×

Warning

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Masuk

Mari Terus Menimba Ilmu

MAMHTROSO.COM -- Dalam kejadian sehari-hari, sering kali yang membedakan antara pemenang dan pecundang sesungguhnya hanya satu hal, jam terbang. Pengalaman yang lebih banyak, latihan yang lebih keras, kemauan belajar yang lebih kuat, menjadi pembeda yang nyata. Karena itu, dalam berbagai kejuaraan—apa pun kejuaraan atau pertandingan yang dilakukan, baik olahraga atau kompetisi lainnya—ketika orang mengatakan “dewi fortuna” alias dewa keberuntungan kadang menentukan kemenangan, saya melihat sebenarnya bukan semata itu saja. Tapi, saya berani mengatakan, pasti yang menang adalah yang jauh lebih siap. Bahkan katakan keduanya yang saling berlawanan sebenarnya sama siapnya, pasti sang pemenang punya porsi kesiapan yang lebih matang.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kematangan seseorang bisa didapatkan? Di sini saya teringat sebuah pepatah dalam bahasa Jawa yang saya rasa tepat untuk menganalogikan pengertian tersebut, yakni ngangsu kawruh yang arti harfiahnya adalah menimba ilmu. Kata menimba ini saya rasa sangat tepat dipilih dibandingkan menggunakan kata mencari ilmu atau menyerap ilmu. Sebab, kata menimba ini dalam sudut pandang saya mengandung keistimewaan tersendiri.

Pernahkah Anda melihat orang menimba air di sebuah sumur? Coba perhatikan prosesnya. Untuk memenuhi ember besar yang diletakkan di dekat sumur, seseorang akan menggunakan ember kecil timbaan untuk mengambil air di dasar sumur. Begitu diangkat, air segera dipindahkan ke ember besar sehingga kembali kosong agar dapat diisi lagi oleh air di sumur. Begitu seterusnya.

Sebagai orang yang juga dibesarkan dalam budaya Tionghoa, saya bisa menganologikan ini dengan ungkapan kosongkan cangkirmu. Ini sebuah ungkapan yang menjelaskan pengertian bahwa agar seseorang bisa mendapatkan ilmu, ia harus mengosongkan “cangkir pikirannya”. Sebab, jika tidak dikosongkan, air yang terus diisikan dalam cangkir akan terlalu penuh dan luber. Saat ini terjadi, maka kesia-siaanlah yang akan kita dapat.

Sama dengan ember timbaan. Untuk dapat kembali diisi, ia harus dikosongkan dahulu. Begitu juga seseorang atlet atau petarung yang ingin memenangkan pertandingan atau kompetisi apa pun, sering kali ia harus “mengosongkan diri” untuk menetralkan jiwa, pikiran, dan kalbunya, sehingga bisa mendapatkan ilmu dan “jurus” baru untuk memenangkan pertarungan. Di sinilah kematangan seseorang akan benar-benar meningkat.

Maka, jika ingin menimba lebih banyak ilmu dan pengalaman, seseorang harus “mengosongkan” apa yang ada dalam dirinya terlebih dahulu. Di sinilah kadang kala, kegagalan menjadi “harta” yang sangat berharga. Sebab, saat gagal, seseorang kembali “kosong” dan jika ia bisa memanfaatkan momentum itu dengan kembali mengisi (baca: berlatih lebih keras), ia akan mendapatkan kemenangan.

Sebagai contoh, seorang petenis dunia, beberapa waktu lalu, mengalami kemunduran prestasi akibat cedera yang dialami. Bahkan, setelah sembuh dan kembali, ia tenggelam oleh bayang-bayang para rivalnya. Namun, sepertinya menjadi saat-saat “kosong” itu ia kembali ngangsu. Entah bagaimana porsi latihannya, entah bagaimana ia menyempurnakan kembali tekniknya, yang pasti ia telah menimba bekal lain untuk menjadi seorang yang baru. Dan, ia membuktikannya saat ia bertanding kembali dengan rival-rivalnya, dan kembali menjadi atlet kelas dunia yang lebih hebat.

Mari, sahabat luar biasa, kita terus belajar dan mempersiapkan diri kita untuk menjadi insan yang lebih baik lagi dan meraih prestasi lebih gemilang. Salam sukses Luar Biasa!

http://www.andriewongso.com/mari-terus-menimba-ilmu/

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.