Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Begini Muslim Kanada Merayakan Idul Adha

MAMHTROSO.COM -- Pandemi Covid-19 yang merebak di berbagai negara telah membuat perayaan Idul Adha tahun ini menjadi sangat berbeda. Tak terkecuali di Provinsi Newfoundland and Labrador, Kanada yang menjadi rumah bagi banyak Muslim. 

 

Sebagian besar Muslim melaksanakan sholat Id di Masjid Al Noor. Masjid ini menjadi satu-satunya masjid yang digunakan umat Muslim di provinsi Newfoundland and Labrador untuk melaksanakan Idul Adha. Untuk menerapkan protokol kesehatan, masjid pun membatasi kapasitas masjid menjadi hanya 50 persen saja. Sementara sebagian jamaah lainnya melaksanakan sholat di lokasi lainnya.

"Rasanya tak seperti hari raya di mana orang-orang datang bersama-sama. Sementara sekarang kita harus menjaga jarak. Ada dua area pelaksanaan sholat yang saya tahu, kami berdoa di area pasar petani St John, ada satu lagi di Lions Club," kata seorang Muslim yang tinggal di St John, Maruf Dewan seperti dilansir CBC News pada Ahad (2/8).

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, dimana umat Islam di Newfoundland and Labrador dapat melaksanakan sholat dengan berdampingan tanpa harus menerapkan jaga jarak. Dewan mengatakan meski berbeda dengan tahun lalu, namun masyarakat tetap semangat dalam merayakannya. Mereka melaksanakan sholat dengan menjaga jarak, mencuci tangan, dan merayakan kegembiraannya di tengah pandemi.

"Rasanya tak seperti sholat berjamaah, meskipun kamu berada di tengah-tengah jamaah secara teknis. Setelah selesai sholat, Anda biasanya memeluk semua orang baik yang Anda kenal atau tidak. Tetapi tahun ini Anda tidak bisa melakukan itu, jadi rasanya berbeda," katanya. 

https://republika.co.id/berita/qef24g370/begini-muslim-kanada-merayakan-idul-adha

Pelajaran dari Episode Perjalanan Nabi Ibrahim

MAMHTROSO.COM -- Kalau kita baca dan pelajari kisah-kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam Alquran, ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari setiap episode perjalanan Nabi Ibrahim as. 

Pertama,  tentang harapan dan doa. Bahwa sekalipun beliau adalah nabi dan rasul, termasuk ulul 'azmi, dan bahkan mendapat julukan “kesayangan Allah” atau khalilullah, beliau adalah seorang nabi yang selalu berdoa. Bahkan doanya banyak diabadikan di dalam Alquran.

Tentu saja Nabi Ibrahim  menyadari sepenuhnya, bahwa beliau tetaplah manusia, tetaplah makhluk Allah, yang sejatinya tidak punya kuasa. Kesadaran akan keberadaan diri yang sejatinya tak miliki kuasa, mendorong seseorang untuk terus-menerus mendekati Allah Yang Mahakuasa.

Doa dengan sepenuh pengharapan, adalah jalan mendekati Allah. Doa, sebagaimana telah maklum, adalah intisari ibadah, dan ibadah adalah bukti penghambaan diri yang paling paripurna. Doa, juga adalah wujud kepasrahan dan ketergantungan kita kepada Allah. Oleh karenanya, doa yang benar, tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang di dalam hatinya ada sombong (kibr).

Selain itu, Nabi Ibrahim as bahkan mengajarkan  kepada kita tentang bagaimana berdoa. Semisal dalam doanya, Nabi Ibrahim as menyebut-nyebut nama kedua puteranya. Kita, yang misalnya adalah orang tua bagi anak-anak kita, hendaknya jangan sampai terlewat mendoakan setiap masing-masing anak kita. Sebut nama mereka satu per satu, berikut harapan khusus kita buat masing-masing mereka. Boleh jadi, masing-masing anak kita memiliki cita-cita berbeda, harapan masa depan yang tidak sama, sehingga di sanalah doa-doa khusus kita sebutkan.

