Masuk

Ingat Allah Hatimu Akan Tenang (artikel)

Kejujuran itu kekasih Allah. Keterus terangan merupakan sabun pencuci hati. Pengalaman itu bukti dan seseorang pemandu jalan tak akan membohongi rombongannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.

{karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat kamu (pula) kepadamu} (QS. Al-Baqarah : 152)

Berdzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka, siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Untuk melihat faedah dan manfaat dzikir, coba perhatikan kembali beberapa pesan wahyu ilahi. Dan cobalah mengamalkannya pada hari-hari anda. Niscaya anda akan mendapatkan kesembuhan.

Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan, dan kesedihan akan sirna. Bahkan, dengan berdzikir kepada-Nya segunung tumpukan beban kehidupan dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya.

Semakin banyak anda mengingat Allah, pikiran anda akan semakin terbuka, hati anda  semakin tentram, jiwa anda akan semakin bahagia, dan nurani anda semakin damai sentausa. Itu karena dalam mengingat  Allah terkandung nilai-nilai ketawakalan kepada-Nya, keyakinan penuh kepada-Nya, ketergantungan  dari hanya kepada-Nya, kepasrahan kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya dan pengharapan kebahagiaan dari-Nya. Rendahkan dan tundukkan diri anda kehadapan Allah, lalu sebutlah berulang-ulang nama Allah yang indah dan penuh berkah itu dengan lidah anda sebagai pengejawatahan dari ketauhidan, pujian, do’a, permohonan, dan permintaan ampunan anda kepada Allah.

Dengan begitu, niscaya anda – berkat kekuatan dan pertolongan dari Allah akan mendapatkan kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, cahaya penerang, dan kegembiraan.

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

{karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat} (QS. Ali Imran : 148).

 

Oleh: Muhammad Maftuh Ahnan Labib

Lebih lanjut dalam kategori ini: « Indonesia (puisi) Hanya Sahabat (cerpen) »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.