Masuk

Aku Memilihmu Karena Allah (Cerpen)

Bel tanda  pengajian di masjid Ar Rohman Denanyar sudah berbunyi. Santri dan santriwati pondok pesantren Denanyar segera menuju masjid. Biasanya, waktu seperti ini dgunakan untuk mencuri pandang antara santri putri an santri pria, seperti halnya Bilqis, Inayah dan Fatimah. Mereka tengah menunggu Ali dan Sulaiman lewat , walau hanya untuk saling mengucap salam atau tersenyum. Kalian pasti bertanya kenapa ceweknya tiga dan cowoknya cuma dua ? Karena Ali adalah pacarnya Fatimah dan Sulaiman adalah pacarnya Bilqis, sedangkan Inayah memang tidak memiliki pacar karna dia telah menyukai seseorang di hatinya.

            “Itu tuh ! Sulaiman sama Ali !” Ucap Inayah dengan menunjuk ketika melihat  Ali dan Sulaiman dari kejauhan. Dan seketika Fatimah dan Bilqis menoleh pada arah yang ditunjuk Inayah.

            “Oh . . .kenapa Sulaiman semakin hari semakin tampan ?” Ucap Bilqis dengan gaya lebaynya . Seangkan Fatimah hanya tersenyum pada Ali.

            Ketika tepat di hadapan ketiga cewek itu Ali dan Sulaiman mengucapkan salam secara bersamaan yang dibalas ketiga cewek itu dengan bersamaan juga. Saat Ali dan Sulaiman sudah masuk lebih dahulu ke dalam masjid, mereka kemudian masuk juga dalam masjid untuk mengikuti pengajian.

 

            Sepulang dari masjid Bilqis mengeluh sakit kepala, Bilqis meminta tolong pada Fatimah dan Inayah. Kemudian Inayah pergi ke ndalem untuk memberi tahu Pak Kyai dan Bu Nyai yang notabenenya adalah orang tua Bilqis.

             Sesampainya di kamar Bilqis, Pak Kyai dan Bu Nyai melihat Bilqis yang yang sakit kepala tengah di peluk Fatimah dengan hidung yang juga mengeluarkan darah. Pak Kyai dan Bu Nyai membawa Bilqis ke Rumah Sakit. Fatimah dan Inayah saling peluk untuk menguatkan, ditengah derai air mata mereka berdo’a untuk kesembuhan Bilqis.

            “Kenapa dengan Bilqis ?” Tanya Inayah di tengah derai air mata.

            “Aku juga tidak tahu sewaktu kamu pergi memanggail Pak Kyai dan Bu Nyai, Bilqis terus mengeluh sakit kepala dan tiba tiba dia mimisan !” Terang Fatimah.

            “Apa kita harus beritahu Sulaiman ?”

            “Tidak usah terlebih dahulu, kita tunggu kepastian keadaan Bilqis.” Bijak Fatimah. Inayah hanya mengangguk anggukkan kepalanya.

 

 

            Sudah satu minggu sejak Bilqis dirawat di Rumah Sakit . Dan baru hari ini Fatimah dan Inayah tahu tentang penyakit yang diderita oleh Bilqis. Mereka tahu dari kang Burhan abdi ndalem Pak Kyai.

            “Kang . . .Bilqis sakit apa, kang. . ?” Setiap hari Fatimah dan Inayah menanyakan hal yng sama. Karena tidak tega, hari ini akhirnya kang Burhan memberitahukan perihal penyakit Bilqis.

            “Sebenarnya Bilqis sakit kanker otak dan telah memasuki stadium akhir.” Ucap kang Burhan tenang namun bagaikan petir untuk Inayah dan Fatimah.

            “Apa ?” Ucap keduanya syok dan titba tiba Inayah pingsan, untungnya Fatimah mampu menahan tubuh Inayah agar tidak jatuh ke tanah. Kang Burhan yang tahu itu langsung membawa Inayah ke klinik pesantren.

            Setelah Inayah sadar, Fatimah dan Inayah sama sama diam memikirkan keadaan Bilqis. Tiba tiba terlintas tentang Sulaiman difikiran Inayah . “Bagaimana kalau kita beritahu Sulaiman ? Dia juga berhak tahu atas keadaan Bilqis!” Ucap Inayah dengan memandang sedih Fatimah.