Selain tentu saja secara jamak, kita doakan semuanya menjadi pribadi anak-anak yang saleh, taat, ahli ibadah dan kebaikan, dijaga iman-islamnya, hafizh dan hafizhah Alquran, dapat memahami agama dengan baik, memiliki ilumu manfaat, sehat jasmani ruhani, dan selamat dunia akhirat, serta banyak lagi doa lainnya yang dipanjatkan dalam bentuk jamak.

Kedua, Nabi Ibrahim as adalah pribadi yang pandai bersyukur. Syukur, adalah teman seiring-sejalan yang ideal bagi doa. Sebagaimana diinformasikan oleh ayat ke 39 Q.S. Ibrahim, Nabi Ibrahim as berucap syukur atas anugerah yang Allah berikan kepadanya, berupa Ismail dan Ishak. Bagi sebagian kita yang “relatif mudah” memilki anak keturunan, sangat mungkin anugerah ini kemudian kurang dirasakan dan kurang disyukuri. Nabi Ibrahim as mengajarkan kita untuk bersyukur atas anugerah anak keturunan.

Ketiga,  sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim as sangat memerhatikan urusan akidah. Perhatian serius Nabi Ibrahim as terkait akidah anak keturunannya, sekali lagi, diungkapkan melalui jalur doa kepada Allah. Di dalam doanya, Nabi Ibrahim as meminta-minta kepada Allah agar anak keturunannya tidak menghamba kepada selain Allah. Selain itu, sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim as juga meminta betul kepada Allah, agar dirinya dapat menjadi teladan dalam urusan shalat dan berharap agar anak keturunan menjadi ahli shalat. 

Lebih dari itu, bahkan di saat genting, di saat serba sulit, di kala Nabi Ibrahim as hendak meninggalkan istri dan anaknya yang masih balita, di sebuah lembah nan tandus tak berpepohonan, di sisi Baitullah alimuharrom, yang beliau minta pertama bukanlah perlindungan, bukan rezeki berupa makanan, bukan pula belas kasihan dan kasih sayang dari orang lain.

Namun yang menjadi konsentrasinya justeru urusan shalat, dengan rintihan doanya: "robbana liyuqimush sholah". Barulah kemudian Nabi Ibrahim as meminta kepada Allah perihal lain, yakni perlindungan dan rezeki. Yang kembali patut menjadi perhatian adalah bahwa keseluruh doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim tersebut, dibalut dengan doa: la'allahum yasykurun, yakni harapan agar dengan semua anugerah tersebut, kemudian menjadi orang-orang yang pandai bersyukur.

Keempat, dalam posisinya sebagai anak, Nabi Ibrahim tak lupa mendoakan orang tuanya (Q.S. Ibrahim: 41). 

Kelima, sebagai seorang pemimpin umat dan makhluk sosial, beliau tidak egois, dan menunjukan patriotismenya dengan mendoakan negerinya (Mekkkah) agar menjadi negeri yang aman, damai, subur dan makmur (Q.S. Al-Baqarah: 126 dan Q.S. Ibrahim: 35). Selain itu, Nabi Ibrahim as memintakan ampunan kepada Allah untuk seluruh kaum mukminin (Q.S. Ibrahim: 41).

Telah terpampang jelas di hadapan kita, sekelumit teladan dari seorang khalilullah, Nabi Ibrahim as. Jika kita adalah seorang anak, semoga kita dapat meniru laku Ibrahim as dalam posisinya sebagai anak. Jika kita adalah seorang ayah (orang tua), kita pun semoga mampu meniru Nabi Ibrahim as yang juga adalah seorang ayah. Dan jika pun kita adalah seorang pemimpin, atau yang hidup di tengah masyarakat, semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk meneladani beliau. Amin ya robbbal 'alamiin. 

https://republika.co.id/berita/qecxnv374/pelajaran-dari-episode-perjalanan-nabi-ibrahim

Kurban yang Menggembirakan

MAMHTROSO.COM -- Ibadah kurban merupakan sunah muakadah (sunah yang dianjurkan), utamanya bagi umat Islam yang mampu melaksanakan. Kurban memiliki dimensi spiritual-vertikal sebagai bentuk taqarub (mendekatkan diri), asal kata kurban, kepada Allah dengan meneladan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai wujud ketakwaan (QS al-Kautsar 1-3) dan mendapat ridha-Nya.

