Masuk

Mantan Pendeta: Naam, I'm Muslim

MAMHTROSO.COM, TEXAS -- Perenungan yang mendalam akhirnya mengantarkan Dr Jerald Dirks kepada hidayah Islam. Peristiwa penting itu terjadi ketika ia dan istrinya sedang menikmati liburan di Timur Tengah, 22 tahun yang silam.

Sebelum memutuskan menjadi Muslim, Dirks adalah seorang diaken (pendeta) Gereja Methodist Bersatu di AS. Dia meraih gelar master di bidang teologi dari Universitas Harvard, kemudian doktor di bidang psikologi dari Universitas Denver.

Selepas menjalani pendidikan seminari di Harvard, Dirks seharusnya mempunyai kesempatan besar menjadi pelayan gereja yang handal. Namun, daya intelektualnya justru mendorong laki-laki itu untuk mengkritisi kembali doktrin-doktrin gereja yang dia dapatkan di kampus.

Banyak pengetahuan sejarah agama Kristen yang diperoleh Dirks selama belajar di Harvard. Mulai dari sejarah pembentukan gereja-gereja ‘arus utama’ (Katolik dan Prostetan) yang awalnya dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik, hingga evolusi konsep ketuhanan Isa al-Masih dalam iman Kristiani.

“Saya juga menemukan fakta sejarah mengenai keberadaan gereja-gereja awal yang menolak konsep trinitas (tuhan bapak, tuhan anak, dan roh kudus). Selain itu, saya juga mendapati banyak teks Bibel yang saling bertentangan antara satu dan yang lainnya,” tutur Dirks seperti dikutip the Islamic Bulletin.

Semua itu membuat Dirks mempertanyakan kembali kebenaran dogma Kristiani yang dianutnya sejak kecil. Konsep keyakinan yang menurutnya begitu sarat dengan pengaruh paganisme, politeisme, dan pertimbangan geopolitik dari zaman dulu.

Dia pun tak menampik, banyak lulusan seminari yang kemudian enggan menjadi pelayan gereja. Itu lantaran mereka menyadari bahwa apa yang mereka yakini selama ini ternyata jauh dari kebenaran.

“Termasuk juga saya, yang lebih memilih melanjutkan studi di bidang psikologi klinis, daripada mengisi mimbar di gereja,” ujarnya.

Pada musim panas 1991, peneliti Alkitab dari Harvard University Prof Jerald F Dirks berkenalan dengan seorang Muslim Amerika bernama Jamal. Ketika itu, Dirks dan istrinya, Debra, tengah melakukan penelitian tentang sejarah kuda Arab.

Jadi, Jamal membantu keduanya menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Arab untuk kepentingan penelitian tersebut. “Kebetulan, Jamal juga seorang keturunan Arab,” imbuhnya.

Pertemuan pertama dengan Jamal berlangsung di rumah Dirks. Di situ, mereka membahas dokumen apa saja harus diterjemahkan nantinya. Sebelum pertemuan berakhir pada sore harinya, Jamal  meminta izin kepada Dirks untuk melaksanakan shalat Ashar di rumah itu.

“Waktu itu, Jamal menanyakan kepada saya apakah dia boleh menggunakan kamar mandi kami untuk mengambil wudhu. Dia juga meminjam sehelai kertas koran untuk digunakannya sebagai sajadah,” kenang Dirks.

Itu pertama kalinya Dirks dan istrinya melihat seorang Muslim melaksanakan shalat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Ketika itu, Dirks mengaku sangat terkesan dengan gerakan-gerakan shalat yang indah.

Selama 16 bulan berikutnya, frekuensi pertemuan Dirks dengan Jamal perlahan-perlahan semakin meningkat hingga menjadi dua kali setiap pekannya. Kadang-kadang Dirks juga menyempatkan diri untuk bertamu ke rumah Jamal.

“Selama kami berinteraksi, Jamal tidak pernah sekalipun bercerita tentang agama Islam. Dia juga tidak pernah menyinggung soal keyakinan saya atau membujuk saya secara lisan agar menjadi seorang Muslim,” aku Dirks.

Meskipun demikian, Dirks mulai mempelajari banyak hal tentang Jamal. Mulai dari shalat yang dia tunaikan secara teratur, hingga perilaku kesehariannya yang begitu menjunjung tinggi moral dan etika. “Saya juga kagum dengan cara Jamal bergaul dengan kedua anaknya,” kata Dirks lagi.

Belakangan, hubungan pertemanan dengan Jamal ternyata memiliki pengaruh cukup besar dalam perjalanan spiritual Dirks dan Debra. Karena dari situlah keduanya mulai termotivasi untuk membaca lebih banyak lagi literatur tentang agama Islam.

Pada penghujung 1992, Dirks mulai meyakini  bahwa Islam adalah agama yang benar. Kendati demikian, dia masih ragu-ragu untuk memutuskan menjadi seorang Muslim.

Pada Maret 1993, Dirks dan istrinya menghabiskan waktu liburan mereka selama lima pekan di Timur Tengah. Kebetulan, pada waktu itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehingga mereka mendapati umat Islam di jazirah Arab itu tengah menjalani ibadah puasa.

“Saya dan Debra pun memutuskan, kami juga akan ikut berpuasa. Saya juga mulai melaksanakan shalat lima waktu bersama teman-teman Muslim lainnya selama berada di Timur Tengah,” ungkapnya. 

Pengalaman tersebut menjadi kenangan unik bagi Dirks. Pasalnya, saat itu dia masih Kristen. Tambahan lagi, dia juga lulusan dari sekolah seminari bergengsi di Amerika. Dirks bahkan juga ditahbiskan sebagai pendeta dalam denominasi Protestan (Methodist) yang besar di negaranya itu.

“Akan tetapi, saya tidak percaya pada ketuhanan tritunggal dan keilahian Yesus. Jadi, ada semacam pergulatan intelektual ketika saya mempraktikkan ajaran Islam, sedangkan pada saat yang sama saya belum lagi menjadi seorang Muslim,” tuturnya.

Menjelang akhir liburannya yang panjang, Dirks dan Debra singgah ke Kota Amman, Yordania. Saat keduanya tengah berjalan-jalan di salah satu kawasan di kota itu, seorang pria tua dari arah yang berlawanan menyapa pasangan suami istri tersebut dengan ucapan salam.

“Assalamualaikum.”Orang asing itu lantas menatap Dirks dan menanyakan apakah dia seorang Muslim. Mendapat pertanyaan seperti itu, Dirks hanya memiliki dua pilhan jawaban, na’am (ya) atau laa (tidak).

“Alhamdulillah, saya akhirnya menjawab, na’am. Istri saya yang ketika itu masih berumur 33 tahun, juga menjadi seorang Muslimah pada waktu yang sama,” ujar mantan pendeta itu lagi.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/15/03/03/nkklqd-mantan-pendeta-emnaam-im-muslimem-1

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/15/03/03/nkkkmc-mantan-pendeta-emnaam-im-muslimem-2

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/15/03/03/nkkkr1-mantan-pendeta-emnaam-im-muslimem-3habis

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.