Masuk

Impianku Terhalang oleh Kenyataan

Di sela hembusan angin pantai yang memecah kesunyian, terlihat seorang anak kecil duduk di atas kursi roda menatap gemuruh ombak. Tatapan yang berisikan harapan, impian, dan luka karena kenyataan.

Dari arah timur  tepi pantai terdengar suara teriakan "Azka....!!! pulang nak......, hari sudah sore." Azka pun terbangun dari lamunannya, berbalik arah menuju asal suara. "ya bu....!!" tanpa berkata panjang lebar Azka langsung pulang menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, Azka kembali termenung , sampai-sampai ia tidak sadar kalau ibunya dari tadi bicara sama dia. "Azka ! kamu tidak nonton teman-temanmu yang hari ini bertanding sepak bola? hari ini kan pertandingannya disiarkan langsung lewat televisi." Mendengar kata-kata itu tubuh Azka seketika langsung melemas dan detak jantungnya berdegup kencang. Azka tidak mampu berkata apa-apa, hanya tetes air mata yang keluar dan turut mengalir dari matanya. Dalam hati Azka berkata "seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan bagiku, hari dimana aku bertanding football tingkat Nasional, tapi semua itu sekarang hanyalah tinggal bayang-bayang belaka dan kenangan terindah yang dapat aku ingat dalam hidupku. Di saat aku bermain football dengan teman-teman, memanjat tebing bersama, naik turun gunung , kini tidak dapat terulang kembali. Mengapa...?? mengapa...?? mengapa...?? Apakah ini takdirku? aku sudah terlahir dari keluarga yang tidak berada, ayahku diambil, tapi kenapa sekarang kakiku diambil juga?". Tanpa disadari Azka, ibunya memeluknya sambil menangis , apakah aku tidak berhak bahagia bu? tidak berhak punya impian? aku juga ingin bahagia seperti teman-temanku, aku ingin meraih dan membahagiakan orang tuaku.

"Azka, maafkan ibu nak, ibu tahu apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Andai saja ibu orang yang punya, pasti kamu tidak akan seperti ini, kamu bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang maksimal, tapi apa daya ibu nak? ibu cuma seorang pengangkut ikan dari kapal-kapal yang bekerja dari belas kasihan para nelayan." Ini bukan salah ibu kok...!! mungkin ini memang sudah takdir bu," aku yang seharusnya minta maaf sama ibu, karena aku tidak bisa membalas kebaikan ibu. Ibu sudah membesarkan kami dengan kasih sayang dan cinta seorang diri tanpa ayah. Seharusnya sebagai anak laki-laki aku bisa menggantikan ayah untuk menjaga dan membahagiakan ibu bersama adik-adik.

Setelah ditinggal suaminya memang membesarkan ketiga anaknya sendiri. Wanita yang umurnya hampir 40 tahun itu harus menjalani hari-harinya tanpa suami dan menjadi tulang punggung keluarga. "Aku juga telah gagal mewujudkan keinginan terakhir ayah bu..... yaitu melihatku menjadi seorang atlet." Mana mungkin ada atlet yang tidak bisa jalan, andai saja waktu itu aku mau mendengarkan ibu untuk tidak pergi mendaki gunung, pasti ini semua tidak akan terjadi. "Ya sudah nak, jangan larut dalam kesedihan, sebaiknya sekarang kamu istirahat karena hari semakin larut." Mendengar perkataan ibunya, Azka langsung bergegas untuk istirahat. Keesokan harinya seperti biasa, Bu Lasmi pergi ke laut untuk membantu para nelayan menurunkan ikan dari kapal. Azka dan adik-adiknya pergi ke sekolah, yang ada hanyalah tinggal rumah tua yang dindingnya dari bambu. Detik demi detik terlewati, haripun semakin siang, waktunya Azka dan adik-adiknya pulang sekolah. Pada perjalanan pulang menuju rumah, tiba-tiba ada bola jatuh tepat di depan kursi roda Azka. Azka spontan terkejut melihat bola  yang ada di depannya. "Ha.......?? Bola siapa ini" Azka sempat bertanya dalam hati. Tidak lama kemudian, datang seorang laki-laki yang berumur kurang lebih 19 tahun."Maaf dik, mau ngambil bolanya" ujar laki-laki itu. "Oh.... ya mas ini bolanya" jawab Azka. "Perkenalkan.... saya Irfan, adik siapa?" tanya Irfan. "A..... a..... aku Azka" Azka nampak gugup menjawab pertanyaan Irfan karena ia tidak begitu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Irfan. "hello.....!! kok bengong sih? kamu tidak kenapa-kenapa kan?" saut Irfan. Tiba-tiba mata Azka berkaca-kaca dan bayang-bayang masa lalunya datang menghantui. "Du.... dulu aku adalah seorang pemain football seperti mas Irfan." Azka mulai menceritakan masa lalunya kepada Irfan. "Lalu ..... kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Irfan. "Satu tahun yang lalu, waktu itu sore hari, hujan sangat lebat. Aku dan teman-temanku hendak naik gunung tapi ibuku melarangku karena takut sesuatu yang buruk terjadi padaku. Namun aku tidak mendengarkan kata-kata ibuku, dan ternyata apa yang dikhawatirkan ibu benar-benar terjadi. Di tengah perjalanan mendaki gunung, aku terpeleset karena jalan yang licin, aku jatuh ke dasar jurang dan akhirnya kakiku harus diamputasi. Sekarang aku tidak bisa menjadi atlet mas." "Azka... dengarkan kakak, walaupun kamu sudah tidak bisa seperti dulu lagi, tidak bisa menjadi atlet seperti impianmu, tapi kamu tetaplah seorang atlet, yaitu atlet di hati orang tuamu." "Terimakasih mas untuk nasihatnya."

Setelah mendengar kata-kata dari Irfan, Azka menjadi lebih sabar dalam menjalani hari-harinya dan ia yakin kegagalan itu bukanlah akhir dari suatu kahidupan, tapi dibalik kegagalan itu masih ada keberhasilan tertunda yang menunggunya di pintu masa depan.

Lebih lanjut dalam kategori ini: « Jahe Olahraga Bermanfaat Bagi Kesehatan »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.