Masuk

Kekuatan Doa (artikel)

Kekuatan Doa

Oleh : Yasir Salam & Muhammad Ridwan XII – IPS 1

Wanita itu terlihat khusyuk membaca buku kecil yang agak rusak ditangan. Usianya sudah hampir 18 tahun. Bertahun – tahun masa SMP yang lalu...

Sepeda tua itu terus melaju dengan gadis kecil diatasnya. Gadis itu bernama aisyah, terdengar suara berisik dari sepeda itu, akibat jalan yang penuh batu. Bukan sekedar batu msaudku. “ Argh, Kapan nih jalan diaspal. Dari aku SD masih begini” keluh Aisyah pelan. Posisi membungkuk memaksa sepedanya jalan. Ya, Aisyah sekarang sedang duduk dibangku SMP. Sekolahnya2 km. Dekat saja jika ditempat bukan dengan jalan kaki atau sepedanya. Sayangnya hanya sepeda tua itu yang Aisya punya. “Akhirnya sampai juga”. Dia telah ada ditempat parkir . “Aisyah!”Seru teman – temannya yang mulai berdatangan. Disekolah Aisyah termasuk anak yang periang. Dia berteman dengan siapa saja. Tapi waktu istirahat menjadi waktunya sendiri, membaca untuk dapat menyimpan uang jajan yang tak seberapa. Itu perlu dilakukannya, kalau dia tiba – tiba butuh uang. Seperti ketika itu “ Duh kenapa nih?” tanya Aisyah pada diri sendiri. Tidak ada siapa pun saat itu, sementara sepedanya menjadi berat. Benar saja “Uhhh, bannya meletus lagi.” Bruukkkkkk, pintu kamar di tutup dengan keras. “Ada apa syah?? Tanya mamanya dengan wajah kaget sambil berusaha membuka pintu yang terkunci. Aisyah tidak menjawabnya dengan jelas. Jelas dia tidak tidur, isak tangis terdengar pelan. “Aku cape!” teriaknya. “Syah, coba ingat mereka yang hidupnya jauh lebih sulit dari kita.” Kata mama dari balik pintu. Aisyah tau, masih banyak yang lebih kesusahan?? Tapi dia berada di antara teman – temanya yang lebih dari berkecukupan. Hanya itu yang dilihatnya setiap hari. Gadis itu iri, salah?? Anehnya, disekolah tak sedikit teman nya yang dengki padanya. Dibuli beberapa anak terlebih saat selesai ujian, dia telah memberi mereka jawaban, tetapi apa adil mereka minta semuanya??? Aisyah kesal, dia bahkan pernah memutuskan untuk tidak menjadi anak cerdas, tapi dia butuh itu untuk tetap dapat sekolah. “Jika ada diantara kalian yang dapat nilai sempurna diujian matematika semester ini, ibu akan beri hadiah,berapapun orangnya. Aisyah menerima buku, toh tak ada salahnya walau tak sesuai keinginannya. Apalagi dari seorang guru favoritnya. Awalnya buku itu hanya jadi pajangan. “Kak, pinjam ya?” kata si adik. “Gak boleh! Nanti rusak”, jawab Aisyah ketus.

Mengingatkannya bahwa perjuangan dan kerja sama yang disertai do’a tak pernah sia- sia tak seperti sebelumnya tak ada lagi yang membuatnya menyerah, benar saja dia lulus dengan nilai UN terbaik ke-2 dikabupatennya, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Do’a tanpa usaha bohong, usaha tanpa do’a sombong. Itulah pelajaran beharga dari gurunya.

 

 

 

Terakhir diperbarui pada Senin, 19 Februari 2018 11:51
Lebih lanjut dalam kategori ini: « Doa (puisi) Pendidikan (artikel) »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.