Kurban juga memiliki dimensi sosial-horizontal sebagai bentuk kepedulian kita kepada sesama manusia, khususnya bagi mereka yang membutuhkan, apalagi saat pendemi seperti sekarang ini. 

Oleh karena itu, ibadah kurban yang kita laksanakan harus memperhatikan nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asasiyyah) dan asas-asas umum (al-uṣul al-kulliyyah) agama Islam, yakni: pertama, nilai dasar saling membantu (at-taʻawun) dan bergotong royong sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, "Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS al-Maidah [5]: 2).

Kedua, nilai dasar solidaritas sosial sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi SAW, dari Abu Hurairah (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membebaskan seorang Mukmin dari suatu kesengsaraan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesengsaraan hari kiamat, dan barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesukaran, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong sesamanya." (HR Muslim).

Kedua nilai tersebut menjadi sangat relevan dan kontekstual pada saat musim pandemi Covid-19 seperti sekarang, yang entah kapan akan berakhir karena vaksinnya belum ditemukan. Walaupun, ikhtiar masih terus menerus dilakukan. Sehingga, pelaksanaan ibadah kurban tahun ini mengalami tantangan baru yang harus dijawab dengan ilmu pengetahun. 

Sebab, ibadah kurban tidak hanya harus sesuai dengan ketentuan syariat Islam, tetap dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan protokol kesehatan, yakni jaga jarak, jauhi kerumunan, memakai masker dan mencuci tangan menggunakan sabun atau cairan hand sanitizer. Tentu ini bukan hal yang mudah, apalagi baru pertama kali dilaksanakan.

Hal itu dimaksudkan agar pelaksanaan ibadah kurban, mulai dari proses pemeliharaan, pembelian, penyembelihan hewan kurban, dan distribusi daging kurban, dapat dilaksanakan dengan aman dan nyaman, sehingga tidak menjadi kluster baru dalam penyebaran Covid-19. Karena itulah, jika daerahnya berada di zona merah, dianjurkan untuk melakukan penyembelihan di rumah pemotongan hewan (RPH) atau jika hewan berubah kambing, dapat dipotong sendiri.

Kemudian, distribusinya dilakukan secara door to door kepada yang berhak menerimanya. Jadi, mari berkurban dengan senang dengan gembira untuk peduli kepada sesama dan meraih keberkahan. Wallahu a'lam.

https://www.republika.id/posts/9044/kurban-yang-menggembirakan

Idul Adha, Covid-19 dan Keluarga

MAMHTROSO.COM -- Pandemi Covid-19 yang masih mendera negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia membuat perayaan Idhul Adha 1441 H tanpa suasana yang hingar bingar. Satu bulan sebelum memasuki bulan Dzul Hijjah, biasanya pemerintah dan masyarakat sudah disibukkan dengan pemberangkatan jamaah haji.

Masyarakat dari sabang sampai merauke yang masuk daftar calon jamaah haji, dengan penuh suka cita dan semangat menunggu giliran berangkat ke tanah suci sesuai kloter masing-masing. Sanak kerabat tetangga sahabat juga terut meramaikan suasana dengan aneka tradisi upacara pemberangkatan jamaah haji. Tak lupa semua station tv, radio dan media online maupun cetak hadir dengan liputan khusus haji.

Tahun ini suasana itu menjadi tiada, bahkan shalat Idhul Adha dan acara penyembelihan hewan qurban pun dihantui dengan bayang bayang pengawasan protokol kesehatan.
Krisis baik karena faktor ekonomi maupun pandemi adalah cara alami kebangkitan sebuah peradaban dengan munculnya keseimbangan baru dan norma-norma baru. Suasana sepi karena pandemi dalam perayaan Idhul Adha adalah momentum yang tepat untuk mendapat energy kebangkitan tersebut dengan berefleksi lebih mendalam mengenai esensi idhul adha.

