Masuk

Keajaiban Semangat Pemuda

Dua keluarga yang sangat berbeda, namun telah bersabat cukup lama. Tetapi, tugas dan pekerjaan memisahkan persahabatan dua keluarga tersebut. Dua keluarga itu adalah keluarga pak Romi dan keluarga pak Alex. Sebelumnya mereka tinggal di Jogja, karena ada kepentingan pak Romi dan keluarganya pnidah ke Semarang, sedangkan pak Alex dan keluarganya pindah ke Sumatera.

Pak Romi mempunyai keluarga kecil dan hidup dengan penuh kederhanaan.  Istrinya telah meninggal dunia sejak anak semata wayangnya, Marisa berumur  5 tahun. Sehari-harinya pak Romi hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Padahal sekarang ini anak gadisnya duduk di bangku SMA. Berbeda dengan pak Alex yang hidup dengan sempurna, menjadi direktur perusahaan ternama, hidupnya bergelimangan harta, mempunyai istri yang cantik, dan semakin lengkap dengan jagoannya, mario. Begitulah kehidupan dua keluarga yang bersahabt tersebut. 

sungguh malang nasib Marisa, ketika dia duduk di kelas 12 SMA, ayah tersayangnya, pak Romi jatuh ketika bekerja, keadannya sangat kritis, namun Tuhan telah menyelamatkan pak Romi, walaupun Pak Romi mengalami kelumpuhan total pada kedua tangan dan kakinya. Melihat kejadian itu MArisa merasa tidak sanggup mengurus Ayahnya seorang diri. Akhirnya Marisa memutuskan untuk pndah  ke rumah Budenya, di Surabaya. Tapi apa yang dia dapatkan, bukan kasih sayang dan perhatian justru mendapat perlakuan yang kejam dari Budenya. Marisa bingung, apakah dia bisa bertahan menghadapi Budenya yang terus-menerus memperlakukannya seperti pembantu. Padahal rumahnya di Semarang sudah ia Jual. Tapi, Marisa bersabar dan tetap dan tetap hormat kepada Budenya.

Pagi, Siang, Sore, malam, setiap waktu Marisa selalu merawat ayahnya, dan selalu ada saat Ayahnya butuh. Namun, dia juga tidak pernah lupa dengan belajar, karena sebentar lagi dia akan ujian. Dan Marisa juga ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Suatu malam Marisa dipanggil ayahnya, "nduk ... bapak kangen jalan-jalan ke taman," dengan logat jawanya. "Inggih bapak,... Marisa juga kangen jalan-jalan sama bapak", lalu marisa mendorong kursi roda ayahnya dengan penuh hati-hati menuju ke taman yang kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah Budenya. Sebenarnya ayah Marisa ingin berbicara tentang sekolah Marisa, "Nduk,... kamu sekarang sudah besar, sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi kamu lulus." Marisa tertunduk lesu. "Kamu ingin meneruskan sekolahmu Nduk?". "Inggih bapak, Marisa ingin kuliyah, Marisa ingin jadi orang sukses, Marisa ingin menjadi anak yang baik, Marisa ingin membahagiakan bapak." Ayah pun tidak tahan dengan perkataan anaknya itu. Dia langsung memeluk anaknya dengann penuh kasih sayang. Haru tangispun menghiasi mereka bersua.

Tibalah saatnya kelulusan Marisa, Marisa telah lulus SMA dan mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. MArisa mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliyah di Yogja. Akan tetapi saat itu juga ayahnya terkena serangan jantung, padalah besok Marisa harus pergi ke Yogja. Derai tangis marisa membanjiri pipinya ketika ia mendengar dokter mengatakan bahwa ayahnya sudah tiada. Untunglah, Budenya yang semula benci dan jahat kepadanya, kini menjadi perhatian karena merasa kasihan terhadap Marisa pergi ke Yogja untuk mengejar impiannya menjadi seorang dokter.

Kejadian menyedihkan juga menimpa pak Alex, sahabat dari ayah Marisa. Pak Alex gulung tikar, isterinya mengalami depresi, dan dia pun terkena stroke. Tapi anaknya, Mario yang seumuran dengan Marisa tetap semangat untuk melanjutkan studinya. Mario ternyata juga memilih Yogja sebagai tujuan kuliahnya. Mungkin memang sudah takdir, Marisa dan Mario kuliah di Universitas yang sama. Keduanya berbeda jurusan, Marisa memilih kedokteran, dan Mario memilih Perkantoran. Mereka sama-sama berjuang dan bekerja untuk membiayai kuliahnya.

Setelah beberapa tahun, mereka mereka telah menamatkan kuliyahnya, dan berkat kesungguhan  dan kerja keras, akhirnya mereka berhasil mendirikan rumah sakit dan Marisa menjadi dokter.

Setelah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, mereka kemudian menyempatkan waktu untuk ngobrol berdua disalah satu kafe di Yogja. Keduanya saling bercerita, "Dulu aku sering diajak ayahku ke kafe ini," kata Mario. "Aku juga, bapakku mengajakku ke kafe ini untuk menemui sahabatnya." "Kok bisa sama ya...?" Mario menyaut. "Iya... dulu bapakku bapakku punya sahabat yang sangat baik, tapi sayang beliau dan keluarganya pindah. Dulu aku juga bersahabat dengan anaknya, namanya Yoyo." "Hei... aku juga dulu diajak papaku ke sini untuk menemui sahabatnya,  dan aku juga bersahabat dengan anaknya, Ica namanya. Tapi sayangnya sahabat papaku pindah ke semarang, dan kami pun pindah ke Sumatera." "Sumatera? Semarang? Siapa nama papamu?" Marisa penuh tanya. "Alex Pambudi." "Tepat sekali, kamu pasti Yoyo kecil sahabatku dulu. Kamu anaknya Pak Alex sahabat pak Romi, Bapakku!". Kemudian keduanya langsung berpelukan dan merasa sangat kecil mereka. Yang telah berpisah sekian lama.

Marisa dan MArio sudah dewasa dan sudah menjadi orang yang sukses. Marisa menikah dengan pria yang telah dipilihkan Allah untuknya, pengusaha muda, tampan, dan sholeh. Lia tahun kemudian Mario menyusul Marisa berumah tangga. Dia menikah dengan gadis yang cantiik dan sholehah. Mario dan Marisa hidup bahagia dengan keluarganya masing-masing. Kemudian keluarga Mario bersahabat dengan keluarga Marisa, seperti persahabatan antara keluarganya dulu.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.