Masuk

Detak Kerinduan (Cerpen)

Hari yang cerah mulai memudar, terselimuti awan merah kelab, terlihatlah sosok gadis cantik bernama Nina, yang berdiri di balik sebuah kaca dengan arah kepala mendongak langit. Tiba-tiba............
"Doaaaarrrrr.." Nina terkejut dan menoleh ke arah belakang. Berdirilah seorang cerminan Nina yang ternyata adalah saudara kembarnya, Nana. Dengan hati yang kesal sekaligus senang, karna dikagetkan, tetapi juga senang atas kembalinya cerminannya dari rumah nenek mereka. "Ih, lu nakal amat sih! Kakak sendiri dikagetin (cemberut)" Ungkap Nina. "Iya..iya.. kakak cantik, maafin gua dah." Balas Nana dengan mengedipkan mata.
Jam berputar sampai berbentuk sudut 90°, yaitu pukul 21.00, tak terasa mereka saling canda dan tawa karna melepas rindu. "Kak, ngantuk nih! Tidur nyok!" Ungkap Nana dengan muka keluh kesah karna kantuk. "Yaudah deh ayok!" Balas Nina. Akhirnya mereka pulas dan larut oleh keheningan malam nan sejuk.
"Kring.. kring.. kring.." Alarm bernyanyi riang. Terbangunlah Nina dari tidur pulasnya, setelah ia sadar, ternyata semua itu hanyalah sebatas mimpi yang tidak akan terjadi. Nina meraih foto yang ada di sampingnya, tangispun bercucuran mengaliri pipi cubbynya. Ia sangat merindukan Nana, amat sangat merindukannya. Selain adik tersayang, Nana bagaikan Malaikat tanpa sayap untuk dirinya. Kenapa tidak? Beberapa tahun silam....
"Kakak..kakak.. hahah.. hihih.."
"Sini kamu! Ih nakal yaaa..."
"Hahah.. hihih.."
Terdengarlah candaan si kembar, Nina dan Nana. Mereka terlihat sangat bahagia dan gembira. Mereka saling membangun cita-cita untuk menjadi seorang pilot. Tiba-tiba......
"Kakak.... awas!!!" Teriak Nana.
"Brrraaaagghhhh" Terdengar suara kecelakaan.
Setelah kecelakaan tersebut, Nina mengalami 'Jantung Lemah' akibat hantaman mobil tepat di bagian dadanya. Nina sangat terpukul, karena hal itu dapat menghambat bahkan menghentikan cita-citanya sebagai seorang 'Pilot Wanita'. Sejak saat itu, Nina menjadi seorang yang murung, pendiam, karna shock akibat kecelakaan itu.
Nana yang melihat kakaknya seperti itu, sangat tidak tega. Ia ingin kakaknya dapat meraih cita-cita bersama dengannya. Nana ingin selalu melihat Kakaknya tersenyum bahagia.
"Nana.. Nana.." Teriak Nina.
"Ada apa Kak?" Tanya Nana
"Kita bisa meneruskan cita-cita kita, kakak sudah mendapatkan donor jantung." Ungkap Nina dengan hati yang berbunga-bunga.
(Di Rumah Sakit)
"Nana.. Nana.., Dok, adik Saya dimana?" Tanya Nina kepada Dokter. Tetapi Dokter hanya diam dan memberikan sepetik surat kepada Nina.
{ Kakak, maaf jika Aku saat ini tidak dapat menemanimu,
Tapi percayalah, Aku sangat bahagia.
Dan Aku yakin, Kamu pun bahagia.
Aku bisa melihat senyum indah di mata serta bibirmu.
Raihlah cita-cita kita! Perjuangkan cita-cita kita!
Aku selalu bersamamu Kak,
Aku tak pernah ingin air matamu menetes hanya karnaku 
Setiap detak jantungmu adalah kerinduanku kepadamu 
"Maksutnya Dok? Jadi, surat ini? Si Pendonor Jantung itu tak lain adalah adik kandungku sendiri Dok? Adik tersayangku? Apa itu benar Dok? Jawab Dok, jawab!" Ungkap Nina dengan histeris dan penuh dengan tangisan. Tetesan air suci itu mengalir di pipinya bak air terjun. "Iya Nina, Adik kamu sangat mencintai dan menyayangi kamu. Dia tidak ingin melihat kesedihan di matamu. Dia hanya ingin melihat kamu selalu bahagia." Jawab Dokter dengan penuh rasa pengertian. Nina hanya bisa terdiam dan menangis atas kepergian adik tersayangnya, Si Nana.
Atas kejadian itu, atas pengorbanan Nana, Nina menganggap Nana sebagai Malaikat Tanpa Sayap untuk dirinya. Setiap kali Nina mengingat hal tersebut, Ia tidak dapat membendung tangisnya. Tetapi Dia harus tetap tegar, karena Nana berpesan bahwa Nina harus selalu tetap tersenyum bahagia, tanpa ada sepercik pun tangisan.
"Aku harus kuat!" Ungkap Nina dengan mengusap tetesan air kasih sayang di pipinya.Hari yang cerah mulai memudar, terselimuti awan merah kelab, terlihatlah sosok gadis cantik bernama Nina, yang berdiri di balik sebuah kaca dengan arah kepala mendongak langit. Tiba-tiba............
