Masuk

Adat dan Cita-cita


(Lia Listiana XI IPA-1)

Sebuah keluarga keturunan ningrat jawa yang beranggotakan 4 orang terdiri dari Bapak,ibu,dan 2 anak perempuan sangat menjunjung tinggi nilai adat mereka. Anak sulungnya bernama Ajeng dan anak bungsu bernama Roro. Keluarga itu mempunyai darah biru ningrat jawa yang sangat kental dan kaya raya. Semua  wanita harus mahir menjadi Penari Serimpi Sangupati, tidak boleh mengenyam bangku pendidikan yang tinggi dan tidak  boleh berkarir diluar adat jawa. Perempuan-perempuan itu hanya boleh menjadi ibu rumah tangga dan penari.

Ajeng yang menjadi anak sulung hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SD, setelah itu dia hanya boleh belajar “Tari Serimpi Sangupati”. Sementara Roro bisa mengenyam bangku pendidikan sampai tingkat SMA sehingga dia sudah mengenal teknologi modern serta biasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Roro terkenal sebagai siswi yang genius di sekolahnya. Setelah lulus, Roro ingin melanjutkan kuliah karena dia ingin memperbaiki kesehatan masyarakat Indonesia yang sangat terpuruk.

Pada suatu pagi saat sarapan, Roro memberanikan diri bicara kepada keluarganya bahwa dia ingin melanjutkan kuliah meskipun dia tau itu menentang adat kebudayaan.”Saya ingin melanjutkan kuliah,Pak” kata Roro kepada Bapaknya. “kamu jangan sekali-kali berani menentang adat keluarga kita! Kamu harus menjadi seorang penari dan tidak boleh kuliah” tegas bapaknya. Meskipun Roro tidak mendapat ijin dari keluarga, tapi dia selalu berusaha belajar dan mendaftar disebuah perguruan tinggi. Setiap Roro berangkat kuliah, dia ijinnya pergi ke rumah temannya. Setelah beberapa hari, bapaknya curiga dan mengikuti Roro sampai di kampus. Bapaknya kaget dan bertanya-tanya mengapa Roro ke kampus dan bapaknya mencoba bertanya kepada salah satu mahasiswi “apa adik kenal dengan gadis itu?” ujar bapaknya. Mahasiswi itu menjawab “ya,saya kenal. Dia bernama Roro anak Fakultas Kedokteran, dia sekelas dengan saya pak” ujar mahasiswi itu.

Akhirnya bapaknya pulang dan bercerita kepada keluarga besar. Tidak lama kemudian Roro pulang dan semua anggota keluarga marah besar kepada Roro.  “apa yang kamu lakukan, kenapa kamu berani menentang adat kita? Adat kita mengharamkan wanita berpendidikan tinggi!!” ujar bapaknya. “kapan wanita bisa maju kalau tidak boleh berpendidikan tinggi,pak? Tujuan saya baik, saya ingin berguna bagi sesama manusia dan bangsa ini. Apa salahnya kalau saya kuliah? bahkan agama islam menyuruh umatnya untuk selalu menuntut ilmu” kata Roro. Mendengar perkataan Roro, semua keluarganya diam. Tapi, keluarga Roro tetap tidak setuju kalau Roro melanjutkan kuliahnya.

Meskipun semua anggota keluarga  tidak setuju, tapi Roro tetap berjuang melanjutkan kuliahnya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya. Roro selalu mendapat beasiswa dan akhirnya keinginan dia untuk menuntut ilmu di luar negeri tercapai. Dia mendapat beasiswa kuliah di Universitas Harvard, suatu perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Akhirnya dia bicara kepada keluarganya bahwa dia mendapat beasiswa ke luar negeri. Mendengar perkataan Roro, bapaknya marah besar karena Roro telah diam-diam melanjutkan kuliahnya. Setelah itu Roro diasingkan dan dipasung di “Sanggar Lapak” selama 2 bulan. 1 hari hanya dikasih makan 1 piring dan minum 1 gelas. Tapi Roro tetap berusaha belajar meskipun dengan cara diam-diam, bahkan dia berhasil menulis buku tentang kesehatan. Setelah 2 bulan Roro diasingkan, keluarganya sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan sudah keterlaluan. Kemudian Roro dikeluarkan dari Sanggar Lapak dan keluarganya menyetujui Roro melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Akhirnya, Roro melanjutkan kuliah di Universitas Harvard dan dia telah berhasil membuat banyak karya yang bisa mengharumkan nama Indonesia dikancah Internasional sesuai dengan cita-citanya. Setelah sukses belajar di Amerika Serikat dan diwisuda, Roro pulang ke Indonesia dengan membawa banyak prestasi. Salah satu prestasinya adalah menemukan vaksin yang bisa menghambat perkembangbiakan virus HIV. Roro juga telah berhasil mendapat berbagai penghargaan tingkat internasional. Keluarganya sangat bangga dengan prestasi yang telah dicapai Roro dan akhirnya dia bisa berguna bagi sesama manusia.

Terakhir diperbarui pada Kamis, 10 November 2011 13:28
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Hikmah: Kebudayaan Budaya yang Memperdaya »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.