Masuk

Harap-harap Cemas

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq*

Dalam menjalankan amal shalih seorang Muslim harus menyertainya dengan sikap “harap-harap cemas”. Istilah ini dalam Alquran disebut ar-rajâ’ wal al-khauf. Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Serta orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera dan berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan " (Al-Mu'minûn [23]: 57-61).

Tentang ayat ini, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai rasulullah, apakah orang yang takut dalam ayat itu karena mereka pernah minum arak, berzina dan mencuri?"

Nabi menjawab, "Bukan, wahai Binti Shiddiq! Mereka adalah orang yang suka berpuasa, rajin sholat dan gemar bershadaqah. Namun mereka sangat takut semua itu tidak diterima Allah. Lalu mereka bersegera berbuat baik!" (HR  Tirmidzi).

Ar-rajâ dan al-khauf sangat penting bagi seorang Mukmin dalam menjalankan ragam ibadah dan amal shalih. Satu sisi, kita harus berharap kepada Allah, karena hal ini akan menumbuhkan sikap optimis. Kita harus yakin, bahwa segala amalan baik kita akan diberi pahala oleh Allah Swt. berdasarkan janji Allah melaui firman-Nya sabda Nabi-Nya. Menurut Ibnu Qayyim, salah satu bentuk optimisme itu adalah kita harus berbaik sangka kepada Allah. Karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sebagaimana hamba itu berprasangka terhadap-Nya.  (HR Tirmidzi).

Namun di sisi lain, kita perlu cemas dan pesimis, karena bisa jadi, semua yang kita lakukan itu belum ikhlas semata-mata ingin meraih ridla Allah, dan belum sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.. Merasa diri kita sudah ikhlas, itu menunjukan diri kita belum ikhlas. Dan merasa diri paling sesuai dengan sunnah Nabi adalah ciri seorang Munafik. Bagaimana kita merasa diri kita paling sesuai dengan tuntunan Rasul, padahal Umar bin Khattab selalu cemas dam takut apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Agar dua perasaan ini --ar-rajâ wal al-khauf -- berdampak positif pada amalan kita, maka kita harus memposisikan kedua perasaan ini pada tempatnya. ar-raja kita letakkan sebelum kita beramal shalih, sehingga kita optimis dan termotivasi untuk terus melakukannya. Sebaliknya, kita taruh al-khauf setelah beramal shalih. Kita merasa cemas dan tidak yakin, apa yang kita telah lakukan adalah murni karena Allah, sehingga kita tidak merasa sombong atas amal kita, tidak riyâ (memperlihatkan) dan sum'ah (memperdengarkan) dengan kebaikan kita. Karena kita merasa tidak yakin amal kita diterima Allah, akhirnya kita bersegera berbuat baik lagi sebagai penggantinya. Wallahu a’la wa a’lam.

 

Sumber: http://www.republika.co.id/

Terakhir diperbarui pada Senin, 28 Maret 2011 19:50
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Mari Memikirkan Aib Sendiri Memaknai Hamdallah »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.