"Doaaaarrrrr.." Nina terkejut dan menoleh ke arah belakang. Berdirilah seorang cerminan Nina yang ternyata adalah saudara kembarnya, Nana. Dengan hati yang kesal sekaligus senang, karna dikagetkan, tetapi juga senang atas kembalinya cerminannya dari rumah nenek mereka. "Ih, lu nakal amat sih! Kakak sendiri dikagetin (cemberut)" Ungkap Nina. "Iya..iya.. kakak cantik, maafin gua dah." Balas Nana dengan mengedipkan mata.
Jam berputar sampai berbentuk sudut 90°, yaitu pukul 21.00, tak terasa mereka saling canda dan tawa karna melepas rindu. "Kak, ngantuk nih! Tidur nyok!" Ungkap Nana dengan muka keluh kesah karna kantuk. "Yaudah deh ayok!" Balas Nina. Akhirnya mereka pulas dan larut oleh keheningan malam nan sejuk.
"Kring.. kring.. kring.." Alarm bernyanyi riang. Terbangunlah Nina dari tidur pulasnya, setelah ia sadar, ternyata semua itu hanyalah sebatas mimpi yang tidak akan terjadi. Nina meraih foto yang ada di sampingnya, tangispun bercucuran mengaliri pipi cubbynya. Ia sangat merindukan Nana, amat sangat merindukannya. Selain adik tersayang, Nana bagaikan Malaikat tanpa sayap untuk dirinya. Kenapa tidak? Beberapa tahun silam....
"Kakak..kakak.. hahah.. hihih.."
"Sini kamu! Ih nakal yaaa..."
"Hahah.. hihih.."
Terdengarlah candaan si kembar, Nina dan Nana. Mereka terlihat sangat bahagia dan gembira. Mereka saling membangun cita-cita untuk menjadi seorang pilot. Tiba-tiba......
"Kakak.... awas!!!" Teriak Nana.
"Brrraaaagghhhh" Terdengar suara kecelakaan.
Setelah kecelakaan tersebut, Nina mengalami 'Jantung Lemah' akibat hantaman mobil tepat di bagian dadanya. Nina sangat terpukul, karena hal itu dapat menghambat bahkan menghentikan cita-citanya sebagai seorang 'Pilot Wanita'. Sejak saat itu, Nina menjadi seorang yang murung, pendiam, karna shock akibat kecelakaan itu.
Nana yang melihat kakaknya seperti itu, sangat tidak tega. Ia ingin kakaknya dapat meraih cita-cita bersama dengannya. Nana ingin selalu melihat Kakaknya tersenyum bahagia.
"Nana.. Nana.." Teriak Nina.
"Ada apa Kak?" Tanya Nana
"Kita bisa meneruskan cita-cita kita, kakak sudah mendapatkan donor jantung." Ungkap Nina dengan hati yang berbunga-bunga.
(Di Rumah Sakit)
"Nana.. Nana.., Dok, adik Saya dimana?" Tanya Nina kepada Dokter. Tetapi Dokter hanya diam dan memberikan sepetik surat kepada Nina.
{ Kakak, maaf jika Aku saat ini tidak dapat menemanimu,
Tapi percayalah, Aku sangat bahagia.
Dan Aku yakin, Kamu pun bahagia.
Aku bisa melihat senyum indah di mata serta bibirmu.
Raihlah cita-cita kita! Perjuangkan cita-cita kita!
Aku selalu bersamamu Kak,
Aku tak pernah ingin air matamu menetes hanya karnaku 
Setiap detak jantungmu adalah kerinduanku kepadamu 
"Maksutnya Dok? Jadi, surat ini? Si Pendonor Jantung itu tak lain adalah adik kandungku sendiri Dok? Adik tersayangku? Apa itu benar Dok? Jawab Dok, jawab!" Ungkap Nina dengan histeris dan penuh dengan tangisan. Tetesan air suci itu mengalir di pipinya bak air terjun. "Iya Nina, Adik kamu sangat mencintai dan menyayangi kamu. Dia tidak ingin melihat kesedihan di matamu. Dia hanya ingin melihat kamu selalu bahagia." Jawab Dokter dengan penuh rasa pengertian. Nina hanya bisa terdiam dan menangis atas kepergian adik tersayangnya, Si Nana.
Atas kejadian itu, atas pengorbanan Nana, Nina menganggap Nana sebagai Malaikat Tanpa Sayap untuk dirinya. Setiap kali Nina mengingat hal tersebut, Ia tidak dapat membendung tangisnya. Tetapi Dia harus tetap tegar, karena Nana berpesan bahwa Nina harus selalu tetap tersenyum bahagia, tanpa ada sepercik pun tangisan.
"Aku harus kuat!" Ungkap Nina dengan mengusap tetesan air kasih sayang di pipinya.

 

 

 

Oleh : Muslikhatul Aini (XI IPA 2)

Terakhir diperbarui pada Minggu, 21 Januari 2018 21:30

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.