Masuk

Gembira Itu Murah

Lama saya tidak menulis (untuk majalah LuarBiasa maupun AndrieWongso.com), karena saya sibuk bergembira. Saat saya libur menulis saya bergembira, saat menulis saya juga bergembira. Artinya, gembira itu bisa berada di balik apa saja. Ia tidak tergantung pada apa, tetapi tergantung di bagaimana. Tidak tergantung apa yang menjadi milik Anda, tetapi terletak di bagaimana memperlakukan milik Anda.

Saat saya menulis saya gembira, karena tulisan melebarkan seluruh kemungkinan yang saya tak sanggup merabanya. Saat libur menulis saya juga gembira, karena libur itu kegembiraan. Royalti menulis buku itu relatif kecil. Tetapi royaltimemangrezeki paling kecil dari menulis buku. Terbesar adalah rezeki kemungkinan. Di antara kemungkinan itu, terdapat apa yang disebut rezeki kemartabatan. Memiliki banyak uang tanpa memiliki kemartabatan, ia bukan kekayaan.

Rasa bermartabat itulah gudang kebahagiaan. Para pemburu kekuasaan di aneka pilkada misalnya, rata-rata adalah pribadi yang sudah berkecukupan. Berkelebihan malah. Tetapi uang tanpa kekuasaan, rasanya seperti ada yang kurang. Anda boleh banyak uang, tetapi kalau statusnya hanya orang kaya, danbukan orang yang berkuasa, kedudukan Anda tetaplah orang awam. Parkir harus tetap berdesakan. Datang tak disambut, pergi tak diantar, ketemu tak disalami. Ini menyakitkan bagi sementara pihak. Hanyakekuasaanlah yang membuat parkir menjadi mudah tak peduli sedang berada di puncak kemacetan. Kekuasaan itu diburu, lebih darisekadar alasan uang tapi lebih karena di sana ada keadaan berkuasa. Di dalam rasa berkuasa itulah terdapat rasa menang dan bahagia.

Tetapi saya tidaksedang bicara kekuasaan dalam format politik yang penuh bias itu. Saya sedang bicara tentang "kekuasan otentik" sebagai sumber kebahagiaan yang valid. Dan ini jauh melampui kekuasan bupati, walikota, gubenur, presiden dan semacamnya. Pendek kata, ia bukan kekuasan struktural tetapi "kekuasan personal".Jadi person yang berkuasa itulah maksud saya, bukan pangkat, jabatan dan uang. Itulah yang oleh mendiang Stephen Covey disebut sebagai "kemenangan pribadi". Dan pribadi-pribadi yang menang itu bukan karena dukungan apa pun selain dukungan mutu pribadinya.

Pribadi yang menang memang bisa sekaligus pribadi yang kaya, terkenal, dan berkuasa. Tetapi di tangan pribadi yang menang, seluruh soal yang ia miliki, tak terkecuali uang, hanya pendukung kemenangannya menjadi semakin menang. Sementara di tangan pribadi yang kalah, apa saja yang menjadi miliknya, takpeduli uang, plus jabatan, plus kekuasaan, hanya akan menambah kekalahannya.

Banyak sekalibukti jabatan yang meninggi hanya untuk membawa hidup seseorang malah merendah. Uang membanyak malah membuat mutu hidup menyedikit. Kekuasaan bertambah malah membuat kegembiraan berkurang.

Jadi, kemenangan pribadi itu pada awalnya, benar-benar adalah kemenangan pribadi. Tak ada hubungan dengan uang dan jabatan. Jika Stephen Covey dipinjam sebagai contoh, ia lahir dari keluarga kaya. Ia punya warisan bisnis yang tak ia ambil dan memilih menjadi guru dan misionaris.Jadi panggilan kemenangan itu tidak terlalu melayani uang jika jalurnya berseberangan. Tapi Covey pasti tidak anti uang sepanjang ia menyukai prosesnya dalam memperoleh uang. Tidak murah membayar Stephen Covey dan ia pasti gembira dengan tarifnya, apalagi tarif itu ada di jalur yang selaras dengan panggilan hatinya. Jadi sulit mengatakan ia mata duitan. Duit di tangan para pemenang itu bukan melulu soal jumlah, tetapi juga soal proses.

Mental menang ini tidak hanya bisa diakses oleh orang-orang dengan setting sosial seperti Stephen Covey. Ini zona bebas status. Ini pintu yang terbuka yang siapa saja boleh mengetuknya. Pintu itu jauh, tapi juga dekat. Tepatnya ia dekat secara jarak, tetapi jauh secara dimensi. Kematian itu hanya setipis serat dengan hidup. Tetapi perjalanan yang sedekat itu tak bisa ditempuh walau dengan cara mengitari jagat raya dengan mengendarai pesawat secepat cahaya pula. Ada jarak, yang meskipun telah ditempuh sampai jauh tetapi sia-sia. Itulah perjalanan yang salah peta. Tapi jarak sejauh itu menjadi amat dekat ketika tepat kendaraannya yakni: mati. Maka pintu kemenangan itu letaknya ada di dalam diri sendiri.

Kini jelas, menang mulai dari diri sendirilah perang yang tak berkesudahan dan tak ada jaminan ada banyak pemenang. Di dalam diri sendiri ini ada banyak lawan, untuk lawan pertama, lawan paling mudah di kalahkan saja, sudah langsung menjadi lawan yang sulit dikalahkan, yakni panca indra. Indra itu, satu saja sudah musuh yang berat, apalagi lima. Mata misalnya. Banyak sekali tuntutan kepuasannya. Berapa banyak industri raksasa lahir dan mengeduk untung yang juga raksasa hanya dengan memakai mata sebagai segmen pasarnya.

Itu saja baru mata yang dirangsang secara eksternal, belum mata yang dirangsang secara internal. Saya ini lelaki, dan sudah bersuami, tetapi begitu melihat ada wanita cantik berkelebat, rasanya berat sekali untuk menahan diri. Setidaknya melirik dan mencuri-curi. Saya memang tidak melihat secara terus terang karena malu pada istri. Kalau istri sedang tak ada, saya malu pada diri sendiri. Malu tapi mau, itulah persoalannya. Saya bukan orang kuat melawan mata saya. Jika selama ini saya mencoba kuat, itu lebih karena saya bekerja sangat keras untuk menekan kemauan mata saya. Perlawanan itu sebenarnya hanya menunjukkan betapa lemah saya di hadapan panca indra.

Tapi hanya kuat melawan kehendak mata saja, tiba-tiba ada sesuatu yang menguat di dalam diri saya. Berbeda rasanya dengan saat saya kalah melawan kehendak mata. Serasa ada yang merosot dalam hidup saya. Rasa merosot itulah yang mendatangkan rasa susah, sementara rasa kuat itulah yang mendatangkan rasa bahagia. Jadi jelas, kebahagiaan itu lebih banyak menghuni ranah nilai, dan nilai itu bisa terletak di apa saja, di mana saja, sepanjang nilainya memang dijaga dan dimunculkan. Maka apa saja yang Anda punya, termasuk keterbatasan, akan menjadi sumber kebahagiaan kalau ia diubah menjadi sumber nilai.

http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/5684/Gembira_Itu_Murah/

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.