Masuk

Nuzunul qur'an

Istilah nuzunul qur'an sudah popular di tengah-tengah masyarakat, ialah diartikan sebagai malam pertama kali turunnya Al Quur'an sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi Nabi dan Rasul terakhir agama Islam. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 , yang artinya adalah perintah  membaca.

Ketika wahyu tersebut diturunkan, Nabi Muhammad SAW sedang berada di gua Hira', dan tiba-tiba malaikat Jibril mendatanginya untuk menyampaikan wahyu saat Rasulullah berusia 40 tahun. Keadaan Rasulullah sesaat setelah Jibril pergi, Beliau merasa sangat ketakutan dan dalam rasa kengerian, lalu beliau segeralah pulang kepada istrinya dan menyuruh istrinya untuk menyelimuti tubuh beliau yang amat dingin, hingga rasa dingin itu hilang.

Banyak anggapan mengenai kapan diturunkannya Al Qur'an, tetapi lebih dominan bahwa waktu tersebut adalah pada tanggal 17 Ramadan.  Di masjid-masjid atau di majelis tertentu banyak para tokoh agama Islam mengisi acara tersebut dengan berdakwah atau berceramah tentang nuzunul qur'an. Selain pengajian umum, banyak lagi acara yang biasa dilakukan seperti pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, nasyid, dan lain-lain. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta-pesta makan. Berbeda dengan Rasulullah, ketika memperingati nuzunul quran beliau membaca Al Qur'an  bersama malaikat Jibril diluar waktu sholat, dan di dalam sholat  pun Beliau membaca ayat-ayat Al Qur'an sebanyak-banyaknya, karena Beliau masih merasa kurang meski telah membaca setiap waktu.

Kita sebagai umat muslim harus bisa memilih kegiatan terbaik dalam rangka peringatan tersebut, memilih teladan dari baginda Rasulullah atau imam kita. Seperti Imam Syafi'i misalnya pada setiap bulan Ramadhan mengkhatamkan Al Qur'an sebanyak 60 kali.

Banyak teladan dari ulama' terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur'an. Bandingkan dengan kehidupan dan keadaan sekarang, malah mengadakan pesta ria, makan-makan, apalagi na'udzubillah pentas menyanyi dan tari-menari. Oleh karenanya, kita harus pandai-pandai menyikapi peringatan tersebut, yang dalam artian masih banyak yang di dalam peristiwa nuzunul qur'an belum diketahui.

Terakhir diperbarui pada Selasa, 07 Agustus 2012 09:53
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Lailatul Qadar Cahaya Seribu Bulan »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.