Masuk

TIDAK BERPURA-PURA TENTANG KEKAYAAN (Bagian 1)

Sahabat saya yang baik hatinya,

Hari ini marilah kita tidak berpura-pura lagi tentang kekayaan.

Kaya itu lebih baik daripada miskin.


Yang menjadikan kekayaan itu tidak baik, apabila dicapai dengan cara yang tidak jujur dan digunakan untuk membiayai kesombongan dan kesemena-menaan.

Yang menjadikan orang miskin marah dan membenci kekayaan adalah perilaku orang kaya yang tidak amanah.

Kemiskinan adalah keadaan sementara yang akan berubah sejalan dengan semakin giatnya kita bekerja dalam kejujuran dan kemanfaatan bagi sesama.

Tapi, karena kebencian terhadap orang kaya – yang menjadikan mereka pembenci kekayaan, mereka jadinya menutup mata hati dan mata pikirannya dari jalan keluar menuju kesejahteraan mereka.

Walau pun banyak orang menyebut doa meminta rezeki – war zukni – 17 kali dalam sehari, yang artinya ‘tambahkanlah rezekiku,’ tambahkanlah kekayaanku – mereka berlaku seperti mendustakan doanya sendiri.

Mereka mencemooh orang kaya, mengharamkan kekayaan dan mengagungkan kemiskinan, tapi hidup dalam kemarahan karena keterpinggirannya, atau melatih diri menerima kekurangan sebagai takdir.

Mungkin itu alasan mengapa pertanyaan: ‘Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kau dustakan’ itu ditanyakan berulang-ulang.

Kita mengeluh jika terbatasi rezekinya, tapi merasa jengah jika diajarkan cara-cara membangun rezeki yang baik, mencemooh bahwa hidup ini bukan hanya tentang uang dan hidup ini tak semudah nasihat.

Betul. Tapi mengapakah dia mengeluhkan kurangnya gizi dan terbatasinya pendidikan bagi diri dan anak-anaknya – karena dia kekurangan uang?

Marilah kita berhenti membenci yang kita butuhkan.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya bisa menjadi lebih baik dengan dukungan uang yang berkah.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.