang dapat memicu reaksi masyarakat yang sangat dinamis. Arah arus masyarakat yang tidak dapat diduga-duga berupa reaksi masa. Bisa saja seketika deras dan berubah arah hanya karena dipantik oleh informasi sepele yang belum tentu terverifikasi kebenarannya, namun lantas menjadi viral.

Fatal. Ketika arus informasi membanjiri tetapi tidak diimbangi dengan daya filter informasi dan kontrol reaksi oleh masyarakat. Tidak mengherankan jika kemudian hoax begitu mudah tersebar dan diyakini sebagai kebenaran yang mampu memicu reaksi masa. Terlalu banyak konflik horizontal yang bersumber dari informasi yang belum jelas kebenarannya. Di sisi lain para pemangku kepentingan bermain-main untuk menggiring emosi masa. Panggung permainan ini bukan hanya soal dinamika politik Negara, tetapi juga mengenai gaya hidup masyarakat, mengenai urusan-urusan bisnis dalam aktifitas dan rutinitas sehari-harinya, soal ketakutan-ketakutan yang diciptakan dan dibasar-besarkan, serta angan-angan harapan kemapanan berupa kesenangan-kesenangan kemewahan yang seolah harus diperjuangkan. Puncaknya, era ini menghasilkan peradaban masyarakat yang menuhankan tuhan-tuhan yang diciptakan, masyarakat yang berlarian menjauhi neraka-neraka berupa ketakutan-ketakutan yang dibuat-buat oleh diri mereka sendiri, masyarakat yang berlarian menggebu memburu nafsu atas surga-surga semu.

Mainstream. Banyak orang menganggap situasi seperti ini adalah mainstream. Tidak menyadari, bahwa situasi mainstream ini adalah situasi yang seolah mampu dibentuk dan diatur oleh segelintir kelompok elite yang merasa berkuasa atas masyarakat. Seperti yang diulas oleh Syeikh Kamba, mereka yang sedang berkuasa merasa mampu menggiring masyarakat pada satu kesepakatan yang sama. Mereka menanggalkan keniscayaan bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk kemungkinan yang tidaklah mungkin dapat diatur-atur, digiring, diarahkan dan dipermainkan dengan pasal-pasal perundang-udangan dan kekuasaan.

Hari ini, memang tidak ada orang yang berani mengaku dirinya Tuhan. Tetapi diam-diam, ada banyak orang yang sedang merasa bahwa dirinya paling berkuasa. Ada orang-orang yang diam-diam tidak mengakui eksistensi Tuhan tetapi berlindung di balik kekuasaan yang dipinjamnya melalui negara. Hakikat eksistensi Negara sebagai kesepakatan kita agar supaya Rahmat Tuhan berupa sumber daya alam terhadap Bangsa ini dapat terdistribusi seluas-luasnya untuk kemakmuran rakyat justru dimanipulasi oleh mereka untuk dimonopoli. Kekuasaan politik semu yang sedang seolah-olah digenggaman malah menjadikan mereka sebagai hamba-hamba budak kekuasaan.

Negara Ta’lih adalah Negara yang sedang mempersiapkan penduduknya untuk secara terang-terangan berani menomor satukan yang bukan Tuhan. Menihilkan peran Tuhan, mengesampingkan kekuasaan Tuhan atas dirinya. Seolah-olah belum cukup pelajaran dari Fir’aun. Padahal, se-setan setannya setan, tidak ada satupun setan yang berani mengaku dirinya Tuhan.

Wamakaruu wamakarallah wallahu khoirul maakirin. Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Tuhanku,
aku berguru kepadaMu
ajarilah bagaimana mendengarkan batu
membaca suara
menggenggam angin yang bisu

Tuhanku,
kedunguan memberiku pengertian
buta mata menganugerahi penglihatan
kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan

— Emha Ainun Nadjib, 1980

https://www.caknun.com/2019/negara-talih/

Saat Dunia Dilanda Fitnah, Begini Pesan Ali bin Abi Thalib

MAMHTROSO.COM -- Sebagai 'mata air' hikmah, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, banyak mewasiatkan kepada umat Islam akan kehidupan, baik dalam memenuhi hajat profannya (material) maupun sakralnya (akhirat).

Dalam satu kesempatan misalnya, ia bertutur soal hubungan manusia dengan Sang Khaliq. Katanya, "Barang siapa telah memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan barang siapa telah memperbaiki urusan akhiratnya, maka ia akan memperbaiki urusan dunianya."

Ali juga menganjurkan kita berpikir dan merenungkan kembali informasi yang kita terima. "Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita). Penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit." Cobaan atau fitnah di masa Khalifah Ali tak kalah hebatnya dengan fitnah-fitnah saat ini.

Agar tidak terjerumus dan terjebak dalam kubangan fitnah, kepada para sahabatnya Ali berpesan, "Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti 'ibnu labun' (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah." Begitu pun pandangannya soal manusia yang lemah.

Di mata satu-satunya khalifah Islam yang bergelar "Imam" ini, orang lemah bukan mereka yang tak berdaya menghadapi lawan, tak berharta, atau tidak memiliki kedudukan. Tapi, "Orang yang paling lemah adalah mereka yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya," ujar Ali, sebagaimana dinukilkan dari Nahj al-Balaghah.

Di bagian lain wasiatnya, Ali menegaskan, "Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Alquran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya. Pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka. Orang-orang korban fitnah dan telah bertaubat, akan dipaksa kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (tidak ikut serta dalam kafilah fitnah) akan dirayu agar bergabung dengannya. Allah berfirman: 'Demi Dzat-Ku, akan Ku-kirim untuk mereka sebuah fitnah (cobaan) besar yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung menentukan sikap.' Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kealpaan yang membuat kita tergelincir."

https://khazanah.republika.co.id/berita/pzfg35320/saat-dunia-dilanda-fitnah-begini-pesan-ali-bin-abi-thalib

 

Apa Kebahagiaan itu?

