×

Warning

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Error loading component: com_content, Component not found

Masuk

Mengejar Mimpi (cerpen)

Mengejar Mimpi

Oleh: M. Khoirul Ma’aruf XI IPS-1

 

            Di suatu desa yang sangat terpencil, hiduplah seorang anak berusia 9 tahun dengan keluarganya yang sangat miskin. Orang tuanya bekerja sebagai petani, karena faktor ekonomi, anak itu tidak sekolah. Setiap harinya, ia membantu orang tuanya dan bermain bersama teman sebayanya.

            Suatu hari, ia ikut ayahnya ke sawah. Saat di jalan, ia berpapasan dengan sekumpulan anak yang berangkat sekolah, dengan riangnya, ia pun sedih melihatnya “Kapan aku bisa sekolah seperti mereka?”, gumamnya. Sang ayah hanya tersenyum mendengarnya. Sambil melanjutkan perjalanan ke sawah, si anak belajar membaca dan berhitung dari buku yang dibawanya.

            Sesampainya di sawah, si anak membantu ayahnya menanam padi. Siang hari pun tiba, matahari tepat berada di atas kepala. Keringat bercucuran dari tubuh anak itu. Ia merasakan haus karena teriknya matahari yang begitu menyengat, tapi ia urungkan keinginannya dan tetap membantu ayahnya agar dapat gaji yang banyak supaya bisa menyekolahkannya. Sang ayah yang melihat anaknya kelelahan pun menyuruhnya istirahat dan memakan bekal yang mereka bawa.

            Usai makan si anak berbaring di atas tikae sambil membayangkan jika ia masuk sekolah. Lama-kelamaan si anak pun tertidur, ia bermimpi bisa sekolah seperti anak-anak sebayanya. Di tengah mimpinya yang indah, tiba-tiba sang ayah membangunkannya. Ia pun bangun dengan wajah yang murung karena mimpinya yang indah telah dirusak. “Ayo pulang nak!”, ajak ayahnya, ia pun mengangguk.

            “Yah, aku tadi mimpi bersekolah yah!”, seru si anak pada ayahnya. Sang ayah pun menjawab. “Jangan bicara aneh-aneh nak!”. Sesampainya di rumah si anak menceritakan mimpinya tadi siang pada ibunya. Ibunya hanya tertawa mendengar ceritanya. Selesai bercerita si anak pun mandi dan tidur sebentar. Maghrib pun tiba. Si anak bangun dan melaksanakan sholat. Ia berdo’a agar orang tuanya diberi rezeki yang cukup untuk membiayainya sekolah.

            Keesokan harinya, si anak seperti biasanya membantu sang ayah bekerja. Di pinggir sawah, sang pemilik sawah pun menghampirinya dan bercakap-cakap sebentar dengan si anak. Alangkah terkejutnya sang pemilik sawah mengetahui anak itu tidak bisa sekolah karena faktor ekonomi. Karena iba, sang pemiik sawah pun menawarkan untuk membiayai si anak bersekolah, dengan catatan si anak harus rajin belajar dan menjadi anak yang berprestasi.

            Tak bisa dipungkuri betapa bahagianya si anak mendengarnya. Akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya bersekolah seperti teman sebayanya. Ia pun membuktikan janjinya kepada pemilik sawah dengan prestasi yang gemilang.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.