Masuk

Bersamamu Merengkuh Jannah (cerpen)

Hari mulai petang, matahari hamper tenggelam. Aku Aqila Aishyahna duduk di bangku taman yang sudah sangat sunyi. Tetapi aku belum berani pulang ke rumah sebelum menemukan persyaratan untuk besok MOS, huh memang sangat menyebalkan kakak-kakak panitia itu, sayangnya barang yang diperintakan itu sudah habis terjual, bagaimana ini rasanya ingin bolos saja. “Cape sekali gimana ini yah, aku sudah cari kemana-mana tetep aja gak ada”

                Aku menutup mataku dengan kedua tanganku seperti orang menangis. Aku merasa ada seseorang yang duduk disebelahku ini. “Kamu kenapa menangis?” Aku mendongakan kepalaku. “Ternyata kamu gak menangis yah, kenapa belum pulang ini sudah sore loh” Aku tersenyum kepadanya. “Besok aku MOS dan barang yang aku cari belum dapat.” Dengan tampak sedih aku menjelaskan kepadanya “Aku besok MOS, kamu daftar ke sekolah mana?” “MA Matholi’ul Huda Troso” “wah aku juga mau sekolah kesana, apa yang belum kamu dapat dari semua persyaratannya?” tanyanya “Permen lollipop ukuran besar dan kerudung berpita besar” jawabku.

                Dia tersemyum kepadaku entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba dia menyodorkan lollipop dan kerudung kepadaku. Tapi aku merasa enggan untuk menerimanya. “Sudah kamu terima aja, kita bisa jadi teman nanti, nama aku Naila lengkapnya Naila Putri, nama kamu siapa? “ dia mengulurkan tangannya aku segera menyambut uluran tangan itu. “Makasih ya, nama aku Aqila Aishyahna, kamu baik banget, sekali lagi makasih yah” “Iya, sama-sama sesame muslimkan harus saling membantu karena kita itu saudara, benarkan?” sebelum kami berisah kami sepakat memberikan nomor kontak kami.

                Setelah kejadian ditman aku dan naila menjadi karena Allah. Setiap hari aku dan naila selalu menjadi sahabat yang saling mengingatkan akan hal mana yang boleh dilakukan dan hal mana yang tidak boleh dilakukan. Menurutku saahabat itu selalu ada ketika aku sakit dan ketika aku bahagia. Seperti naila yang selalu menemaniku, aku juga menyayangi naila karena Allah karena aku ingin Allah menyayangiku. Persahabatanku dengannya hanya akan terpisah karena Allah pula.

                Semakin hari aku merasa ada yang aneh dengan naila, dia seperti sedang sakit. Tapi jika aku Tanya kepadanya, dia tidak pernah menjawab. Seperti hari ini aku melihat wajahnya pucat dan beberapa kali ada darah yang keluar dari hidungnya.

                Sebentar lagi naila akan berulang tahun. Aku akan member kejutan kepadanya pada paginya aku pergi ketaman untuk merenungkan takdirku sampai-sampai aku lupa waktu. Secepatnya, aku segera bergegas ke rumah naila. Setibaku di rumahnya, aku terkejut karena banyak orang yang sedang berduka. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku segera masuk kerumah Naila. Tak kusangka Naila yang dulu periang kini dia terbujur  kaku didepan mataku, air mataku pun tak dapat kubendung lagi. Dia memang sering sakit sakitan akhir akhir ini tetapi aku tidak menyangka kalau Naila akan pergi secepat ini. Seandainya  aku segera datang kerumahnya, mungkin aku bisa berada disamping Naila, pada saat saat terakhirnya. Andai aku selalu ada untuk Naila pasti aku akan tahu apa keluhan yang dialaminya selama ini. Aku menyesal, menyesal, dan menyesal. Dan penyesalan pasti datang di akhir.

Tapi pada akhirnya aku sadar bahwa itu semua adalah takdir Allah. Aku sangat kehilangan, tetapi aku selalu yakin walau aku aku dan Naila sudah di alam yang berbeda  tapi Naila tetap dihatiku. Aku belajar untuk ikhlas dan bangkit dari kesedihanku. Aku yakin di alam sana Naila tersenyum ketika melihat  aku sukses. Aku yakin itu.

 

Oleh : Syida Auliauzzaroh (XI IPA 1)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.