Hakekat Haji dan Qurban selau lekat dengan hijrah keluarga Ibrahim ke Makah. Ibrahim dan keluarganya menempati kedudukan yang spesial dalam Islam setelah nabi Muhamad saw, karena umat Islam dalam setiap pelaksanaan ibadah shalat pada bacaan tahiyat akhir membaca shalawat (doa selamat) untuk Nabi Ibrahim dan keluarganya setelah bershalawat kepada nabi Muhammad saw. Qurban dan sebagian besar manasik haji adalah juga mengikuti jejak keteladanan nabi Ibrahim, isteri dan putranya.  

Dikisahkan bahwa Ibrahim dan istrinya Siti Sarah lama sekali belum memiliki anak. Cintanya kepada suami membuatnya berpikir untuk bisa memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan. Maka, ia pun meminta kepada Siti Hajar sang budak, pembantu rumah tangganya untuk menikah dengan suaminya. Ia ingin Siti Hajar bisa memberikan seorang putra kepada Nabi Ibrahim.

Meskipun Sarah merestui pernikahan Ibrahim dengan Hajar,  namun ketika  Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, perasaan cemburu sebagai istri tetap tidak bisa dihindari. Ia pun berjanji tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap. Nabi Ibrahim mendapat petunjuk untuk membawa istri keduanya, Siti Hajar, dan bayinya, Ismail, ke tanah Makkah.

Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Pada waktu itu Makkah masih sangat tandus berupa hamparan padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan. Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail di rumah tua (baytul Atiq) yang nantinya dipugar sebagai ka`abah. (Surat Ibrahim: 37)

Setelah Hajar ditinggal berdua di padang tandus, maka mereka  mulai merasakan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup seperti air untuk minum.  Air susunya pun tidak mencukupi untuk bayinya.  Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat.

Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa. Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu sambil melihat bayinya. Dalam usahanya itu, muncullah tiba-tiba sebuah mata air yang memancar. Sumber mata air itu mengalir hingga sekarang yang dikenal dengan zam-zam.

Suatu peristiwa yang sangat mengejutkan, setelah Ismail mencapai usia yang beranjak remaja, Ibrahim melalui mimpi diperintah Allah untuk menyembelih Ismail. Dengan komunikasi yang baik antara bapak-anak yang diliputi dengan suasana batin yang penuh iman, maka perintah Allah untuk menyembelih Ismail diterima dan dilaksanakan.

Ibrahim sempat diliputi oleh kebimbangan karena bisikan setan di tempat penyembelihan yaitu di Mina, namun karena keteguhan hati, Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah.  Tidak sampai pisau tajam itu menggores leher Ismail, Allah menggantinya dengan seokor kambing gibas.

Semua perjuangan Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar dan Ismail menjadi bagian penting dalam manasik Haji dan rangkaian ibadah qurban di hari hari raya Idhul Adha. Perjuangan Siti Hajar menemukan mata air menjadi ibadah Syai` yakni berlari lari kecil antara bukit shafa dan marwa. Mata air yang ditemukan bersama Ismail menjadi sumber mata air yang menghidupi jamaah haji hingga sekarang, bahkan menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa sampai tanah air. 

Perjuangan Ibrahim mengalahkan gangguan setan untuk taat pada perintah Allah menyembelih Ismail, diabadikan dalam Ibadah melempar Jumrah. Jejak jejak Ibrahim dan keluarganya lainnya dapat ditemui di sekeliling Ka`bah, mulai dari ka`bah itu sendiri yang dipugar oleh Ibrahim dan Ismail, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail.   

Keluarga yang tidak hanya punya tujuan bilogis sebagai keberlangsungan keturunan tetapi juga ideologis kelangsungan misi kebaikan dan perbaikan kehidupan adalah yang menjadikan keluarga Ibrahim teladan bagi Umat Islam. Keluarga adalah basis pertahanan terakhir di masa pandemi Covid-19 ini.

Ketika pertemuan dan perkumpulan di kantor, disekolah, di tempat ibadah di khawatirkan akan menjadi pusat penyebaran virus Covid-19, maka semua masyarakat diwajibkan mengisolasi diri dalam rumah. Rumah menjadi tempat ibadah, rumah menjadi tempat belajar anak, rumah menjadi tempat bekerja suami dan istri.

