Logo
Cetak halaman ini

Artikel: Ambisi atau Obsesi

Menjadi siswa-siswi kelas 12 merupakan salah satu bentuk pendewasaan. Artinya kita harus dapat mempertanggung jawabkan apa saja yang menjadi pilihan dan keputusan kita. Selain itu kita juga dituntut untuk memiliki pemahaman diri yang baik, seperti memahami kelebihan  kita, kekurangan diri kita, hingga hal-hal yang dirasa perlu untuk benahi dan dirubah dari dalam diri kita.

Seperti halnya saat kita menjawab beberapa pertanyaan dari guru kita mengenai kemana kita setelah lulus nanti, ambil jurusan apa dan di perguruan tinggi mana, semua itu memerlukan tanggung jawab dan bukti kesungguhan kita. Kita harus memutuskan segala sesuatu dengan tepat dan melalui pertimbangan yang mantap sebelumnya. Supaya impian-impian kita bukan hanya menjadi sebuah “impian”, kita harus menjadikannya sebagai ambisi untuk dapat mencapai target atau impian tersebut.

Mendengar kata ambisi tidak semua orang dapat memaknai kata ambisi itu dengan baik. Bahkan kata “ambisi” telanjur berkonotasi negatif atau lebih sering dipakai untuk menggambarkan situasi yang negatif sebagi usaha pengejaran atas kemasyhuran, kekuasaan serta pencapaian tertentu. Entah “keliru Budaya” atau “keliru Bahasa” ini namanya? Keliru Budaya disini saya artikan sebagai terkukungnya kita dalam budaya “being humble” yang sempit; artinya menjadi asertif atau mengungkapkan ambisi-ambisi pribadi secara terbuka adalah hal yang tabu dan "tidak timur”. Keliru Bahasa saya artikan sebagai kesalah-kaprahan dalam mengartikan sebuah makna kata yang notabene berasal dari bahasa asing.

Jadi bolehlah saya berambisi menurunkan berat badan saya 10 kg dalam 6 bulan ke depan. Atau bolehlah Ali berambisi menjadi pengacara kondang di Indonesia. Burukkah Slamet berambisi menjadi manajer perusahaan besar seperti Naver Corporation?

Anehnya, orang Indonesia senang sekali dengan kata “Obsesi”. Sesekali coba kita lihat di TV khususnya infotainment. Media infotainment yang sering memulai keliru budaya dan bahasa, dengan ringan bertanya pada seorang artis muda berusia 16 tahun: “Obsesi apa yang ingin anda capai dalam 5 tahun ke depan?”. Si Artis pasti akan dengan lancar menjawab pertanyaan itu, “Saya kepingin umroh, kepingin kawin muda, kepingin main layar lebar” dsb. Orang Indonesia lebih nyaman dengan kata obsesi dari pada ambisi.

Kita buka saja kamus Bahasa Inggris!

Let’s just open The Webster’s Dictionary!

 

Definisi “ambition” atau "ambisi' menurut Webster:

  • A goal or objective that somebody is trying to achieve

(Arah atau tujuan tertentu yang seseorang sedang coba capai)

  • A desire for success: a strong feeling of wanting to be successful in life and achieve great thing

(Keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan)

  • Desire for exertion or activity; energy

(Keinginan yang kuat untuk melakukan aktivitas tertentu, semisal: Ambisi untuk diet, mendaki Himalaya, atau kembali kuliah)

  • An eager or strong desire to achieve something, such as fame or power.

(Keinginan atau hasrat yang kuat untuk mencapai tingkat kemahsyuran dan kekuasaan tertentu)

 

Definisi “obsession” atau "obsesi" menurut Webster:

 

  • Compulsive preoccupation with a fixed idea or an unwanted feeling or emotion, often accompanied by symptoms of anxiety.

(Penguasaan pikiran yang didorong oleh perasaan dan emosi yang memaksa atas ide/keinginan tertentu yang sering kali disertai dengan tanda-tanda kecemasan)

  • A compulsive, often unreasonable idea or emotion.

(Hasrat /keinginan/ dorongan yang memaksa, kerap kali dengan keinginan atau emosi yang tidak beralasan)

  • An unwelcome, uncontrollable, and persistent idea, thought, image, or emotion that a person cannot help thinking even though it creates significant distress or anxiety.

(Keinginan/ide/pikiran/bayangan/emosi yang tidak terkendali, sering datang dengan tidak dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas)

 

Jadi, jika keinginan-keinginan kita masih berupa ide-ide yang mengawang-awang di kepala, masih keluar dalam bentuk “saya kepingin ini”, “saya ingin itu”, itu berarti kita baru berada pada tahap memiliki impian.

Jika impian-impian itu sudah masuk dalam usaha untuk mewujudkannya secara real, jika kita telah melakukan perencanaan yang terstruktur atas impian-impian itu dan sedang berjalan memfokuskan energi dan pikiran kita untuk mencapainya, berarti kita sudah berada di tahap memiliki ambisi.

Jika keinginan-keinginan atau impian-impian kita itu sudah sangat mendominasi pikiran, sudah membuat tingkat emosional menjadi meluap-luap, sudah menguasai pikiran kita tanpa terkendalikan sampai kita kadang gugup memikirkannya, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti kita sudah terobsesi dengan keinginan-keinginan atau impian-impian itu. Disitu kita sudah berada di tahap memiliki obsesi.

 

Semua berawal dari impian, maka dari itu jangan pernah takut untuk bermimpi dan berambisi, dan juga jangan pernah ragu menyusun dan mengungkapkan ambisi kita. Sebaliknya, berhati-hatilah dalam menggunakan kata obsesi, salah-salah ternyata kita sedang memperlihatkan sisi gelap psikopat kita.

 



Oleh: FIRDA ARICHA SILVI (XII IPA 2)

 

 

 

Terakhir diperbarui pada Minggu, 02 Oktober 2016 06:05
Hakcipta © 2015 MA Matholi'ul Huda Troso.