Masuk

Keyakinan (cerpen)

oleh: Alif Minan Fafiyah - XII IPA-1

 

            Sekarang ini kita hidup di zaman  modern penuh dengan teknologi-teknologi canggih. Tapi apakah semua orang bersifat modern? Tidak. Seperti keluarga Erin, keluaraga yang mayoritas memeluk agama islam dan sebagian memeluk Kristen katholik. Tetapi pada tahun 2005 keluarganya memilih brkeyakinan kejawa dan mennggalkan agamanya.

            Erin belajar di SMK  Binahasa Bogor yang mayoritas beragama. Hal itulah yang membuat dirinya harus menyesuaikan diri agar tidak mencolok atau teman-temnnya mengetahui hal itu dan ia akan dijauhi teman-temannya.

            SMK Binahasa mengadakan pelatihan kerja lapangan (PKL) bagi siswa kelas II, salah satunya Erin dan teman-temannya. Mereka harus tinggal beberapa minggu di sebuah kos yang sering dikatakan angker dan penuh dengan hal mistik. Teman erin yaitu Rina dapat melihat hal-hal gaib yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Saat hari sudah mulai malam, mereka saling bertukar cerita dan tertawa bersama. Semakin malam suasana semakin sunyi.

            ‘SREEK…. SREEK’

            “Sssst… apa kalian dengar itu” tegur Neina pada teman-temannya.

            “Apa?” Erin Tanya balik. ‘sreekkk’ jawab Rina yang sontak membuat teman-teman takut.

            “Apa yang kamu maksud? Jangan mencoba menyakiti kita. HOAX loe!!” balas Karin.

            Beberapa di antara mereka melarikan diri dengan pergi tidur. Tetapi Erin sebagai seoang yang bereyakinan kejawen langsung melakukan ritual pengusir makhluk gaib secara sembunyi-sembunyi, ia yakin di balik pintu kamarnya itu ada makhluk penunggu dengan mata merah dan berbadan besar.

            Beberapa hari berlalu, banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi yang menyebabkan beberapa siswa memilih pulang ataupun pindah kos karena takut. Tetapi ada hal yang ditakuti selain penunggu pintu kamar. KEEPO….. (Yeah~) pintu kamar mandi yang berlubang tapi dicoba ditutupi dengan kain. Horornya terkadang kain itu akan bergerak seakan ditarik atau dipermainkan.

            Setiap malam jumat Erin selalu menyediakan sesajen bunga setaman di pintu kamarnya dan menyalakan kemenyan, hal itu membuat teman-temannya sadar keanehan pada diri Erin. Erin mengakuinya dan temantemannya masih mau menerimanya, tidak seperti yang ia pikirkan saat itu selama ini.

            “jika kalian terlalu mempercayai ; ‘hal itu’ akan benar-benar terwujud lebih tepatnya yang semula akan seolah benar-benar nyata. (*faham??) dan setiap ciptaan itu berbeda, tetapi hal itulah yang membuat hidup tidak monoton”.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.