Masuk

Kartini

Sintiya Agustin MAMHTROSO.com Sintiya Agustin

Kartini adalah simbol pejuang perempuan Indonesia, yang berhasil membebaskan perempuan dari “gelapnya” kebodohan menuju “cahaya” kecerdasan perempuan saat itu. Memaknai arti perjuangan Kartini bukanlah pada kegiatan gebyar sesaat, atau sibuk dengan diskusi persaingan gender antara laki-laki dan perempuan. Memaknai arti perjuangan Kartini adalah melanjutkan “tugas berat” yang telah Kartini pilih untuk menjadikan perempuan Indonesia yang berdaya dan bermanfaat untuk diri, keluarga, dan negerinya.

Karakter Kartini masa kini adalah sosok perempuan yang cerdas, mandiri, beriman, berdaya guna, dan mencintai lingkungannya (dirangkum dalam “Cermin Budaya”).

Pertama, cerdas. Kartini masa kini adalah perempuan yang mencintai budaya belajar, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan maupun pengalaman hidup. Konsep belajar sepanjang hayat tidak dibatasi pada usia atau bangku sekolah.

Kedua, mandiri. Kartini masa kini adalah perempuan yang mandiri, baik mandiri dalam kepribadian maupun mandiri secara ekonomi. Perempuan yang mandiri kepribadiannya adalah perempuan yang memiliki percaya diri dengan konsep diri yang positif, mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, tidak mudah menyerah, dan berupaya mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan. Sedangkan perempuan yang mandiri secara ekonomi adalah perempuan yang dapat mengelola keuangan keluarga dan turut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pribadi dan keluarganya.

Ketiga, beriman. Kartini masa kini adalah perempuan yang memiliki keseimbangan hidup, baik secara vertikal kepada Tuhan-Nya maupun secara horizontal dengan sesama manusia. Secara vertikal, perempuan melakukan berbagai karya dalam hidup ini sebagai suatu ibadah, dan ia meninggalkan perbuatan buruk juga untuk ibadah. Sedang secara horizontal, keimanan membimbing perempuan berbuat bukan semata untuk kepentingan pribadinya tetapi juga untuk memberikan kemanfaatan keluarga, dan masyarakat pada umumnya.

Keempat, berdaya guna. Kartini masa kini adalah perempuan yang berdaya guna, yang memberikan kemanfaatan baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan negaranya. Bermanfaat untuk dirinya menjadi unsur pertama sebelum memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Kelima, mencintai lingkungannya. Karakter Kartini masa kini adalah perempuan yang mencintai lingkungannya. Caranya, diawali dari kesadaran dan kepedulian diri untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman dengan gerakan Go Green.

Dalam konteks itu, pemberdayaan perempuan diharapkan dapat mendukung pembentukan karakter bangsa. Beberapa kegiatan dapat dilakukan kaum perempuan untuk membentuk karakter bangsanya.

Pertama, program yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Program pemberdayaan perempuan yang dapat membentuk karakter bangsa adalah program berjangka panjang dan dilaksanakan secara bertahap. Program tersebut tidak berhenti pada tahap tertentu sampai benar-benar tercapai apa yang menjadi tujuannya.

Kedua, memiliki prioritas bidang garap. Program pemberdayaan perempuan harus memiliki spesialisasi bidang garap yang dibutuhkan. Di daerah pesisir, pembinaan yang dilakukan dapat berkonsentrasi pada pengolahan hasil laut dengan berbagai produk baru berupa makanan khas daerah tersebut dengan bahan dasar ikan dan hasil laut lainnya.

Ketiga, pembinaan yang bersifat menyeluruh. Maksudnya adalah bahwa perempuan pada dasarnya multiperan, sebagai istri, ibu, dan anggota masyarakat. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan perempuan dalam mengemban berbagai peran tersebut merupakan program yang harus diberikan.

Keempat, mengefektifkan pemberdayaan melalui kelompok kecil. Program kegiatan pemberdayaan perempuan lebih efektif dilakukan melalui kelompok-kelompok kecil. Bisa seperti Dasawisma, Kelompok Usaha Bersama (Kube), Sekolah Ibu Salimah Terpadu (Sister), dan bentuk-bentuk lainnya dengan anggota 10 sampai 15 orang. Jika dikelola dengan baik, terprogram, dan berkesinambungan, peningkatan kualitas sumber daya perempuan akan tampak hasilnya.

Kartini adalah motivator kita. Saya kutipkan surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (hak) dan mana yang jahat (batil). Pergilah! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah, untuk kepentingan yang abadi.”(Sumber: Lampung Post, 21 April 2011)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.