Apakah yang terasa asing ketika beribadah, belajar, dan bekerja di rumah. Karena selama ini kita beribadah di masjid, belajar di sekolah dan bekerja di kantor. Banyak orang tua yang bingung karena harus mendapingi anaknya belajar di rumah. Banyak orang yang tidak terima harus berjamaah di rumah bersama keluarga saja, tidak di masjid dengan tetangga. Dan banyak yang bingung bekerja sendirian di rumah hanya terhubung dengan rekan kerja dengan jaringan internet.

Apakah ketika kita beribadah di masjid, rumah bukan tempat ibadah lagi. Apakah ketika anak dikirim ke sekolah, tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak sudah lunas? dan apakah ketika seorang bekerja di kantor, rumah hanya tempat beristirahat?. Selama ini kita telah bersusah payah membangun rumah, tetapi kemudian meninggalkannya.

Pandemi Covid-19 menyadarkan orang pada fungsi rumah bagi keluarga. Rumah dibangun oleh sepasang suami istri dan anak keturunannya untuk tujuan anggota keluarga melaksanakan ibadah. Orang menikah karena ibadah bukan hanya kepentingan biologis. Anak yang lahir dalam keadaan suci, dia menjadi muslim atau tidak merupakan tanggung jawab orang tua.

Pendidikan anak adalah amanah orang tua. Suami istri wajib berusaha memenuhi kebutuhan rumah dengan bekerja atau berwiraswasta, maka rumah adalah ruang kehidupan bagi keluarga menjalankan visi dan misinya.        

Mimpi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, putra tercinta yang telah dibesarkan oleh ibunya di padang tandus sendirian, merupakan ajaran agar kita berusaha keras untuk menghidupkan  keluarga dan mengorbannya  Seseorang berjuang untuk keluarga namun bukan kejayaan keluarga yang menjadi tujuan.

Kalau kejayaan keluarga yang menjadi tujuan, maka keberhasilan keluarga diukur ketika suami, istri dan anak menguasai sumber –sumber modal, baik modal politik ataupun ekonomi.  Ketika penguasaan modal menjadi tujuan keluarga, maka dinasti yang terbangun. Terbentuklah budaya merendahkan Tuhan dan mengangugngkan diri sendiri. Kejayaan ini adalah aku dan keluargaku. Dalam nilai nilai yang mengangungkan keluarga, muncullah tradisi mengorbankan pihak lain bukan mengasihi. 

Ibrahim menolak budaya mengorbankan manusia untuk persembahan dan keagungan dinasti. Makna penolakan tersebut sesuai dengan isi surat al-Haj ayat 37 yang menegaskan bahwa tujuan pengorbanan binatang pada hari raya Idhul Adhha adalah bukan darah dan daging binatang itu sendiri tetapi ketaqwaan manusia. Taqwa adalah bentuk ketundukan manusia pada Tuhan dan kesediaan manusia untuk patuh pada Tuhan.

Maka yang perlu dipersembahkan kepada Tuhan adalah jiwa raga manusia itu sendiri dengan mematuhi semua perintah Allah dan menjauhi semua apa yang dilarang Tuhan. Allah swt. tidak membutuhkan pengorbanan berupa manusia termasuk binatang.
Kejayaan keluarga tidak diukur dengan keberhasilan penguasan modal oleh anggota keluarga. 

Keluarga yang bertujuan taqwa yang mengorbankan hidupnya untuk Tuhan diukur sejauhmana anggota keluarganya tumbuh kembang menjadi shalih dengan amal shalih dengan mengasihi semesta alam. Kebahagiaan semesta alam dalam bahasa agama disebut bahagia dunia sampai di akhirat. Sebagaimana doa Ibrahim (Surat Ibrahim 40-41)

“Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan shalat; Tuhan kami, perkenankanlah doaku, Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari perhitungan (di hari kiamat)”

Saatnya kita berhenti mengeluh karena harus di rumah, mendampingi anak belajar dan bekerja dari rumah,  karena hakekat perjuangan adalah keluarga yang tinggal di rumah. Wallahu A`lam.

https://republika.co.id/berita/qea90p385/idul-adha-covid19-dan-keluarga-part1

  • Diterbitkan di Oase
  • 0
Berlangganan RSS feed