Masuk

Budaya yang Memperdaya


Ismaita Lutviana (X A)

Kebudayaan merupakan salah satu jiwa utama dalam membentuk moral suatu bangsa, yang telah tertanam kuat sejak bangsa itu lahir, tanpa nilai-nilai budaya suatu masyarakat akan buta dan tanpa arahan yang tepat.

Di era modern ini, masyarakat Indonesia tampaknya lebih memilih kebudayaan-kebudayaan dari barat secara keseluruhan dan mereka meninggalkan budaya asli bangsanya. Padahal dalam konteks yang sebenarnya bukan seperti itu.

Indonesi memiliki Ideologi pancasila yang mengarah kepada ideologi terbuka, bersifat luwes dan fleksibel. Dimana kebudayaan-kebudayaan yang masuk tetap harus difilter dan disesuaikan dengan kepribadian bangsa yang alami.

Contoh: berpuluh-puluh tahun yang lalu hak seorang wanita untuk belajar dan mengenyam pendidikan merupakan suatu hal yang mustahil, seorang wanita lebih dianggap sebagai aib yang harus ditutup rapat dalam rumah, melakukan pekerjaan pun hanya sebatas di dalam rumah.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat didukung dengan tokoh-tokoh yang memperjuangkan nasib wanita. Budaya tersebut sedikit demi sedikit mulai terhapuskan.

Seorang peraih NObel Amartya Sen mengatakan "Kita akan sanggup mengubah suatu kebudayaan dengan cara memberikan para perempuan anak bangsa, alat yang tepat untuk tumbuh terdidik agar mereka dapat menolong diri sendiri."

Kita mengenal emansipasi wanita, istilah tersebut lebih diartikan seorang wanita secara keblabasan. Emansipasi wanita kebanyakan lebih mengarah kepada wanita karir, yang mana pada zaman sekarang ini seorang wanita mulai meninggalkan tugas-tugasnya dalam sebuah rumah tangga dan menyibukkan diri di luar rumah, mereka menjadi lupa akan peranannya sebagai seorang pengasuh untuk anak-anaknya dan pembantu bagi suaminya. Bahkan sebagian besar dari mereka berpikir anak merupakan penghambat untuk berkarir dan sukses, sehingga mereka takut hamil.

Fenomena inilah yang menjadi bukti bahwa kebudayaan bangsa sedikit demi sedikit mulai terkikis dan diganti dengan kebudayaan ala barat, kodrat sebagai wanita mulai dilupakan.

Masyarakat sekarang menjadi terpedaya oleh budaya-budaya asing tanpa lebih dulu memilah dan memilih apakah itu sesuai dengan aturan dalam norma masyarakat maupun agamanya. Karena tidak selektif, akibatnya budaya tersebut lebih bersifat menjerumuskannya.

Oleh karena itu, masyarakat hendaknya jangan asal menerima apa yang datang dari luar, tetapi: lihat, dengar, dan akhirnya rasakan dengan hati, apakah sesuai atau tidak?

Terakhir diperbarui pada Kamis, 10 November 2011 13:28
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Adat dan Cita-cita Gethuk Lidri »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.