            “Ya kau benar, lebih baik sekarang kita tunggu mereka di perbatasan tembok putra dan putri, semoga saja mereka lewat disana !” Usul Fatimah dan langsung diiyakan oleh Inayah. Mereka pergi berdua kesana, berharap Ali dan Sulaiman lewat disana.

 

 

            “Sulaiman . . . Sulaiman sini !” Teriak Fatimah dan Inayah saat melihat Sulaiman dan Ali akan pergi berjama’ah.

            “Ada apa ? dan dimana Bilqis ?” Tanya Sulaiman pada keduanya sambil celingak celinguk mencari keberadaan Bilqis.

            “Assalamu’alakum ya ukhti ! Kalian terlihat sangat sedih sebenarnya ada apa ?” Tanya Ali jauh lkebih baik dan lebih sopan dari pada Sulaiman.

            “wa’alaikum salam sebenarnya . . . sebenarnya . . . sebenarnya Bilqis dirawat di Rumah Sakit karena menderita . . . kanker . . . kanker otak stadium akhir.” Jawab Fatimah terbata dan tumpah kembali air mata keduanya.

            “Apa ? Apa yang kalian katakan sungguhan ?” Tanya Sulaiman masih tidak percaya. Fatimah dan Inayah mengangguk. “Aku harus melihat kondisinya sekarang !” Karena Sulaiman ngotot menjenguk Bilqis maka mereka berepat pergi menjenguk Bilqis.

 

 

            Tiga bulan sudah berlalu penyakit Bilqis kian hari kian bertambah parah. Hari ini Bilqis ingin semuanya berkumpul. Umi, Abi, Fatimah, Inayah, Sulaiman dan Ali. Entah apa yang akan disampaikan Bilqis itu membuat semua menjadi penasaran. Setelah semua berkumpul, Bilqis mulai berbicara.

            “Umi, Abi terimah kasih telah merawat Bilqis selam ini ! Terima kasih telah ajarkan semua kebaikan pada Bilqis !” Ucap Bilqis pada Umi dan Abinya kemudian beralih memandang Fatimah dan Inayah “Terima kasih karna telah menjadikan aku sahabat kalian, aku sangat senang mempunyai sahabat seperti kalian !” . Sekalipun sakit Bilqis tetap berusaha menampilkan senyumnya, lalu beralih menatap Sulaiman “ Kak terima kasih telah memberi cinta kakak selama ini untuk Bilqis ! Bilqis sayang dan cinta sama kakak !” Ucap Bilqis.

            Bilqis mengambil napas dalam dan melanjutkan kata katanya. “Bilqis rasa sisa umur Bilqis sudah tidak lama lagi, maukah kak Sulaiman dan Inayah memenuhi keinginan Bilqis ?” Ucap Bilqis semakin melemah. “ Tentu Bilqis .” Jawab Sulaiman tegas. Sedangkan Inayah hanya mengangguk.

            “Berjanjilah kak bila ku telah tiada nanti, maka setalah kau lulus dari pondok pesantren kau akan segera mengkhitbah Inayah !” Kata kata Bilqis membuat semua kaget dan bingung, Sulaiman ingin menjawab tapi urung karna didahului Inayah.

            “Tidak Bilqis aku tau kau sangat mencintainya ! kau harus bertahan untuknya, untuk kami .” Jawab Inayah dengan air mata yang tertahan.

            “Berjanjilah Inayah kau akan menjaga Kak Sulaiman untuk ku, Dan aku tahu kau mencintainya sebesar aku mencintainya !” Bilqis semakin lemah.

            “Kenapa Inayah ? kenapa ? kenapa harus aku ? kenapa kau pilih aku untuk menggantikanmu ?” Tangis Inayah sudah tidak terbendung lagi, dia menangis dalam dekapan Fatimah.

“Aku. . . memilihmu. . . karna . . . Allah.” Setelah itu Bilqis mengucapkan kalimat syahadat dibimbing Pak Kyai dan Sulaiman. Setelaih itu Bilqis menghembuskan napas terakhirnya.

SELESAI

 

Maduri Eka Pramiswari (XII IPA 2)

Lebih lanjut dalam kategori ini: « Pahlawa Tanpa Tanda Jasa (puisi)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.