Masuk

Seribu Kali

“Untuk memahamkan, apalagi  menanamkan   jiwa dan filsafat  hidup Pondok,  tidak bisa hanya sekali dua kali, harus ping sewu (seribu kali)”. Inilah arahan yang sering disampaikan oleh salah satu Kiai Gontor, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, kepada guru-guru dan para santrinya. Mengapa harus  seribu kali? Sebenarnya,  ungkapan ini lebih mengisyaratkan  betapa untuk memahamkan dan menanamkan suatu ajaran, apalagi membentuk pola pikir, sikap dan tingkah laku membutuhkan pungalangan-pengulangan agar bisa menjadi kebiasaan. Walaupun pada awalnya perlu pemaksaan, tapi ia bisa menjadi kebiasaan, bahkan  menjadi kebutuhan.


Inilah salah satu metode penting yang diterapkan Gontor dalam mendidik santrinya. Tujuan pendidikan adalah berubahnya pola pikir, sikap dan perilaku, dari negatif menjadi positif. Untuk mengubahnya perlu proses panjang. Mendidik bukanlah sulapan,  bukan pula suatu mukjizat.

Stephen R Covey, penulis buku The Seven Habits menyimpulkan, nasib seseorang sebenarnya bisa diakibatkan oleh kebiasaan yang diulang-ulang. “Tebarlah pikiran, engkau akan menuai tindakan, tebarlah tindakan, engkau akan menuai kebiasaan, tebarlah kebiasaan, engkau akan menuai kepribadian, dan tebarlah kepribadian, engkau akan menuai nasib,” tulis Covey. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa apa yang terjadi pada diri kita adalah  hasil dari kebiasaan-kebiasaan kita  yang berpangkal dari pikiran.  Sikap negatif, kepribadian negatif, dan nasib buruk bermuara pada pikiran yang negatif. Hal ini sesuai dengan  apa yang disampaikan Rasulullah dalam Hadis Qudsinya  mengenai dzan (prasangka) manusia, “Ana ‘inda dzanni ‘abdi bii”. Artinya, Allah tergantung pada prasangka hamba-Nya. Sejauh mana kita berprasangka kepada Allah, sejauh itu pula yang akan kita terima. Kita berprasangka baik, maka kebaikan akan kita dapatkan. Berprasangka bahwa Allah menyayangi kita, maka kasih sayanglah yang akan kita terima, dan seterusnya. Ini adalah masalah kebiasaan yang akan membentuk kepribadian kita. Dan kebiasaan, muncul karena pengulangan.

Dalam psikologi dikenal istilah RMP atau Repetitive Magic Power. Repetitive artinya pengulangan, magic lebih bermakna sesuatu di luar kemampuan otak, sedangkan power bisa dimaknai  kekuatan. Maka RMP adalah satu kekuatan dahsyat yang disebabkan oleh proses pengulangan. Atau dalam ungkapan lain, pengulangan akan melahirkan kekuatan.

Tangan para petinju memiliki kekuatan yang dahsyat karena tangannya sering dilatih untuk memukul. Kaki para pemain sepak bola memiliki kekuatan karena kakinya sering dilatih, para ilmuwan atau ulama memiliki kekuatan otak dan batin karena mereka melatih dan mengasahnya setia saat. Bahkan, kita sering mendengar pepatah “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, atau kisah batu cadas yang berlobang karena tetesan air yang terus menerus mencecarnya. Inilah bukti betapa dahsyatnya pengulangan.

Pengulangan bagaikan energi atau magnet yang kuat untuk membentuk dan mengubah manusia. Orangtua kita zaman dulu sering meninabobokan anak-anaknya dengan syair-syair shalawat yang menenteramkan. Terkadang mereka juga memberikan pujian-pujian sugestif yang membesarkan hati sang anak. Dalam buku The Celestial Management, A Riawan Amin mengisahkan bahwa Moammar Khadafi, ketika  masih kanak-kanak dan menjadi gembala di gurun, ibunya selalu membisikkan kata-kata, “Kelak, engkau akan menjadi pemimpin besar, Nak!” Dan siapa nyana, kata-kata itu bak mantra yang menembus alam bawah sadarnya, dan pelan tapi pasti, terus diingat dan dibuktikannya saat menjadi pemimpin tertinggi Libya.

Khadafi mungkin tak akan menjadi Presiden Libya bila dari hari ke hari sumpah serapah yang mengerdilkan hati selalu ia terima dan kemudian ditransfer sebagai kekuatan negatif. Sekali kita membiarkan energi negatif memenuhi alam bawah sadar dan kemudian mempercayainya, maka kekuatan negatif pula yang akan menampak dalam hidup kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://majalahgontor.co.id/

Terakhir diperbarui pada Senin, 28 Maret 2011 19:51

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.