Masuk

Dari Mana Datangnya Kemalasan?

Studi dan penelitian tentang kemalasan berikut ini bisa jadi mengagetkan. Sebab, banyak hal yang biasa kita lakukan, ternyata memicu kemalasan. Apa saja?

Banyak orang kerap merasa malas dalam melakukan suatu hal. Ada banyak pula alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Dari karena merasa belum perlu menyelesaikan segera pekerjaan, karena tidak mendapat imbalan yang sepadan, hingga hanya karena “ingin” malas. Bagaimana dengan Anda?

Apa pun yang pernah kita rasakan seputar kemalasan, sebenarnya semua itu ada dalam diri kita sendiri untuk memutuskan. Kendali ada di tangan kita sendiri. Sebab, kita yang punya kuasa penuh, apakah hendak malas atau segera memenuhi tugas.

Tapi, di balik semua keputusan yang kita ambil seputar kemalasan, ternyata ada berbagai penelitian yang mengungkap bahwa sikap malas diakibatkan oleh beberapa hal. Dan, bisa jadi hal-hal tersebut adalah hal yang tak Anda duga sebelumnya, atau mungkin malah sudah kerap Anda lakukan tanpa disadari. Apa saja faktor penyebab rasa malas berdasar beberapa studi?

1. Kebiasaan merokok
Satu lagi dampak negatif dari merokok. Selain merusak kesehatan, merokok ternyata juga “merusak mental” dengan membuat orang gampang malas. Sebuah studi yang dilakukan oleh Oliver Howes, Ph.D dan timnya di Hammersmith Hospital di London menemukan sebuah fakta, bahwa merokok bisa mengurangi hormon dopamine dalam tubuh. Dengan menggunakan alat scanner positron emission tomography (PET), mereka meneliti orang yang terbiasa merokok dan hanya merokok beberapa kali dalam hidupnya. Terbukti, produksi hormon dopamine—yakni hormon yang punya fungsi memacu semangat dan meningkatkan kinerja—jadi lebih sedikit pada mereka yang kerap merokok.

2. Kebiasaan makan junk food
Memakan makanan yang diproses cepat atau kerap kita kenal sebagai junk food punya banyak dampak merugikan. Selain bisa memicu kegemukan, sebuah penelitian lain menemukan fakta, bahwa banyak makan junk food bisa membuat seseorang malas. Ahli biologi dari UCLA California, Aaron Blaisdell melakukan penelitian dan menyebut bahwa dalam jangka panjang, selain tidak baik untuk kesehatan, makanan cepat saji bisa membuat motivasi menurun dan akhirnya membuat orang lebih malas. Dari penelitian ini barangkali bisa dipahami, mengapa orang kegemukan cenderung malas bergerak.

3. Penggunaan media sosial
Filosof Edward de Bono, yang terkenal dengan bukunya Six Thinking Hat dan banyak melakukan penelitian seputar pikiran, mengatakan bahwa sosial media membuat orang cenderung berhenti dari kebiasaan memiliki pikiran sendiri. Dengan tegas ia mengatakan, bahwa di era media sosial, banyak orang mudah mendapat informasi sehingga kurang bisa mengeksplorasi informasi yang dikembangkannya sendiri. Di era media sosial, seseorang dengan mudah bisa mendapat informasi dari orang lain, dari yang orang katakan, dan seterusnya. Hal inilah yang mengakibatkan seseorang jadi “malas” berpikir. Yang ujungnya, akan kontraproduktif terhadap dirinya sendiri.

4. Keturunan
Studi ini memang masih belum dicoba pada manusia, melainkan pada tikus yang dianggap memiliki model genetika seperti manusia. Profesor Frank Booth dan koleganya di University of Missouri Amerika, melakukan pengamatan terhadap puluhan tikus yang diberi perlakuan berbeda dan diamati perkembangbiakannya. Dari tikus yang paling aktif dan tikus yang paling "malas", setelah dikembangbiakkan hingga 10 keturunan, dari tikus yang aktif membuahkan keturunan yang 10 kali lipat lebih aktif daripada yang malas. Menurut Profesor Booth, hal tersebut bisa menjadi indikasi awal bahwa sifat aktif dan malas adalah sesuatu yang diturunkan secara genetika.

Selain hasil penelitian tersebut, kita mungkin juga bisa melihat kondisi apa yang kadang membuat kita malas. Salah satunya teknologi. Coba kita tengok. Teknologi televisi membuat kita tinggal duduk manis di sofa dan memencet tombol remote seenaknya. Nyaris tanpa gerakan, sehingga tanpa terasa kita jadi malas bergerak. Lihat juga misalnya dengan kemajuan teknologi transportasi. Untuk jalan kaki dalam jarak pendek saja kadang kita lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor. Saat memasak pun begitu. Dulu kita mengolah bumbu masak dengan tangan sendiri. Kini, dengan mudah kita dibantu blender, juicer, hingga microwave. Semua itu kadang membuat kita jadi malas. Intinya, kepraktisan dan pola pikir instan kadang membuat kita cenderung lebih malas.

Jadi, bisa dikatakan, malas adalah soal mentalitas, apakah mau kita turuti atau kita lawan. Kini semua keputusan ada di tangan kita!

http://www.andriewongso.com/articles/details/14740/Dari-Mana-Datangnya-Kemalasan-3F

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.