MAMHTROSO.COM -- Tema kebahagiaan (sa'adah) tak hanya dibahas dalam filsafat, tetapi juga dalam agama. Ini, karena kebahagiaan merupakan keutamaan (fadhilah) yang menjadi harapan setiap orang. Manusia sejatinya selalu merindukan kebahagiaan dan berharap terlepas dari penderitaan atau kesengsaraan (syaqawah).

Dalam tradisi masyarakat Arab, dikenal salam yang mengandung doa kebahagiaan. Bila seorang bertemu temannya, ia akan berkata kepadanya, Sa'daika (semoga Anda bahagia) atau As'adaka Allah (semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada anda).

Lantas, apa kebahagiaan itu? Filosof akhlak Ibn Maskawaih mendefinisikannya sebagai puncak kebaikan (tamam al-khairat). Yang namanya puncak (al-tamam) adalah sesuatu yang apabila kita telah mencapainya, kita tidak membutuhkan lagi yang lainnya (huwa al-ladzi idza balaghna lam nahtaj ila syai'in akhar). Jadi, di atas kebahagiaan tak ada lagi nilai (kebaikan) yang lebih tinggi.

Kebahagiaan berbeda dengan kesenangan. Akan tetapi, awas, jangan sampai kita tertipu. Sebab, kesenangan itu suka 'menyamar' sebagai kebahagiaan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan menenggak minuman keras, pil ekstasi, dan obat-obatan terlarang adalah korban dari penipuan ini.

Kebahagiaan dan kesenangan adalah dua hal yang berbeda, bahkan berlawanan arah. Karena itu, menurut al-Ghazali, kalau orang ingin bahagia, ia harus mundur atau keluar dari jalan kesenangan, menuju jalan kebahagiaan. Dalam ajaran kerohanian Islam, jalan kebahagiaan itu dinamai maqamat, yang membentang mulai dari titik start tobat, lalu asketik, diteruskan dengan sabar dan syukur, dan akhirnya mencapai finis berwujud kepuasan spiritual (rida).

Dalam satu tulisan, Ibn Sina menyebutkan bahwa kebahagiaan dibentuk oleh tiga komponen utama. Pertama, komponen kebaikan dan nilai-nilai kebenaran universal (al-khair). Kedua, komponen kegembiraan, al-farh (bukan kesenangan), yang diperoleh manakala seseorang mampu melaksanakan al-khair di atas dengan baik dan sempurna. Lalu, ketiga, komponen kedamaian dan ketenteraman batin (thuma'ninat al-nafs) yang lantas melahirkan kebahagiaan yang sangat dalam sehingga menjadi sangat personal dan tak terlukiskan dengan kata-kata.

Kebahagiaan dapat diusahakan dan dicapai di sini, dalam alam dunia ini. Tapi, puncak kebahagiaan tentu tak di sini, tetapi di akhirat kelak ketika manusia memperoleh kepastian hukum dalam mahkamah Ilahi, bahwa ia bebas dari api neraka dan beruntung mendapatkan tiket ke surga.

Inilah makna firman Allah, ''Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.'' (QS Ali Imran [3]: 185) Wallahu a'lam.

https://khazanah.republika.co.id/berita/pz9hwf313/apa-kebahagiaan-itu

3 Golongan Dikaruniai Amal dan Ilmu, Tapi Masuk Neraka

MAMHTROSO.COM -- Tiga orang menanti sidang dengan kepercayan diri yang sangat besar. Ketiganya yakin betul akan diputuskan menjadi penghuni surga. Namun, pengadilan Allah jauh berbeda dengan pengadilan manusia. Allah Mahatahu segala hal meski ukurannya sebesar zarrah. Allah pun memiliki sifat Mahaadil yang memutuskan setiap perkara tanpa zalim.

Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri dari orang-orang saleh itu justru berakhir di neraka. Mereka diseret dengan kasar ke dalam api yang membara. Apa gerangan yang terjadi? Rupanya mereka hanyalah saleh di pandangan manusia, namun tak mentauhidkan Allah dalam niat amal mereka.

Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, "Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"

Mujahid itu menjawab, "Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid," ujarnya.

Allah pun menyangkalnya, "Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian," firman-Nya. Mujahid itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahanam.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal yang sama, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?"

Sang ulama menjawab, "Saya telah membaca, mempelajari, dan mengajarkannya Alquran karena Engkau," ujarnya.

Namun Allah berfirman, "Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari," Allah mengadili. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.

Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, "Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?" firman-Nya.

Sang dermawan menjawab, "Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau," jawabnya.

Ia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. "Kau berdusta," firman Allah. "Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu," firman-Nya.

Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati.

Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun, hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Ketiganya tak pernah mengikhlaskan amalan untuk Allah, melainkan agar diakui manusia. Mereka pun berakhir di neraka dan menjadi penghuni pertama neraka.

Kisah pengadilan akhirat tersebut terdapat dalam hadis Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, an-Nasa'i, Imam Ahmad, dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadis yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim.

Di akhir hadis, Abu Hurairah bahkan membaca firman Allah yang menjadi hikmah pelajaran atas kisah tersebut. "Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan," Alquran surah Hud ayat 15-16.

https://khazanah.republika.co.id/berita/pzeycf320/3-golongan-dikaruniai-amal-dan-ilmu-tapi-masuk-neraka

Berlangganan RSS feed