Masuk

Menjemput Janji Allah di Telaga Keimanan (cerpen)

                “A…A…Ayah!! Jangan… Ayah!!”

                “La… Laila, bangun, La… La…”

                “Astaghfirullah!”

                “Alhamdulillah ternyata hanya mimpi.” Aku terbangun kembali dengan mimpi yang sama.

                “Minum dulu airnya.” Nur menyodorkan segelas air putih kepadaku.

                “La, apa tidak lebih baik kau pulang dan membesuk ayahmu?”

                “Baiklah, aku akan mencoba meminta izin kepada Abah Ali.”

                Nur menyunggingkan senyumnya padaku, kemudian Nur kembali itdur. Sementara akau, aku masih merenungkan mengenai mimpiku. Ini sudah kedua kalinya bermimpi hal yang sama, entah apa artinya, tapi aku berharap semoga ayah tetap dalam lindungan Allah.

                Aku putuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Aku kembali ke kamar kemudian aku melaksanakan salat tahajud. Setelah itu aku mengambil alquran kecil yang berada di atas meja nakas. Kulantunkan ayat-ayat Allah. Aku berhenti sejenak dan merenungkan arti ayat yang baru saja aku baca. Mungkin melalui ayat ini Allah menunjukkan jalan-Nya padaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan apabila dikatakan ‘Berdirilah kamu’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujadalah : 11)

Ya Allah… Kuatkanlah iman dan takwa hamba kepada-Mu. Lindungilah keluaraga hamba, terutama ayah hamba, Ya Allah… Amin.” Kemudian aku melanjutkan tidurku yang tadi sempat tertunda.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk meminta izin kepada Abah Ali untuk pulang ke rumah untuk beberapa hari, namun harapan tinggal harapan. Abah Ali tidak mengizinkanku dengan alasan akan diadakan berbagai macam lomba selama beberapa hari. Aku sempat sedih setelah mendengar keputusan Abah Ali. Tapi akau juga senang karena setelah lomba aku bisa pulang ke kediamanku.

Setelah tiga harii menjalani berbagaibmacam lomba, akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu datang juga. Hari ini aku akan pulang ke rumah, melepas rindu yang selama ini aku pendam saat aku berada di pesantren. Namun, ketika aku sampai di kediamanku, di saana ada banyak orang dan bendera kuning. Apa! Bendera kuning? Aku segera masuk ke dalam rumah. Seketika tubuhku menegang melihat seseorang terbaring tak bernyawa. Seorang yang selama ini aku rindukan, aku mimpikan. Seketika itu aku langsung menghampiri ibuku yang sedang duduk di sebelah jenazah ayah.

Sudah satu minggu ayah meningglakan aku sekeluarga. Aku yang masih syok dengan kepergian ayah hanya bisa merenung dn menangis. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa di saat detik-detik terakhir di kehidupan ayah, aku tidak bisa berada di sisinya. Bahkan aku belum sempat membahagiakannya, aku belum sempat membuatnya bangga. Aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Hingga suara ibu mengejutkanku, ibu memberitahuku bahwa aku telah diminta Abah Ali untuk kembali ke pesantren. Awalnya aku menolak, tapi ibu memaksaku. Aku nurut saja dengan perkataan ibu yang memintaku kembali, dan agar aku juga tidak memikirkan tentang kematian ayah.

Keesokan harinya,ketika aku sampai di pesantren, mereka semua menyambutku dengan meriah. Ternyata pada hari itu aku mendapatkan penghargaan dari prestasi-prestasiku. Ternyata benar, bahwa di balik kesedihan kita, Allah memberikan kebahagiaan yang melimpah.

 

Oleh : Nailin Nikmah ( XI IPA 3 )

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.