Masuk

Berubah Menuju Sudah

Komputer yang dulu sebesar almari kini sudah bisa dikantongi. Semua yang serba lambat telah berganti serba cepat. Untuk berubah tidak butuh menjadi tua, tetapi cukup menjadi kuno. Dan untuk kuno, tidak perlu menunggu waktu, cukup karena sudah muncul yang baru. Usia kebaruan itu sekarang singkat sekali. Dan hukum ini melibas semua segi.

Di dunia hiburan, perputaran ini malah jelas sekali. Yang disebut idola itu datang dan pergi secepat jentikan jari. Di televisi seorang idola belum sempat benar-benar kita kenali, esok hari sudah muncul idola yang lain lagi. Ini bukan soal kemajuan teknologi. Ini hanya soal hukum alam yang makin menegaskan diri. Sejak awal alam memang dilengkapi dengan seluruh alat kecepatan untuk berubah. Ini dibuktikan, salah satunya, oleh testis pria yang sanggup memroduksi 10 juta sel sperma setiap hari. Jumlah ini saja kalau benar-benar dimanfaatkan, bisa untuk mengganti seluruh populasi di jagat raya cuma dalam enam bulan.

Jadi untuk menghapus seluruh dari kita lenyap dari muka bumi bukanlah sesuatu yang dramatik. Karena cuma butuh waktu enam bulan ke depan, sudah akan muncul jenis ‘’kita’’ yang baru lagi. Maka, penemuan prosesor mikro, ponsel pintar dan aneka komputer jenius itu hanya replikasi dari watak alam yang memang telah dilengkapi dengan seluruh manajeman perubahan tingkat tinggi. Karenanya putaran yang sudah terasa sangat cepat, ini akan jauh lebih cepat dan tambah cepat lagi.

Padahal betapa sudah terlalu cepat berubahan itu terasa kini. Secara politik kita melihat betapa nisbi sebutan orang kuat, karena ia melemah cukup oleh waktu. Secara alam, betapa apa yang kemarin begini, sekarang sudah menjadi begitu. Belum lama ini saya perlu berputar-putar mengitari gang yang sama cuma untuk menengok rumah kos SMA saya dahulu. Tidak ada yang salah dari rute ini. Saya berada di gang yang tepat. Rumah yang saya cari tepat ada di depan tetapi saya gagal menyadari. Kampung ini sepenuhnya berubah dan saya terasing di tempat dulu sangat saya akrabi. Padahal yang disebut dulu itu rasanya baru kemarin, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Perubahan benar-benar bergerak berdasarakan putaran, bukan berdasarkan perasaan, apalagi sekadar perasaan kita atas kenangan. Pertemuan kita dengan teman-teman reuni misalnya, selalu menegaskan soal ini. Berapapun umur kita, begitu ketemu teman SMP, rasanya di tubuh ini masih menempel seragam putih biru. Tetapi kenangan yang mengeram di perasaan itu ternyata sama sekali tidak cocok dengan kenyataan. Saya termangu-mangu ketika beberapa teman SMP dulu sudah dikabarkan meningal. ‘’Terlalu cepat,’’ batin saya. Terlalu? Tidak. Karena kami, yang masih hidup ini pun sudah porak poranda bentuknya. Dari seluruh teman-teman SMP yang bertemu, hanya satu dua orang saja yang terjaga. Selebihnya telah berubah kondor ke sana-kemari, meleset di sana-sini tak terkecuali saya.

Perubahan itu, sungguh sesuatu yang nyata tetapi sering tak terasa karena keinginan kita untuk menetap seperti sedia kala. Saking semangatnya kita ini menetap di masa kini, sampai kadang tak terasa hendak mengabadikan sesuatu yang jelas-jelas fana.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.