Masuk

Dinamis dalam Pasrah dan Polah

Salah satu sumber stres adalah adanya gap antara harapan dan kenyataan. Alumni sekolah terkenal bisa mengalami stres karena ada kesenjangan antara harapan dia sewaktu di sekolah dan kenyataan yang dihadapi setelah tamat dari sekolah.

Stres dan gap ini awalnya netral. Dalam arti bahwa keduanya belum bisa dihukumi negatif atau positif. Bahkan kalau menurut praktik hidup dan petunjuk al-Qur’an, gap dan stres adalah bagian dari kenyataan yang tak bisa dihindari.


Positif dan negatifnya akan ditentukan oleh respon. Jika kita meresponinya  sebagai dorongan untuk melaku­kan perubahan, perbaikan, atau perjuangan menuju ke­sempurnaan, maka hasilnya positif. Stres-nya disebut positive stress.

Sejumlah sekolah yang muncul untuk menawarkan solusi baru dalam dunia pendidikan lahir dari ketidakpuasan (adanya gap dengan kenyataan), ter­masuk pondok modern, sekolah ter­padu, green campus, entrepreneur goes to school, sekolah alam,  dan masih banyak lagi.

Tapi, bila kita meresponinya sebagai de-motivator (perusak motivasi), barrier (penghambat), dan killer (pembunuh energi positif),  maka respon itulah yang mengubah berat stres dari yang semula 1ons menjadi 1 ton atau negative stress.

Respon negatif terhadap stres termasuk penghancur logika dan kecerdasan yang paling mengkhawatirkan. Respon negatif itu akan memunculkan beban jiwa yang beratnya 1 ton tadi. Jiwa yang terbebani akan seperti kendaraan yang kelebihan muatan sehingga tidak mampu melaju menurut kapasitas yang semestinya.

Sejumlah riset psikologi menyimpulkan bahwa stres dapat merusak konsentrasi energi sehingga akan membuat orang mudah merasa tidak mampu (incapabble) atau berat melakukan sesuatu (malas-malasan)

Terlalu lama memikul beban jiwa dapat membuat kita tak sanggup menggunakan ilmu, keahlian, dan kekuatan yang kita miliki sebagaimana mestinya. Kita menjadi tertekan oleh realitas. Kita seperti pemain Timnas saat di Bukit Jalil.

Kata Albert Einstein, tidak ada karya yang lahir dari seseorang yang perasaannya gundah. Paslah kalau Rasulullah mengajarkan doa ta’awwud sehabis shalat yang intinya meminta perlindungan dari gundah dan sedih, rasa tak berdaya dan malas, rasa takut dan bakhil, lilitan hutang dan tekanan orang.

Atau, jika bukan tertekan, respon negatif itu dapat membuat kita terhempas dari kenyataan.  Sejumlah riset psikologi menyimpulkan bahwa stres dapat membuat kita berpikir, bersikap, dan bertindak yang tidak sesuai dengan akal sehat. Bahkan jika berkelanjutan, dapat membuat seseorang hidup dalam ilusi (panjang angan-angan), misal­nya orang itu punya ilusi kesuksesan dan kehebatan seperti Soekarno, tapi itu tidak nyambung dengan apa yang di­lakukannya sehari-hari.

Atau membuat orang suka berhalusinasi (punya pe­nga­laman pancaindera tanpa   ada stimulus yang menimbul­­kan­­nya). Misalnya, dia sering ngomong punya kekayaan di mana-mana, dari keluarga orang hebat, tapi sebetulnya tidak ada.

Bisa juga membuat kita hidup dengan delusi (ke­yakinan yang tidak rasional meski telah ada bukti akurat yang menentangnya), misalnya lari ke dukun atau menjalankan ritual aneh untuk memberi solusi atas realitas yang menghempaskannya.

Formula 2P

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi posisi tertekan atau ter­hempas itu? Kita perlu sepakat bahwa gap dan stres itu penting dan memang tidak bisa dielakkan.  Kalau pun kita merasa sudah pernah mengalami ter­tekan dan terhempas, itu bagian dari proses kita. Cuma, supaya tidak berlanjut, perlu ada keputusan untuk memperbaiki.  Salah satu caranya, dapat mengacu kepada Formula 2P, yaitu: Polah (P1) dan Pasrah (P2). Agar bisa bekerja optimal, formula ini harus digerakkan secara dinamis  (berputar terus) untuk mengundang gravitasi .

Dengan Polah berarti kita harus menjadi makhluk yang generatif (to generate), yaitu: memunculkan inisiatif untuk meraih target yang lebih tinggi, memunculkan kreativitas, mengembangkan skill, dan seterusnya. Achieve More, Learn More, dan Do More.

Kurang Polah akan membuat jiwa mandek, seperti air yang tidak mengalir. Riset psikologi mengung­kap, jiwa yang mandek akan membuat orang tidak bahagia dengan hidup­nya, misalnya protesan, pe­simisan, ngelantur keinginannya (kurang istiqamah). Sedang­kan dengan Pasrah, kita harus belajar menjadi orang yang adaptatif terhadap kenyataan, menerima kenyataan untuk perbaikan, mengurangi masa protes terhadap kenyataan, mencari hidayah dari realita. Ke­nyataan itu bisa menyesatkan dan bisa mencerahkan (yudhillu bihi wayahdi bihi katsiira). Kurang Pasrah dapat membuat kita keblinger.

Fondasi dari Polah adalah kecerdasan, sedangkan fondasi Pasrah adalah keimanan. Makin bagus fondasi kita, akan makin bagus hasilnya. Setidak-tidaknya membuat kita tidak terhempas atau tertekan, melainkan berjalan dan naik. Semoga bermanfaat.

Sumber: http://www.majalahgontor.co.id

Terakhir diperbarui pada Senin, 28 Maret 2011 19:52
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Seribu Kali Bahaya Melemahkan Diri »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.