Masuk

Cerpen: Sekapur Sirih Petuah Fatihah

Angin malam menyapa, membisikkan rangkaian berita surga, cukup singkat namun kuat untuk menggetarkan jiwa. Bagai getaran kaca kala gemuruh menerpa. Seketika gairah mulai bangkit. Cakupan air wudlu pun membelai raga, begitu segar terasa. Mengantarkanku bersimpuh menuju ke hadapan-Nya, mengabdi kepada-Nya, dan mencurahkan semua yang kurasa. Karena hanya kepada-Nyalah tempatku mengadu, tentang segala macam rintanganku. Karena aku tahu, pada-Nyalah akan kutemukan solusi mujarabku.

Hari demi hari datang silih berganti. Tak pernah berhenti aku bersimpuh, menengadah, memuja, mengiba, dan meminta. Mesti tak ku ketahui kapan keluhanku akan dibelai-Nya. Namun keraguanku itu selalu kutepis dengan rasa optimis. Karena aku percaya bahwa setiap doa yang kulantunkan tak pernah sia-sia. Karena Dia jauh lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan setiap doa yang kupinta.

Semangat pun tak pernah padam, justru meluap-luap, dan akan selalu berkobar di tengah bara api yang menganga. Hingga rasa malas pun tak pernah sedetik pun singgah dalam raga. Sungguh anugerah yang begitu luar biasa. Hanya dengan lindungan-Nyalah aku bahagia dan selamat dari sifat-sifat yang tak kukehendaki menghampiri diriku. Ya Illahi . . . Hanya rasa syukur yang bisa ku dendangkan kepada-Mu, juga asma-Mu yang begitu indah untuk kubisikkan.

Sepasang mata menyorot lembaran mushaf, berisi kumpulan ayat-ayat suci yang tiada tertandingi. Memuat kisah ataupun pesan penting. Lembaran pertama pun kutuju. Kubaca ayat demi ayat sampai habis. Hingga tiba-tiba terlintas dalam benakku rasa penasaran yang begitu dahsyatnya. Selama ini aku tahu surah Al-Fatihah adalah surah yang setiap hari kulantunkan. Mengapa hanya surah Al-Fatihah saja yang selalu rutin kubaca? Mengapa surah ini terkesan seolah begitu istimewa dari surah-surah yang lainnya? Berbagai pertanyaan itu menuntutku untuk mencari tahu tentang apa sebenarnya surah Al-Fatihah itu?

Kucari berbagai referensi untuk kubaca. Seiring berjalannya waktu, kutemukan jawaban dari pertanyaanku. Ternyata, ada sebuah petuah dari Rasulullah, berupa hadis qudsi yang membuat hatiku berdecak kagum, hingga tak terasa buliran air mata telah berjatuhan dari kedua mataku.

Bahwa setiap kali seorang hamba membaca surah Al-Fatihah ini dalam shalatnya, maka setiap itu pula Tuhan selalu menjawabnya. Baik seorang hamba itu sadar atau tidak, sebenarnya seorang hamba itu sedang berdialog dengan sang Illahi. Ketika seorang hamba melantunkan, “Alhamdulillahirabbil’alamin,” Tuhan menjawab, “Oh, hambaku ini telah memuji-Ku, maka akan Kutambahkan nikmat-Ku kepadanya.” Ketika seorang hamba melantunkan ayat selanjutnya, “Arrahmanirrahim,” Tuhan pun menjawab, “Oh, dia telah memuji-Ku lagi dengan mengakui bahwa Aku adalah Sang Maha Pengasih dan Maha Peyayang, maka akan Kukasihi dia, dan Kusayangi dia.” Ketika seorang hamba membaca, “Maliki yaumiddin,” Tuhan pun kembali menjawab, “Dia juga mengakui-Ku, bahwa Aku adalah penguasa dan raja di hari kiamat, maka akan Kuampuni dosa-dosanya pada hari itu.” Ketika seorang hamba berucap, “Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in,” Tuhan pun kembali menjawab, “Dia telah berkata dan mengakui bahwa hanya kepada-Ku dia menyembah, dan hanya kepada-Ku ia memohon pertolongan, maka akan Ku-beri pertolongan ketika dia berada dalam kesulitan atau kepayahan, karena dia adalah hamba yang tak menyekutukan-Ku.” Dan ketika ayat keenam dan ayat terakhir dilantunkan, “Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhollin,” Tuhan pun kemudian menjawab, “Dia ingin Kutunjukkan jalan yang lurus, jalan yang Ku-Ridhoi, jalan yang menghubungkan dengan Jannah-Ku, jalan yang penuh kenikmatan dan tidak menyesatkan. Jika itu menjadi pintanya, maka akan Kupenuhi semua itu.”

Petuah Rasulullah itu bagaikan untaian mutiara. Betapa agung makan yang terselip di dalamnya, hingga tanpa sadar buliran air mata terus membasahi pipiku. Dalam hati kubisikkan, “Sungguh indah firman-Mu Ya Rabb, hingga tak akan dapat tertandingi dengan suatu apa pun. Tak mampu kusembunyikan decak kagumku, tak mampu kutulis dalam rangkaian kata, karena begitu dahsyatnya rasa kekagumanku atas firman-Mu ini Ya Rabb . . .”

Sejak aku tahu petuah itu, aku benar-benar menikmati surah Al-Fatihah, ummul kitab sekaligus kunci pintu kebaikan dan penutup rapat pintu keburukan. Aku pun selalu berusaha meresapi maknanya setiap kali aku melantunkannya. Hingga tak jarang ketika ku dalami maknanya dengan sepenuh hati, tangisku membuncah, tak dapat kuhindari. Aku juga merasa bahwa Sang Illahi mengerti apa yang kuinginkan, dan Dia pastilah selalu menjawab setiap dialog yang kulantunkan melalui surah ini. Bahagia rasanya karena kau bisa berkomunikais dengan-Nya.

Bahkan setiap kali aku membacakan surah ini, kurasakan aliran nikmat dan khidmat yang nyata dalam berdialog dengan Sang Illahi. Hal itu pun menambah kekhusyukanku untuk selalu datang memenuhi panggilan-Nya. Sungguh nyata nikmat-Mu, “fabiayyialaai rabbikuma tukadzdzibaan.” Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Oleh: MUTHIK HANIM MUFALLAHAH (XI IPA 1)

 

 

Terakhir diperbarui pada Minggu, 02 Oktober 2016 06:00

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.