Masuk

Seimbang Akal dan Mental

Harga sehat itu sangat mahal dan tak terbeli uang. Sehat juga tak bisa diwariskan, keberadaanya pun jauh lebih berharga dibanding warisan paling berharga. Orang kaya dengan harta berlimpah, dapat membeli apa saja yang ia mau, namun tak berdaya membeli jaminan kesehatan setelah jatuh tertimpa penyakit kronis nan akut.

Mungkin penyakitnya bisa disembuhkan dengan obat, namun kesehatan jasmani tak akan seprima sedia kala. Apalah arti hidup mewah bergelimang harta namun badan lemas terkulai tak berdaya.


Mirisnya, kita biasanya baru akan tersadar berharganya kesehatan ketika sakit datang menghadang. Lantas, apakah kita harus jatuh sakit terlebih dahulu untuk merasakan pentingnya menjaga kesehatan? Tidak!

Maka, selagi nikmat sehat bersama kita, sepatutnya kita menjaganya dengan memerhatikan hal-hal yang bisa membuat badan kita terus bugar dan sehat. Sebisa mungkin jauhi segala yang dapat merusak kesehatan dan mendatangkan penyakit-penyakitnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima hal: … masa sehatmu sebelum masa sakitmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Untuk hidup sehat, kita harus menjalankan pola hidup seimbang. Segala sesuatu yang kita perbuat jika dikerjakan secara seimbang, tanpa dilebihkan atau dikurangi, niscaya akan membuat hidup sehat selamanya, jasmani dan rohani.

Perut yang lapar pasti sangat mengganggu, begitupula ketika terlalu kenyang. Ibadah yang dikerjakan bermalas-malasan, kurang ikhlas dan kesungguhan, tak akan membuat rohani sehat. Malah akan melahirkan penyakit yang membuat jiwa kita kering dari sejuknya ibadah kepada Allah SWT.

Terlalu berlebihan dalam agama dan ibadah juga rentan membuat kita dekat kepada bid’ah dan kemusyrikan. Karena sejatinya, Islam itu mudah, namun jangan dimudah-mudahkan. Berislam juga tak sulit, tapi janganlah dipersulit. “Dan Kami tak akan membebani seseorang, melainkan menurut kesanggupannya.” (QS al-Mu`minûn/23:62)

Memahami dan mengerti pentingnya menjaga kesehatan maupun keseimbangan dalam hidup, itu perlu. Dilanjutkan pemahaman betul akan urgenitas menjaga keseimbangan dan kesehatan jasmani dan pikiran.

Al-‘aqlus-salîm fil-jismis-salîm. Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat pula. Begitu adagium Arab mengajari kita bahwa hidup akan selalu bermakna dan berharga tatkala jasmani dan akal selalu dalam keadaan sehat dan seimbang.

Jika ingin anggota badan kita berfungsi maksimal, menjaga keseimbangan kesehatan jasmani dan akal menjadi hal yang harus kita lakukan.

Karena, bagaimana kita akan berpikir matang, memunculkan ide cemerlang, atau menorehkan gagasan brilian, jika tubuh kita lemah tak bertenaga akibat penyakit? Begitupula, bagaimana kita dapat bergerak dinamis, hidup produktif, dan cekatan dalam bekerja, ketika pikiran sedang dilanda stres, jiwa penuh emosi, dan perasaan tak labil?

Sungguh, hanya orang yang mampu menjaga kesehatan akal dan jasmani, serta senantiasa memelihara keseimbangan keduanya, adalah yang dapat merasakan indahnya hidup. Hidup yang tak sekadar hidup, tapi hidup mulia penuh prestasi dan kontribusi, hidup untuk selalu memberi dan berbagi, dan husnul-khâtimah ketika ajal menjelang.

”(Dialah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS al-Mulk/67: 3). Wallâhua’lam bish-shawâb.

Sumber: http://www.majalahgontor.co.id/

Terakhir diperbarui pada Senin, 28 Maret 2011 19:51
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Keshalihan Sosial Ketika Akal Telah Sempurna »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.