Logo
Cetak halaman ini

Ibuku, pahlawanku, pahlawan bangsa

Oleh Kharirotus Su’adah ( X F MA MH )

Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati hari tersebut sebagai hari pahlawan. Hari Pahlawan dilatarbelakangi oleh perjuangan arek-arek Suroboyo dalam melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.

Meskipun pada masa itu Indonesia telah merdeka. Suasana yang biasa kita dapati saat peringatan hari pahlawan yaitu upacara kenegaraan, upacara di lembaga-lembaga daerah, upacara di sebagian sekolah yang dilaksanakan dengan khusyu’, ada lomba-lomba , kerja bakti , ada juga yang mengunjungi taman makam para pahlawan di berbagai kota. baik sekedar menaruh bunga maupun mendokan dengan mengenang perjuangan mereka. Momentum hari tersebut diperingati  untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan negara dan bangsa.

Jika mendengar kata pahlawan yang terlintas pertama di fikiran kita pasti seseorang yang berperang di medan perang, yang namanya diagung-agungkan oleh rakyat. Tapi ini sebuah konsep yang salah. Pahlawan adalah orang yang rela berkorban demi kepentingan orang lain dan berani membela kebenaran. Pahlawan tidak mengharapkan dipuji, tidak mengharapkan imbalan atas perjuangannya. Contohnya Ibu, Ibu adalah pahlawan bagi anaknya.

Meski tidak pernah dinobatkan pemerintah sebagai pahlawan, Meski tidak pernah dipublikasikan oleh media sebagai pahlawan, meski tidak pernah menerima tanda penghargaan berupa lencana dan sejenisnya, saya yakin anda setuju bahwa “ IBU adalah PAHLAWAN “ .

Ibu, mama, mami, mamak, emak, embok ,ummi, bunda atau panggilan lain untuk sosok yang tegar, berkorban demi anaknya, dengan kelembutan kasih sayangnya. Mulai dari mengandung sembilan bulan, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, menasehati, bahkan Ibu rela bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan pendidikan anaknya. Ibu pandai mengatur keuangan apakah cukup atau tidak untuk keperluan hidup keluarganya. Ibu menggunakan uang itu dengan hati-hati, contohnya Ibu belanja untuk konsumsi dengan hemat, supaya bisa disisihkan untuk keperluan lain di saat penghasilan suaminya belum cukup untuk memenuhi segala kebutuhan.

Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Pengorbanan beliau yang tak ternilai harganya harus dihargai sedemikian rupa sebagai bentuk rasa terima kasih dan wujud syukur kepada ilahi yang telah memberikan kesempatan mencicipi nikmat hidup ini.

Hidup akan sangat hampa bila tak mendapatkan belaian tangan seorang Ibu, belaian yand dapat menurunkan tensi darah saat marah, belaian yang dapat menenangkan pikiran di kala stress, beliaulah yang sangat paham apa yand dialami oleh anaknya, Ibulah yang akan menerima apapun bentuk dan keadaan anaknya.

Sebagai tiang hidup, Ibu membutuhkan sandaran yang kuat, sandaran itu bisa berupa senyum manis anak-anaknya, kasih sayang suaminya, penghargaaan berupa ucapan terima kasih yang tulus dan pancaran cinta yang sebenarnya sudah cukup membuat seorang Ibu bahagia. Ada sebuah kisah pada zaman Rosulullah SAW. Saat seorang Ibu dengan dua anaknya telah menerima sedekah sebutir kurma, kemudian kurma itu dibelah menjadi dua. Lalu dua belah kurma tadi dibagikan untuk kedua anaknya, masing – masing satu bagian, sementara Ibunya tidak mendapat secuilpun dari buah kurma tersebut. Tapi Ibu tersenyum melihat anak-anaknya bahagia. Kebahagiaan anaknya menjadi kebahagiaan dirinya.

Tidak ada kesuksesan tanpa disertai dengan dukungan ibu, banyak contoh yang bisa kita lihat di sekitar kita, orang-orang sukses memang memiliki wanita hebat di belakangnya. Yaitu Ibu tercinta, beliau yang merawat dan mendidik kita menjadi super power dalam menjalani kehidupan yang fana dan keras ini. Beliau juga yang mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak walau badai menghadang sekalipun. Pantas  jika ibu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Bahkan ada yang mengatakan masa depan sebuah bangsa ada di tangan para wanitanya. Maka disinilah peran seorang wanita, tak sekedar berkutat di dapur, tetapi bertanggungjawab pada pendidikan anak yang nantinya akan menjadi tonggak bangsa.

Sebelum kita dilahirkan di dunia ini , Ibu sudah berjuang dengan hebat , perjuangan untuk melindungi, menjaga, merawat, memperhatikan serta menyayangi kita ketika masih dalam kandungannya, tidak menghitung berapa kali beliau menarik nafas panjang manakala kita menendang-nendang perutnya, berolahraga dalam kandungannya, lalu bagaimana perjuangannya ketika melahirkan kita ke dunia, dengan mengabaikan rasa sakit yang tiada tara.

Sudah kewajiban bagi kita untuk berbakti kepada Ibu yang telah berjuang dan berkorban bagi kita anaknya, Kasih sayangnya, doanya yang tak henti dipanjatkan untuk kebaikan anaknya, doa beliau adalah pembuka pintu Ilahi dikabulkannya segala doa.

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 30 Januari 2016 10:16
Hakcipta © 2015 MA Matholi'ul Huda Troso.