Masuk

Terima Kasih WC, Kamar Mandi, Kakus dan Kerabatnya

MAMHTROSO.com — Ide atau gagasan bisa muncul dimana saja karena sesungguhnya pikiran memang liar. Tetapi ada yang ‘tidak biasa’ atau menarik untuk diperbincangkan. Setiap kali berada di kamar mandi, WC, kakus atau sejenisnya, selalu saja ada ide aneh, unik, nakal, atau kreatif yang muncul. Sampai-sampai seorang teman pernah bertanya mengapa mesti kamar mandi atau WC atau kakus dan kerabatnya yang menjadi tempat terjaringnya ide. Saya sendiri pun sempat bingung kenapa bisa begitu. Syukurlah, ini rupanya menjadi bukti bahwa saya tidak sendirian dalam pertanyaan yang sama. Meskipun kita semua tahu bahwa keliaran pikiranlah yang memungkinkan ide-ide tadi muncul, saya mencoba untuk tidak sesederhana itu ketika mencoba menjelaskannya. *Gaya betul!

Asumsi pertama begini, semakin lama di kamar mandi, semakin banyak ide yang muncul. Itulah kenapa sayang sebenarnya jika tidak segera dijala ide-ide tadi, dan lantas merekamnya dalam media apapun, entah buku, telepon genggam, laptop dll. Asumsi ini lantas menyulut ke pertanyaan berikutnya, jika memang kamar mandi, kakus dan sejenisnya adalah wilayah dimana banjir ide terjadi, jangan-jangan, beberapa kisah romansa-yang bahkan begitu kita gandrungi dan sanggup menitikkan air mata haru, membuat muka memerah sampai berkata ‘ciee’-itu bermula dari sini. Dari peristiwa-salah satunya, maaf, lepasnya pup dari sarangnya. Makin sulit pup lepas, makin deras pula idenya. Cukup menggelikan, ya! *Maaf, agak jorok.

Tetapi oke, jika ditanyakan pertanyaan tadi-kenapa ide-ide selalu tumpah disini, jawaban saya begini, karena kamar mandi-atau apapun kita menyebutnya-adalah zona dimana kita ‘jauh’ dari sumber-sumber informasi dan teknologi-yang memungkinkan kita untuk semakin meliarkan pikiran.

Kalau kita perhatikan, kenapa kalimat-kalimat bijak yang sering kita kutip muncul kebanyakan tidak pada zaman kita, tetapi muncul bahkan dari zaman ribuan tahun lalu? Menurut saya mungkin ini karena tradisi kontemplasi seperti lewat tapa atau meditasi sangat kental pada generasi mereka. Mereka selalu memberikan waktu untuk menjelajahi diri mereka sendiri. Artinya, diri sendiri adalah objek dari peristiwa kontemplasi atau refleksi tadi Wilayah penjelajahan pikiran ini biasanya sepi dari ‘teknologi’. Sampai bahkan ada yang melakukan aktifitas ini di tempat-tempat terpencil-yang jauh dari kehadiran orang lain, atau setidaknya jauh dari suara-suara yang bisa menginterupsi pikiran-pikiran mereka.

Dalam aktifitas inilah biasanya segala sesuatu yang pernah mereka cerap atau alami lewat segenap panca indera akan bertebaran dalam alam pikiran mereka. Menyimak, memperhatikan, memilah-milah mana ampas dan intisari. Selanjutnya, pikiran-pikiran tadi diabadikan lewat tulisan-tulisan yang selalu hidup sepanjang masa. Nah, yang mau saya sorot disini adalah wilayah kontemplasi atau meditasi mereka dan kata ‘jauh dari interupsi suara’.

Nah, pemutahkhiran dalam teknologi membawa kita pada akses informasi yang bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Karenanya, kita menjadi objek yang dituntut untuk mengunyah banjir informasi dalam sepersekian detik. Akibatnya, jauh dari jangkauan media yang mampu menghantarkan kita ke sumber informasi, seperti telepon genggam, tablets, tv, atau apapun itu, adalah hal yang mustahil saat ini. Kita dipaksa untuk terus mengunyah informasi dari sana-sini dan menerimanya begitu saja. Kedekatan atau kemesraan dengan piranti ini cenderung bekerja satu arah, dimana kita adalah objeknya; objek informasi-yang kemudian melahirkan semacam prinsip; harus selalu memperoleh informasi baru kapanpun dan dimanapun.

Karena itu, kekariban dengan teknologi memampatkan kita untuk melakukan semacam pengembaraan ide, tangkap ide, saring ide dalam pikiran. Kenapa? Karena kita selalu disuapi informasi yang tumpah seperti banjir bandang, sulit dikendalikan dan selalu datang tiap waktu. Apalagi ketika slogan waktu adalah uang diamini. Satu detikpun begitu amat berharga untuk selalu menyeruput informasi. Untuk selalu disuapi informasi. Untuk selalu mengunyah, bahkan menelan paksa informasi karena terlalu banyak yang disuapkan. Tidak ada satu wilayah pun disekitar kita yang tidak terjamah teknologi-yang menjadi media penghantar ke sumber informasi. Sekali lagi, karena slogan yang diamini tadi. Tak boleh ada waktu yang tersita.

Disinilah WC, kamar mandi, kakus atau apapun itu menjadi seksi untuk dibicarakan. Karena kalau kita perhatikan, wilayah ini termasuk yang cukup sepi dari piranti-piranti tadi, yakni ponsel, laptop, internet, tv dll. Kesempatan untuk disuapi informasi nyaris hilang-meskipun memang ada beberapa orang yang memasang piranti-piranti ini di kamar mandi mereka. Tapi, fokusku adalah sepinya wilayah ini dari piranti tadi.

Nah, ketika tak lagi diinterupsi oleh informasi, disinilah informasi-informasi tadi mulai mengendap. Pikiran-pikiran kita mulai mengembara. Mereka keluar dari bahtera seakan-akan ingin merayakan kebebasan dari surutnya banjir bandang (informasi). Mereka seperti merasa bebas. Itulah kenapa, tiba-tiba saja pengalaman-pengalaman masa lalu muncul. Ide-ide juga muncul. Mereka berlarian dalam pikiran karena bahagia tak lagi dihadang air bah. Itulah diawal tadi saya sebutkan (asumsi saya) bahwa semakin berlama-lama di kamar mandi, semakin liar juga pikiran atau ide yang terbang kesana-kemari.

Inilah menurutku uraian untuk menjelaskan kenapa WC atau kamar mandi atau apapun itu menjadi begitu ‘keramat’ dalam melahirkan ide-ide kreatif.

Kalimat penutupku begini, semakin jauh kita dari kemesraan terhadap teknologi, semakin mungkin bagi kita untuk melahirkan juga membebaskan ide-ide tadi.

Terima kasih WC, kamar mandi, kakus dan kerabatnya.

*Ah, jangan-jangan memang ini ya alasan kenapa beberapa wanita cukup lama berada di dalam kamar mandi. (Esti Asrofah)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.